Orang-orang disekitarku banyak yang menyatakan bahwa buku bersampul hitam ditanganku ini adalah buku yang mencantumkan nama-nama orang yang meninggal secara tragis di sekolah kami.
Awalnya aku ragu untuk membuka, sedikit tidak percaya juga dengan desas-desus yang beredar. Tetapi, ketika kubuka lembar pertama, mataku membola.
Evano, merupakan nama pertama yang muncul. Ditulis menggunakan tinta merah tebal dengan huruf yang tidak terlalu jelas. Dipojok kiri terdapat sebuah tanggal bertuliskan Desember 04, tanggal yang kuyakini adalah tanggal kematian anak bernama Evano ini.
Kemudian aku beralih membuka halaman berikutnya. Ialah Noiz, nama kedua yang tercantum setelah Evano.
Aku ingat jelas perempuan bernama Noiz ini. Ketika aku merupakan murid baru di sekolah ini, Noiz merupakan siswi populer yang terkenal karena kecantikan dan kepandaiannya. Namun, aku hanya pernah melihatnya dibeberapa kesempatan saja, karena tak lama setelahnya, siswi cantik ini dikabarkan menghilang.
Banyak polisi dikerahkan, bahkan poster orang hilang disebar didaerah sekitar. Tetapi, hal tak terduga terjadi.
Dia ditemukan mengapung ditoren air sekolah. Ketika itu, air-air yang mengalir dari kran sekolah berbau tak sedap dan agak berlendir.
Alhasil karena penasaran, penjaga sekolah rela memanjat genteng dan menilik kedalam toren. Dan berapa terkejutnya beliau, mendapati Noiz yang sudah putih pucat dengan perut menggembung terisi air.
Akan tetapi, hingga saat ini polisi belum bisa mengkonfirmasi penyebab kematian Noiz dan menutup kasus ini awal semester lalu. Tragedi ini terjadi di tanggal 28 di bulan Februari. Padahal tubuh Noiz ditemukan diawal bulan Maret. Agaknya buku ini menuliskan tanggal tepat kematiannya.
Selesai dengan lembar Noiz, aku kembali membuka halaman berikutnya.
Nama yang tercetak ialah San. Seorang kapten basket yang banyak menjuarai ajang-ajang atau sebatas Olimpiade. Sosok tampan nan gagah yang disegani banyak orang. Dan satu hal yang kalian harus tahu, kapten basket ini dahulu merupakan kawanku.
Mendengar dia ditemukan tewas berlumuran darah dilahan kosong belakang sekolah adalah sebuah pukulan keras tersendiri untukku. Terlebih ketika polisi tak sanggup mengatasi kasus ini dan menutupnya cuma-cuma seperti kasus Noiz. Sungguh membuat kecewa.
28 Juni adalah hari yang masih membekas hingga saat ini.
Aku menghela,mencoba menenangkan diri agar cairan bening dipelupuk ini tak menetes. San adalah teman terbaikku.
Berberapa detik berlalu, kembali kubuka halaman-halaman setelahnya nama-nama siswa yang tentunya tak asing dikepalai. Aku mencoba untuk bersikap biasa saja.
Tapi untuk lembar berikutnya, hatiku mencelos. Jantungku berdetak kencang. Alexa. Nama yang ditulis dengan tinta merah yang nampak baru.
Alexa, itu namaku.
5 Oktober, itu hari ini.
Shit