Senandung malam berbisik merdu. Langit-langit kelabu disinari cahaya rembulan. Sesa seorang wanita cantik dengan keterbatasan fisik. Ia tak dianugerahi penglihatan sejak ia dilahirkan. Namun, semuanya tak membuat ia bersedih karena cinta yang ia miliki mengalahkan semua kesedihan yang ia alami.
Pada umur dua puluh tahun, Sesa di jodohkan dengan pria angkuh yang tak lain adalah anak dari sahabat ayahnya.
Pernikahannya sudah menginjak dua tahun, namun mereka belum juga dikaruniai seorang anak, bukan karena tak bisa memberi keturunan tapi karena suaminya tak pernah mau menyentuh Sesa, karena bagi suaminya pernikahan itu hanya status dan terjadi karena perjodohan bukan cinta.
Tetapi Sesa adalah wanita yang berhati mulia, ia tak pernah menyesali pernikahannya tak pernah pula mengutuk perlakuan suaminya.
•••
Tok... Tok.... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar.
Sesa bergegas pergi kearah pintu, dengan bantuan tongkat ia meraba setiap sudut rumah.
" Cepat buka!! " Teriak Sandi, suaminya.
Setelah sampai dipintu, Sesa langsung menarik knop pintu dan membukanya.
" Bodoh! Buka pintu aja lama banget. "
Mendengar perkataan suaminya, yang kejam, jantungnya seperti ditusuk ribuan paku, ia hanya bisa meneteskan airmata. Kemudian memapah tubuh Sandi yang berjalan gontai. Sepertinya Sandi pulang dalam keadaan mabuk lagi.
Dikamar..
" Duduklah, aku akan membuatkan jahe hangat untuk mu " Ucap Sesa lembut.
Meskipun memiliki keterbatasan fisik, ternyata sesa sangat mahir dalam memasak hal itu ia pelajari sejak kecil menurutnya keterbatasan bukanlah sesuatu yang bisa menghalangi dirinya.
Ia segera mengupas beberapa jahe, menyiapkan bahan-bahan lainnya seperti gula merah dan tengerine kemudian merebusnya dalam satu wadah. Jahe hangat ini bisa mengurangi gejala mabuk.
Ketika minumannya sudah siap, dengan hati-hati Sesa membawanya kekamar.
" Minumlah ini, kamu akan merasa lebih baik setelah meminumnya. " Ujar sesa penuh kasih sayang.
Sandi meminumnya.
" Aku udah minum, sekarang kamu harus keluar, aku nggak sudi tidur sama kamu."
Sesa menghela napas, tersenyum kemudian meninggalkan suaminya.
•••
Hari-hari sudah berlalu, semuanya terjadi sama persis dengan hari-hari biasanya. Tidak ada kebahagiaan. Namun sesa menghiraukan nya. Ia tetap akan mencintai suaminya, apapun yang terjadi.
Suatu malam, Sandi membawa seorang gadis muda kerumah mereka berdua, secara terang-terangan Sandi berselingkuh dihadapan istrinya.
Hati sesa mungkin hancur, tapi ia tak memberi apapun sebagai penolakan. Ia pergi ke dapur sementara suaminya berduaan dengan wanita lain. Sesa menitikan air mata nya, air mata yang selalu membuatnya tegar dari segala macam cobaan.
Malam ini ia menangis, besok paginya ia kembali bahagia. Tidak ada luka yang bisa menyakiti nya karena cintanya masih ada bersamanya hingga saat ini.
•••
Esok harinya...
" Aku ada kerjaan keluar kota, dan nggak akan pulang selama tiga hari jadi kamu nggak usah nungguin aku lagi. " Ucap sandi.
Sesa mengangguk, " Hati-hati ya. "
" Hmm, kamu yang seharusnya hati-hati jangan sembarangan pegang barang inget kamu itu buta! Jangan sampai terjadi hal yang merugikan buat aku akibat perbuatan kamu. " Kata Sandi terdengar ketus.
Sesa kembali mengangguk, kemudian ia mengantar Sandi menuju mobilnya.
Diperjalanan, Sandi menyetir mobilnya sembari berbincang di telpone dengan wanita simpananya. Ia tenggelam dalam obrolan panjangnya, sampai-sampai ia tak sadar ada mobil yang melaju kencang dihadapannya.
Duuuuuuuuugh!!!!!
Kecelakaan tak bisa dihindari, mobil yang di kendarai Sandi tersungkur mundur, hingga berhenti karena ditabrak mobil lainnya dari arah belakang.
Beberapa menit kemudian polisi dan tim medis datang, semua korban segera dilarikan ke rumah sakit.
Sesa menerima kabar lewat telepon, ia terkejut, air mata mengalir deras ke pipinya. Sesa pun segera menuju rumah sakit dibantu dengan paman nya.
Dirumah sakit, dokter bilang bahwa kondisi Sandi sangatlah parah dari korban lainnya, ia membutuhkan banyak pendonor darah.
Sesa menangis, tak karuan kemudian ia pergi ke taman untuk memenangkan diri.
•••
Sudah 10 jam berlalu, Sandi sendiri sudah mendapatkan pendonor. Ia pun sudah melewati masa-masa kritis nya.
Tiga hari kemudian....
Sesa belum juga datang, untuk menemui suaminya, lantas Sandi pun bertanya pada paman nya.
" Paman, dimana sesa? Apa dia tidak peduli dengan suaminya. " Katanya masih sangat angkuh
Paman menelan ludah dan memalingkan wajah, kemudian meninggalkan Sandi sendirian.
Sandi bingung apa yang sebenarnya terjadi, kemudian ia bertanya kepada suster yang kebetulan mau mengganti perbannya.
" Sus siapa orang baik yang mendonorkan darahnya untuk saya. "
" Seorang wanita yang baik hati dan juga mulia, pak. "
" Dimana dia? Saya ingin mengucapkan terimakasih padanya. "
Suster itu menunduk, " Maaf pak tapi pendonor sudah meninggal lima jam setelah operasi yang bapak dan beliau lakukan. "
" Operasi? " Tanya nya kebingungan.
Suster tadi mengangguk, tak lama setelah itu dokter yang menangani dirinya masuk.
" Sus biar saya yang bantu menjelaskan. " Kata sang dokter.
Kemudian suster tadi keluar dari ruangan.
" Pak sebenarnya beberapa bulan yang lalu, bapak sempat dibawa ke rumah sakit ini dalam keadaan tak sadarkan diri, bapak selama ini mengalami kerusakan hati dan gagal ginjal. Tapi istri bapak menyembunyikan nya, beliau tidak ingin membuat bapak bersedih. "
" Istri nggak berguna! Suaminya sakit malah dibiarin. " Hardik Sandi.
" Tunggu pak, biarkan saya melanjutkan perkataan saya. Saat bapak mengalami kecelakaan dan membutuhkan donor darah yang cukup banyak istri bapaklah yang menjadi pendonornya, saya sudah memperingati sebelumnya bahwa mendonorkan darah secara berlebihan bisa berakibat buruk padanya, namun istri bapak tetap bersikeras untuk mendonorkan darahnya, dan untuk sakit yang bapak derita selama ini, bapak bisa sembuh karena pengorbanan istri bapak, beliau jugalah yang mendonorkan hati serta ginjalnya. " Tutur sang dokter.
Sandi tercengang baru kali pertamanya ia menitikan air mata.
" Dimana istri saya sekarang dok? " Suaranya terdengar berat.
Dokter tadi menunduk, " Maafkan saya pak dengan berat hati saya menyampaikan bahwa istri bapak tidak bisa diselamatkan. "
Sandi semakin terkejut, kemudian dokter itu memberikan ponsel Sesa dimana sesa menitipkan pesan terakhir nya untuk suami yang sangat ia cintai.
Sandi meraih ponsel itu dengan tangan gemetar, kemudian ia putar segera rekaman suaranya.
▶
Suamiku, aku sangat mengerti atas kekecewaan mu karena memiliki istri seperti ku, maafkan aku karena perjodohan ini kau harus menderita.
Sungguh aku tidak pernah menginginkan hal ini terjadi padamu, sekali lagi aku meminta maaf.
Aku akan tetap mencintaimu meskipun kau tidak mencintaiku, percayalah aku tidak berbohong. Kali ini kau akan terlepas dari semua penderitaanmu. Cinta ini tak membuatku menyesal telah mengenalmu, aku akan tetap hidup di hatimu. Berbahagialah, selamat tinggal.
Setelah mendengar isi rekaman tersebut, Sandi berteriak seperti orang kerasukan, ia mengamuk, sambil mengutuk dirinya sendiri, ia menangis. Tangisan yang selalu sesa sembunyikan selama ini. Ia menyesal namun semuanya sudah terjadi dan tak bisa dihindari lagi.
Sesa sudah pergi, penderitaannya sudah berakhir. Terkubur bersama raganya yang sudah mati.
-- tamat --