Di sebuah desa kecil yang tenang, terdapat sebuah warung seblak yang terkenal. Warung ini tidak hanya dikenal karena seblaknya yang pedas dan lezat, tetapi juga karena cerita-cerita mistis yang menyelimuti tempat tersebut. Warung ini dimiliki oleh seorang wanita tua bernama Bu Siti yang ramah dan selalu tersenyum kepada setiap pelanggan yang datang. Namun, di balik senyumannya, tersimpan sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh sedikit orang.
Suatu hari, Saila, seorang gadis muda yang penuh semangat dan berani, pindah ke desa tersebut. Saila memutuskan untuk tinggal di desa ini karena ingin menghindar dari hiruk-pikuk kota dan menjalani hidup yang lebih tenang. Ia segera mendengar tentang warung seblak yang terkenal itu dan memutuskan untuk mencobanya.
Malam itu, Saila berjalan menuju warung seblak. Udara malam yang dingin dan hening menambah suasana misterius. Sesampainya di warung, ia disambut dengan hangat oleh Bu Siti. Setelah memesan seblak, Saila duduk di sudut warung sambil menunggu pesanannya.
Sambil menunggu, Saila merasa ada sesuatu yang aneh. Ia merasakan kehadiran yang tidak terlihat, seperti ada yang mengawasinya. Bulu kuduknya meremang, tetapi ia mencoba mengabaikan perasaan itu. Seblak pesanannya tiba dan ia mulai makan dengan lahap. Namun, perasaan aneh itu tidak hilang.
Tiba-tiba, seorang lelaki tua duduk di meja sebelahnya. Wajahnya tampak sedih dan matanya kosong. Saila mencoba tersenyum kepadanya, tetapi lelaki tua itu tidak membalas. Merasa tidak nyaman, Saila memutuskan untuk bertanya kepada Bu Siti tentang lelaki tua itu setelah selesai makan.
Setelah membayar, Saila mendekati Bu Siti dan bertanya, "Bu, siapa lelaki tua yang duduk di meja sebelah sana?"
Bu Siti terlihat terkejut dan menjawab, "Lelaki tua? Tidak ada lelaki tua di sini tadi, Nak."
Saila merasa kebingungan. Ia yakin telah melihat lelaki tua itu. "Saya yakin, Bu. Dia duduk di sana, sendirian."
Bu Siti menarik nafas panjang dan berkata dengan suara pelan, "Mungkin yang kamu lihat adalah Pak Rahmat, suami saya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. Banyak yang bilang mereka melihatnya di sini. Dia dulu sangat mencintai warung ini dan sepertinya jiwanya masih terikat di sini."
Mendengar itu, Saila merasa ngeri namun juga penasaran. Ia pulang dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
Malam berikutnya, Saila kembali ke warung seblak. Kali ini, ia memutuskan untuk berbicara dengan hantu Pak Rahmat jika melihatnya lagi. Dan benar saja, lelaki tua itu muncul kembali di meja yang sama. Saila mengumpulkan keberaniannya dan mendekati meja tersebut.
"Pak Rahmat?" panggil Saila dengan suara pelan.
Lelaki tua itu mengangkat wajahnya dan menatap Saila. "Kamu bisa melihatku?" tanyanya.
"Iya, Pak. Saya ingin tahu, mengapa Bapak masih di sini?" tanya Saila dengan hati-hati.
Pak Rahmat tersenyum sedih. "Aku tidak bisa meninggalkan warung ini. Aku mencintai tempat ini dan istriku. Aku ingin memastikan warung ini tetap berjalan dan menjaga Bu Siti."
Saila merasa tersentuh. "Saya akan membantu Bapak dan Bu Siti," janjinya.
Sejak saat itu, Saila menjadi pelanggan setia dan sering membantu di warung seblak. Ia menjaga warung dengan penuh perhatian, dan lambat laun, perasaan aneh yang dulu sering ia rasakan mulai menghilang. Saila merasa bahwa Pak Rahmat akhirnya bisa tenang karena tahu bahwa warung kesayangannya berada di tangan yang baik.
Desa itu kembali tenang, dan warung seblak tetap menjadi tempat favorit bagi semua orang. Namun, kisah tentang hantu penunggu warung seblak itu tetap menjadi cerita yang dibisikkan oleh penduduk desa, menambah misteri dan daya tarik tempat tersebut.