"SUDAH AKU KATAKAN BERULANG KALI, AKU TIDAK MAU MAKAN NASI!!" Teriakan kencang menggelegar di seluruh rumah, Aku menatap tidak suka pada wanita yang kini tengah berdiri dengan sepiring nasi di tangan nya. Wanita itu tersenyum kaku, lalu meletakkan piring berisi nasi itu di atas meja belajar ku. "Mama tau sayang, tapi kalau seperti ini terus Kamu bisa sakit." Wanita itu berjalan mendekat ke arah ku, tangan nya terangkat mengelus lembut rambut hitam Ku, mata nya menatap dalam wajah Ku, tatapan lembut penuh kasih sayang dan rasa khawatir itu membuat Ku semakin membenci dirinya.
Aku menepis kasar tangan nya, lalu mendorong nya keluar dari kamar Ku, amarah, dan rasa sedih seakan memuncak dan bergabung menjadi satu setiap aku menatap wajah cantik nya. "Sayang, dengar kan Mama," ucap nya tidak menyerah "Keluar keluar keluar!!" teriak Ku sambil terus mendorong nya.
Wanita itu menahan tangan Ku, dia kembali tersenyum pahit, kepedihan serta rasa sakit terlihat jelas di wajah nya. Tangan nya kembali terangkat, Aku tahu itu dia berusaha mencapai rambut Ku dan berusaha membelai nya lagi. Dengan cepat Aku mendorong nya dengan keras hingga tubuh nya terjatuh ke lantai.
"KAMU TULI, AKU BILANG KELUAR SI*LAN?!" Aku kembali berteriak lalu menutup pintu kamar ku dengan keras, mengunci nya rapat, lalu berlari menuju kasur ku. Aku membaringkan tubuh Ku di sana, menarik selimut dan mulai menutupi tubuh Ku.
Aku meringkuk di dalam selimut, perasaan Ku campur aduk, rasa bersalah mulai menyelimuti benak Ku ketika mengingat ekpresi lembut Wanita itu. Tetapi Amarah dan dendam Ku lebih membara, membakar rasa bersalah itu dan menghilangkan nya entah kemana. Aku merasakan sesuatu yang keras mengenai tangan ku, Aku menarik benda itu keluar dari dalam selimut, sebuah bingkai foto berwarna coklat tua dengan gambar seorang Pria di dalam nya. Tangis Ku kembali pecah, Aku mendekap foto itu erat, sambil terus terisak, dada ku terasa panas, hati ku pedih dan sakit seolah tersayat-sayat.
"Aku benci," guamam ku pelan "AKU BENCI MAMA, AKU BENCI, BENCI, BENCI, ARGHH!!"
.
.
.
"KELUAR KALIAN KELUAR!!"
"Veronica, tenang lah Aku tidak akan menyakiti Kamu, Aku hanya ingin memeriksa keadaan Kamu." Suara lembut itu terdengar mencoba menenangkan Ku, matanya menatap Ku prihatin. "Kamu ingat Aku kan?" tanya nya hati-hati, dia mulai berjalan mendekati Ku yang tengah duduk di atas kasur. "Ini Aku Leo, kaka sepupu kamu-"
Perkataan Leo terhenti saat tamparan keras Ku layang kan ke wajah tampan nya, membuat pipinya memerah, dia tampak terkejut untuk sesaat sebelum akhirnya tersenyum pahit. Sama seperti wanita itu, dia tidak marah atas prilaku kurang ajar yang Ku tunjuk kan pada nya.
"Veronica-"
"KELUAR KELUAR KELUAR ARGHHH!!!"
Leo tampak terkejut dan mulai mengambil langkah mundur, dia berdiri di depan pintu sambil terus menatap ku dengan tatapan yang sama. Sebuah senyuman kembali terukir di wajah nya lalu suara lembut nya kembali terdengar "Baiklah Ver, aku akan keluar sekarang," ucap nya jelas sekali dia sangat berhati-hati saat berbicara dengan Ku "Tetapi Kamu harus ingat untuk memakan makanan yang Aku bawakan ya Aku tidak mau Kamu sakit, Kamu paham kan?"
"Keluar!"
Leo tersenyum pahit lagi, lalu keluar dari kamar ku, suara pintu yang tertutup menjadi suara terakhir yang kudengar hari itu. Setelah Leo keluar kamar Ku kembali hening, seketika memori-memori lama kembali terputar di kepala kecil ku, membuat ku menggerang frustasi.
Aku menjambak rambut ku, menarik nya keras sampai kulit kepala Ku terasa perih dan sakit. "ARGHHHHH!!!"
.
.
.
.
Hari ini hari pertama sekolah setelah libur panjang yang Aku jalani, Aku berjalan menuju kelas lama Ku, membuka pintu dengan perlahan lalu duduk di kursi ku. Aku bisa merasakan tatapan teman sekelas Ku, desas-desus yang mereka katakan membuat kepala ku terasa pusing. Jika saja Wanita itu tidak tinggal di rumah yang sama dengan Ku, mungkin Aku lebih memilih untuk tidak sekolah selama hidup Ku.
"Aku dengar Ayah nya meninggal saat hari pertama liburan," Kata seorang anak yang duduk di dekat pintu, "Katanya karena kecelakaan," sambung nya, Aku meremas rok sekolah ku dengan kuat menahan gejolak di dada Ku. "Truk besar melindas tubuh Ayah nya sampai putus, dan organ dalam tubuh nya keluar."
Aku bisa mendengar semua nya dengan jelas, terutama saat mereka bergidik ngeri di akhir ceritanya.
"Aku dengar Ibu nya selingkuh dengan paman nya sendiri," Anak itu menjeda kalimat nya, Aku bisa merasakan jika mereka semua melirik Ku "Lalu tanpa sengaja ketahuan, mungkin karena itu Ayah nya berlari ke tengah jalan dan kecelakaan itu terjadi." sambung Anak itu, "Itu lebih terdengar seperti bunuh diri, daripada kecelakaan." sahut anak lain.
Suara gesekan kursi Ku menghentikan percakapan mereka, Aku berjalan keluar dari kelas setengah berlari, Aku merasa tidak sanggup jika harus mendengarkan cerita mereka lebih lama. Aku berjalan keluar sekolah, Aku bisa mendengar teriakan penjaga sekolah saat aku melompati pagar dan berlari menyebrangi jalan. Aku merasa pusing dan mual di saat yang bersamaan, sebelum akhirnya aku memuntahkan semua isi perut ku.
Beberapa orang menghentikan langkah mereka, tidak sedikit yang mengernyit jijik saat melihat cairan kuning keluar dari mulut ku. "Permisi, apa kamu baik-baik saja? Aku bisa mengantarkan Kamu pulang, atau Kamu perlu kerumah sakit?" Suara itu mengalun lembut di telinga ku, aku mengernyit saat melihat seorang pria tinggi yang tengah berdiri tegap di samping ku.
"Kalian lihat dia muntah"
"Astaga malang sekali, apa dia terkena suatu penyakit di usia muda?"
"Wajah nya pucat, apa sebaiknya kita menelepon ambulan?"
Aku meneguk ludah Ku kasar, jantung ku berdegup kencang saat merasakan semua orang memandang Ku, perasaan takut menyelimuti Ku, membuat kepala ku semakin pusing dan pandangan Ku mulai memudar.
"Permisi, apa kamu mendengar ku?" tanya pria yang berdiri di samping ku, Aku menggeleng lalu berlari menjauh dari kerumunan, tanpa tau arah, Aku terus berlari melepaskan rasa sesak di dada Ku, mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuh Ku. Diam-diam Aku berpikir, kenapa Tuhan begitu jahat pada Ku?
.
.
.
.
Aku berjalan pelan, tubuh Ku terasa lemas, Aku menghela napas kasar saat melihat bangunan megah yang Ku tempati berada tepat di depan Ku. Aku benci pulang kesini, tapi Aku lebih benci jika harus meninggalkan tempat ini.
Aku berjalan lebih dekat, sebelum akhirnya kembali menghentikan langkah Ku. Aku mengernyit kan dahi Ku saat melihat beberapa orang keluar masuk dari rumah ku, Aku bisa melihat Leo yang terlihat sangat terkejut saat melihat Ku berdiri di depan rumah, dia berlari keluar mendekap ku dengan hangat, Aku bisa merasakan isakan nya, matanya basah membuat Ku semakin bingung. Aku berusaha mendorong nya, berusaha melepas kan dekapan nya, sebelum akhirnya sebuah benda tertangkap oleh penglihatan Ku, Sebuah bendera, bendera berwarna kuning tergantung di tiang rumah Ku.
"Veronica, Ibu Kamu," ucapan Leo terhenti dia terisak sebentar, suara nya terdengar serak menahan kepedihan. "Ibu Kamu meninggal, Veronica."
.
.
.
.
Aku duduk di atas tempat tidur Ku, meringkuk memeluk lutut Ku, sesak di dada Ku terasa semakin nyata, menghimpit Ku membuat Ku susah untuk bernapas.
Harus kah Aku merasa senang, karena pembunuh Ayah Ku mendapatkan hukuman? Atau harus kah Aku bersedih karena ibu Ku meninggal?
Pintu kamar Ku terbuka, Leo berjalan mendekati Ku, mata nya terlihat sembap, dengan hati-hati dia duduk di samping Ku. Dia memandang Ku, tatapan nya pedih, seolah mengerti apa yang aku rasakan. "Ve, Kamu lapar?" tanya nya, suara nya serak karena habis terisak.
Aku diam tidak menjawab, dia melirik Ku sebelum kembali menatap lurus ke depan. "Bibi mencari Kamu, Pihak sekolah menelepon Bibi, katanya Kamu lari dari sekolah. Apa itu benar?" Leo kembali berucap, dia menghela napas nya saat aku tidak kunjung membuka suara Ku.
"Bibi sangat panik saat itu, dia bahkan berlari ke kantor polisi, tapi polisi bilang mereka baru bisa melakukan pencarian setelah 24 jam," Leo menjeda kalimat nya, lalu menarik napasnya dalam "Jadi Bibi memutuskan untuk mencari Kamu sendiri, tapi karena kurang berhati-hati dia malah tertabrak."
Keheningan kembali menyelimuti kami, Aku manarik napas Ku dalam. "Tuhan tidak suka pada Ku, Leo." Leo manatap Ku "Aku seburuk itu di mata Tuhan, karena itu takdir Ku sangat malang." aku berucap lemah, suara ku terdengar sangat pelan dan lemah.
Leo tersenyum, "Itu tidak benar Ve," ucap nya, tangan nya terangkat mengelus rambut ku. "Dan seandainya itu benar, Kamu harus tau jika banyak orang di dunia ini yang begitu menyayangi Kamu."
Leo merogoh saku celana nya, mengeluarkan sebuah kertas putih lalu meletakkan nya di samping Ku. "Sebelum meninggal, Bibi menulis ini untuk Kamu." Leo berjalan menuju pintu keluar "Kamu mungkin tidak bisa memaafkan Bibi," ucap nya "Tapi Ve, semarah-marah nya seorang anak tidak boleh membenci orangtua nya. Karena itu bisa menjadi penyesalan yang Kamu rasakan saat melihat kuburan mereka nanti." Sambung Leo lalu keluar dari kamar.
Aku mengambil surat tersebut, membuka nya perlahan, tulisan tangan yang begitu Ku kenal, tulisan tangan yang cantik dan lembut mencerminkan pemiliknya. Aku mulai membaca nya perlahan.
'Untuk Veronica, kesayangan Mama dan Papa. Putri kecil Mama yang sekarang sudah besar, rasanya seperti baru kemarin Mama mendengar tangisan Kamu yang menawan, sekarang anak kecil yang tidak bisa melakukan apapun tanpa Mama sudah bisa hidup mandiri dan tumbuh menjadi sangat cantik.
Veronica, Mama jahat ya? Mama membuat kesayangan Mama menangis setiap malam. Mama minta maaf, Mama tau satu kata maaf saja tidak bisa menghilang kan rasa benci Kamu. Tapi Mama akan terus mengatakan nya setiap hari, setiap malam, setiap waktu yang Mama punya akan Mama gunakan untuk mengucapkan kata yang sama, sampai Putri Mama kembali ke pelukan Mama. Mama dan Papa bukan orangtua yang baik, tapi kami selalu berharap Kamu tumbuh dengan baik. Sayang, banyak hal yang belum kamu ketahui, tidak banyak pula waktu yang Mama miliki untuk mengatakan nya pada Kamu. Veronica, jadi anak yang baik, jangan pilih-pilih makanan, Leo akan menjaga Kamu, Mama sudah titip kan Kamu pada keluarga nya. Hidup lah dengan bahagia, cari banyak teman, juga terus lah tersenyum. Dan yang terpenting, saat kamu sudah dewasa nanti jangan menjadi Ibu yang buruk seperti Mama.
Mama pamit ya sayang, Kalau kamu sudah selesai membaca surat nya, janji pada Mama Kamu tidak akan menangis ya? Maafkan Mama yang udah ngelahirin Kamu kedunia yang jahat ini, tapi harus Kamu tahu, Kamu tidak pernah sendiri sayang, Mama dan Papa akan terus menemani Kamu, dari tempat yang berbeda. Mama izin pamit ya, sampai berjumpa lagi permata kecil kami yang cantik.'
Tangis Ku pecah, air mata mengalir deras membasahi surat yang ku baca. Aku mendekap erat kertas putih tersebut, rasa sakit di hati ku semakin terasa pedih, dada Ku terasa semakin sesak. Aku menjerit, berteriak sekuat tenaga ku, meminta agar Tuhan mengembalikan semua yang telah dia rampas dari Ku. Perasaan tidak adil, dan rasa sakit yang Ku rasakan membuat Ku gila.
Leo berlari memasuki kamar Ku, dia menatap nanar tubuh Ku yang meringkuk sambil memeluk kertas yang dia berikan, Leo berjalan mendekati Ku, mendekap Ku lembut mengelus rambut hitam Ku, membisikkan berbagai kata untuk menenangkan Ku.
Malam itu menjadi malam terburuk dalam hidup Ku, Malam dari segala mimpi buruk Ku, Malam yang terus menghantui Ku, Malam di mana Aku mulai membenci diri Ku sendiri.