Pagi hari seperti biasa Ulfa pergi bekerja. Hari itu terasa berbeda karena ini pertama kalinya dia bekerja di perusahaan besar. Ulfa yang hanya lulusan SMA punya mimpi besar untuk menjadi pengusaha sukses. Kehidupannya tidak seindah wajah cerianya. Ulfa harus menjadi tulang punggung keluarga sejak sedari SMP karena ayahnya meninggal dan sang ibu yang harus dilarikan ke rumah sakit jiwa karena depresi dengan kematian sang suami.
Adik Ulfa,Sean terpaut 5 tahun dengannya yang saat ini masih dibangku SMPdasar. Ia memutuskan tidak melanjutkan pendidikan karena ia ingin fokus mencari uang agar adiknya dapat melanjutkan sekolah. Walaupun sang ayah sudah meninggal namun, masih ada asuransi pendidikan yang telah ditinggalkan untuk Ulfa sampai ia bisa lulus dari perguruan tinggi. Sebaliknya sang adik yaitu Sean belum sempat didaftarkan sang ayah sehingga biaya pendidikannya ditanggung sepenuhnya oleh Ulfa.
Kebutuhan akan pendidikan Sean dan sehari-hari semakin meningkat mengharuskan Ulfa mengambil dana asuransi pendidikannya yang tersisa untuk biaya sang adik bersekolah. Biaya harian ditutupi dengan hasil kerja paruh waktunya. Ulfa bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran cepat saji milik ayah sahabat Ulfa, Rani. Walaupun ayah Rani sudah menganggap Ulfa seperti anak sendiri tapi Ulfa tidak mau begitu karena keluarga Rani sudah membantu sangat banyak kepada dirinya dan Sean.
Seringkali ayah Rani atau Om Ali memberinya gaji berlebih tapi ia tidak bisa menolak karena tidak mau melihat wajah Om Ali sedih dengan penolakannya. Maka dari itu, Ulfa bertekad untuk dapat menjadi pengusaha sukses dan bisa memberikan kebermanfaatan pada orang disekitarnya khususnya yang selalu membantu dalam hidupnya.
Selama perjalanan menuju tempat kerja pertamanya ini Ulfa sangat gugup. Kemarin malam ia mendapat telpon dari perusahaan elektronik yang sekarang menjadi tempat kerjanya bahwa dia diterima bekerja disana walaupun dia tidak tahu posisi yang akan dia kerjakan. Rani lah yang diam-diam membantunya melamar di berbagai perusahaan sehingga Ulfa tidak mengetahui hal tersebut. Ulfa telah melamar pekerjaan di berbagai tempat dengan mendatangi secara langsung tetapi tempat yang ia tuju rata-rata tidak menerima lulusan SMA dan jika ada hanya membutuhkan keterampilan lain yang belum Ulfa pelajari.
Sesampainya ditempat kerja Ulfa manatap takjub pada gedung di depannya. Sangat besar dan mewah itulah kesan pertamanya. Ulfa mulai memasuki area pintu dan bertemu dengan penjaga disana. Penjaga itu sangat ramah pada Ulfa walau wajahnya terlihat garang. Ulfa mengatakan kalau dia adalah karyawan baru. Sang penjaga pun langsung paham dan mempersilahkan masuk dan menyuruh Ulfa ke bagian resepsionis.
Di meja resepsionis, Ulfa diminta mengikuti perempuan bernama Rima menuju lantai 3. Kemudian Ulfa masuk ke ruangan bertuliskan "training". Perempuan tadi mempersilahkan Ulfa duduk sambil tersenyum ramah. Ternyata sebelum bekerja Ulfa diminta kembali untuk wawancara lanjutan dan penandatangan kerja. Wawancara berjalan lancar dan ulfa siap untuk bekerja.
Pada waktu wawancara tadi, ia disuruh memilih posisi kerja. Ada 2 pilihan yang dipertimbangkan Ulfa, posisi cleaning service atau bekerja di kantin perusahaan sebagai anggota pembantu chef disana. Pilihannya jatuh kepada posisi pembantu juru masak karena dia hanya perlu bekerja dari pagi sampai jam 3 sore. Sedangkan posisi satunya harus per shift sehingga Ulfa tidak bisa bekerja tetap di restoran om Ali.
Ulfa begitu semangat pada hari pertama ia bekerja mengingat ia masih belum resmi diterima karena selama 3 bulan kedepan adalah masa pelatihannya.
"Kamu bisa Ulfaa, yuk semangattt" gumamnya dalam hati.
.............................
Kini sudah hampir 3 bulan dalam masa training sebelum Ulfa diangkat menjadi karyawan resmi. Sekitar 1 minggu lagi masa ini akan berlalu.
"Tinggal dikit lagi" kata Ulfa sambil menyemangati dirinya.
Selama dia bekerja di kantin ini para karyawan rata-rata sangat ramah padanya dan yaa sudah pasti ada satu atau dua orang yang berperilaku jahat padanya. Hal ini wajar adanya disetiap sisi kehidupan ini.
Namun, peristiwa tak terduga terjadi pada Ulfa. Ulfa tak sengaja menjatuhkan maskot perusahaannya dan berakhir terjebak di dunia yang hampir sama dengan dunianya. Hanya saja orang-orang disini memakai pakaian seperti hendak balapan tak lupa dengan sebuah helm trasparan.
Saat ini Ulfa seperti biasa berada di kantin perusahaannya dan bertemu dengan orang-orang yang sama bekerja dengannya di dunia sebelumnya. Namun, nama Ulfa berganti dengan nama Serin. Sudah 3 hari sejak dia terjebak di dunia ini namun, belum mendapat petunjuk apapun. Di dunia ini Ulfa tidak punya keluarga dan tinggal di fasilitas perusahaan yang disediakan.
Hari ke-4 ini, dia mencoba mencari ruangan yang ada berisi maskot elektronik karena ia yakin itu jalan satu-satunya untuk kembali. Di perusahaan dunianya, ruangan itu ada di lantai 13 yaitu ruang direktur perusahaan. Anehnya, di dunia ini lantai perusahaanya hanya sampai 12 lantai. Saat Ulfa menuju lantai 12 pun tidak ada maskot tersebut dan ketika Ulfa bertanya tentang direktur perusahaan ini, rekan kerjanya mengatakan bahwa direktur saat ini dalam posisi kosong. Direktur lama telah menghilang selama hampir 3 bulan kurang 7 hari.
Ulfa mengambil kesimpulan bahwa hilangnya direktur dan lantai 13 berkaitan dengan dirinya yang terdampar di dunia ini.
Ikuti kelanjutan kisah Ulfa yaaa✨️