"I have crush on you."
Kalimat dengan nada berat itu memasuki gendang telinga Lea, membuat kepalanya yang semula bersembunyi di lipatan tangan, kini terangkat.
Kening Lea mengerut mendapati seorang lelaki yang dikenalnya berdiri di depan mejanya.
"Hah?" bingung Lea.
"I have crush on you." Lagi, lelaki itu mengulang kalimatnya.
Mata Lea berkedip-kedip. Otaknya yang pada dasarnya agak lambat memproses sesuatu semakin dibuat kebingungan.
"Hah?" respon Lea untuk yang kedua kalinya.
Arya menghela napas kasar menghadapi Lea beserta otak lemotnya. Kemudian, dia menyodorkan handponenya, memperlihatkan sesuatu di layar hitam itu.
"Siapa?" tanya Arya, menunjukkan story instagram milik Lea.
Sesaat mata Lea melebar. Sesegera mungkin ia mengalihkan pandangan malu, kemudian berpura-pura sibuk dengan buku-buku yang ada di atas mejanya.
"Oy!"
Lea tetap pada aktivitasnya, berpura-pura sibuk dan tidak mendengar perkataan Arya.
"Jawab dong!" ucap Arya.
Lea berdecak pelan. Dengan sangat terpaksa ia membalas tatapan Arya. "Apa?"
"Jawab pertanyaan gue."
"Yang mana?"
"Lo bikin story dengan caption 'I have crush on you' itu buat siapa?"
"Oh ... Itu ...." Otak Lea berputar, mencoba mencari jawaban yang sekiranya tidak berbohong, namun juga tidak menyebutkan nama.
"Buat siapa?" tanya Arya lagi, masih berusaha sesabar mungkin
"Si pemain hati." Jawaban itulah yang pada akhirnya Lea pilih.
"Siapa namanya?"
Mata Lea bergerak tidak beraturan.
Sebenarnya Lea tidak berharap ada seseorang yang akan menanyakan perihal story-nya itu. Bukannya apa-apa, Lea hanya sedikit malu mengatakannya.
Selama ini tidak ada siapa pun yang mengetahui perasaannya tertuju untuk siapa. Selain itu, Lea juga tidak mau kalau orang yang disukainya sampai mengetahui cinta yang selalu dipendamnya.
"Gak penting, gue juga niatnya mau uncrush dia," ucap Lea.
"Loh, kok, bisa? Kenapa?"
"Kok, lo penasaran banget sih?" Lea terkekeh pelan untuk menyembunyikan kegugupan yang melandanya.
Jangan sampai ada satu orang pun yang tahu perasaannya ditunjukkan untuk siapa.
"Memang nggak boleh?" Nada bicara Arya terdengar sensitif. Mungkin kesabarannya mulai habis, sebab Lea yang tak kunjung memberi jawaban yang jelas.
"Lo tahu lagunya Tiara Andini yang judulnya Merasa Indah? Nah, itu jawabannya."
"Ok, gue search bentar."
Tangan Arya langsung mengotak-atik handphonenya, mencarinya lewat sebuah aplikasi musik yang akhir-akhir ini populer.
Melihat Arya yang seperti itu, Lea menatapnya tidak percaya. "Lo sepenasaran itu, ya?"
"Memang," jawab Arya. Tetapi kemudian, kening lelaki itu bergelombang. Matanya menatap Lea curiga setelah ia selesai membaca seluruh lirik dari lagu tersebut. "Maksudnya apa? Yang gue tanya, kan, story lo dibuat untuk siapa?"
"Lo juga tadi nanya alasan gue un-crush, kan?"
Arya menghela napas lagi, merasa lelah dipermainkan oleh Lea. "Ok, gue paham. Sekarang kasih tahu siapa orangnya?"
"Bentar! Gue mau ke toilet dulu. Udah kebelet, nih."
Buru-buru Lea berlari menuju toilet, meninggalkan Arya yang kini memasang wajah kesal.
Arya pasti tahu, Lea sengaja menghindarinya.
--------
"Lo kenapa? Ngelamun mulu."
Seseorang menepuk pundak Lea, membuatnya tersadar dari lamunannya. Lantas, Lea menolehkan kepala pada gadis yang kini duduk di sampingnya.
"Nggak apa-apa," jawab Lea, tersenyum tipis. Kemudian, matanya mengarah ke depan, tepatnya ke arah dua orang yang tengah menjalin kisah kasih asmara. "Gue cuma keinget masa lalu," lanjutnya.
Benaknya tiba-tiba mempertanyakan sesuatu.
Seandainya Lea berani untuk lebih jujur pada lelaki itu, seandainya Lea bisa mengungkapkan perasaannya, seandainya Lea tidak menghindari pertanyaan yang Arya ajukan kala itu, mungkin pemandangan yang tersaji di depannya ini tidak akan terjadi?
Tetapi, Lea takut.
Ia takut ditolak. Ia juga takut menerima kemungkinan perasaannya tidak terbalas oleh Arya.
Meski kala itu Arya terlihat sangat penasaran dan seolah memiliki rasa padanya, namun anehnya perasaan takut ditolak itu tetap ada.
Bisa saja Arya hanya murni penasaran, tidak lebih.
Kalau seandainya benar memiliki rasa pada Lea, bukankah harusnya Arya tidak berpaling pada gadis lain?
Lea kesulitan membaca isi hati Arya. Namun, terlepas dari ada atau tidaknya perasaan lelaki itu pada Lea, ada satu hal yang sangat pasti.
"Gue menyesal," ungkap Lea.
Perasaannya pada Arya tidak tersampaikan.
Di saat Arya telah memiliki gadis yang dicintainya, tidak mungkin Lea mengungkapkan perasaannya sekarang.
Lea hanya bisa menyimpannya hingga rasa itu habis dengan sendirinya.