Natasya Bela, gadis nerd yang terjebak dalam pesona ketua geng berandalan di sekolahnya. Hingga suatu hari ia memutuskan untuk meninggalkan kekasih yang sudah di cintainya.
****
Natasya POV
Natasya Bela adalah gadis berumur 15 tahun yang sekarang menduduki bangku sekolah menengah atas. Hidup yang sudah susah di tambah kematian ibunya yang membuatnya semakin sengsara.
Ia tidak tahu siapa ayahnya. Ibunya selalu menangis saat aku menanyakan sosok ayahnya. Sampai ia meninggal pun, ia masih tidak tahu siapa ayahnya.
Kini ia bekerja paruh waktu unuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
****
Dengan gontai, aku berjalan menyusuri koridor sekolah. Tapi tiba-tiba.
BRUKK
Aku di dorong dari arah samping oleh Raka, most wanted sekaligus ketua geng motor Cakrawala. Pemuda itu juga kerap kali membullyku.
"Heh bocah nerd!" Panggil Raka. Dengan panggilan 'bocah nerd' yang kerap kali orang tujukan untukku.
Karena penampilanku yang membuat ku di juluki 'bocah nerd'. Dengan kacamata hitam, rambut di kepang 2, dan tumpukan buku yang kerap aku bawa. Sebagai bentuk perlindungan diri, berjaga-jaga bila mereka menyakitinya secara fisik lagi.
"Kemana aja lo 2 minggu ini? Mau kabur?" Tanya Raka dengan tatapan tajam dan menusuk.
Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. Tiba-tiba Raka merampas dan melempar buku yang aku peluk.
Tidak sampai di situ, ia menarik kacamataku. Lalu menatapku intens.
Lama bertatapan dengannya, jantungku juga berdebar tidak karuan. Perasaan apa ini?
"Lo jelek." Celetuk Raka. Kemudian pergi begitu saja sambil membawa kacamataku.
"Kalo lo mau kacamata lo lagi, dateng ke rooftoop sehabis pulang sekolah." Ucap Raka sebelum menghilang dari balik tembok.
Aku hanya mendelik tidak suka padanya, lalu memunguti buku-buku yang tadi di lempar Raka.
****
Sepulang sekolah, aku langsung menuju rooftopp. Bisa saja aku tidak ke rooftoop, tapi mengingat kacamata pemberian ibuku yang sudah di beri dengan keringat dan usaha, tentu saja tidak ada cara lain selagi menuruti perkataan Raka.
Sesampainya disana, Raka sudah menungguku. Di tangannya sudah ada bunga mawar dan ia terlihat sangat rapi, dengan jaket navy dan dalaman kaus putih biasa serta celana jeans.
"Kenapa ia Serapih ini, jika hanya ingin mengembalikan sebuah kacamata?" Aku tak menghiraukannya dan tetap berjalan menghampirinya.
"Kembalikan kacamataku!" Ketusku. Ia hanya tersenyum manis padaku.
"Duh, dedek bisa diabetes nih bang." batinku. Pipiku sudah merona dengan hanya melihat senyumannya.
"Kamu gak perlu kacamata itu, karena aku yang akan menjadi mata untukmu. Melihat dunia hanya bersamaku." Ucap Raka. Mengganti kata lo–gue, menjadi kata aku–kamu.
"Ha?" Ucapku terheran. Terlihat ia menghela nafasnya, kemudian berlutut di hadapanku.
"Sya, aku tau, aku bukanlah laki-laki romantis seperti yang kamu inginkan. Aku bukanlah laki-laki yang baik dan masih banyak kekurangan. Tapi aku mencintaimu dengan tulus. Tanpa paksaan orang lain. Mau gak kamu jadi pacar aku, Natasya Bela?" Ucap Raka panjang. Aku hanya menatapnya kagum sekaligus terharu.
"Apa benar orang yang ada di hadapanku ini adalah Raka, orang yang kerap membullyku?" batinku meyakinkan.
Setelah lama berpikir, aku pun mengangguk. Ia pun tersenyum lebar padaku, dan langsung memelukku.
Aku pun terkejut, tapi aku tetap membalas pelukannya.
"Sekarang udah mau sore, aku anterin ya?" Tawar Raka. Aku pun lagi-lagi hanya bisa mengangguk.
****
Sesampainya, aku menyuruhnya untuk menurunkan ku di depan minimarket di sebrang jalan dekat rumahku.
Aku tidak mau dia melihat rumahku. Untungnya ia tidak protes, lalu melajukan motornya setelah mengembalikan kacamataku.
****
Sesampainya di rumahku, aku melihat sudah banyak sekali surat-surat, entah itu dari tagihan listrik ataupun tawaran beasiswa dari luar negeri.
Ingin sekali aku menerima tawaran dari luar. Tapi aku tidak ingin berjauhan dari peninggalan-peninggalan ibuku.
****
Sudah terhitung 2 bulan setelah insiden di rooftoop tempo lalu, aku tidak lagi di bully dan hari-hariku sangat menyenangkan. Di tambah Raka yang selalu ada di sisiku.
Aku sedang berjalan sambil bersenandung ria menuju markas Cakrawala. Tapi langkahku terhenti saat mendengar namaku disebut.
"Natasya siapa yang ia maksud? Apa aku?" Batinku terus bertanya-tanya.
"Taruhan yang tempo lalu, aku berhasil. Sekarang berikan hadiahku." Ucap Raka pada pemuda itu.
"Baiklah kau menang tuan Raka, hahaha."
"Tapi aku curiga, kau.. tidak mencintai Natasya si bocah nerd itu kan?"
"Ck, mana mungkin aku mencintai nya, ia saja yang terlalu percaya diri. Ternyata memang benar, penampilannya saja yang polos, tapi ternyata dalamnya.. pfftt.." Tawa Raka.
Aku begitu tertohok saat mendengar pengakuannya. Jadi selama ini, ia tidak mencintaiku?
Sudah cukup bagiku, menerima malu akan hinaan orang-orang di sekolah ini.
"Aku akan menerima beasiswa dari luar negeri dan aku tidak akan kembali lagi." Tekatku.
****
Raka POV
Setelah berbincang-bincang dengan senior geng Cakrawala. Aku memutuskan untuk ke kelas Natasya.
Tapi sesampainya disana, aku tidak melihat Natasya dan saat aku bertanya, jawabannya tetap sama, Natasya tidak masuk sekolah.
"Apa benar Natasya tidak masuk sekolah? Lalu yang aku lihat tadi itu siapa?" Batin Raka. Kemudian membelakkan matanya.
Kalau yang ia lihat tadi di markasnya adalah Natasya. Apa jangan-jangan ia mendengar percakapan nya dengan seniornya tadi?
"AARGHH.." Teriakku frustasi. Aku pun langsung mencarinya dengan melajukan motorku kencang.
Aku menyesal telah mengatakan kebohongan itu, nyatanya, ia telah jatuh hati pada gadis nerd yang telah menyandang status pacarnya selama 2 bulan belakangan.
Ia pun mencari ke rumah Natasya, tapi tetangganya bilang. Baru saja ia keluar dengan membawa koper seperti akan berpergian jauh.
Raka pun menggeleng mengenyahkan pikiran negatif yang bersarang di otaknya.
Kemudian ia terus mencari Natasya, bahkan ia sampai ke bandara. Tapi nihil, tidak ada nama Natasya Bela.
Ia seperti menghilang di telan bumi.
****
7 tahun kemudian..
Raka kini menatap penampilan nya di cermin.
Orangtuanya menjodohkannya pada seseorang yang sama sekali tidak di kenalnya. Ia hanya pasrah.
"Mungkin memang saatnya untuk melupakan masa lalu." Batinnya.
Kemudian ia berjalan ke arah pelaminan dan membaca ijab qobul. Tapi saat ia merasa mengucapkan nama kekasihnya ia pun membelakkan matanya.
"Kenapa aku tidak menyadarinya? Dan baru menyadarinya sekarang?" batinku. Aku sudah keringat dingin. Berharap bahwa memang dirinya lah yang akan menjadi istrinya.
Sesampainya istriku di hadapanku, aku pun menundukkan sedikit kepalaku untuk melihatnya.
"Natasya?" Pekikku. Membuat penghulu serta keluarga ku terkejut padaku.
Aku pun langsung memeluknya dan mengangkat tubuhnya sambil berputar-putar. Membuat keluargaku bertambah malu.
"RAKAAA TURUNKAN ISTRIMU ITUUUU!" Teriak ibuku.
Aku terlalu bahagia sampai-sampai aku menangis di hadapannya sambil menggumamkan kata maaf.
Setelah pertukaran cincin, ia pun menyalami ku, dan aku pun mencium keningnya lama.
—tamat—