"Setelah itu, saya baru bangun dari pingsan dan menyadari bahwa saya ada di dalam mobil saya. Dan saat saya menelisik sekitar, ternyata saya sudah berada di pinggir hutan terlarang," jelas Lucas mengakhiri kisahnya.
"Hutan terlarang?" Bryan nampak merenung. Dia seperti berusaha mengingat sesuatu. Lalu, tiba-tiba dia menatap tajam Elvan.
"Kayaknya aku tahu dimana tempatnya. Ayo, Van. Kita harus segera ke sana sebelum terlambat!" ajak Bryan sambil berdiri menggiring lengan sahabatnya yang masih nampak berpikir.
"Tunggu dulu!" cegah Lucas. "Kenapa kalian begitu ingin ke sana? Apa ada hubungannya dengan Emely?" cecar Lucas.
"Huh.... Sebenarnya ini tak ada hubungannya dengan kamu. Tapi karena kamu adalah salah satu kunci petunjuk, maka akan mengatakannya padamu," jelas Bryan.
Bryan kembali menghela nafas berat dan mengatakan, "Sebenarnya Emely memang diculik dan yang melakukannya adalah orang di foto itu."
"Saya ikut!" cegah Lucas. Semuanya menoleh tak percaya seakan berkata, "What for???"
"Ini sebagai bentuk tanggung jawab saya. Karena sayalah, Emely diculik. Jadi saya juga harus menyelamatkannya juga," pinta Lucas.
"Tapi Tuan, di sana sangat berbahaya. Alih-alih membantu kami, kamu justru akan celaka bahkan t*was di sana," cegah Elvan.
"Saya tidak peduli. Saya harus ke sana. Saya harus membantu Emely, walaupun harus nyawa yang jadi taruhannya," kekeh Lucas.
"Tapi...."
"Saya mohon. Saya harus membantunya," ucap Lucas tetap kekeh ingin ikut.
Elvan dan Bryan pun menyerah. Mereka mengizinkan Lucas untuk ikut. "Tapi ingat! Jangan pernah bergerak sendiri tanpa komando dari kami," ancam Elvan.
Lucas hanya mengangguk. Mereka bertiga pun bergerak saat itu juga.
***
'Berat banget.....' Emely membatin. Gadis itu berusaha sekuat mungkin untuk membuka kelopak matanya, merasakan area sekitarnya dan juga menggerakkan beberapa anggota tubuhnya.
'Bentar........ Kenapa tertahan? Apa tangan kakiku terikat sesuatu?'
Setelah merasakan tanda bahaya, kelopak mata yang seperti ditimpa gajah itu pun mampu terbuka.
Si*l!!! Tidak ada sedikitpun cahaya di sana. Hanya secuil terang rembulan yang berhasil masuk ke celah-celah bangunan itu.
Setidaknya, dia masih bisa membaca kondisi sekitar. Mungkin itulah yang dipikirkannya.
Di sana, memang tampak seperti bangunan tua. Mungkin gudang, tapi kenapa luas sekali???
Di tengah rasa frustasinya, rungunya menangkap bunyi langkah kaki.
Tap.... tap..... tap......
Emely kembali waspada. Dia kembali membaca sekitar, mencari asal suara itu dari mana. Hingga di tengah gelapnya malam dan ruangan, gadis itu menangkap siluet seseorang. Tubuhnya tinggi, tegap. Dan kala siluet itu tertimpa cahaya, dari sanalah dia mampu melihat dengan jelas.
"Hee...h..... siapa kau?"
"Hai, Nona Rain. Ah.... atau Panglima Sayap Putih." Tatapan orang itu tajam dengan senyum miring.