Malam itu Adikku datang juga ke Jakarta, tanpa diminta dan tanpa kabar apapun. Tiba-tiba menampakan batang hidung. Matanya merah, berkaca-kaca. Wajahnya lesu, tak bersemangat.
AKU menatap bingung. Sejenak kuhentikan aktivitas kerjaku, menutup laptop. Sudah jadi hal teramat jarang ia mau mampir atau hampir mustahil.
Aku merantau ke Jakarta secara tak baik. Orang tuaku menolakku pergi jauh, namun aku memaksa, berkata inilah hidupku. Aku bebas memutuskan hal yang kumau! Setelah pemikiran yang lama Ibu mengizinkan. Lalu aku minggat dari rumah. Meninggalkan Ibu dan adikku seorang diri.
Sangat lumrah ia membenciku. Kendati demikian ia datang juga, kuhargai niatnya. Oleh karena itu baiknya ia kulayani sebagaimana seorang tamu.
“Duduk, De,” ucapku menunjuk kursi kosong di ruang tamu. Ia tak bergeming, masih diam di depan pintu, melotot tajam. Aku menghela, berdiri. “mau minum sesuatu? Teh hangat? Atau barangkali kopi … Sudah lama kita tak berjumpa, mari nikmati waktu reuni—”
“Tak ada waktu!” Ia memutuskan pembicaraan. Menggigit bibir. “Kak, bukankah kau lupakan sesuatu?”
“Lupakan sesuatu? Maksud?”
Adikku, lelaki kurang lebih berumur 15 tahun sekarang, mendecakkan lidah. Amarah dapat tergambar di wajahnya. “Pulanglah! Ibumu dalam kondisi buruk!”
***
AKU terbangun dari mimpi, nyaris memekik. Kurasakan detak jantung ini berdebar tak karuan, butiran keringat membasahi pelipis, napasku tersengal-sengal. Apa tadi itu? pikirku. Masih dalam keheningan, suara alarm berdering, berbunyi nyaring. Amat mengganggu. Kumatikan alarm dengan kasar.
Sebelum aku beranjak dari kasur. Kurenungkan kembali mimpi barusan, mimpi yang kadang kala bermunculan akhir-akhir ini. Bukan sekali dua kali aku melihat mimpi serupa, dimana Adikku, menyuruh untuk pulang. Bilang bahwa kondisi ibu kritis.
Aku tahu bahwa ini adalah sebuah pertanda … Bahkan aku tahu bahwa ibu memang benar-benar kritis dan sedang ada di rumah sakit. Lalu kenapa aku tak bergegas pulang? Atau panik?
Jangan salah, bukan berarti aku tak ingin berkunjung. Hanya saja beberapa alasan menghalangiku. Konflikku dan Ibu belum kelar. Aku tak punya muka untuk bertemu dengan beliau.
***
ALASAN pertama : Aku mengingkari janji dengan ibu.
Sebelum aku pergi ke jakarta, ibuku sudah memperingati. Mengatakan sebaiknya aku tak pergi jauh-jauh. Tetap tinggal di rumah saja, dia pun menambahkan untuk jangan bergabung dengan PT itu.
Tapi aku ngotot. Aku bahkan berkata tegas dan murka malam itu. “Baiklah, jika Ibu terus menolak. Maka aku tak ingin menganggapmu sebagai seorang ibu … orang tua patutnya menghargai keputusan anak, bukan malah mengekang.”
Brengsek! Aku menyesal mengatakan hal semacam itu.
Lalu Ibu pun berkata malam harinya setelah memutuskan, “Baiklah jika kau sebegitu maunya … tapi berjanjilah, lingkungan kota itu siapa yang tahu. Ibu ingin kamu untuk menghindari zina, minum, makan babi, dan klub malam.”
Maka aku pun mengingkari janji itu. Aku menjadi pemabuk sebab kegagalan dalam merantau, aku mulai main dengan wanita, mengunjungi klub-klub malam.
***
ALASAN kedua : Aku mencuri uang Ibu.
Sebelum pergi dari rumah, otakku yang terbilang menjijikan masih merasakan emosi karena Ibu terus menolak gagasanku walaupun akhirnya menerima. Setan merasuki. Masih sisa beberapa waktu sebelum kereta ke Jakarta muncul.
Maka dengan pemikiran. itung-itung lah sebagai modal. Aku mencuri uang ibu dengan diam-diam, tanpa diketahui siapapun. Terkecuali adikku yang kala itu masih berusia kurang dari 10 tahun. Cukup mudah mengelabui bocah ingusan seperti dia.
***
Crak!
Kupukul kaca di rumah yang memantulkan bayangan wajahku. Bayangan seorang pecundang : mata sayu bagaikan orang mati, kelopak mata hitam, kumis dan jengot lebat. Aku macam gelandangan saja.
Drit, drit, drit.
Sebilah benda pipih lagi-lagi bergetar di saku. Tak usah ditanya siapa gerangan penelpon, pastilah adikku.
Secepat kilat kuambil benda tersebut. Ingin ku berteriak. “AKU TAK AKAN PULA—” Namun sebelum kalimat itu benar-benar terucap. Isakan tangisan sudah keluar, menjadi latar belakang suara di seberang telepon. Di sana sangat ramai, kudengar beberapa orang berkumpul. Beberapa memberikan kata-kata untuk bersabar, beberapa memberikan doa-doa.
Apa? Apa yang terjadi?
“De?” tanyaku. Belum ada jawaban. Ia masih terisak di seberang telepon. Waktu terlewat satu menit hingga akhirnya ia menjawab.
“DASAR KAKAK SIALAN! DURJANA! BIADAB! TAK BERGUNA! KEMANA SAJA KAU!?”
Mendengar ocehan dari adikku, mata ini menjadi panas. Ia bukanlah karakter emosional, malahan ia terbilang sangat tenang. Kubisa tarik kesimpulan dari ucapannya.
“SUDAH BEBERAPA KALI AKU MENYURUHMU PULANG. LIMA KALI? SEPULUH KALI? KAU TAK JUGA PULANG!”
Aku menunduk. Tak kusadari kini aku pun ikut terisak.
“SEMUA SUDAH TERLAMBAT, KAK RANGGA … kau tak segera pulang, maka ibu sudah pulang terlebih dahulu.”
Setelah itu ponselku jatuh dari genggaman, aku tak bisa menahan ini lagi. Aku meraung sedih.
***
SEMINGGU kemudian, pada malam hari yang sunyi. Kupijakkan kaki di tempat ibu beristirahat.
Guntur menyambar, hujan turun teramat deras, angin berhembusan dengan sangat kuat.
Banyak orang berbondong-bondong, lari menggunakan payung, bergegas menuju rumah. Badai menyibukkan banyak orang, sementara aku masih sibuk sendiri.
Menatap satu nisan bernama : Ibu Dina Rahmayanti.
“Ibu … aku pulang,” ucapku berusaha tersenyum.
***
ALANSAN ketiga : aku sudah terlambat. []