Sudah setengah jam berlalu aku duduk di dermaga kayu sendirian. Merenungkan segala isi pikiranku saat ini. Teringat kejadian yang tak mungkin kulupakan, saat kepergianmu. Air mataku mengalir deras, pikiranku masih dipenuhi dengan tanda tanya. Aku berteriak dengan isak, "Tuhan, kenapa harus Kai yang pergi, kenapa bukan aku, Tuhan!"
Ya Dia Kai, pria peminjam nama laut sekaligus kekasihku yang belum lama pergi ke pelukan Sang Mahakuasa. Dia adalah makhluk Tuhan yang paling manis perlakuannya. Dia yang membuatku kembali percaya akan rasa cinta. Dia rumahku untuk pulang setelah Ayah dan Ibuku pergi untuk selamanya. Hadirnya membuatku kembali merasa hidup, kepergiannya membuatku merasa kehilangan arah untuk hidup.
Aku menatap laut yang semakin lama menunjukkan keindahan senjanya dengan tatapan kosong. Air mataku semakin mengalir deras, teringat lagi saat kejadian di mana Aku dan Kai juga melihat indahnya senja di laut Marunda dengan alunan musik gitar yang dimainkannya. Teringat lagi sekilas tentang kejadian kecelakaan yang merenggut nyawanya. Aku mencoba untuk menepis itu semua, tetapi nihil. Bayangannya masih ada sampai saat ini, dan sampai kapan pun.
꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷
"Kamu selalu nyanyi lagu ini deh, ini 'kan lagu galau. Kan ada aku, kok masih galau?" tanyaku padanya yang kebingungan saat ia menyanyikan lagu "Duka" dari Last Child.
"Hahaha, enggak begitu, Alana. Ini lagu kesukaanku, mau aku galau ataupun enggak, pasti selalu aku nyanyiin." balasnya dengan terkekeh kecil.
"Iya deh, si paling Last Child banget!" sahutku. Sedangkan Kai hanya bisa tertawa.
"Kai, lihat deh, laut ditambah senja benar-benar indah ya!" aku berucap dengan antusias.
Kai menaruh gitarnya dan beralih menatap senja dengan senyuman manisnya, "Iya, kayak kamu."
Mendengar hal tersebut membuat kedua pipiku menimbulkan semburat rona merah. Kai yang melihatnya langsung mencubit pipiku merasa gemas.
"Ayo kita pulang, ini udah sore." Kai bangkit dari duduknya diatas dermaga kayu yang berderit. Tangannya terulur membantuku untuk bangun.
Kami pun pulang dengan menaiki motor Kawasaki hitam milik Kai. Hingga sampailah di kediaman rumahku. Aku mengajaknya untuk mampir sebentar, tetapi Kai menolaknya. Bukannya tidak mau mampir, ada Sang Ibu yang menunggunya dirumah. Jadi, Kai memutuskan untuk langsung pulang seusai mengantarku.
Motornya telah melaju meninggalkan area rumahku. Aku pun langsung masuk kedalam rumah, membersihkan diri, setelahnya beristirahat dan menyelam ke alam mimpi.
꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷
Sinar matahari sedikit menelusup masuk melalui jendela yang terbalut tirai. Ini sudah pagi. Seperti biasanya, yang pertama kali aku lihat adalah ponsel milikku. Aku membuka lockscreen yang terdapat banyaknya ribuan pesan. Dari temanku sekaligus dari Ibu-nya Kai.
Sebuah berita bahwa seorang remaja mengalami kecelakaan tunggal di jalan yang tak jauh dari rumahku, dan ciri-ciri fisiknya yang membuatku membulatkan mata.
Itu Kai...
Pria yang tergeletak di aspal dengan bersimbah darah, kejadian itu bertepatan saat turunnya hujan.
Jantungku saat itu seperti berhenti berdetak, pikiranku benar-benar kacau. Aku langsung berlari mengambil jaket dan pergi ke kediaman Kai.
Aku harap ini hanyalah mimpi...
Tetapi, ini bukanlah mimpi... Sesampainya aku di sana, sudah banyak karangan bunga untuknya. Banyak orang yang menangis karena kehilangannya.
Aku merasa sangat hancur. Kai adalah kehidupanku, Kai adalah laut sekaligus senjaku, Kai adalah rumahku untuk pulang. Kenapa harus Kai? Ke mana lagi aku harus pulang jika rumahku sudah berpulang ke pelukan Tuhan?
Aku kesepian tanpamu, Kai. Aku benar-benar hancur. Kehadiranmu sangat berarti untukku. Tapi takdir Tuhan berkatta lain. Takdir Tuhan yang telah membunuh hatiku untuk kedua kalinya.
꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷꒦꒷
Aku melangkahkan kakiku pada dermaga kayu yang berderit. Aku kembali ke tempat ini, tempat di mana aku melihat indahnya tiga ciptaan Tuhan, Kai, Laut, dan Senja. Andai kala itu, aku tahu bahwa kejadiannya akan seperti ini. Tak mungkin aku ingin pulang, Kai. Aku ingin terus bersamamu, menikmati indahnya laut marunda dengan senja diatasnya dan alunan gitar dan suaramu yang mengalun di telingaku.
Lagu kesukaan mu yang selalu kau nyanyikan dengan lirik, "Kau hancurkan diriku saat engkau pergi. Setelah kau patahkan sayap ini. Hingga ku takkan bisa, tuk terbang tinggi lagi." Kini, itu adalah aku. Doakan aku supaya bisa mengikhlaskanmu. Terimakasih untuk semuanya, Dukaku.