Di pinggiran sebuah hutan yang rindang, hiduplah sebuah pohon bunga. Pohon bunga itu tidaklah kecil, tapi ia penuh vitalitas dan kemudaan. Tangkainya sehat, daunnya tumbuh hijau dan rimbun, serta memiliki sebuah bunga yang setengah mekar. Namun jangan salah, walaupun belum mekar sepenuhnya, namun pesonanya tidak bisa dilewatkan oleh mata, dan kuncup setengah mekar itu adalah sebuah simbol bagi kesucian murni.
Pohon bunga itu bernama aster putih yang bisa digambarkan sebagai sesosok keindahan yang pemalu, anggun, dan juga sangat lemah lembut. Ia tumbuh bersama satu bunga lainnya dan ia dilindungi oleh pohon-pohon rindang. Aster putih cukup ceria dan bahagia, walaupun terkadang ia merasa dirinya seperti sosok terbuang yang tidak terlalu diperhatikan seperti bunga lainnya.
Suatu hari, lewatlah seorang pemburu muda yang gagah yang terpesona dengan keindahan si aster putih. Si pemburu yang berteman dengan pohon rindang yang melindungi si aster putih itu terpikat hatinya ketika perjumpaan pertama mereka. Si pemburu selalu muncul di tempt aster putih itu kapanpun ia punya waktu. Jika tidak, akan ia sisihkan waktunya dan ia akan menyempatkan diri untuk melihat, walau hanya sekilas dan dari kejauhan.
Karena merasa diperhatikan dan diistimewakan oleh si pemburu, aster putih itu kemudian jatuh hati. Dia terpesona oleh kerja keras si pemburu itu untuk bertahan hidup setiap harinya. Bagaimana tidak, aster putih yang mendamba sebuah cinta abadi itu sekiranya merasa telah menemukan pelabuhan untuk menambatkan hatinya.
Suatu hari, si pemburu bertanya kepada si aster putih. Begini, " Wahai aster putih, aku ini tidak kaya-raya, tidak tampan paripurna, apalagi sosok yang sempurna. Dengan segala kekuranganku ini, aku memberanikan diri untuk meminta, maukah engkau mengikutiku pulang ke rumahku? Ya, aku memang tidak bisa memberikan tempat yang mewah kepadamu, aku juga tidak bisa selalu menemanimu kapanpun kamu mau. Namun, aku berjanji akan memberimu air saat kau butuh, memberimu pupuk saat kau minta, dan aku akan merawat mu sepenuhnya. Jika engkau bersedia, aku akan menyiapkan tempat yang istimewa di rumahku untukmu"
Dengan segala bujuk rayu si pemburu, aster putih yang sudah tertawan hatinya pun mengangguki. Ia bersedia hidup dengan si pemburu itu di rumah sederhana yang pemburu itu bangun.
Pemburu itu kemudian membawa si aster putih itu kembali. Kemudian, pemburu itu menyerahkan halaman yang sudah ia tata sedemikian rupa itu kepada si aster putih. Kalaupun si aster putih itu membutuhkan sesuatu, aster putih itu bisa meminta si pemburu untuk memperbaikinya sesuai keinginan si aster putih.
Hari demi hari mereka lalui dalam kesederhanaan. Pemburu itu merawat si aster putih dengan sepenuh hati.
Setelah berhari-hari bersama, aster putih itu lama kelamaan mengetahui sosok si pemburu lebih dalam. Si pemburu itu adalah sosok pekerja keras memang. Namun, pemburu itu juga memiliki sifat lain yang tidak disukai oleh si aster putih. Pemburu itu mempunyai sifat pemarah, keras kepala, egois, semaunya sendiri, suka mengatur, bersuara keras setiap saat, dan bahkan terkadang melukai aster putih saat sedang tidak sadarkan diri. Entah dengan kata-kata yang menusuk hati, maupun juga perlakuan yang melukai diri si pohon bunga.
Bahkan suatu saat, si pemburu itu pernah hampir mencabut akar si aster putih hingga mati, namun untungnya, aster putih bisa melepaskan diri pada saat itu.
Mungkin benar kata orang, cinta itu buta. Cinta itu bisa menutupi mata dari melihat kenyataan yang terpampang nyata di depan mata.
Dengan kepolosan si aster putih itu yang bisa dikatakan bodoh, si aster putih memaklumi dan mau menerima kembali si pemburu. Ia bahkan mencari beribu alasan untuk pembenaran atas segala perbuatan si pemburu kepadanya.
Si aster putih berdalih bahwa pemburu itu sudah di tempa menjadi sosok yang keras kepala dan tegas. Karakter itu juga tercipta sebagai efek samping dari si pemburu yang hidup serba mandiri serta tidak terlalu di pedulikan oleh keluarganya.
Si aster putih berpikir, oh, mungkin karena mereka memiliki pengalaman hidup yang serupa, makannya tuhan mempertemukan mereka dalam takdir dan mengikat nasib keduanya.
Terlepas dari segala sifat buruknya yang baru aster putih ketahui, pemburu itu adalah sosok yang bertanggung jawab. Pemburu itu akan menyiraminya, memberi pupuk, bahkan menyiangi rumput yang tumbuh di sekitar aster putih hingga si aster putih tumbuh subur hingga memiliki sebuah kuncup kecil yang tumbuh di sampingnya.
Aster putih tentu saja sangat bahagia dengan kuncup baru yang terlahir dari bijinya itu. Biji kecil yang menumbuhkan kuncup itu tentu saja diketahui oleh si pemburu. Pemburu itu merasa bahagia ketika melihat kuncup kecil baru berhasil tumbuh. Ia merasa berhasil merawat si aster putih.
Hari demi hari, kuncup kecil itu mulai tumbuh besar. Rantingnya yang awalnya pendek dan kecil perlahan membesar dan tumbuh subur.
Kehidupan mereka damai hingga kemudian, aster putih pun menumbuhkan kuncup kecil baru lagi. Jadilah, aster putih kini memiliki dua kuncup kecil yang membuat kehidupannya lebih berwarna.
Melihat ia kini memiliki tiga pohon bunga, si pemburu pun merawat si aster putih beserta kedua kuncup kecilnya dengan cukup baik. Hingga berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun, tak terasa waktu terlewat begitu saja. Meski ada saat yang berat, aster putih tetap harus kuat dan hidup bahagia. Bukan untuk dirinya sendirian, namun juga untuk kedua kuncup kecilnya yang kini sudah mulai tumbuh besar.
Suatu hari, si aster putih yang tengah merasakan semilir angin sore itu mendengar kabar dari burung yang bertengger di dahan tidak jauh dari tempatnya.
Burung itu berkata kepada si aster putih, jika ia melihat si pemburu tengah menggoda bunga-bunga yang bermekaran di taman pinggiran desa.
Mendengar kabar itu, si aster putih campur aduk perasaannya. Ia cemburu, kacau, sedih, sakit dan kecewa tentu saja. Namun, aster putih bisa apa? Ia hanya harus kuat dengan akarnya yang tertanam kokoh. Kembali lagi aster putih menguatkan dirinya. Ia harus bertahan demi kedua kuncupnya yang mulai dewasa.
Di tengah gundah gulananya, tiba-tiba saja muncullah seorang petani bunga. Petani bunga yang tidak sengaja lewat itu seakan air di gurun tandus bagi si aster putih. Dengan pesona petani bunga, aster putih merasa perasaan sedihnya agak mereda
Pun si petani bunga. Ia juga terpesona dengan si aster putih berkuncup dua karena kelembutan dan kepolosannya. Ia menggunakan suara merdu yang ia miliki untuk menggoda si aster putih. Petani bunga itu akan datang dan bernyanyi untuk si aster putih untuk mengobati perasaan gundah si aster putih di saat sang pemburu sedang pergi.
Dengan bergaulnya mereka, aster putih jadi tahu jika si petani bunga itu sejatinya tidak memiliki bunga. Awalnya punya, namun bunga itu mati dan kini hanya tersisa pohon pinus yang dirawat dengan baik oleh si petani bunga sebagai peninggalan berharga.
Aster putih iba awalnya. Tak hanya itu, ia juga terpana dengan kehebatan si petani bunga karena berhasil merawat pohon pinusnya seorang diri hingga kini sudah tumbuh besar.
Pada suatu ketika, saat si pemburu menyirami si aster putih, ia mulai sadar. Aster putihnya mulai berubah, tidak seperti saat ia menemukannya pertama kali. Pemburu itu hanya diam setiap hari, namun hatinya berkecamuk. Akhirnya si pemburu memberanikan diri untuk mencari tahu apa yang membuat aster putihnya berubah.
Pemburu itu tidak pernah menyangka bahwa temannya, si petani bungalah yang sudah membuat aster putihnya berubah. Petani bunga itu juga tahu jika dirinya sudah ditemukan oleh si pemburu.
Si pemburu kembali dengan amarah yang membakar jiwa. Dengan mata merah dan tubuh gemetar, ia menanyai si aster putih segalanya.
Si aster putih yang lemah lembut berdalih pada awalnya, namun karena rasa bersalahnya, ia mengaku juga. Dengan karakter lembutnya, si aster putih hanya bisa bercucuran air mata ketika dihadapkan dengan lantangnya si pemburu saat mencecarnya.
Si pemburu juga tidak terlalu sadar diri. Dirinya yang sering berinteraksi bahkan menggoda bunga sana sini itu seolah makhluk tanpa dosa yang maha benar. Tidak pernah salah setitik debupun.
Aster putih tentu saja sakit sekali hatinya. Bagai ditusuk pisau tak kasat mata. Hancur berkeping-keping.
Namun aster putih yang bodoh memilih untuk bertahan. Untuk kesekian kalinya, lagi, dan lagi. Katanya, dengan sebuah ketulusan dan kekuatan doa pada sang kuasa pembuat takdir, batu sekeras baja pun bisa lebur, luluh lantah hanya dengan setetes air.
Berbekal kepercayaan yang selalu di pegangnya itu, si aster putih mencoba sekuat tenaga untuk bertahan. Juga, sebagai bunga yang rapuh, aster putih merasa ia tidak bisa lepas dari si pemburu. Demi kuncup kecil mereka, aster putih mencoba ikhlas dan menerima semua walaupun sakitnya menembus jantung.
Dengan tutur lembut si aster putih, pemburu berhasil menurunkan amarahnya yang menggebu.
Entahlah. Isi hati memang tidak bisa diprediksi.
Tidak tahu nanti apakah akan happy ending, atau malah sad ending. Intinya, jika memang sudah ditakdirkan untuk kehilangan, maka tidak akan ada yang bisa mengubahnya.
Yang bisa dilakukan hanya menjaga yang masih ada, menghargai waktu yang tersedia, menikmati setiap momen bersama, dan kita hanya bisa berharap agar itu bertahan lama sampai maut yang memisahkan semuanya.
Intinya, manfaatkan semuanya sebelum kamu kehilangan dan merasakan penyesalan yang teramat dalam.
Mohon saja kepada tuhan, semoga hidup kita disertai bahagia, diberi sehat jiwa dan raga, dilimpahi harta, dan waktu yang cukup untuk menikmatinya.
Sekian.