Synopsis
Ridho seorang pria yang sudah yatim piatu sejak masih duduk di bangku SMP, berkat prestasi belajarnya dia mendapatkan beasiswa sampai mendapatkan gelar sarjana.
Namun gelar tersebut tidaklah membuat kehidupannya berubah lebih baik, ceritanya penuh lika liku terutama tentang pernikahannya dengan Rani gadis pujaannya yang diperebutkan oleh banyak pria lantaran kecantikannya yang luar biasa mempesona.
Karena dorongan itulah Ridho merantau ke Ibu kota untuk mengadu nasib, dan demi posisinya yang strategis dia nekad menerima tawaran kawin kontrak dari Bosnya yang selisih 10 tahun lebih dewasa dari dia.
Akankah kehidupannya Ridho seindah yang dia mimpikan, terutama pernikahannya yang harus memilih jalan poligami?
Untuk Para reader kesayangan, mohon maaf ada beberapa bab yang harus direvisi. Authornya lagi ngidam jadi agak lambat sedikit, mohon dimaklumi...
Chapter 1
Kakak Ipar VS Adik Ipar
"Sarjana kok nganggur!" Cibir Fadhil kakak ipar Ridho.
"Lihat nih Abang meski lulusan SMA tapi bisa menghidupi keluarga bahkan orang lain juga!"
Beberapa kali Fadhil menghina, mencibir dan menyindir dengan bahasa yang tidak mengenakan hati Ridho.
Tapi Rani sang adik tetap bersikukuh jika suatu saat Ridho sang suami akan menemukan pekerjaan yang sesuai harapan mereka.
"Abang kok ngomongnya begitu sih?
Untung nggak ada orangnya, rejeki itu diatur oleh Allah Bang. Yang penting sebagai manusia jangan penah berhenti berikhtiar,"
Rani berusaha membela suaminya, sekalipun itu teramat sangat menyakitkan tapi baginya suami hak untuk dibela.
"Setelah orang tua kita nggak ada Abanglah yang bertanggung jawab atas dirimu, tapi timbal baliknya kamu membangkang terus sama Abang!" tukas Fadhil.
Ingin sekali Rani menghindar dari omelan sang Kakak tapi apalah daya saat itu dia tengah meminta bantuan materi pada sang Kakak atas rehabilitasi rumah peninggalan orang tuanya.
"Bang bukannya membangkang ...!" sanggahan Rani terjeda.
"Kalau bukan membangkang apa? Buktinya kamu tetap bersikukuh menerima Ridho yang nggak jelas pekerjaannya sampai sekarang, ketimbang mendengar Abang yang mengenalkan kamu pada pedagang sate madura yang memiliki 10 cabang dagangannya!" Fadhil memotong bicara Rani.
Akhirnya Rani memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraannya lagi dan memilih untuk pulang.
"Bang aku pamit pulang dulu! Kalau Abang mau bantu rehab rumah ya Alhamdulillah kalau pun tidak bagi aku tidak masalah!"
Sambil berdiri dan menjulurkan tangan pada Fadhil untuk mencium punggung tangannya, namun Fadhil menolak dan menyuruh Rani untuk duduk kembali.
"Duduk dulu kamu!" seru Fadhil.
Berbeda dengan Maya sang kakak ipar yang lebih lembut dan bijak pada siapapun termasuk Rani, dia ikut duduk dan mengelus punggungnya. Di saat mata Fadhil sedang tidak tertuju padanya tangan dia memasukkan sesuatu pada saku celana panjangnya.
"Kak ...!"
Rani hendak bersuara tapi segera Maya memberi kode mata supaya Rani diam.
"Bang, sore ini kan kita mau ke dokter periksa kandungan aku!"
Maya mencoba mengalihkan perhatian Fadhil supaya berhenti ngomel-ngomel pada adiknya Rani.
"Oh ya Ran, ini kan sudah sore kamu sebaiknya menginap di sini ya! Lagian suamimu sedang tidak ada kan?" tawar Maya.
Rani terdiam tidak menjawab, dia bingung karena yang baik di rumah itu kakak iparnya bukan kakak kandungnya sendiri.
"Sebaiknya kamu pulang saja! Siapa tahu nanti malam suami tersayang kamu pulang, ayo sayang kita nggak usah pedulikan dia sebab dia sendiri tidak mendengar saran kita dari dulu!"
Fadhil dengan tegas menolak jika Rani harus menginap di rumahnya, Maya sendiri tak mampu melawan sikap suaminya itu. Tapi dia merasa tenang karena sudah memasukkan uang sebanyak 500 ribu ke dalam saku celana Rani.
"Kak Maya aku pulang dulu ya! Semoga calon keponakan aku sehat sampai dia dilahirkan nanti!"
Rani pamit pada Maya dan tidak mempedulikan Fadhil kakak kandungnya sendiri. Kakinya pun agak gontai melangkah namun dia paksakan berjalan menuju rumahnya yang sudah hampir roboh itu.
"Kenapa Abang tega begitu sih sama adiknya sendiri? Kasian tahu! Rumah peninggalan Ibu kalian itu sudah hampir roboh dan kamu malah bersikap tidak peduli,"protes Maya.
Fadhil balik melototin Maya karena sudah berani mengkritik dia dalam ruang lingkup keluarganya.
"Kamu tidak usah ikut campur urusan keluarga aku, kamu sendiri nggak bakal bisa makan kalau nggak nikah sama aku. Adik aku itu harus diberi pelajaran karena sudah berani menolak perjodohan yang aku tawarkan dulu!" sarkas Fadhil.
Fadhil memang seorang diktator, dia menyempitkan ruang gerak pada siapapun untuk berpendapat termasuk istri juga adiknya.
Sebelum Ayah dan Ibunya meninggal, Fadhil menawarkan seorang pedagang sate madura yang sukses. Namun Rani menolak lantaran Rani akan dijadikan istri ke duanya.
Alasan yang paling kuat bukan sebatas itu tapi Rani sudah terlanjur sayang pada Ridho seorang sarjana hasil beasiswa dari prestasi belajarnya.
"Ya sudah Bang, kayaknya kita tertinggal antrian cukup banyak deh. Ayo buruan cepat berangkat ke dokter! Aku nggak sabar mau lihat perkembangan darah daging kamu di dalam kandungan aku!"
Lagi-lagi Rani mengalihkan perhatian Fadhil supaya tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak nyaman untuk dia dengar, segera dia ajak menuju klinik dokter kandungan karna sudah telat hampir satu jam lebih akibat ngomel-ngomel ke adiknya Rani tadi.
Di tempat yang berbeda Rani sampai juga di rumah bututnya itu, dia duduk lalu meneguk air minum dari teko yang dia masak tadi pagi.
"Segar sekali tenggorokan aku ini, sekaligus tenang karena segera bebas dari omelan Abang," Rani bermonolog.
Setelah beberapa menit dia duduk, Rani kembali sadar jika ada yang mengganjal dari saku celana panjangnya. Dia berdiri dan mengambilnya.
"Masha Allah ini kan uang yang diberikan Kak Maya sama aku, jumlahnya pun lumayan besar, tapi dari mana dia bisa menyisihkan uang sebesar ini?"
Rani bermonolog sambil menghitung uang yang diselipkan Maya ke dalam saku celananya, meski senang karena kebutuhannya akan sedikit tercukupi tapi tetap saja Rani bertanya-tanya. Sebab yang dia tahu Maya tidak bekerja.
Tok Tok Tok
Di tengah kebimbangan Rani, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Setelah dibuka mata Rani terbelalak kaget karena yang datang orang yang selama kurang lebih satu bulan dia nantikan kedatangannya.
"Bang Ridho! " panggil Rani.
Ridho suaminya memutuskan untuk merantau ke ibu kota karena ada tawaran kerja dari sebuah perusahaan yang memasang iklan di media sosial.
"Sayang apa kabar? Maafkan Abang karena baru bisa pulang sekarang," sahut Ridho sembari memeluk dan mengelus punggung Rani dengan lembut.
Tidak ada kata-kata lagi yang membuat mulut Rani mengeluarkan suara menyambut kedatangan suaminya. Dia hanya menangis sesenggukan di dada Ridho yang bidang sambil melingkarkan ke dua tangannya ke pinggang Ridho.
"Abang kangen sekali istriku sayang," bisik Ridho.
Rani pun segera melepaskan pelukannya lalu menutup pintu dan menarik tangan Ridho menuju kamar sederhana beralasakan kasur yang berbahan dasar kapuk yang sudah hampir lapuk.
"Wangi abang kok harum sekali, memangnya Abang sudah bisa beli parfum?" tanya Rani sambil mengendus setiap inci dari tubuh Ridho.
Tak ingin banyak pertanyaan Ridho segera membuat mulut Rani terdiam oleh bisikan mesra yang membuat Rani luluh sampai hujan sahutan kata-kata rindu selama hampir satu jam lebih.
"Alhamdulillah Abang diterima kerja, namun selama tiga bulan masa training Abang nggak bisa bebas pulang. Sekarang pun Abang harus segera berangkat lagi karena jika tidak maka posisi yang Abang kejar akan hilang diambil orang," jelas Ridho.
Baru saja Rani menikmati masa-masa indahnya melampiaskan rasa rindu namun dia harus segera melepaskan kembali suaminya itu hanya dalam hitungan jam.
Bersambung
Hai readers bagaimana nih jika hal yang dialami Rani terjadi pada kalian? Aduh nyesek banget ya satu bulan tidak bersua hanya mampu mengobati rindu beberapa jam saja.
Cus langsung ke chapter selanjutnya yang pasti bikin kalian tagih baca!
See you
webnovel
Terpaksa Mendua.
Author: Author_teratai
Urban
Completed · 240.5K Views
388 Chs
CONTENT
4.9
10 RATINGS
NO.200+
SUPPORT
Synopsis
Ridho seorang pria yang sudah yatim piatu sejak masih duduk di bangku SMP, berkat prestasi belajarnya dia mendapatkan beasiswa sampai mendapatkan gelar sarjana.
Namun gelar tersebut tidaklah membuat kehidupannya berubah lebih baik, ceritanya penuh lika liku terutama tentang pernikahannya dengan Rani gadis pujaannya yang diperebutkan oleh banyak pria lantaran kecantikannya yang luar biasa mempesona.
Karena dorongan itulah Ridho merantau ke Ibu kota untuk mengadu nasib, dan demi posisinya yang strategis dia nekad menerima tawaran kawin kontrak dari Bosnya yang selisih 10 tahun lebih dewasa dari dia.
Akankah kehidupannya Ridho seindah yang dia mimpikan, terutama pernikahannya yang harus memilih jalan poligami?
Untuk Para reader kesayangan, mohon maaf ada beberapa bab yang harus direvisi. Authornya lagi ngidam jadi agak lambat sedikit, mohon dimaklum!
Baca kisah selengkapnya hanya di Webnovel.
Chapter 1
Kakak Ipar VS Adik Ipar
"Sarjana kok nganggur!" Cibir Fadhil kakak ipar Ridho.
"Lihat nih Abang meski lulusan SMA tapi bisa menghidupi keluarga bahkan orang lain juga!"
Beberapa kali Fadhil menghina, mencibir dan menyindir dengan bahasa yang tidak mengenakan hati Ridho.
Tapi Rani sang adik tetap bersikukuh jika suatu saat Ridho sang suami akan menemukan pekerjaan yang sesuai harapan mereka.
"Abang kok ngomongnya begitu sih?
Untung nggak ada orangnya, rejeki itu diatur oleh Allah Bang. Yang penting sebagai manusia jangan penah berhenti berikhtiar,"
Rani berusaha membela suaminya, sekalipun itu teramat sangat menyakitkan tapi baginya suami hak untuk dibela.
"Setelah orang tua kita nggak ada Abanglah yang bertanggung jawab atas dirimu, tapi timbal baliknya kamu membangkang terus sama Abang!" tukas Fadhil.
Ingin sekali Rani menghindar dari omelan sang Kakak tapi apalah daya saat itu dia tengah meminta bantuan materi pada sang Kakak atas rehabilitasi rumah peninggalan orang tuanya.
"Bang bukannya membangkang ...!" sanggahan Rani terjeda.
"Kalau bukan membangkang apa? Buktinya kamu tetap bersikukuh menerima Ridho yang nggak jelas pekerjaannya sampai sekarang, ketimbang mendengar Abang yang mengenalkan kamu pada pedagang sate madura yang memiliki 10 cabang dagangannya!" Fadhil memotong bicara Rani.
Akhirnya Rani memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraannya lagi dan memilih untuk pulang.
"Bang aku pamit pulang dulu! Kalau Abang mau bantu rehab rumah ya Alhamdulillah kalau pun tidak bagi aku tidak masalah!"
Sambil berdiri dan menjulurkan tangan pada Fadhil untuk mencium punggung tangannya, namun Fadhil menolak dan menyuruh Rani untuk duduk kembali.
"Duduk dulu kamu!" seru Fadhil.
Berbeda dengan Maya sang kakak ipar yang lebih lembut dan bijak pada siapapun termasuk Rani, dia ikut duduk dan mengelus punggungnya. Di saat mata Fadhil sedang tidak tertuju padanya tangan dia memasukkan sesuatu pada saku celana panjangnya.
"Kak ...!"
Rani hendak bersuara tapi segera Maya memberi kode mata supaya Rani diam.
"Bang, sore ini kan kita mau ke dokter periksa kandungan aku!"
Maya mencoba mengalihkan perhatian Fadhil supaya berhenti ngomel-ngomel pada adiknya Rani.
"Oh ya Ran, ini kan sudah sore kamu sebaiknya menginap di sini ya! Lagian suamimu sedang tidak ada kan?" tawar Maya.
Rani terdiam tidak menjawab, dia bingung karena yang baik di rumah itu kakak iparnya bukan kakak kandungnya sendiri.
"Sebaiknya kamu pulang saja! Siapa tahu nanti malam suami tersayang kamu pulang, ayo sayang kita nggak usah pedulikan dia sebab dia sendiri tidak mendengar saran kita dari dulu!"
Fadhil dengan tegas menolak jika Rani harus menginap di rumahnya, Maya sendiri tak mampu melawan sikap suaminya itu. Tapi dia merasa tenang karena sudah memasukkan uang sebanyak 500 ribu ke dalam saku celana Rani.
"Kak Maya aku pulang dulu ya! Semoga calon keponakan aku sehat sampai dia dilahirkan nanti!"
Rani pamit pada Maya dan tidak mempedulikan Fadhil kakak kandungnya sendiri. Kakinya pun agak gontai melangkah namun dia paksakan berjalan menuju rumahnya yang sudah hampir roboh itu.
"Kenapa Abang tega begitu sih sama adiknya sendiri? Kasian tahu! Rumah peninggalan Ibu kalian itu sudah hampir roboh dan kamu malah bersikap tidak peduli,"protes Maya.
Fadhil balik melototin Maya karena sudah berani mengkritik dia dalam ruang lingkup keluarganya.
"Kamu tidak usah ikut campur urusan keluarga aku, kamu sendiri nggak bakal bisa makan kalau nggak nikah sama aku. Adik aku itu harus diberi pelajaran karena sudah berani menolak perjodohan yang aku tawarkan dulu!" sarkas Fadhil.
Fadhil memang seorang diktator, dia menyempitkan ruang gerak pada siapapun untuk berpendapat termasuk istri juga adiknya.
Sebelum Ayah dan Ibunya meninggal, Fadhil menawarkan seorang pedagang sate madura yang sukses. Namun Rani menolak lantaran Rani akan dijadikan istri ke duanya.
Alasan yang paling kuat bukan sebatas itu tapi Rani sudah terlanjur sayang pada Ridho seorang sarjana hasil beasiswa dari prestasi belajarnya.
"Ya sudah Bang, kayaknya kita tertinggal antrian cukup banyak deh. Ayo buruan cepat berangkat ke dokter! Aku nggak sabar mau lihat perkembangan darah daging kamu di dalam kandungan aku!"
Lagi-lagi Rani mengalihkan perhatian Fadhil supaya tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak nyaman untuk dia dengar, segera dia ajak menuju klinik dokter kandungan karna sudah telat hampir satu jam lebih akibat ngomel-ngomel ke adiknya Rani tadi.
Di tempat yang berbeda Rani sampai juga di rumah bututnya itu, dia duduk lalu meneguk air minum dari teko yang dia masak tadi pagi.
"Segar sekali tenggorokan aku ini, sekaligus tenang karena segera bebas dari omelan Abang," Rani bermonolog.
Setelah beberapa menit dia duduk, Rani kembali sadar jika ada yang mengganjal dari saku celana panjangnya. Dia berdiri dan mengambilnya.
"Masha Allah ini kan uang yang diberikan Kak Maya sama aku, jumlahnya pun lumayan besar, tapi dari mana dia bisa menyisihkan uang sebesar ini?"
Rani bermonolog sambil menghitung uang yang diselipkan Maya ke dalam saku celananya, meski senang karena kebutuhannya akan sedikit tercukupi tapi tetap saja Rani bertanya-tanya. Sebab yang dia tahu Maya tidak bekerja.
Tok Tok Tok
Di tengah kebimbangan Rani, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Setelah dibuka mata Rani terbelalak kaget karena yang datang orang yang selama kurang lebih satu bulan dia nantikan kedatangannya.
"Bang Ridho! " panggil Rani.
Ridho suaminya memutuskan untuk merantau ke ibu kota karena ada tawaran kerja dari sebuah perusahaan yang memasang iklan di media sosial.
"Sayang apa kabar? Maafkan Abang karena baru bisa pulang sekarang," sahut Ridho sembari memeluk dan mengelus punggung Rani dengan lembut.
Tidak ada kata-kata lagi yang membuat mulut Rani mengeluarkan suara menyambut kedatangan suaminya. Dia hanya menangis sesenggukan di dada Ridho yang bidang sambil melingkarkan ke dua tangannya ke pinggang Ridho.
"Abang kangen sekali istriku sayang," bisik Ridho.
Rani pun segera melepaskan pelukannya lalu menutup pintu dan menarik tangan Ridho menuju kamar sederhana beralasakan kasur yang berbahan dasar kapuk yang sudah hampir lapuk.
"Wangi abang kok harum sekali, memangnya Abang sudah bisa beli parfum?" tanya Rani sambil mengendus setiap inci dari tubuh Ridho.
Tak ingin banyak pertanyaan Ridho segera membuat mulut Rani terdiam oleh bisikan mesra yang membuat Rani luluh sampai hujan sahutan kata-kata rindu selama hampir satu jam lebih.
"Alhamdulillah Abang diterima kerja, namun selama tiga bulan masa training Abang nggak bisa bebas pulang. Sekarang pun Abang harus segera berangkat lagi karena jika tidak maka posisi yang Abang kejar akan hilang diambil orang," jelas Ridho.
Baru saja Rani menikmati masa-masa indahnya melampiaskan rasa rindu namun dia harus segera melepaskan kembali suaminya itu hanya dalam hitungan jam.
Bersambung
Hai readers bagaimana nih jika hal yang dialami Rani terjadi pada kalian? Aduh nyesek banget ya satu bulan tidak bersua hanya mampu mengobati rindu beberapa jam saja.
Cus langsung ke chapter selanjutnya yang pasti bikin kalian tagih baca!
See you
Chapter 2
Terikat Kontrak Kerja
"Seberat inikah tantangannya Abang mendapatkan pekerjaan? Kita ini baru saja ketemu, apa Abang sendiri tidak rindu?"
Dengan mata yang berkaca-kaca dan nada yang lirih Rani mengeluhkan apa yang menjadi pilihan hidupnya saat itu.
"Sayang, kamu sendiri nggak mau kan suamimu ini terus menerus dicibir dan dicemooh oleh Abangmu? Ini memang berat tapi percayalah jika ini hanya sementara setelah semuanya tercapai maka kita akan menikmati semua yang sudah kita dapat!" jelas Ridho sembari memegang ke dua bahu Rani dan menatapnya sangat tajam.
Rani terlihat pasrah meski hatinya rapuh, dia ingin sekali menjerit meratapi nasibnya yang tak hanya kesulitan secara ekonomi namun dia harus kesepian lantaran jauh dari suami.
"Oh iya, ini ada rejeki. Bonus dari training Abang selama sebulan. Semoga cukup untuk nyicil merehabilitasi rumah ini!"
Ridho pun memberikan beberapa lembar uang pada Rani sebelum dia benar-benar pergi lagi.
"Ini kok banyak sekali Bang, memangnya posisi Abang apa?"
Rani keheranan saat dia menghitung beberapa uang lembaran seratus ribuan sebesar 10 juta rupiah.
"Posisi Abang lumayan strategis, training minggu pertama Bos ku sudah memberikan pujian atas kerja aku makanya aku diberi bonus cukup besar! "jelas Ridho.
Sempat membersihkan badannya terlebih dahulu, lalu Ridho segera mengenakan kembali pakaiannya dan mencium pipi kiri dan kanan Rani serta tak lupa keningnya juga.
"Bang ...!" lirih Rani.
Air matanya mengalir deras dari ujung mata ke dua Rani, Ridho pun peka dengan balas memeluk tubuh sang istri.
"Benarkah ini murni sistem perusahaan Abang yang membuat kita seperti ini?" tanya Rani sambil terisak menangis.
Ridho menghapus lembut air mata yang ada di wajah Rani, lalu mengecup ubun-ubunnya cukup lama.
Dreeet
Suara dering telepon berbunyi, Ridho segera mengeluarkannya dari dalam saku celana dia lalu mengangkatnya. Mata Rani kembali terbelalak saat ponsel yang dipegang Ridho sangat mahal.
"Hallo!" sapa Ridho.
"Oh ya, sekarang juga saya langsung berangkat!"
Hanya kata-kata itu yang Rani dengar dari mulut Ridho, Rani tidak mendengar percakapan apa di sambungan telepon singkatnya dan tidak tahu pula dari siapa Rudho menerima telepon.
Rani hanya menatap keanehan Ridho yang dia anggap sangat jauh berbeda.
"Bang ...!"
Untuk yang ke sekian kalinya Rani memanggil Ridho dengan nada lirih, namun Ridho segera menutup mulut Rani dan memberi kode jika Rani harus memahami kondisinya.
"Kamu bebas mau gunakan untuk apa saja uang itu, termasuk beli handpone baru. Abang usahakan akan kembali pulang dua minggu setelah ini! " jelas Ridho sembari memegang ke dua bahu Rani.
Tak lama setelah itu pengendara ojol membunyikan klakson dari luar rumah, Rani tidak tahu jika Ridho sudah order ojol sejak tadi.
"Abang hati-hati ya! Dan jaga hati juga ya!"
Pesan Rani membuat batin Ridho tersayat, ingin teriak menangis namun dia tahan sebab dia tidak mau Rani terluka dengan apa yang sudah dia jalani di Ibu kota.
"Ya sayang, kamu juga ya!" Ridho balik memberi pesan.
Ridho pun naik motor dan melambaikan tangan, Rani pun membalasnya juga. Setelah Ridho hilang dari pandangannya Rani pun kembali ke rumahnya dan istirahat karena sudah malam.
***
"Maafkan Abang Ran, terpaksa Abang memilih nikah karena kesalahan sepele yang membuat Abang celaka. Tapi semoga suatu saat kamu paham atas pilihan Abang ini!" batin Ridho sesaat setelah dirinya pergi.
Flashback
"Kamu pikir perusahaan ini milik nenek moyang kamu dengan datang seenaknya!" sarkas sang HRD.
Saat itu Ridho datang terlambat saat hari pertama masa training, dia kena omel bagian kepala HRD.
"Ada apa Boy?" tanya Monika CEO dari perusahaan tersebut.
Suara tegas tersebut terdengar cukup keras tapi membuat karyawan cukup segan karena karisma yang dimiliki olehnya hingga tak sembarangan para
pria pun mampu menggodanya.
"I-ini Bu Ridho, karyawan kontrak yang baru masa training satu hari tapi sudah terlambat datang!" jelas Boy dengan nada yang terbata-bata.
Ridho pun balik badan ke arah sumber suara, matanya terbelalak dengan pesona Monika yang cantik sempurna.
Tinggi badan yang hampir sama dengan dirinya hingga wajah mereka hampir sejajar berhadapan, rambut hitam lurus sebahu, hidung mancung, pipi merah merona, dan bola mata yang begitu tajam menatapnya.
"Astagfirullah aku baru bertemu wanita sesempurna dia tapi ...,Rani istriku cantik natural. Karena aku belum bisa kasih dia modal ke dokter kecantikan saja jadi mukanya terlihat kusam," batin Ridho.
Munafik jika batin Ridho tidak mengakui wajah cantik Monika, meski usianya jauh lebih dewasa namun semuanya tersamarkan oleh paras yang nyaris sempurna tanpa ada celah kurang sedikitpun.
"Ridho! Kamu ke ruangan saya saat ini juga!" titah Monika dengan muka datar.
Wajah Boy senyum puas karena pikirnya sudah bakal pasti Ridho kena omel dan berujung dipecat seperti karyawan kontrak lainnya.
"Mampus kamu! Makanya taati peraturan!" gerutu Boy.
Langkah Ridho cukup nekad, meski sempat gemetar di sekujur tubuhnya. Bukan karena menghadapi Monika yang merupakan CEO tempat dia magang kerja, namun kecantikan yang beberapa saat dia tatap begitu sulit dia lupakan.
"Kunci pintunya!" seru Monika kemudian.
Masih dalam keadaan gugup dan tubuhnya yang gemetar hebat, Ridho kembali diperintah Monika untuk mengunci pintu ruangan kerjanya.
"A-apa Bu? Me-mengunci?" Ridho mengulang kata-kata seruan Monika.
Monika yang duduk santai di kursi kerjanya, sambil memutar-mutar kursi tersebut Monika menahan senyumnya melihat reaksi Ridho tersebut.
"Ya! Benar sekali mengunci! Kamu paham kan bagaimana cara mengunci pintu?"
Ridho berdiri di depan meja kerja Monika dengan wajah tertunduk dan melipatkan ke dua tangan dia.
"Cepat laksanakan atau saya pecat!" seru Monika kemudian dengan nada cukup tinggi.
Ridho pun cepat balik badan untuk melaksanakan perintah Bos cantiknya tersebut.
"Su-sudah Bu," sahut Ridho.
Usai mengunci pintu ruangan kerja Monika, Ridho kembali berdiri di depan meja kerja Monika.
"Duduk!" Monika kembali berseru.
Ridho pun duduk tanpa menatap wajah Monika sama sekali. Gemetar di sekujur tubuhnya semakin parah tatkala Monika menghampiri dia dengan duduk di ujung meja kerjanya.
Semerbak parfum yang dipakai Monika menusuk sampai ke jantung Ridho, jantungnya berdebar tak terkondisikan setelah melihat sekilas bentuk pahanya yang tertutup rok selutut yang Monika kenakan.
"Ya Allah, kuatkan imanku ini! Seumur hidup cuma Rani istriku perempuan yang aku puja dan mataku tidak pernah terbuai oleh pandangan seindah apapun!"
Batin Ridho bergemuruh hebat, padahal Monika belum bicara apapun. Hanya srbatas duduk di dekatnya saja.
"Kamu ini sarjana tehnik, nilai IP kamu pun kumlaud, secara administasi perusahaan ini sangat membutuhkan kamu. Tapi apa kamu sudah memahami konsekuensinya dari awal kan bagaimana bekerja di sini?"
Pendengaran Ridho berubah buyar, hanya samar-samar yang dia tangkap oleh telinganya. Fokus dia hanya memohon pada yang maha kuasa supaya pandangannya tidak tergoda oleh perempuan selain Rani istrinya.
Bersambung
Hai reader, bagaimana jika kalian ada di posisi Ridho? Ayo tulis di kolom komentar ya! Lempar power stonenya juga dong untuk dukung novel aku. Klik colect supaya kalian update terus cerita terbaru aku.
webnovel
Terpaksa Mendua.
Author: Author_teratai
Urban
Completed · 240.5K Views
388 Chs
CONTENT
4.9
10 RATINGS
NO.200+
SUPPORT
Synopsis
Ridho seorang pria yang sudah yatim piatu sejak masih duduk di bangku SMP, berkat prestasi belajarnya dia mendapatkan beasiswa sampai mendapatkan gelar sarjana.
Namun gelar tersebut tidaklah membuat kehidupannya berubah lebih baik, ceritanya penuh lika liku terutama tentang pernikahannya dengan Rani gadis pujaannya yang diperebutkan oleh banyak pria lantaran kecantikannya yang luar biasa mempesona.
Karena dorongan itulah Ridho merantau ke Ibu kota untuk mengadu nasib, dan demi posisinya yang strategis dia nekad menerima tawaran kawin kontrak dari Bosnya yang selisih 10 tahun lebih dewasa dari dia.
Akankah kehidupannya Ridho seindah yang dia mimpikan, terutama pernikahannya yang harus memilih jalan poligami?
Untuk Para reader kesayangan, mohon maaf ada beberapa bab yang harus direvisi. Authornya lagi ngidam jadi agak lambat sedikit, mohon dimaklum!
Baca kisah selengkapnya hanya di Webnovel.
Chapter 1
Kakak Ipar VS Adik Ipar
"Sarjana kok nganggur!" Cibir Fadhil kakak ipar Ridho.
"Lihat nih Abang meski lulusan SMA tapi bisa menghidupi keluarga bahkan orang lain juga!"
Beberapa kali Fadhil menghina, mencibir dan menyindir dengan bahasa yang tidak mengenakan hati Ridho.
Tapi Rani sang adik tetap bersikukuh jika suatu saat Ridho sang suami akan menemukan pekerjaan yang sesuai harapan mereka.
"Abang kok ngomongnya begitu sih?
Untung nggak ada orangnya, rejeki itu diatur oleh Allah Bang. Yang penting sebagai manusia jangan penah berhenti berikhtiar,"
Rani berusaha membela suaminya, sekalipun itu teramat sangat menyakitkan tapi baginya suami hak untuk dibela.
"Setelah orang tua kita nggak ada Abanglah yang bertanggung jawab atas dirimu, tapi timbal baliknya kamu membangkang terus sama Abang!" tukas Fadhil.
Ingin sekali Rani menghindar dari omelan sang Kakak tapi apalah daya saat itu dia tengah meminta bantuan materi pada sang Kakak atas rehabilitasi rumah peninggalan orang tuanya.
"Bang bukannya membangkang ...!" sanggahan Rani terjeda.
"Kalau bukan membangkang apa? Buktinya kamu tetap bersikukuh menerima Ridho yang nggak jelas pekerjaannya sampai sekarang, ketimbang mendengar Abang yang mengenalkan kamu pada pedagang sate madura yang memiliki 10 cabang dagangannya!" Fadhil memotong bicara Rani.
Akhirnya Rani memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraannya lagi dan memilih untuk pulang.
"Bang aku pamit pulang dulu! Kalau Abang mau bantu rehab rumah ya Alhamdulillah kalau pun tidak bagi aku tidak masalah!"
Sambil berdiri dan menjulurkan tangan pada Fadhil untuk mencium punggung tangannya, namun Fadhil menolak dan menyuruh Rani untuk duduk kembali.
"Duduk dulu kamu!" seru Fadhil.
Berbeda dengan Maya sang kakak ipar yang lebih lembut dan bijak pada siapapun termasuk Rani, dia ikut duduk dan mengelus punggungnya. Di saat mata Fadhil sedang tidak tertuju padanya tangan dia memasukkan sesuatu pada saku celana panjangnya.
"Kak ...!"
Rani hendak bersuara tapi segera Maya memberi kode mata supaya Rani diam.
"Bang, sore ini kan kita mau ke dokter periksa kandungan aku!"
Maya mencoba mengalihkan perhatian Fadhil supaya berhenti ngomel-ngomel pada adiknya Rani.
"Oh ya Ran, ini kan sudah sore kamu sebaiknya menginap di sini ya! Lagian suamimu sedang tidak ada kan?" tawar Maya.
Rani terdiam tidak menjawab, dia bingung karena yang baik di rumah itu kakak iparnya bukan kakak kandungnya sendiri.
"Sebaiknya kamu pulang saja! Siapa tahu nanti malam suami tersayang kamu pulang, ayo sayang kita nggak usah pedulikan dia sebab dia sendiri tidak mendengar saran kita dari dulu!"
Fadhil dengan tegas menolak jika Rani harus menginap di rumahnya, Maya sendiri tak mampu melawan sikap suaminya itu. Tapi dia merasa tenang karena sudah memasukkan uang sebanyak 500 ribu ke dalam saku celana Rani.
"Kak Maya aku pulang dulu ya! Semoga calon keponakan aku sehat sampai dia dilahirkan nanti!"
Rani pamit pada Maya dan tidak mempedulikan Fadhil kakak kandungnya sendiri. Kakinya pun agak gontai melangkah namun dia paksakan berjalan menuju rumahnya yang sudah hampir roboh itu.
"Kenapa Abang tega begitu sih sama adiknya sendiri? Kasian tahu! Rumah peninggalan Ibu kalian itu sudah hampir roboh dan kamu malah bersikap tidak peduli,"protes Maya.
Fadhil balik melototin Maya karena sudah berani mengkritik dia dalam ruang lingkup keluarganya.
"Kamu tidak usah ikut campur urusan keluarga aku, kamu sendiri nggak bakal bisa makan kalau nggak nikah sama aku. Adik aku itu harus diberi pelajaran karena sudah berani menolak perjodohan yang aku tawarkan dulu!" sarkas Fadhil.
Fadhil memang seorang diktator, dia menyempitkan ruang gerak pada siapapun untuk berpendapat termasuk istri juga adiknya.
Sebelum Ayah dan Ibunya meninggal, Fadhil menawarkan seorang pedagang sate madura yang sukses. Namun Rani menolak lantaran Rani akan dijadikan istri ke duanya.
Alasan yang paling kuat bukan sebatas itu tapi Rani sudah terlanjur sayang pada Ridho seorang sarjana hasil beasiswa dari prestasi belajarnya.
"Ya sudah Bang, kayaknya kita tertinggal antrian cukup banyak deh. Ayo buruan cepat berangkat ke dokter! Aku nggak sabar mau lihat perkembangan darah daging kamu di dalam kandungan aku!"
Lagi-lagi Rani mengalihkan perhatian Fadhil supaya tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak nyaman untuk dia dengar, segera dia ajak menuju klinik dokter kandungan karna sudah telat hampir satu jam lebih akibat ngomel-ngomel ke adiknya Rani tadi.
Di tempat yang berbeda Rani sampai juga di rumah bututnya itu, dia duduk lalu meneguk air minum dari teko yang dia masak tadi pagi.
"Segar sekali tenggorokan aku ini, sekaligus tenang karena segera bebas dari omelan Abang," Rani bermonolog.
Setelah beberapa menit dia duduk, Rani kembali sadar jika ada yang mengganjal dari saku celana panjangnya. Dia berdiri dan mengambilnya.
"Masha Allah ini kan uang yang diberikan Kak Maya sama aku, jumlahnya pun lumayan besar, tapi dari mana dia bisa menyisihkan uang sebesar ini?"
Rani bermonolog sambil menghitung uang yang diselipkan Maya ke dalam saku celananya, meski senang karena kebutuhannya akan sedikit tercukupi tapi tetap saja Rani bertanya-tanya. Sebab yang dia tahu Maya tidak bekerja.
Tok Tok Tok
Di tengah kebimbangan Rani, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Setelah dibuka mata Rani terbelalak kaget karena yang datang orang yang selama kurang lebih satu bulan dia nantikan kedatangannya.
"Bang Ridho! " panggil Rani.
Ridho suaminya memutuskan untuk merantau ke ibu kota karena ada tawaran kerja dari sebuah perusahaan yang memasang iklan di media sosial.
"Sayang apa kabar? Maafkan Abang karena baru bisa pulang sekarang," sahut Ridho sembari memeluk dan mengelus punggung Rani dengan lembut.
Tidak ada kata-kata lagi yang membuat mulut Rani mengeluarkan suara menyambut kedatangan suaminya. Dia hanya menangis sesenggukan di dada Ridho yang bidang sambil melingkarkan ke dua tangannya ke pinggang Ridho.
"Abang kangen sekali istriku sayang," bisik Ridho.
Rani pun segera melepaskan pelukannya lalu menutup pintu dan menarik tangan Ridho menuju kamar sederhana beralasakan kasur yang berbahan dasar kapuk yang sudah hampir lapuk.
"Wangi abang kok harum sekali, memangnya Abang sudah bisa beli parfum?" tanya Rani sambil mengendus setiap inci dari tubuh Ridho.
Tak ingin banyak pertanyaan Ridho segera membuat mulut Rani terdiam oleh bisikan mesra yang membuat Rani luluh sampai hujan sahutan kata-kata rindu selama hampir satu jam lebih.
"Alhamdulillah Abang diterima kerja, namun selama tiga bulan masa training Abang nggak bisa bebas pulang. Sekarang pun Abang harus segera berangkat lagi karena jika tidak maka posisi yang Abang kejar akan hilang diambil orang," jelas Ridho.
Baru saja Rani menikmati masa-masa indahnya melampiaskan rasa rindu namun dia harus segera melepaskan kembali suaminya itu hanya dalam hitungan jam.
Bersambung
Hai readers bagaimana nih jika hal yang dialami Rani terjadi pada kalian? Aduh nyesek banget ya satu bulan tidak bersua hanya mampu mengobati rindu beberapa jam saja.
Cus langsung ke chapter selanjutnya yang pasti bikin kalian tagih baca!
See you
Chapter 2
Terikat Kontrak Kerja
"Seberat inikah tantangannya Abang mendapatkan pekerjaan? Kita ini baru saja ketemu, apa Abang sendiri tidak rindu?"
Dengan mata yang berkaca-kaca dan nada yang lirih Rani mengeluhkan apa yang menjadi pilihan hidupnya saat itu.
"Sayang, kamu sendiri nggak mau kan suamimu ini terus menerus dicibir dan dicemooh oleh Abangmu? Ini memang berat tapi percayalah jika ini hanya sementara setelah semuanya tercapai maka kita akan menikmati semua yang sudah kita dapat!" jelas Ridho sembari memegang ke dua bahu Rani dan menatapnya sangat tajam.
Rani terlihat pasrah meski hatinya rapuh, dia ingin sekali menjerit meratapi nasibnya yang tak hanya kesulitan secara ekonomi namun dia harus kesepian lantaran jauh dari suami.
"Oh iya, ini ada rejeki. Bonus dari training Abang selama sebulan. Semoga cukup untuk nyicil merehabilitasi rumah ini!"
Ridho pun memberikan beberapa lembar uang pada Rani sebelum dia benar-benar pergi lagi.
"Ini kok banyak sekali Bang, memangnya posisi Abang apa?"
Rani keheranan saat dia menghitung beberapa uang lembaran seratus ribuan sebesar 10 juta rupiah.
"Posisi Abang lumayan strategis, training minggu pertama Bos ku sudah memberikan pujian atas kerja aku makanya aku diberi bonus cukup besar! "jelas Ridho.
Sempat membersihkan badannya terlebih dahulu, lalu Ridho segera mengenakan kembali pakaiannya dan mencium pipi kiri dan kanan Rani serta tak lupa keningnya juga.
"Bang ...!" lirih Rani.
Air matanya mengalir deras dari ujung mata ke dua Rani, Ridho pun peka dengan balas memeluk tubuh sang istri.
"Benarkah ini murni sistem perusahaan Abang yang membuat kita seperti ini?" tanya Rani sambil terisak menangis.
Ridho menghapus lembut air mata yang ada di wajah Rani, lalu mengecup ubun-ubunnya cukup lama.
Dreeet
Suara dering telepon berbunyi, Ridho segera mengeluarkannya dari dalam saku celana dia lalu mengangkatnya. Mata Rani kembali terbelalak saat ponsel yang dipegang Ridho sangat mahal.
"Hallo!" sapa Ridho.
"Oh ya, sekarang juga saya langsung berangkat!"
Hanya kata-kata itu yang Rani dengar dari mulut Ridho, Rani tidak mendengar percakapan apa di sambungan telepon singkatnya dan tidak tahu pula dari siapa Rudho menerima telepon.
Rani hanya menatap keanehan Ridho yang dia anggap sangat jauh berbeda.
"Bang ...!"
Untuk yang ke sekian kalinya Rani memanggil Ridho dengan nada lirih, namun Ridho segera menutup mulut Rani dan memberi kode jika Rani harus memahami kondisinya.
"Kamu bebas mau gunakan untuk apa saja uang itu, termasuk beli handpone baru. Abang usahakan akan kembali pulang dua minggu setelah ini! " jelas Ridho sembari memegang ke dua bahu Rani.
Tak lama setelah itu pengendara ojol membunyikan klakson dari luar rumah, Rani tidak tahu jika Ridho sudah order ojol sejak tadi.
"Abang hati-hati ya! Dan jaga hati juga ya!"
Pesan Rani membuat batin Ridho tersayat, ingin teriak menangis namun dia tahan sebab dia tidak mau Rani terluka dengan apa yang sudah dia jalani di Ibu kota.
"Ya sayang, kamu juga ya!" Ridho balik memberi pesan.
Ridho pun naik motor dan melambaikan tangan, Rani pun membalasnya juga. Setelah Ridho hilang dari pandangannya Rani pun kembali ke rumahnya dan istirahat karena sudah malam.
***
"Maafkan Abang Ran, terpaksa Abang memilih nikah karena kesalahan sepele yang membuat Abang celaka. Tapi semoga suatu saat kamu paham atas pilihan Abang ini!" batin Ridho sesaat setelah dirinya pergi.
Flashback
"Kamu pikir perusahaan ini milik nenek moyang kamu dengan datang seenaknya!" sarkas sang HRD.
Saat itu Ridho datang terlambat saat hari pertama masa training, dia kena omel bagian kepala HRD.
"Ada apa Boy?" tanya Monika CEO dari perusahaan tersebut.
Suara tegas tersebut terdengar cukup keras tapi membuat karyawan cukup segan karena karisma yang dimiliki olehnya hingga tak sembarangan para
pria pun mampu menggodanya.
"I-ini Bu Ridho, karyawan kontrak yang baru masa training satu hari tapi sudah terlambat datang!" jelas Boy dengan nada yang terbata-bata.
Ridho pun balik badan ke arah sumber suara, matanya terbelalak dengan pesona Monika yang cantik sempurna.
Tinggi badan yang hampir sama dengan dirinya hingga wajah mereka hampir sejajar berhadapan, rambut hitam lurus sebahu, hidung mancung, pipi merah merona, dan bola mata yang begitu tajam menatapnya.
"Astagfirullah aku baru bertemu wanita sesempurna dia tapi ...,Rani istriku cantik natural. Karena aku belum bisa kasih dia modal ke dokter kecantikan saja jadi mukanya terlihat kusam," batin Ridho.
Munafik jika batin Ridho tidak mengakui wajah cantik Monika, meski usianya jauh lebih dewasa namun semuanya tersamarkan oleh paras yang nyaris sempurna tanpa ada celah kurang sedikitpun.
"Ridho! Kamu ke ruangan saya saat ini juga!" titah Monika dengan muka datar.
Wajah Boy senyum puas karena pikirnya sudah bakal pasti Ridho kena omel dan berujung dipecat seperti karyawan kontrak lainnya.
"Mampus kamu! Makanya taati peraturan!" gerutu Boy.
Langkah Ridho cukup nekad, meski sempat gemetar di sekujur tubuhnya. Bukan karena menghadapi Monika yang merupakan CEO tempat dia magang kerja, namun kecantikan yang beberapa saat dia tatap begitu sulit dia lupakan.
"Kunci pintunya!" seru Monika kemudian.
Masih dalam keadaan gugup dan tubuhnya yang gemetar hebat, Ridho kembali diperintah Monika untuk mengunci pintu ruangan kerjanya.
"A-apa Bu? Me-mengunci?" Ridho mengulang kata-kata seruan Monika.
Monika yang duduk santai di kursi kerjanya, sambil memutar-mutar kursi tersebut Monika menahan senyumnya melihat reaksi Ridho tersebut.
"Ya! Benar sekali mengunci! Kamu paham kan bagaimana cara mengunci pintu?"
Ridho berdiri di depan meja kerja Monika dengan wajah tertunduk dan melipatkan ke dua tangan dia.
"Cepat laksanakan atau saya pecat!" seru Monika kemudian dengan nada cukup tinggi.
Ridho pun cepat balik badan untuk melaksanakan perintah Bos cantiknya tersebut.
"Su-sudah Bu," sahut Ridho.
Usai mengunci pintu ruangan kerja Monika, Ridho kembali berdiri di depan meja kerja Monika.
"Duduk!" Monika kembali berseru.
Ridho pun duduk tanpa menatap wajah Monika sama sekali. Gemetar di sekujur tubuhnya semakin parah tatkala Monika menghampiri dia dengan duduk di ujung meja kerjanya.
Semerbak parfum yang dipakai Monika menusuk sampai ke jantung Ridho, jantungnya berdebar tak terkondisikan setelah melihat sekilas bentuk pahanya yang tertutup rok selutut yang Monika kenakan.
"Ya Allah, kuatkan imanku ini! Seumur hidup cuma Rani istriku perempuan yang aku puja dan mataku tidak pernah terbuai oleh pandangan seindah apapun!"
Batin Ridho bergemuruh hebat, padahal Monika belum bicara apapun. Hanya srbatas duduk di dekatnya saja.
"Kamu ini sarjana tehnik, nilai IP kamu pun kumlaud, secara administasi perusahaan ini sangat membutuhkan kamu. Tapi apa kamu sudah memahami konsekuensinya dari awal kan bagaimana bekerja di sini?"
Pendengaran Ridho berubah buyar, hanya samar-samar yang dia tangkap oleh telinganya. Fokus dia hanya memohon pada yang maha kuasa supaya pandangannya tidak tergoda oleh perempuan selain Rani istrinya.
Bersambung
Hai reader, bagaimana jika kalian ada di posisi Ridho? Ayo tulis di kolom komentar ya! Lempar power stonenya juga dong untuk dukung novel aku. Klik colect supaya kalian update terus cerita terbaru aku.
Chapter 3
Pertanggungjawabkan Kesalahan Orang Lain
"Saya pastikan besok masuk tepat waktu Bu," ujar Ridho dengan tetap bertahan tanpa menatap wajah Monika.
Monika pun segera berdiri kembali dan merapikan rok mininya, lalu berjalan ke ambang pintu membuka kunci lalu membuka daun pintu itu lebar-lebar.
"Sekarang kamu boleh keluar! Dan lanjutkan pekerjaanmu!" seru Monika sambil berdiri dan memegang daun pintu.
Ridho pun berdiri lalu berjalan sambil memegang ke dua tanganya, setelah di hadapan Monika perlahan wajahnya dia beranikan untuk menatap Monika sembari membungkukkan tubuhnya.
"Terimakasih Bu, saya permisi!"
Sekarang giliran jantung Monika yang sulit dikondisikan, bahkan keringat dingin pun keluar deras dari setiap inci tubuhnya.
"Ya,"
Hanya kata itu yang mampu Monika jawab, tangannya langsung menutup kembali pintu lalu memegang dadanya sambil terengah-engah.
"Perasaan apa yang tengah melanda hati aku sekarang ? Tak biasanya aku menghadapi karyawan segugup ini, padahal dia baru magang dan baru hari ini pula dia memulainya, "
Monika mengomel pada dirinya sendiri karena faktanya dia seorang perempuan yang tidak mudah tergoda oleh pria manapun, sekalipun tampan dan suksesnya pria tersebut.
Keesokan harinya, Ridho datang tepat waktu. Namun kesalahan yang dia lakukan muncul kembali yang membuat Boy kepala HRD geram ingin segera melaporkan pada Monika jika Ridho adalah calon karyawan yang kurang disiplin.
"Hari ini kamu memang tepat waktu, tapi kenapa kamu melakukan kesalahan baru lagi dengan menumpahkan kopi di meja kerja saya?"
Boy bicara sambil mengeratkan gigi atas dan bawahnya juga matanya yang melotot tajam ke arah dia.
"Biar saya bersihkan Pak!" tawar Ridho.
"Ini bukan sekedar masalah kotor atau bersih tapi kamu sudah merusak semua berkas-berkas kerja saya yang harus dilaporkan hari ini juga!"
Bicara Boy mengeras karena kelimpungan dan takut dipecat oleh Monika jika hal itu tidak ada solusi baginya.
Lagi-lagi Monika mendengar ocehan Boy dan langsung masuk ke ruangannya lalu menanyakan penyebab yang membuat Boy bersikap sekasar itu.
"Ada apa ini?"
Lagi-lagi Ridho dihadapkan pada suara yang kemarin membuatnya gugup setengah mati, namun dia tidak bergeming.
Tidak bicara tidak pula bergerak, dia hanya berdiri sambil tertunduk.
"Begini Bu, tadi kan saya pagi-pagi sekali ke sini karena harus mengerjakan laporan yang Ibu minta kemarin. Berhubung Office Boy belum pada datang dan hanya ada Ridho di sini, jadi saya suruh Ridho untuk membuatkan saya kopi. Ketika masuk Ridho menumpahkannya ke meja, otomatis kan semua berkas yang sudah saya kerjakan tersiram oleh kopi tersebut Bu," papar Boy.
Monika menelan salivanya sendiri, lalu dia berjalan menuju tempat di mana Ridho berdiri.
"Ridho kamu tahu kan bagian informasi di kantor ini? Kalau tahu tolong panggil ke sini!"
Tanpa membantah Rido segera beranjak berangkat ke ruangan yang sesuai dengan seruan Monika tersebut.
"Kenapa Si Bos tidak memarahi Ridho ya?" tanya Boy pada dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, petugas dari bagian informasi pun datang ke ruangan Boy sambil membawa laptop.
"Pak Randi, tolong putar rekaman cctv di ruangan ini sejak tadi pagi!" seru Monika.
Tangan Randi segera melaksanakan perintah Monika, dia buka laptop dan memutar kejadian pagi itu yang berkaitan dengan Ridho.
"Silakan dilihat Bu, ini rekamannya!"
Randi mempersilakan Monika untuk melihat detail ada apa sebenarnya di ruangan Boy tersebut, wajah Boy pun terlihat ketar ketir ketika video tersebut diputar di hadapan Monika.
"Maaf Pak Boy, di sini terlihat jelas jika Ridho tidak bersalah. Bapak sendiri yang membuat Ridho kaget karena Pak Boy tiba-tiba muncul setelah menyembunyikan pacarnya ke dalam kamar mandi, "
Dua kepalan tangan Boy ingin dia daratkan ke pipi Ridho yang sudah membuatnya kebakaran jenggot di depan Bosnya sendiri.
"Tapi tenang saja, saya tidak akan serta merta memecat Pak Boy yang sudah bekerja belasan tahun di kantor ini. Hanya saja saya minta untuk menempatkan kantor sesuai fungsinya!"
Monika menyindir Boy atas kesewenang-wenangannya membawa perempuan ke tempat kerja dia.
"Dan kamu Ridho, bukan berarti pula kamu bebas atas insiden ini! Saya tidak mau tahu kamu harus mengerjakan ulang tugas Pak Boy yang sudah kamu tumpahi kopi, saya beri waktu sampai pukul 22.30!"
Ada rasa kesal, ada pula rasa senang sebab dia tidak dipecat perihal masalah yang sudah terjadi.
"Loh kenapa harus saya yang kerjakan Bu? Rekaman cctvnya kan jelas saya kaget dan bukan sengaja, lagian tugas saya di sini bukan di bidang administrasi," sanggah Ridho.
Boy sempat gusar tapi dia lega juga atas keputusan Monika, sekaligus merasa puas atas tugasnya yang dia limpahkan pada Ridho.
"Syukurin kamu Ridho!" batin Boy.
Meski sempat serba salah tapi Ridho harus menghadapi hal tersebut dengan legowo sebab dia sangat membutuhkan pekerjaan tersebut.
"Ba-baiklah Bu saya coba!" jawab Ridho dengan terbata-bata.
"Bagus! Karena jika kamu tidak mampu mengerjakannya maka resiko yang akan di dapat akan sangat fatal sekali!"
Jelas Ridho merasa terancam dengan pernyataan Monika tersebut. Mau tidak mau Ridho segera mengiyakan tugasnya.
Dengan modal nekad, Ridho pun menerima tantangan Monika tersebut. Berbekal sedikit pengalaman jadi tenaga kontrak di kantor pemerintah daerah Ridho merasa percaya diri jika dia mampu menyelesaikan tantangan tersebut.
"Silakan kamu duduk di kursi kerja Pak Boy, dan Pak Boy silakan antarkan dulu pacarnya pulang lalu kembali segera ke kantor, karena bagaimana pun Ridho ini masih harus dibimbing!" seru monika.
Dengan wajah merah penuh rasa malu, Boy pun segera memanggil pacarnya dari dalam kamar mandi dan segera mengantarnya pulang.
"Saya permisi dulu Bu!" Boy pamit pada Monika.
Tanpa berpamitan Monika pun keluar yang diikuti oleh Randi, Ridho pun sendiri sambil komat kamit bicara srndiri karena dia takut kamera cctvnya menangkap perilaku dia yang kurang berkenan di pikiran Bosnya.
"Semoga aku bisa, dan semoga ini jalan cepat menuju sukses!"
Meski sudah di luar, Monika menyempatkan dirinya untuk melihat Ridho di balik kaca ruangan Boy tersebut.
"Semoga dia tidak bisa melakukan hal itu, karena jika bisa maka aku akan benar-benar jatuh cinta! " batin Monika.
Pasca pertemuan pertama dia dengan Ridho, semalam suntuk hati dan pikiran Monika tersiksa sampai tidak bisa tidur.
"Hei Monik, sadar kamu siapa? Dia siapa?" batinnnya sendiri mencoba memperingatkan.
Segera kaki Monika melangkah menuju ruangannya, sambil menunggu tepat pukul 22,30 apakah tantangan Monika selesai dilaksanakan secara sempurna oleh Ridho atau kah bagaimana.
"Bu Monik, pikiranmu tak secantik wajahmu! Kamu ternyata sekejam ini. Aku baru magang tapi malah diberi tugas yang tidak sesuai dengan tugas yang disepakati dalam kontrak kerja!"
Sambil menjentikkan jemarinya di depan laptop, Ridho menanggapi tentang sikap Monika yang terkesan di luar jalur pekerjaannya.