Hai, selamat datang di cerpen pertamaku. Semoga kalian suka, dan maaf jika banyak kesalahan kata. Sebab, saya baru belajar.🙏
Pada tanggal 13 Maret, diatas gedung kampus tepat selesai mata kuliah terakhir. Ya, dia Alfian Putra, seseorang yang pendiam, dan cenderung cuek memberanikan diri untuk menjadikan aku pacarnya.
“Aku mencintaimu, maukah kau menjadi pacarku? Ucapnya sambil menatapku penuh dengan keyakinan”. Aku terdiam tanpa kata, aku merenung seperti inikah rasanya ditembak langsung! Jujur ini bukan yang pertama untukku menjalin kisah asmara, tapi tak pernah sampai ada yang mengungkap kan perasannya secara langsung. Melainkan hanya lewat telpon. Rasanya jantungku ingin lompat dari lantai 4 gedung ini. Ucapku dalam hati
Sebelum aku lanjutkan cerita ini bolehkah aku memperkenalkan diri? Baiklah, namaku Kinara Maharani. Biasa dipangil nara. Aku dan Alfi duduk dibangku kuliah semester 6, usia kami pun sama-sama menginjak 22th. Dan kami berkuliah di salah satu kampus yang cukup terkenal dikotaku.
Aku terdiam nafasku tersasa tercekat, jantungku rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Aku kembali menatapnya dan padangan kami pun bertemu. Aku mencoba mencari kebohongan dimatanya, tapi yang kutemukan hanya tatapan keyakinan dia serius menjadikan aku pacarnya. Akhirnya aku sadar dari lamunanku, dan kutatap serius wajahnya.
“Tak usah dijawab sekarang, aku tau kau butuh waktu. Aku akan selalu siap untuk menungu jawabanmu.” Ucapnya
“Tidak,” jawabku
“Aku hanya masih syok, tak menyangka.. Aku mau menjadi pacarmu.” ucapku sambil tersenyum [aku tak tau ini cinta atau hanya sekedar rasa bahagia, karna dia orang pertama yang mengungkapkan prasaannya secara langsung.]
Dan dia juga tersenyum ke arahku, aku bisa melihat dari tatapan matanya bahwa dia sangat bahagia, akupun sama. Setelah dia selesai mengungkapkan prasaannya akupun menyampaikan pesan untuknya.
“Ini bukan yang pertama kalinya untukku menjalin sebuah kisah asmara, dan kau pasti tau aku punya masa lalu yang rumit. Aku harap kau bisa menjadi penawar untuk lukaku, aku mau kita saling percaya. Jika ada masalah cerita baik- baik bukan pergi. Aku gak minta banyak, aku hanya minta hargai perasaanku dimanapun kau berada. Dan aku mau, kita menjalin hubungan ini dengan baik dan merangkai mimpi yang indah” ucapku sambil tersenyum dan menatap wajahnya.
“Ya, aku mau. Aku mau kita merangkai mimpi bersama-sama. Kita berjuang bersama-sama, aku janji.”ucapnya sambil menatap kearahku.
Dan setelah berbincang cukup lama, kami memutuskan untuk pulang. Kami berpisah di area parkir kampus. Hatiku gembira aku senang, tapi aku masih ragu ini cinta atau sekedar rasa bahagia. Hampir menempu waktu 1 jam di perjalanan, aku akhirnya sampai dirumah. Rumah yang jauh dari kata sempurna, tapi aku nyaman. Aku hanya anak dari seorang petani dan ibuku menjadi asisten rumah tangga yang berada di dekat rumahku. Ya, aku anak dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Tak terasa sudah 3 bulan kami menjalin hubungan ini. Dan kami mulai untuk saling terbuka satu sama lain. Dan itu yang pertama kalinya dia untuk datang kerumahku. Dan setelah melalu peroses yang begitu panjang. Sebab, aku harus meyakin kan orang tuaku. Bahwa yang kali ini berbeda. Karena, aku punya masa lalu yang rumit, dan itu sempat menjadi alasan kedua orang tuaku untuk aku lebih baik fokus pada kuliahku.
Malam itu kami berkumpul sambil melihat tv, dan aku memberanikan diri untuk berbicara kepada orang tuaku.
“Percalah pa, ma. Dia memang asli dari kota ini, tapi orang tua nya pindah ke kampung halaman ayahnya sejak dia duduk dibangku kls 5 SD. Dan dia kembali untuk melanjutkan pendidikannya, disini dia tinggal bersama orang tua dari ibunya. Dia baik, izin kan la dia main-main kerumah.” Ucapku sambil menatap mereka.
Jujur papaku sempat menolak, dan mamaku mencoba untuk meyakinkannya. Dan syukur papaku akhirnya mengizinkan. Mungkin kalian bertanya kenapa mamaku begitu berusaha untuk ikut meyakinkan papaku ? ya, karna mamaku sudah seperti sahabat untukku.
Tepat pada tanggal 26 juni ia datang kerumahku untuk yang pertama kalinya. Kami duduk di ruang tamu dan berbincang-bincang.
“Aku ingin menceritakan masa laluku. Bahwa aku pernah mencintai seorang wanita yang berbeda keyakinan denganku. Aku sempat mengungkapkan perasaanku dengannya, tapi dia menolakku dengan alasan fisik ku yang tak sebaik laki-laki lain.” Ucapnya sambil menatap kearahku
“Hmmm.. Aku juga punya masalalu tapi, masalaluku rumit. Aku pernah mencintai begitu dalam, aku sempat yakin bahwa dialah takdirku. Tetapi tuhan berkata lain, dia mengkhianatiku. Dia berbohong dia menghancurkan kepercayannku dan keluargaku, sebab dia sudah terlalu dekat dengan keluargaku. Dia sempat memohon untuk kembali padaku, tapi aku menolak. Sebab menurutku yang namanya pengkhianatan akan tetap menjadi pengkhianat.” Ucapku sedih sambil menunduk
Dan dia mengangkat wajahku untuk menghapus air mataku sambil berkata. “Maaf aku mengungkit masalalumu, maaf aku membuatmu bersedih dan mengingatnya kembali. Aku berjanji akan selalu bersamamu apapun rintangannya, aku tak bisa berjanji bahwa air matamu takkan jatuh kembali. Tapi, aku berjanji suatu saat bukan air mata ini yang mengalir di pipimu. Tetapi melainkan air mata kebahagian.” Ucapnya sambil tersenyum dan memelukku
Tentu aku bahagia, wanita mana yang tak akan bahagia di perlakukan seperti ini?
Aku kembali menatapnya “Aku ingin kita tetap seperti ini, bahkan sampai kejenjang yang lebih serius. Kita rangkai masa depan sama-sama ya, I love you.”
“Iya, aku janji. Kita bakal sama-sama untuk mewujudkan mimpi kita. I love you more.” Jawabnya, sambil memelukku
Tak terasa, hari-hari telah kami lalui, minggu demi minggu telah kami lewati. Tapi, mangkin kesini aku mangkin ingin mulai meyakinkan perasaankku padanya dengan cara aku cuekin dia. Sebab, aku takut. Aku takut kisah ini akan berakhir sama seperti dulu. Dan tepat pada tanggal 23 Agustus kami bertemu di taman kota.
“Kau ini sebenarnya cinta gak sih samaku? Kenapa, belakangan ini kau cuek samaku? Apa salahku? Kalau memang aku ada salah, oke aku minta maaf.” Ucapnya sambil menatap wajahku
“Kau gak salah, aku hanya butuh waktu untuk meyakin perasannku samamu. Kau pasti tau aku punya masalalu yang rumit, aku cuman ga ingin masalaluku terulang lagi. Dan aku ingin kita berubah. Aku ingin kita berubah jadi pribadi yang lebih baik lagi.” Jawabku, sambil menatap kedepan, aku tak ingin menatapnya entah kenapa aku kali ini egois sekali tak memikirkan perasaanya
Sejak pertemuan kami ditaman kota, dia tak pernah sekalipun cuek padaku. Tapi, aku malah sebaliknya, egois bukan? Tetapi tanpa sadar aku lah yang mengulang masa laluku. Puncaknya pada tanggal 28 Agustus kami bertemu kembali disalah satu cafe didekat kampus.
“Aku mau nanyak, kau capek gak kita gini-gini aja?” Ucapnya
“Capek!!!” Jawabku
“iyakan, akupun ngerasa gitu. Aku mau tau aja, kedepan mau gimana? Kita sudahi? Atau gimana?” Sautnya, sambil menatapp serius wajahku
“Entahlah.” Jawabku menunduk
“Jangan jawab entah, aku gak tau jawabannya. Makanya aku nanyak supaya aku tau kesimpulannya, kau itu sayang samaku atau enggak? Aku gabisa mengikuti egomu, aku orangnya gapekaan. Aku gatau nyarik topik pembicaraan, kalaupun dapet kau balasnya singkat, aku jadi kesel.” Ucapnya dengan nada yang sedikit tinggi
“Aku belakangan ini cuek itu ya karna aku mau tau, aku bener cinta apa enggak. Karna aku mau tauuu!! Dan aku mau kita lanjut sama-sama untuk berusaha jadi lebih baik!” Jawabku sambil menatapnya dan akupun menangis tak percaya. Dia membentakku
“Aku belum bisa berubah, aku belum nemu caranya gimana. Masih berusaha tapi ujung-ujungnya balik lagi. Kalau memang kau gak bisa nerima sifatku yang kek gini aku mohon maaflah, lebih baik aku sama duniaku kau sama duniamu” Sautnya dengan menunduk
Jdarrrrr bak disambar petir disiang bolong aku terperangah, aku terpaku tak tau harus jawab apa. Dia menyerahh, dia pergiiiii dari hidupku. Aku menangis tak menyangka akhirnya akan seperti ini. Ingin ku perjuangkan seperti apapun sudah tak bis, dia menyerah.
“Apa sebegitu inginya kau untuk aku pergi dari hidupmu? Apa sudah tak ada lagi artinya aku dihidupmu?” Ucapku
“Sebelum nanyak aku, coba jawab dulu pertanyaanku. Aku itu apa buatmu? Aku juga orangnya egois, aku tahan-tahan egoku demi memenangkan egomu. Lalu kau akhir-akhir ini, balasnya cuek hanya karena mau tau kau cinta engga samaku, itukan artinya selama 5 bulan ini kau seperti ga ada rasakan samaku? Kau masih bingung sama perasaanmu sendiri. Kemarin aku cuman ngalah tapi sebenarnya aku juga punya unek-unek. Aku juga punya luka dan kecewa jika selalu dicuekin seperti sikapmu akhir-akhir ini.” Jawabnya
“Apa sebegitu ga percayanya kau samaku? Kemana masa depan yang telah kita rangkai? Kemana?” Sautku
“Iya nara, aku orangnya penuh sama rasa suudzon dan negative thinking. Itu kenapa aku gak pernah berhasil ngebangun hubungan dengan siapapun itu, aku gini gak cuman kekau. Aku gak percaya sama siapapun, aku capek sama hidup yang kujalani sekarang. Aku melibatkan orang-orang yang gak bersalah, hanya untuk membuat diriku penuh sama rasa suudzon dan negative thinking. Yang aku tau kalo aku gak bakal bias merubah ini. Maaf, aku telah menghancurkan masa depan yang telah kita rangkai bersama” Jawabnya lagi sambil menatapku
Kalau dia memang orangnya seperti itu, kenapa mau kenal aku lebih jauh, kenapa mau sampai ingin merangkai masa depan bersama? Rasanya aku ingin nuntut, mana kata-kata yang katanya tak ingin meninggalkanku, mana yang katanya ingin membahagiakan aku, yang katanya ingin keliling dunia bersama-sama, yang katanya mau berjuang bersama, kemana?
Akhirnya kubalas tatapanya sambil tersenyum “Kau tau, seberapa sulitnya aku meyakinkan orang tua ku, agar mereka ngizinin kau nemeni aku. Dan disini hancur sudah, harus seberapa sulit lagi untuk aku meyakinkan bahwa kita tak sejalan. Yaampun mirisnya hidupku. Wkwkwk, ternyata seperti ini laki-laki yang selalu aku banggakan di depan keluargaku.”
“Makasih, aku ga minta untuk dibanggakan ke siapapun. Aku juga ga bangga akan diriku sendiri. Aku benci sama diriku ga ada yang pantas untuk dibanggakan.” Sautnya dan membalas senyumku
“Terus saja benci dirimu sampai puas. Tapi, asal kau tau dirimu itu berharga lebih dari apapun.” Ucapku dengan menatapnya dengan tajam
Dan dia tertawa sambil berkata “Wkwk, uda capek aku denger kata-kata ini dari orang yang ngelahirin aku, jadi gausah pala diingatkan.”
Aku kecewa, aku ingin marah. Tapi, mangkin kesini aku semangkin yakin bahwa aku bener-bener sayang sama dia. Tapi, lagi dan lagi kenyataan selalu menamparku. Rasanya bener-bener nyesek sakit banget. Aku marah aku benci, tapi lagi-lagi aku gak mampu untuk marah aku gak mampu untuk membencinya. Sebab, aku menyanginya. Akhirnya aku berusaha untuk ikhlas, dan meminta waktu yang tersisa untuk salam perpisan ini.
“Kumohon biarkan malam ini jadi malam terakhir untuk aku bersamamu.” Ucapku
“Apa yang bias kulakukan? Untuk membuatmu mengikhlaskan aku di malam terakhir kita bersama ini?” jawabnya
“Aku hanya ingin tau, seberapa penting aku dihidupmu?” Sautku sambil menatapnya
Dan dia balas menatapku sambil tersenyum “Kau ibaratkan sebuah berlian dihidupku, dimana aku yang jadi penambangnya. Tapi sayang si penambang ini bukanlah orang yang pintar merawat berlian. Sehingga tidak perduli bahwa yang ditambangnya adalah sebuah berlian langka.”
“Tapi kau, kemana? Kenapa sebegitu mudahnya kau lepas aku?” Jawabku
Lagi dan lagi dia tersenyum dan berkata “Karena aku hanya seorang penambang batu, yang ga sengaja mendapatkan berlian langka, dan sadar bahwa penambang batu gak berhak mendapatkan sebuah berlian langka.”
“Kau sadar gak? Karna kau melepas berlian itu, berlian itu sakit dia menderita dia kecewa. Tapi, dia gak pantas disebut berlian, dia kotor.” Jawabku menunduk dan menangis
“Sebuah berlian tak bisa memanggil dirinya berlian. Karena, yang melihat bahwa dia itu berlian adalah orang lain.” Sautnya dan menatapku
Kubalas tatapnya dan berkata “Kenapa ga mencoba mempertahankan nya?”
“Karena aku hanya seorang penambang batu, yang memperlakukan berlian tersebut seperti batu. Dia gak perduli perasaan berlian itu.” Jawabnya dengan menunduk
“Baiklah, terjawab sudah pertaanyaan-pertanyaan yang ada di kepalaku. Dan, terimaksih untuk 5 bulan ini. Aku mau pulang, maaf kalau aku terlalu banyak menuntut.”
“Iya, aku juga minta maaf. Tapi memang kita tak bisa bersamaa. Pulanglah hati-hati dijalan.”
Rasanya aku ingin marah. Dia yang membantuku bangkit dari keterpurukan dia juga yang meninggalkan aku kembali dengan luka yang sama, bahkan ini bertambah. Luka kemaren masih berbekas dan sekarang ditambah dengan goresan lukanya. Lagi dan lagi aku harus memulai semua dari awal.
Jadi aku harus gimana, aku jatuh kembali dijurang yang sama? Haruskah aku keatas tanpa menggunakan bantuan? Jika, iya. Bagaimana caranya? Haruskah aku merangkak? Jika, iya. Pasti aku akan terluka kena sakitnya dinding-dinding jurang yang penuh dengan babatuan runcing. Tapi aku tetap harus karena hanya itu caranya. Lain cerita jika aku punya orang di atas jurang yang membantuku memberikan tali sebagai pegangan untuk keatas. Tapi, jelas itu sulit, belum lgi diatas sana banyak seseorang yang berusaha untuk menghalalkan segala cara agar aku tak pernah bangkit.
Tapi, hidup ini harus tetap berjalan meski tanpanya.
Nanti aku akan kembali menemuimu. Akan kuceritakan padamu tentang betapa aku harus terbiasa tanpamu. Tentang betapa aku harus sanggup walau sebenarnya berat. Nanti aku akan kembali menemuimu sebagai seseorang yang rasa cintanya masih, tapi rasa ingin memilikinya sudah tidak.
~END~