Angin yang dingin di sore hari, daun daun berterbangan, aku memandang burung kecil yang terbang, dengan di dampingi kedua burung dewasa di samping kiri dan kanan nya, burung"itu tampak bahagia, berdenyut dadaku terdapat sedikit rasa iri di dalam hatiku,"bahkan hewan pun bisa mendapat kebahagian"gumam ku pada diri ku sendiri.
Nama ku Runi aku terlahir dari seorang ayah campuran eropa dan Bugis serta ibu ku asli Jawa, kedua orang tua ku menikah karna kesepakatan bisnis orang tua.
Bisa di bilang mereka menikah karna terpaksa, tidak ada cinta dalam pernikahan mereka, terkadang aku bingung kenapa aku bisa lahir jika mereka tidak saling mencintai itu yang selalu aku pikirkan, karna mereka menikah tanpa cinta kehidupan rumah tangga mereka hanya sebatas saling menguntungkan saja. Mereka bahkan jarang bertemu,seatap namun tidak saling peduli.
Jangan ada yang ikut campur dengan masalah satu sama lain, entah itu peraturan yang mereka buat atau tidak, namun yang pasti karna itu lah aku selalu membuat masalah agar mereka setidak nya memperhatikan ku tapi setidaknya meliriku
Namun semua yang aku lakukan tidak berguna aku hanya di abaikan sampai"sampai aku di hukum di tempat gelap dan di siksa seperti seorang penjahat yang melakukan kejahatan dan sedang di interogasi ,apa kalian bisa membayangkan seberapa sakitnya tubuh kecilku saat terkena cambuk saat itu.
Sakit hati dan trauma sudah menjadi keseharian ku ketika melihat tempat gelap dan sempit, kejadian aku di hukum selalu teringat dalam memori ku,itu terjadi 9 tahun yang lalu ketika aku berumur 10 tahun.
Aku tau kalian pasti berpikir bahwa mereka adalah orang tua yang jahat, tapi entah kenapa saat itu aku masih berpikir bahwa itu hanya lah mimpi buruk yang akan berlalu dan ketika aku bangun semuanya akan baik baik saja, tapi aku terlalu bodoh karna haus akan kasih sayang..
Aku terbangun di ruangan segi empat berdinding putih dengan jarum infus di tanganku, tubuhku rasanya sakit aku sadar ternyata itu bukan mimpi.
Berbulan-bulan bahkan bertahun-bertagun aku trauma karna kejadian itu,walau pun berhasil melaluinya namun terkadang aku masih merasa takut pada suara langka kaki di malam hari,kegelapan,dan tempat sempit.
Ibu perna meminta maaf karna kejadian itu. Iya kalian tidak salah dengar orang yang menyiksaku di ruang bawah tanah rumah adalah IBUKU, orang yang harusnya memberiku kasih sayang namun malah memberi luka dan trauma dalam hidupku.
Apa kalian penasaran apa ayahku tau tentang hal ini atau tidak.
Akan ku beri tau pada kalian bahwa lelaki yang ku sebut ayah itu, tahu atau tidak nya ia sama saja.
Karena ia juga adalah bagian dari kisah kelam hidupku dan penderitaan ku, yang sering melampiaskan semua masalahnya padaku.
AKU MEMBENCINYA LEBIH DARI APAPUN DI DUNIA INI!
Lelaki yang sangat ku benci hingga aku tidak ingin mengakuinya sebagai ayahku.......
Dan untuk ibu, ia meminta maaf dan menyesal atas kejadian yang perna terjadi 9 tahun yang lalu katanya, namun apa semudah itu, pikirku, aku ingin marah namun aku sadar aku menahannya, karena diakhir kata yang di ucapkan ibu adalah ini juga karna kesalahan ku,ia benar AKU SALAH karna mengharapkan hal yang harusnya tidak aku harapkan darinya, namun ini tampak seperti melempar masalah pada ku.
Aku memaafkan mu ibu ucapku di lisanku tapi tidak hatiku.~~~
Matahari pun mulai terbenam dan membawa cahaya untuk ikut pergi bersamanya.
Tampa sadar air mataku terjatuh ketika mengingat tragedi tersebut, kisah kelam hidupku yang sulit ku lupakan.
Aku tidak tau kalau sesulit ini untuk berdamai dengan luka dimasa lalu, padahal itu sudah sangat lama.
Tapi sama saja bukan hidup di rumah itu bagai luka lama di tambah luka baru penuh penyiksaan bagai neraka.
Huff,aku menghela nafas berat dan menyentuh wajahku, apa aku menangis, tidak aku tidak boleh menangis, aku melihat jam tangan ternyata sebentar lagi acara ulang tahun adik angkatku akan DIADAKAN.
Aku akan terlambat sebaiknya aku pulang sebelum aku mendapat kan masalah kata ku.
Aku berjalan meninggalkan bukit kecil dengan pohon Cemara yang indah, tempat ku melepas lelah akan kehidupan, di sebelah pohon Cemara tersebut terdapat ayunan kecil.
Aku memegang ayunan tersebut dan melihat diriku yang duduk di atas sana sambil tersenyum namun mataku basah.
Runi kecil yang malang,maaf masa kecilku. Ucapku seakan aku akan pergi dan tidak kembali lagi, entah kenapa aku merasa tidak akan melihat tempat ini lagi.
Aku berjalan pulang dengan bulan yang membawa gelapnya malam dan bintang yang bersembunyi di balik awan malam.
Aku berjalan dengan pikiran yang kosong entah kemana kakiku membawaku pergi aku tidak peduli hingga tak sadar jalan ke arah yang salah.
Aku berada di gang yang lumayan kecil dan gelap, entah kenapa keringatku mulai turun, nafasku tidak teratur,jantungku berdetak dengan cepat, aku membalikan tubuhku dan berusaha mencari jalan kembali.
Namun mataku mulai berat, kaki ku lemas, aku terduduk di sana, aku berusaha berdiri dan kembali berjalan, tiba" aku mendengar suara yang terus berulang ulang.
``Bisakah kau tidak membuat masalah, ibu maaf kan aku ibu jangan pukul aku,ibu aku takut,
DIAM, kau sama seperti ayahmu MEREPOTKAN, dasar anak nakal, biasakan kau sedikit berguna, dasar tidak berguna.
Takh takh takh suara cambuk yang mengenai kulitku,rasanya sangat sakit
Dasar Jalang kecil,kau sama seperti ibumu, pakkkk~~~~
Suara yang terus berulang ulang di kepalaku,
Aku tidak sanggup lagi, tidak,tidak tidak TIDAKKKK jangan pukul aku~~~
Tiba tiba aku merasa lemas dan terdengar suara langkah kaki di belakang ku
Aku menoleh,ku lihat samar tongkat besi terangkat di atas kepalaku
BUK!!!!!!
suara benturan di kepalaku
Rasanya sakit,..aku terjatuh.
Bayangan hitam yang samar berdiri di sampingku.
Walau samar aku mendengar suara tawa kecil tanda kemenangan
"Kau pantas mendapatkan nya"
Ucap sosok hitam itu
APA SALAH KU!!!
Ucapku hingga mataku tertutup dan semua nya menggelap.
Itulah akhir hidupku yang malang.
Rasa nya dingin dan sepi.