Malam itu adalah malam Halloween yang indah, mungkin bagi beberapa orang, tapi tidak denganku. Bagiku malam Halloween tak lebih dari malam yang penuh dengan kesunyian. Setidaknya, hingga aku bertemu dengannya, seorang makhluk aneh yang mengajariku arti dari sebuah 'Kebahagiaan'.
"Hey jelek, apa yang kamu lakukan di sini?!" Ejek seorang anak bertubuh gemuk dengan pipi chubby nya.
"A-aku, hanya ingin mengikuti festival Thanksgiving" Jawabku dengan nada gemetar.
"Heh, kamu tak pantas untuk merayakannya. Pergi sana! Mengganggu pemandangan saja!" Bentak anak itu, namanya adalah Bob.
"A-aku..."
"Pergi"
"I-iya" Aku pun pergi menjauh meninggalkan festival itu, dan pulang ke rumahku.
Namaku Fujimoto Hikari, seorang anak laki laki yang miskin. Aku tinggal di sebuah rumah kumuh, yang letaknya di pinggiran kota. Keseharianku adalah memungut sampah-sampah dan menjualnya. Aku tak lebih dari Manusia Sampah.
Di tempatku, aku tak lebih dari sebuah benalu yang selalu menumpang di hidup orang orang. Aku merupakan anak yang Bully, dan si chubby Bob itu, adalah orang yang selalu membullyku.
***
Aku berjalan ke rumahku sambil menundukkan kepalaku, sedari dulu aku ingin sekali memiliki teman.
BRUKKK...
"Hey bocil, kamu tak apa apa kan?" Tanya seorang makhluk aneh yang tanpa sengaja ku tabrak. Tubuhnya yang di penuhi bau busuk dari sampah itu, menusuk hidungku. Hehe, memangnya apa bedanya dia denganku?
"AAAHHH!!!"
Aku berteriak keras, bagaimana tidak? Muncul seorang makhluk aneh seperti monster, dan ia mengulurkan tangannya ke arahku.
Tubuhnya yang di penuhi bau sampah yang busuk, kepalanya yang berbentuk kerucut, kakinya yang kecil namun panjang, serta jari jari tangannya yang berukuran besar. Jubah yang ia pakai terbuat dari kain bekas, Ia mirip seperti monster asli, bukan manusia yang mengenakan kostum.
"Hey hey, jangan teriak, tak ada yang bisa melihatku selain kamu. Nanti kamu di kira orang gila" Ia berusaha untuk menenangkan ku.
"Hanya aku? Lagipula dari dulu pun orang orang memanggilku Si Gila" Jawabku sambil menundukkan kepalaku.
"Ckckck, Anak yang malang"
"Apa katamu? Anak malang?" Sewotku.
"Haha, aku cuma bercanda"
Ia lalu membantuku berdiri, aku sama sekali tak takut dengannya, aku malah senang. Kami pun sempat berbincang-bincang. Itu adalah malam yang indah, karena untuk pertama kalinya ada orang yang mau mengajakku berbicara.
"Namaku Gomibako, siapa namamu, Nak?" Katanya sambil memberikan tangannya kearahku.
"Namaku Fujimoto Hikari, Hikari yang artinya Cahaya" Aku lalu memberikan tanganku juga, kami bersalaman sebagai ucapan perkenalan.
"Hey nak, kemana temanmu? Mengapa kamu sendirian? Mengapa kamu tidak mengikuti perayaan Halloween?" Tanyanya dengan mengajukan pertanyaan yang begitu banyak.
"Tuan Aneh, pertanyaanmu banyak sekali tau" Ocehku. "Aku tak punya teman, dan aku tak di perbolehkan untuk mengikuti festivalnya, karena aku di bully, makanya aku mau pulang" Keluhku.
"Tapi tak apa apa, selama ada Tuan Aneh, aku punya teman" Ujarku sambil terkekeh.
"Berhenti memanggilku Tuan Aneh, namaku Gomibako" Katanya dengan muka kesalnya itu.
"Baik baik...Tuan Aneh Gomibako, hihihi" Kataku sambil meledeknya.
Aku lalu mengajaknya kerumahku, sepanjang perjalannya aku berbicara banyak tentangku dan kota yang aku tinggali. Peillie, adalah nama kota yang aku tinggali, sebuah kota yang terisolasi dan dunia luar. Kota yang ku tinggali terdapat di sebuah pulau kecil, pada awalnya kota ini di penuhi oleh turis turis yang berdatangan, hingga 25 tahun yang lalu sebuah kapal tanpa sengaja menumpahkan minyak dan mencemari air laut. Sejak saat itu kota ini menjadi terisolasi, banyak warga yang meninggalkan kota ini karena sudah tak mempunyai harapan lagi.
"Oh iya... Gomibako, kamu datang dari mana?" Tanyaku.
"Entahlah, mungkin dari dunia atas" Jawabnya.
"Atas? Apa itu?" Tanyaku dengan wajah polos.
"Ahh sudahlah, anak kecil sepertimu tak akan paham" Katanya yang membuatku kesal.
Kami pun akhirnya sampai di depan rumahku,
"Hey nak, kamu tinggal dengan siapa? Di mana orang tuamu?" Tanya Gomibako.
"Aku tinggal sendiri, ibuku meninggalkanku setelah ayah meninggal, lagi pula kota ini sudah tak pantas untuk di tinggali" Jawabku dengan raut muka sedih.
"Hey hey... ja-jangan nangis kamu, ayolah aku akan mengabulkan satu permintaanmu sebagai permintaan maaf ku" Ujarnya.
"Kamu kita kamu jin apa?" Ejekku.
"Jangan mengejekku kamu bocah kecil"
"Hahaha...kalau gitu aku ingin sekali berenang menikmati lautan yang biru, karena dari dulu aku belum pernah menikmatinya" Jelasku.
"Itu mudah sekali" Ejekknya kembali sambil menyombongkan dirinya, "Ngomong-ngomong aku lapar sekali, berikan aku makanan" Pintanya.
"Huh" Aku mendesis, "Baiklah, ayo masuk" Ajakku sambil membuka pintu rumahku.
Aku lalu menghidangkannya sebuah nasi dan telor ceplok. Nampak, Gomibako memakan nasi itu dengan lahap. Sudah berapa lama dia tak makan? Apa dia tak kelaparan?
"Tuan Gomibako, apakah kamu belum ingat asal usulmu? Yang lebih jelas, mengapa cuma aku yang dapat melihatmu? Dan apa kamu yang sebenarnya?" Tanyaku dengan mengajukan pertanyaan yang banyak.
"Aku sendiri belum ingat. Yang ku ingat hanyalah, bahwa nanti jam dua belas malam aku akan kembali lagi kedunia aku. Sepetinya aku ini semacam roh atau arwah" Jawabnya sambil memakan nasi itu dengan lahap.
Setelah ia memakan nasi itu, ia mengajakku untuk keluar dan pergi kebelakang rumah. Di mana belakang rumahku adalah pantai. Pantai yang di penuhi sampah.
"Lihat ini" Ujarnya dengan menyombongkan dirinya.
Ia lalu menebarkan sebuah serbuk ajaib, dan seketika air pantai itu dan juga air laut itu bercahaya, dan minyak minyak yang kotor itu pun menghilang.
"Whoaaa...sihir, keren" Ujarku dengan terpukau.
"Hahaha...itu hanya hal kecil"
Ia lalu menarik tanganku dan mengajakku kedalam air. Aku lupa, aku tak bisa berenang dan menahan air! Ia lalu membuat sebuah gelembung dan meletakkannya di kepalaku, seperti helm.
"Tenang saja, kamu tak akan mati" Katanya.
Ia lalu mengajak dan mengajariku berenang. Sungguh indah, tak pernah terbayang lautan ini sungguh indah tanpa adanya minyak itu. Ikan ikan yang berenang dengan cantik, serta terumbu karang yang menambah keindahan malam hari. Tak lupa bulan pernama yang membuat malam ini begitu bercahaya.
Kami menyusuri seisi lautan, aku menenggok kanan dan kiri dengan raut muka bahagia. Aku hampir melupakan waktu, dan merasa waktu berhenti sejenak.
Hingga aku melihat sebuah kristal berwarna merah.
"Tuan Gomibako, apa itu?" Tanyaku kepadanya.
"Entahlah, biarkan aku yang mengambilnya, kamu diam di sini saja" Pintanya.
Ia lalu mendekati kristal itu dan mengambilnya dengan pelan pelan, sembari tenggok kanan dan kiri.
BLURBBB...BLUURBB!!!
Lalu setelah ia mengambil kristal itu, sebuah gelombang air besar datang dan menyeret kami hingga kami terdampar di bibir pantai.
"Ughh"
"Tuan Gomibako, kamu tak apa-apa?"
"Hi-hikari, anakku" Katanya. Ia membuatku bingung. Anakku? Siapa dia sebenarnya?
DONGG!!! DONGG!!!
Jam kota berbunyi pukul 00.00. Seketika tubuh Tuan Gomibako bersinar dan perlahan lahan mulai hancur, kumpulan sampah yang membentuknya mulai rontok satu persatu.
Aku menangis histeris. "HUAAA!!" Hingga tangisanku memanggil seorang wanita paru baya. Ia adalah Mamaku, tanpa ku sadari, malam ini ia datang mengunjungiku.
"Ta-tanaka?!" Kata Mamaku dengan lirih sembari menangis.
"Rin"
"Mama? Tanaka...Papa?" Aku menengok ke arah Mamaku, lalu menenggok kearah Tuan Gomibako yang teryata adalah ayahku, yang datang mengunjungiku juga.
"Mama Papa, Hikari kangen kita main bareng, ayooo! Kita main bareng lagi" Ajakku sambil menangis.
"Hikari, maafkan Papa ya? Papa harus pulang, nanti suatu saat Papa akan mengunjungi Hikari lagi" Ucap Papaku sembari menahan sedihnya harus berpisah dengan anaknya.
"Rin, jangan tinggalkan Hikari ya, dia adalah anak yang baik dan berbakti"
"I-iya, maafkan aku"
"PAPAA!!" Aku memeluk tubuh Papaku yang di penuhi sampah itu dengan erat sambil menangis. Begitu juga dengan Mamaku yang datang menghampiri kami dan memeluk kami dengan sedih.
Perlahan lahan tubuh Papa mulai menjadi hancur dan hampir tak terlihat bentuknya sebagai Tuan Gomibako, dan...
"PAPAAA!!!"
"TANAKA!!!"
Tubuh Papaku itu kemudian hancur begitu saja dan arwahnya kemudian mengilang kembali ke dunianya.
***
Orang orang mengatakan, bahwa ketika hari Halloween tiba, maka arwah orang meninggal itu akan turun kebumi dan mengunjungi keluarganya yang masih hidup. Dengan satu syarat, ingatan akan di ambil ketika ia mengunjungi keluarganya.
"Papa! PAPA JANJI AKAN MAIN BARENG HIKARI DAN MAMA LAGI!" Teriakku sambil merengek-rengek yang tak rela Papa pergi lagi.
"Hikari, kamu harus tumbuh menjadi anak yang besar dan kuat ya, seperti papamu ini"
[End]
By Lisaa Lisaya