Setahun sudah berlalu sejak pernikahan kontrak itu dimulai. Banyak hal yang berubah dalam hidupku, dan meski pada awalnya ini hanya kesepakatan formal, aku tidak bisa memungkiri bahwa perasaanku terhadap Bara telah tumbuh menjadi cinta sejati. Namun, ketidakpastian selalu mengintai di setiap sudut pikiranku, terutama mengingat asal-usul pernikahan kami yang penuh kepalsuan.
Aku berdiri di depan cermin, melihat bayangan diriku yang kini berbeda. Ada kehidupan baru yang tumbuh di dalam diriku. Aku hamil. Perasaan campur aduk memenuhi hatiku; bahagia karena kehadiran bayi ini, namun juga takut dengan reaksi Bara.
Malam itu, aku pulang lebih awal dari biasanya, membawa berita yang ingin kusampaikan kepada Bara. Namun, ketika aku membuka pintu villa, pemandangan yang kulihat menghancurkan hatiku. Bara sedang duduk di ruang tamu, tertawa bersama sahabat dekatnya, Alia. Tidak ada yang aneh dengan mereka berdua berada di sana, tetapi cara mereka saling memandang dan kedekatan mereka membuatku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Aku berdiri di ambang pintu, mencoba menahan air mata yang siap mengalir. Bara dan Alia terlihat begitu dekat, terlalu dekat untuk sekadar teman. Mereka bahkan tidak menyadari kehadiranku hingga aku akhirnya melangkah masuk, menghentikan percakapan mereka dengan tatapan yang penuh luka.
"Ra, kamu sudah pulang?” Bara tersenyum, tapi senyum itu terasa hampa sekarang. Aku tidak bisa berbicara. Air mata yang kutahan akhirnya mengalir, dan aku berbalik, berlari ke kamar.
Di dalam kamar, aku duduk di lantai, terisak. Semua harapan dan mimpi tentang masa depan kami hancur berkeping-keping. Dalam kebingungan dan rasa sakit, aku mengambil surat cerai dengan tangan gemetar.
Ketika kita memulai ini, aku tahu ini hanyalah sebuah kontrak. Namun, di perjalanan, aku jatuh cinta padamu. Aku percaya pada setiap kata dan perhatian yang kau berikan, namun hari ini, aku menyadari betapa bodohnya aku. Aku melihat kedekatanmu dengan Alia, dan hatiku hancur.
Aku tau hubungan ini palsu, Bara tak mungkin mencintaiku. Aku hamil, tapi aku tidak ingin anak kita tumbuh di dalam kebohongan dan kepalsuan ini. Aku akan pergi, Bara. Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang kamu cari.
Aku meninggalkan surat itu di meja kerjanya. Dengan air mata yang terus mengalir, aku mengemas beberapa barang dan meninggalkan villa. Aku tidak tahu ke mana aku akan pergi, hanya tahu bahwa aku tidak bisa tinggal di tempat yang penuh dengan kenangan pahit.
Ketika pagi tiba, Bara menemukan surat itu. Dia berusaha menghubungiku, tapi aku sudah memutuskan segalanya. Aku menghilang dari hidupnya, membawa serta anak kami yang belum lahir, berharap bisa menemukan kebahagiaan dan kedamaian yang selama ini kucari.
Dan di suatu tempat, meski hati ini terasa kosong dan terluka, aku percaya bahwa setiap akhir adalah awal dari sesuatu yang baru. Aku akan bangkit, demi diriku dan anakku, meski cinta yang pernah kumiliki untuk Bara kini hanya menjadi kenangan pahit yang takkan pernah terlupakan.
****
Lima tahun berlalu sejak malam yang menghancurkan itu. Hidup terus berjalan, meskipun luka di hatiku tak sepenuhnya sembuh. Aku membesarkan Zahra, anak perempuan yang menjadi sumber kebahagiaan dan kekuatanku. Kami menetap di jogja, jauh dari ingar-bingar jakarta dan kenangan masa lalu.
Sore itu, aku dan Zahra sedang berjalan-jalan di alun alun. Udara segar dan tawa anak-anak di sekitar kami membuat suasana terasa damai. Tiba-tiba, Zahra menarik tanganku, menunjuk ke arah seorang pria yang berdiri tak jauh dari kami. "Ibu, lihat! Orang itu seperti ada di foto yang Ibu simpan," katanya polos.
Aku memutar badan dan mataku langsung bertemu dengan sosok yang sangat familiar. Bara. Dia berdiri dengan seorang wanita di sampingnya, tampak terkejut melihatku. Kami bertatapan sejenak, sebelum akhirnya aku mengumpulkan keberanian untuk berjalan mendekat.
"Bara," sapaku, mencoba terdengar tenang. Bara terlihat bingung, seolah tak tahu harus berkata apa.
"Rara," suaranya hampir berbisik. Dia kemudian menatap Zahra, yang berdiri di sampingku. "Ini... anakmu?" Ucap Bara
Aku mengangguk. "Ya, ini Zahra. Zahra, ini Om Bara."
Zahra tersenyum cerah, "Hai, Om Bara!"
Bara tersenyum lemah, lalu memperkenalkan wanita di sampingnya. "Ini Mariah, tunanganku."
Aku tersenyum sopan, "Senang bertemu denganmu, Mariah."
Kami berbincang sebentar, obrolan yang terasa canggung namun sopan. Aku bisa melihat kebingungan dan kesedihan di mata Bara saat dia sesekali melirik Zahra. Setelah beberapa menit, kami memutuskan untuk melanjutkan jalan masing-masing.
"Bara, Semoga kalian berdua bahagia," kataku sebelum berbalik pergi. Hatiku tak seperti dulu, entahlah mungkin karena sudah ada Zahra disampingku
Ketika kami sudah menjauh, aku menoleh sebentar dan melihat Bara memegang dadanya, wajahnya tampak tertekan. Rasanya ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya, sesuatu yang tak akan pernah bisa dia dapatkan kembali.
Di dalam hatiku, ada rasa lega dan kesedihan yang bercampur aduk. Lega karena aku telah menemukan kebahagiaan baru bersama Zahra, tapi juga sedih melihat Bara yang tampak begitu terluka. Aku tahu bahwa cinta yang pernah kami miliki tidak akan pernah kembali, namun kenangan itu akan selalu menjadi bagian dari hidup kami.
Aku menggenggam tangan Zahra lebih erat, berusaha untuk tetap kuat. "Ayo, Ra, kita pulang," bisikku pelan. Zahra mengangguk, melompat-lompat riang di sampingku. Di antara langkah-langkah kecilnya, aku menemukan harapan baru. Meski masa lalu tak bisa diubah, masa depan masih bisa kita bentuk, Bara tak perlu tau siapa Zahra. Dan itulah yang akan kulakukan, demi kebahagiaan Zahra dan diriku sendiri.
Pov Bara
“Bara,” sapa Rara dengan suara yang hampir tak berubah, meski ada nada kehati-hatian di sana.
“Rara,” jawabku, suaraku hampir berbisik. Aku menatap gadis kecil di sampingnya. “Ini... anakmu?”
Rara mengangguk. “Ya, ini Zahra. Zahra, ini Om Bara.”
“Hai, Om Bara!” sapa Zahra dengan senyum cerah yang membuat dadaku terasa sesak.
Aku memperkenalkan Maria dengan canggung. “Ini Maria, tunanganku.”
Rara tersenyum sopan. “Senang bertemu denganmu, Maria.”
Percakapan singkat kami penuh kecanggungan. Aku mencoba tersenyum dan berbicara biasa, tetapi dalam hatiku ada badai emosi yang sulit dijelaskan. Setiap kali aku menatap Zahra, ada rasa kehilangan yang begitu mendalam.
Setelah beberapa menit, kami berpisah. “Bara. Semoga kalian berdua bahagia,” kata Rara sebelum berbalik pergi.
Aku menatap mereka berjalan menjauh, perasaan sesak di dadaku semakin menjadi. Aku memegang dada, mencoba menenangkan diri. Rasanya ada yang hilang dalam hidupku, sesuatu yang tak akan pernah bisa kuperbaiki. meski dia tidak tahu itu. Rara, wanita yang pernah kucintai dan akan selalu kucintai sekarang membawa separuh hatiku pergi bersamanya.
Maria menyentuh lenganku, “Bara, kamu baik-baik saja?”
Aku mengangguk pelan, meski aku tahu aku tidak baik-baik saja. “Iya, aku baik-baik saja.”
Kami melanjutkan berjalan, tetapi langkahku terasa berat. Penyesalan dan rasa sakit itu begitu nyata, jika seandainya dulu aku mengatakan perasaanku padanya, aku yang akan berada di samping sampingnya saat ini