Sudah tujuh jam berlalu, namun sampai saat ini pemuda bernama Nuya tak kunjung membalas pesan yang dikirimkan Disi.
Detik semakin bertambah, rasa penasaran semakin menggebu dalam hati. Pertanyaan 'sedang apa?' memenuhi isi kepala tak kunjung menghilang.
"Dia sibuk, ya?" Disi bermonolog.
Jemari gadis itu mengetik layar hitam berbentuk persegi panjang. Sebelum sebuah pesan dikirimkan lagi kepada sang lelaki, otak dan hati Disi memperdebatkannya.
"Bagaimana kalau dia memang sibuk? Tapi, balas chat aku gak butuh banyak waktu. Dia bisa luangin sedikit."
Disi menggigit bibir bawahnya, melampiaskan kebingungan yang menimpa. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Apa aku bilang aja kalau aku kangen?" pikirnya, namun Disi meragu. "Tapi, aku dan dia gak punya hubungan apa pun. Rasanya aku tak punya hak mengatakan itu."
Dibuat bingung oleh suatu ketidakpastian adalah hal yang paling menyebalkan. Meski tak ingin, ia dipaksa menebak sesuatu yang sebenarnya tak ada kaitannya dengannya.
Helaan nafas keluar untuk kesekian kalinya. Menekan tombol kembali, Disi beralih berselancar di sosial media bernama Instagram.
Berbagai postingan dilihatnya. Dari sekian banyak postingan teman-temannya terdapat satu yang membuat Disi langsung bangkit duduk. Segera Disi mempertajam penglihatan, memperjelas isi postingan.
Foto gadis cantik berambut hitam panjang dengan senyuman seindah senja terpampang di hadapannya. Gadis itu tak sendiri, melainkan bersama seorang lelaki tampan di sampingnya.
Lelaki itu adalah Nuya.
Mereka sedang bersama. Hanya berdua. Ditambah caption yang mengatakan seolah lelaki itu bahagia menghabiskan waktu bersama gadis di sampingnya.
Mendadak seperti ada sesuatu yang menyerang Disi. Dadanya sakit. Perasaan kesal hadir begitu saja tanpa diundang.
"Jadi ... karena ini, ya, kamu gak balas chat aku?"
Pantas saja. Kini semua menjadi jelas mengenai alasan Nuya tak membalas pesannya hingga tujuh jam berlalu.
Ternyata, Nuya sedang sibuk. Sibuk dengan gadis lain.
Disi terkekeh pelan.
"Aku, kan, bukan siapa-siapanya. Ada hak apa aku meminta waktunya untukku?" Menutup mata sejenak, gadis itu memperlihatkan senyum manisnya pada langit-langit kamar. "Dibandingkan aku, gadis itu pasti jauh lebih penting di mata Nuya. Aku kan ... hanya badut."
Sakit, namun itulah kenyataannya.
Disi memang bodoh. Meski sebenarnya mengetahui peran dirinya sebagai badut, bisa-bisanya ia masih berharap pada lelaki itu.
"Aku yang biasa saja dan dia yang luar biasa, mana pantas bersama? Selera dia pasti tinggi."
Jujur saja, hati Disi terasa patah. Disi cemburu pada 'dia' yang dengan mudahnya mendapatkan cinta Nuya.
Sedangkan, Disi hanya mendapatkan peran badut yang tugasnya menemani dikala bosan, tetapi tak akan pernah bisa memiliki.
Nuya akan datang saat bosan, dan saat rasa bosannya menghilang, maka raga Nuya pun ikut menghilang.
Ingatkan Disi jika ia kembali lupa bahwa bukan dialah pemeran utamanya. Apapun yang Disi lakukan tidak akan pernah bisa mendapatkan hati Nuya.
"Nuya jarang mem-posting foto cewek. Kalau dia melakukannya, itu artinya dia adalah gadis pujaan Nuya. Apa ... aku mundur aja, ya?"
Andai saja kata mundur bisa dilakukan dengan mudah, maka Disi akan mundur detik ini juga.
Malangnya, mengucapkan kata 'mundur' lebih mudah daripada melakukannya.
Disi tidak bisa. Setiap kali Nuya datang padanya, Disi tak bisa mengabaikannya.
Disi terluka, tetapi rasanya ini lebih baik daripada tidak berada di dekat lelaki itu lagi.
Tak mau menjadi asing, terpaksa Disi akan menyembunyikan perasaannya mesti tak tahu sampai kapan.