Malam itu, hujan deras membasahi jalan-jalan kota kecil di pinggiran. Semburat cahaya lampu jalan bergemerlapan di genangan air, menciptakan suasana yang mencekam di sepanjang perjalanan pulang dari pesta teman kuliah. Saya, Ryan, dan dua teman lainnya, Dika dan Maya, berusaha menembus hujan untuk sampai ke tempat parkir.
"Bro, kayaknya tadi malem rada aneh ya?" ucap Dika, sambil menyalakan sebatang rokok di sudut bibirnya.
"Apaan sih, Dik? Udah malem, jangan ngebayangin yang aneh-aneh lah," jawab saya sambil mencoba menertawakan kecemasan yang terselip di hati.
Maya, yang selama perjalanan terlihat pucat pasi, tiba-tiba bersuara, "Gue tadi liat sesuatu di pinggir jalan. Kayak orang berdiri gitu, tapi ga ada orang lain."
"Lo jangan bercanda, Maya. Cuaca juga lagi mendung, jadi bisa aja benda-benda tadi kelihatan aneh," kata Dika mencoba meredakan ketegangan.
Kami melanjutkan perjalanan dalam diam, hanya suara hujan dan langkah kaki yang terdengar. Sampai di tempat parkir, suasana semakin sunyi. Lampu-lampu mobil yang mulai mati satu per satu meninggalkan kami dalam gelap.
"Tadi... tadi gue liat lagi, Ryan," bisik Maya dengan suara gemetar.
"Ya ampun, Maya, jangan bikin suasana makin serem lah," sahut saya dengan nada yang mencoba keras untuk tetap tenang.
Namun, ketika kami mencoba membuka pintu mobil, kebingungan menyelimuti kami. Mobil kami, yang seharusnya parkir di antara dua mobil lainnya, kini sendirian. Tempat parkir yang ramai sebelumnya kini sepi tanpa seorang pun.
"Gue rasa kita ada yang nemenin dari tadi," ujar Maya dengan suara serak.
"Kamu bercanda, kan?" sahut Dika, mencoba menenangkan diri.
Perasaan tidak enak semakin menyelimuti pikiran kami. Dalam kegelapan, kami berjalan menuju tempat pesta tadi malam, berharap ada yang masih bertahan di sana. Namun, pesta sudah berakhir dan lokasi terlihat sepi.
"Gue rasa kita harus segera keluar dari sini," kata saya dengan suara bergetar.
Tiba-tiba, lampu jalan di depan kami mati secara tiba-tiba, menyisakan kami dalam gelap gulita. Suara langkah kaki yang semakin mendekat membuat kami berbalik. Di kegelapan, kami melihat sosok bayangan berdiri di ujung jalan.
"Jangan mendekat!" teriak Dika, sambil meraih Maya dan saya untuk berlari.
Namun, langkah kami terhenti ketika sosok itu mulai mendekati dengan cepat. Di bawah cahaya gemuruh petir, kami melihat wajahnya—bayangan hitam dengan mata yang tak berkedip, tersenyum ke arah kami.
"Jangan lari," bisiknya dengan suara serak yang menusuk telinga.
Tanpa pikir panjang, kami berlari sekuat tenaga meninggalkan sosok itu di belakang kami. Langkah kaki yang terburu-buru, nafas yang tersengal-sengal, dan ketakutan yang mendalam menyelimuti kami.
Kami berhenti di tempat yang kami pikir aman, tetapi kegelapan yang merayapi kami tidak kunjung hilang. Tanpa sadar, kami berdiri di depan sebuah rumah tua yang terlihat kosong dan terbengkalai. Maya menangis tersedu-sedu, sementara saya mencoba menghubungi teman-teman yang lain dengan ponsel.
"Bro, gue ga bisa nelpon," ucap Dika, sambil memperlihatkan ponselnya yang mati total.
Kami duduk bersama di teras rumah tua itu, menunggu pagi datang. Suara angin yang melolong dan suara langkah kaki yang sesekali terdengar membuat kami semakin gelisah. Tidak ada satu pun yang bisa kami hubungi, dan tidak ada satu pun yang tahu kami ada di sini.
Pagi itu, ketika matahari mulai terbit, kami menemukan sebuah catatan di lantai. Tulisan berwarna merah menyala menulis, "Kalian tidak akan pernah bisa kembali."
Malam itu, kami tersesat di antara dunia yang tidak dikenal, tanpa harapan untuk kembali ke rumah.