Di sebuah kota yang sering tertutup oleh salju, terdapat seorang perempuan bernama Anisa. Dia dikenal oleh semua orang di kota itu sebagai sosok yang dingin dan tertutup. Wajahnya yang cantik dan tajam selalu terlihat tanpa ekspresi, seperti patung es yang indah namun tak tersentuh. Anisa menjalani kehidupannya dengan rutinitas yang kaku: bangun pagi, bekerja di toko buku miliknya, dan pulang ke rumah yang sepi. Tak ada yang benar-benar mengenal siapa Anisa, kecuali bahwa dia selalu menjaga jarak dari orang lain.
Di sisi lain kota, seorang lelaki bernama Bima baru saja pindah ke sana. Bima adalah sosok yang lembut dan penyayang. Dia adalah seorang guru musik yang selalu berusaha menyebarkan kebahagiaan melalui melodi dan lagu. Kehangatan hatinya membuatnya mudah disukai oleh banyak orang. Setiap kali Bima bermain gitar atau piano, suara musiknya seakan mampu mencairkan hati yang paling beku sekalipun.
Suatu hari, saat Bima sedang berjalan-jalan di sekitar kota, dia menemukan toko buku kecil milik Anisa. Dengan rasa ingin tahu, dia memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat. Saat dia membuka pintu, lonceng kecil di atas pintu berbunyi, menarik perhatian Anisa yang sedang duduk di balik meja kasir.
"Selamat datang," kata Anisa dengan nada datar tanpa senyum.
Bima tersenyum hangat dan mendekati meja kasir. "Terima kasih. Toko ini terlihat nyaman sekali. Namaku Bima, aku baru saja pindah ke kota ini."
Anisa hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Bima merasa ada sesuatu yang berbeda dengan perempuan ini, sesuatu yang membuatnya ingin mengenalnya lebih jauh.
Hari demi hari, Bima sering mengunjungi toko buku Anisa. Setiap kali dia datang, dia selalu membawa senyum dan keceriaan. Anisa, meskipun tetap menjaga jarak, mulai merasa nyaman dengan kehadiran Bima. Mereka mulai berbincang tentang buku-buku, musik, dan kehidupan. Bima sering bermain gitar di toko buku, mengisi ruang kecil itu dengan melodi yang indah.
Suatu sore, ketika salju turun dengan lembut di luar, Bima memainkan sebuah lagu yang lembut di toko buku. Anisa, yang biasanya fokus pada pekerjaannya, tak bisa mengalihkan pandangannya dari Bima. Melodi itu seakan membawa kenangan masa kecilnya yang penuh kebahagiaan dan keceriaan.
"Aku suka lagu ini," kata Anisa pelan, tanpa sadar mengungkapkan perasaannya.
Bima tersenyum. "Ini salah satu lagu favoritku. Aku senang kamu menyukainya, Anisa."
Seiring berjalannya waktu, Bima mulai mengetahui lebih banyak tentang Anisa. Dia tahu bahwa Anisa kehilangan orang tuanya dalam kecelakaan mobil ketika dia masih kecil. Sejak saat itu, Anisa hidup sendiri dan menutup hatinya dari dunia luar. Kesedihan yang mendalam membuatnya takut untuk dekat dengan orang lain, takut untuk merasakan kehilangan lagi.
Bima memahami perasaan Anisa dan berusaha untuk tidak memaksa. Dia ingin Anisa tahu bahwa dia tidak sendiri dan ada seseorang yang peduli padanya. Bima terus memberikan dukungan dan perhatian, tanpa mengharapkan apa pun sebagai balasannya.
Pada suatu malam, ketika salju turun dengan deras, Anisa mendengar suara ketukan di pintu rumahnya. Dia membuka pintu dan melihat Bima berdiri di sana, membawa sebuah termos berisi cokelat panas.
"Maaf mengganggu, Anisa. Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja," kata Bima dengan senyum hangat.
Anisa terkejut tapi merasa tersentuh. "Masuklah, Bima. Terima kasih sudah datang."
Mereka duduk di ruang tamu, menikmati cokelat panas sambil berbincang. Bima menceritakan pengalamannya sebagai guru musik dan bagaimana dia selalu menemukan kebahagiaan dalam melodi. Anisa, untuk pertama kalinya, merasa nyaman berbicara tentang perasaannya yang terdalam.
"Bima, aku ingin berterima kasih padamu," kata Anisa pelan. "Kamu sudah membantuku melihat dunia dengan cara yang berbeda. Kehadiranmu membuatku merasa tidak sendirian lagi."
Bima menggenggam tangan Anisa dengan lembut. "Aku senang bisa berada di sini untukmu, Anisa. Kamu adalah orang yang istimewa, dan aku ingin kamu tahu bahwa kamu pantas mendapatkan kebahagiaan."
Hari-hari berikutnya, hubungan mereka semakin dekat. Bima mengajak Anisa untuk ikut serta dalam kegiatan musik di sekolah, mengenalkannya pada anak-anak yang ceria dan penuh semangat. Anisa, yang awalnya ragu, mulai menikmati setiap momen yang dia habiskan bersama Bima dan anak-anak itu. Senyumnya yang tulus mulai muncul kembali, mencairkan es di hatinya.
Namun, seperti dalam setiap kisah, ada saat-saat yang penuh tantangan. Suatu hari, Bima mendapat tawaran untuk mengajar di sebuah sekolah musik ternama di kota besar. Itu adalah kesempatan besar bagi kariernya, tapi juga berarti harus meninggalkan kota kecil ini dan Anisa.
Bima merasa bimbang. Dia tidak ingin meninggalkan Anisa, tapi dia juga tahu bahwa kesempatan ini sangat berarti baginya. Dengan berat hati, dia memutuskan untuk berbicara dengan Anisa.
"Anisa, aku punya kabar penting," kata Bima dengan suara berat. "Aku mendapat tawaran mengajar di sekolah musik di kota besar. Ini adalah kesempatan yang sudah lama aku impikan."
Wajah Anisa berubah pucat. "Jadi, kamu akan pergi?"
Bima mengangguk pelan. "Aku masih belum memutuskan, Anisa. Aku tidak ingin meninggalkanmu. Tapi aku juga tahu ini adalah kesempatan besar bagiku."
Anisa merasa hatinya hancur. Dia tahu bahwa Bima pantas mendapatkan yang terbaik, tapi dia juga takut kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Setelah beberapa saat hening, Anisa akhirnya berbicara.
"Bima, aku tahu ini penting bagimu. Kamu harus mengambil kesempatan ini. Aku akan mendukungmu, apa pun yang terjadi."
Bima merasa terharu mendengar kata-kata Anisa. "Terima kasih, Anisa. Aku tidak tahu harus berkata apa."
Malam itu, mereka berdua duduk di bawah langit malam yang penuh bintang, berbicara tentang masa depan dan harapan. Bima berjanji akan selalu mengingat Anisa dan akan kembali suatu hari nanti. Anisa, meskipun sedih, merasa lega karena dia tahu bahwa cinta mereka adalah sesuatu yang nyata dan kuat.
Hari perpisahan tiba, dan Bima berangkat ke kota besar dengan perasaan campur aduk. Anisa kembali ke rutinitasnya, tapi kali ini dengan hati yang sedikit lebih hangat. Dia tetap menjalankan toko bukunya, tapi dia juga mulai menulis surat untuk Bima, menceritakan kehidupannya sehari-hari dan bagaimana dia merindukan kehadirannya.
Waktu berlalu, dan musim berganti. Anisa tetap bertahan dengan dukungan surat-surat Bima yang selalu datang dengan kata-kata penyemangat. Hingga suatu hari, ketika salju mulai turun lagi, Anisa menerima surat yang berbeda dari biasanya.
"Anisa, aku punya kabar baik. Aku akan kembali ke kota kecil kita. Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi dan melanjutkan kisah kita yang tertunda. Sampai jumpa segera. Dengan cinta, Bima."
Hati Anisa melompat kegirangan. Dia merasa seluruh dunia seakan penuh dengan kebahagiaan. Ketika Bima akhirnya tiba di depan pintu rumahnya, Anisa menyambutnya dengan senyum lebar dan pelukan hangat.
"Bima, aku merindukanmu," kata Anisa dengan mata yang berbinar.
"Aku juga merindukanmu, Anisa," jawab Bima sambil memeluknya erat.
Cinta sejati bisa mengatasi segala rintangan dan membawa kehangatan dalam setiap musim salju.