"Raa?" panggil Dzayyan sambil memastikan apakah orang yang ia panggil tidak salah.
Sesosok perempuan yang merasa terpanggil itu pun membalikkan badannya. Ia terkejut, bagaimana bisa laki-laki yang selama ini ia hindari tiba-tiba muncul di sini? Apa mungkin dia mengikutinya? Tapi nggak mungkin sih, kebetulan mungkin? Tapi kalo iya kurang kerjaan banget nggak sih? Okey stay kalem jangan biarin laki-laki itu sadar kalo saya kaget. Tiba-tiba muncul banyak pertanyaan di pikiran perempuan itu.
"Sejauh apapun usaha lo buat jauhin gw, kalo emang udah takdirnya kita tetep bakalan ketemu, Ra," ucap Dzayyan dengan senyuman yang terbit di bibirnya.
Perempuan itu masih diam beberapa saat, lalu melirik kearah laki-laki itu sebentar kemudian langsung memalingkan wajahnya.
"Jangan terlalu mencintai saya, saya hanyalah manusia biasa yang bisa kapanpun membuatmu kecewa," ucap Nazyera. Ya... perempuan itu adalah Nazyera, Nazyera Algoritma, perempuan yang dicintai Dzayyan namun belum bisa dimilikinya.
"Sebelum gw kecewa, kita pasti udah bersama Ra, dan nggak akan ada yang bisa misahin kita," senyum Dzayyan terlihat semakin melebar.
"Saya pernah berfikir seperti itu, saya kira... saya sama kamu bisa bersama, tapi nyatanya nggak, kamu milik Tuhanmu, dan saya milik Allah," Nazyera menjeda ucapannya. "Kita sama-sama bertahan dengan kepercayaan masing-masing, dan itu adalah tembok penghalang di antara kita. Karena sampai kapanpun wa'alaikumsalam bukanlah jawaban dari Salom," lanjut Nazyera.
Senyum Dzayyan hilang seketika, digantikan dengan tatapan kosongnya., "Gw tau Ra, tapi emang udah nggak ada jalan lain supaya kita bisa bersama? Ra, gw tau lo nggak mau pacaran sama siapapun. Gw mohon tungguin gw, gw rela meluk agama lo, dan itu demi lo... jadi kabarin gw kalo lo siap, gw juga bakal memantaskan diri supaya kita bisa pergi bareng ke surga-Nya," ucap Dzayyan.
"Kalo emang kamu mu meluk agama saya, ganti niatnya, jangan karena saya. Tapi harusnya karena kamu emang siap jadi hamba-Nya, bukan karena seseorang yang belum menjadi mahram mu. Kamu harus cintai pencipta-Nya lebih dulu sebelum kamu mencintai ciptaan-Nya." tegas Nazyera.
"Saya pamit, assalamu'alaikum," pamit Nazyera lalu melangkah menjauhi Dzayyan.
"Gw pengen jawab salam lo, tapi tunggu, karena itu butuh proses," jawab Dzayyan yang masih bisa didengar Nazyera.
'Saya bakal berusaha nunggu kamu,' sayangnya kalimat itu hanya bisa Nazyera ucapkan dalam hatinya. Ia tidak mau memberi harapan yang belum pasti kepada seseorang.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut??