Rasa itu bermula tatkala mata ini menatap wajahnya untuk pertama kali. Ketertarikan timbul tanpa bisa dicegah, dan aku pun tak berniat mencegahnya lebih dalam.
Malamnya, ia mengirim sebuah chat kepadaku. Aku dibuat nyaman olehnya. Pesan dan dering telepon darinya menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu.
Perasaan gembira muncul saat dia membalas pesan. Panggilan khusus yang ia berikan menjadi candu untukku. Aku suka saat dia memanggilku dengan nama itu sembari memamerkan senyumnya.
Perutku terasa bergejolak menahan sesuatu yang menggelitik di hati. Senyuman tak dapat ditahan saat aku berada di dekatnya. Ku akui, aku telah jatuh hati pada lelaki itu.
"Ni, aku lagi suka sama seseorang."
Satu kalimat darinya terucap, meremukkan hatiku dalam sekejap. Sebisa mungkin aku terlihat biasa saja walau sebenarnya sedang menahan perih yang dirasa.
"Oh, ya? Siapa?" tanyaku berpura-pura antusias.
"Ada, deh."
"Kalau cerita jangan setengah-setengah! Kasih tau nama orangnya sekalian."
"Nggak, ah, nanti kamu cemburu."
Aku tertawa kecil. "Kenapa aku harus cemburu? Nggak masuk akal!"
Diam-diam aku mengiyakan kalimatnya dalam hati. Aku tak ingin dia mengetahui perasaanku yang sebenarnya, sedangkan aku sendiri tahu hatinya bukan untukku.
"Tapi, kayaknya dia nggak punya perasaan yang sama ke aku."
"Lho, kenapa?"
"Nggak tahu. Kayaknya dia mencintai orang lain."
Aku mengamati raut wajahnya. Lelaki di hadapanku ini terlihat sedikit sedih. Dia tak pernah tahu, ada aku yang juga menahan sedih.
"Kasih tahu siapa orangnya. Barangkali aku bisa bantu kamu," ucapku.
"Nggak usah, aku udah biasa menyimpan segalanya."
"Okay, tapi kalau kamu butuh aku, bilang saja. Aku siap dengar cerita kamu."
Sebenarnya aku tidak ingin memaksa. Aku takut tak dapat menahan sesak saat mendengarnya bercerita.
Yang jelas bukan aku orangnya. Aku tidak mencintai orang lain selain dirinya. Aku tak dekat dengan cowok mana pun, kecuali dirinya.
Sebenarnya aku tahu jika aku hanya dijadikan tempat bosan.
Bodohnya, aku menutup mata. Beromong kosong membuat batas antara aku dan dirinya dengan mengatakan "aku takkan jatuh cinta padanya." Namun, diam-diam membiarkannya masuk.
Dia berhasil membuatku terlena oleh sikapnya yang seolah menginginkanku juga.
Sekarang aku mengetahui bahwa, dia sedang jatuh cinta dan bukan aku orangnya.
Ada sedikit perasaan tak rela saat mengetahui dia mencintai gadis lain, sedikit kecemburuan yang hanya bisa tersimpan dalam diam, dan sedikit berharap kalau ini hanya mimpi.
"Please, don't be in love with someone else!"
Ingin sekali kalimat itu diutarakan lewat suara keras di hadapannya. Namun, aku sadar, aku tidak memiliki hak melarangnya jatuh cinta pada siapapun.
Saat dia mendekati, polosnya aku berpikir ia menyukaiku. Padahal jelas sekali, itu adalah hal yang tak mungkin.
Gadis biasa yang memiliki banyak kekurangan sepertiku, mana mungkin dicintai oleh orang seperfect dia.
Ini bukan salahnya, melainkan salahku yang dengan beraninya menaruh harap tanpa mengaca.
Desember ini, izinkan aku tetap mencintainya hingga Januari mulai menyapa. Saat itu tiba, aku akan mengubur perasaan ini dalam-dalam.