Mimpi, sebuah bunga tidur dikala tubuh sedang beristirahat. Semua itu hanyalah proyeksi pikiran alam bawah sadar manusia. Tapi, bagaimana jika mimpi itu sendiri merupakan dunia lain yang menjebakmu saat kamu tidur?
Ini adalah mimpi terliar, mimpi dimana pikiranmu terus mengembara di dunia untuk kabur dari sesuatu, atau untuk mencari sesuatu.
•
•
•
Dunia itu warnanya abu-abu. Bangunan-bangunan, langit, bahkan orang-orang di dalamnya. Disini, hanya ada kesunyian dimana-mana.
Dia berjalan menyusuri kota, sepanjang jalan dilihatnya kerumunan orang ramai, entah apa yang sedang terjadi.
Bangunan-bangunan berlantai dua berwarna abu-abu berjejer, jemuran kain dengan warna kusam tertiup angin, serta lubang besar di tengah jalan kota.
"Oh, jadi disinilah semua orang berkumpul," batinnya, kini pertanyaannya sudah terjawab.
Lubang berukuran mobil sedan itu terpampang dengan jelas ditengah jalan raya, membuat jalan menjadi macet dan kerumunan orang mendekat untuk menyaksikan.
Dia mendekat ke arah lubang itu. Diperhatikannya lubang itu baik-baik hingga sampai akhirnya ia tahu lubang itu ternyata sangat dalam.
Ia hanya memperhatikan lubang itu, tidak berani mendekat karena takut jatuh ke dalam rahang gelapnya. Tapi tidak dengan orang lain.
Salah satu orang dari kerumunan itu penasaran dan akhirnya mendekati lubang, tapi sayangnya rasa penasarannya tidak cukup hanya melihat dari luar saja hingga lubang itu mengundang orang itu untuk masuk ke dalamnya. Memuaskan rasa penasarannya.
Dia melihat kejadian itu, mencemooh betapa bodoh dan anehnya orang tadi.
Beberapa saat kemudian, beberapa orang lainnya juga masuk ke dalam lubang. Satu orang, dua orang, tiga orang, pasangan yang bergandengan tangan, anak-anak, seorang nenek-nenek yang mengejar cucunya. Semua orang di sana, semuanya masuk ke dalam lubang itu.
Dia memandangi adegan itu dengan terkejut, kasihan, keinginan untuk menghentikan mereka, namun akhirnya ia hanya membiarkannya. Membiarkan mereka jatuh ke dalam lubang gelap itu.
Saat ini di jalanan kota, hanya ia sendiri. Hanya ia yang tersisa di kota ini.
Semua orang masuk ke dalam lubang itu, sebuah lubang yang tidak diketahui, yang mungkin menyembunyikan utopia atau malah monster yang menyerang secara diam-diam.
Dia melihat lubang itu.
Dia mencoba mencari tahu apa sebenarnya lubang itu.
Singkatnya, akhirnya ia berhasil tahu lubang apa itu. Informasi itu tertanam di kepalanya, dan dunia membenarkannya.
Lubang itu adalah sebuah kebohongan.
Sebuah kebohongan yang sangat mudah di percaya hingga mengakibatkan orang-orang jatuh ke dalamnya tanpa menyadarinya. Berita palsu, omongan yang kurang meyakinkan namun masih saja dipercaya, predator orang-orang yang mudah diperdaya, atau malah janji yang awalnya benar tapi malah diingkari.
Semua orang yang masuk ke dalam lubang adalah korbannya. Mereka terjatuh tanpa menyadarinya. Mungkin, mungkin saja mereka akan mendapatkan jalan atau tali yang bisa membuat mereka keluar. Tapi, sampai kapan mereka akan tetap terus terjatuh ke dalam sana?
Dia melangkah mendekati lubang itu. Berjalan lebih dekat dan lebih dekat, hingga akhirnya lubang itu sendiri menyambutnya. Ke dalam lubang bernama kebohongan.
Salah satu tipe manusia, sudah tahu itu salah tapi masih tetap dilakukan. Sudah tahu itu adalah kebohongan tapi kenapa masih dipercaya?
Lubang itu gelap, seperti ruang hampa. Dia melihat ke atas, ada lampu-lampu melingkar diatas. Dia melihat kedepan, ada barisan kegelapan tak berujung diapt oleh dinding beton.
Sebuah terowongan.
Dia berjalan di dalam trowongan itu, kerap kali menemukan kereta yang hancur bagian depannya dan rel yang bengkok.
Ia masuk ke dalam kereta. Ia melihat orang-orang di dalam tetap duduk di tempatnya dan bahkan terlihat sangat santai, seolah tidak tahu apa-apa tentang berhentinya kereta dan bagian depan kereta yang kini sudah hancur.
Seolah-olah semuanya itu normal. Dalam pikiran mereka tidak ada yang terjadi, tidak ada masalah, tidak ada kekhawatiran. Meski kereta berhenti mereka hanya merasa itu hanya masalah teknis kecil, bukan masalah besar.
Orang-orang duduk dengan nyaman, tidur di kereta, membaca buku di kereta, memakan makanan di kereta, dan berbicara diantara sesama penumpang. Meski sama sekali tidak mengeluarkan suara.
Di dunia ini, semuanya sunyi.
Dia berjalan ke arah salah satu tempat duduk, rupanya tempat itu adalah kursi yang sudah ia pesan. Ia duduk disana, melihat ke dalam kegelapan trowongan di luar jendela, dan memperhatikan dalam kereta itu lagi.
Sunyi.
Tidak ada seorang pun.
Gerbong kereta berwarna abu-abu, tanda bahwa dunia ini hanyalah destinasi mimpi dikala tidur.