"Hei Ryan, apa kamu sudah pernah memainkan challange horror yang tren di internet?, kamukan tidak percaya yang gituan."
"Hah, apa itu."
"Apa kamu tidak punya aplikasi TT?."
"Ttek?."
"Bicaramu masih sama saja mesum, tiktik oke."
"Aku tidak punya, emang seperti apa Challangenya?."
"Itu mudah saja, karena malem inikan jumat Feelnya akan terasa."
"Jelaskan dulu, aku harus apa, toh seperti bulan kemarin kamu mengajakku ke rumah kosong yang isinya berhantu, tapi malah ketemu sama orang gila, apa lagi abis itu aku demam karena kedinginan."
"Hehehe maaf. Nama Challangenya seperti ini, do you want to see what you can't see?.
Gamenya ya kamu sekitar jam 01:53 pagi harus pergi ke kamar mandi, dan mematikan semua lampu yang berada ada di kamar mandi dan kamu hanya memperbolehkan membawa satu lilin merah dan menyalakan lilin di antara cermin. Kemudian tutup matamu daan bisikkan nama kamu terus menerus."
"Kata pencetusnya semua bisa terjadi di kegelapan. Mungkin hal aneh muncul di cermin atau wajahmu menjadi mengerikan, atau hanya seekor laba laba menggangumu, yang kamu harus lakukan adalah berdiri diam dengan tenang."
"Challangenya akan berakhir setelah setengah jam, mungkin kamu harus berhati hati yan, aku lihat banyak sekali orang kesurupan karena challange ini atau hanya sebuah gimmick."
"Mik gimmik, itu hanya sekadar kreator mengumpulkan followers, aku akan merekam video tersebut untuk menunjukkan kepadamu."
***
Malam berlalu, dan waktu yang di tetapkan akan segera tiba, Ryan berjalan ke arah kamar mandi, untuk berjaga jaga dia pergi ke kamar mandi yang berdekatan dengan kamar orang tuanya kalau dia membutuhkan bantuan.
Ryan mematikan lampu kamar mandi, dan berjalan kedalam, menutup pintunya, melihat pantulan dirinya di cermin dia langsung menyalankan lilin dan menaruhnya di antara cermin dia tanpa ragu ragu melakukan semua itu.
"Aku tahu kenapa game ini sangat tren di tiktik, karena pencetusnya sangat jenius. Lingkungan gelap tertutup adalah ketakutan batin, dan kamar mandi tempat lembab dari semua ruangan, apa lagi dengan membisikan nama terus menerus ini menjadi timbul rasa takut sedikit demi sedikit karena kamu sendiri, itu terkesan sugestif secara piskologis."
"Ketakutan sebenernya tidak perlu harus mencari sesuatu yang tidak ada, secara sederhana hanya perlu memperbesar kecemasan pemain Challange ini dengan ketakutan terdalam." Setelah self talk sendiri, dia langsung menyalakan rekaman video di hpnya.
Dia menaruh ponselnya di view yang bisa menangkap semuanya, seperti dirinya dan ruagan itu.
"Beberapa menit lagi, akan dimulai sebaiknya aku harus bersiap siap." Ini seperti menunggu kematian tapi menunggu kematian lebih mengerikan dari pada kematian itu sendiri. Di kamar mandi yang sunyi indra suaranya seakan membesar ke titik tertentu apa lagi dia bisa mendengar detak jantungnya semakin cepat.
Dia melihag waktu di layar telepon. Ketika waktu sudah berubah menjadi menit pukul 53 dia langsung memulainya, dia merekamnya dan menatap cermin itu.
Api lilin sekarang menjadi satu satunya sumber cahaya dalam kegelapan. berdiri di antara cermin dengan kegelapan dan kenyataan, cahaya lilin seperti mencoba memgeluarkan sesuatu di cermin tersebut.
Ryan memandang dirinya di cermin dan segera menutup matanya, dan memulai gamenya.
"Ryan. Ryan. Ryan. Ryaaan.."
Terus menerus memanggil namanya perlahan lahan dia menjadi asing dengan nama itu.
Dia hanya menjeda selama 5 detik untuk menyelesaikan situasi keasingan tersebut saat memanggil nama itu, namanya.
"Permainan ini penuh dengan psikologis. Tempat yang paling sulit adalah tidak berurusan dengan apa yang disebut hantu dan semua jenis legenda, tetapi untuk menahan diri. Selama kamu tidak membuka mata, seharusnya tidak ada bahaya."
Lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, dan sulit untuk melakukannya. Setelah sepuluh menit pertama, sesuatu itu terjadi.
Mungkin jendela kamar mandi tidak sengaja terbuka, dan angin malam berhembus ke kamar mandi, dan itu seperti seseorang menjilat tangannya.
Kaca yang berada didepannya sepertinya bergoyang karena tekanannya itu mengeluarkan suara mencicit. Sepertinya ada tikus masuk pipa, dia harus membeli racun tikus besok nanti.
Segala sesuatu sunyi, semua suara diperbesar sampai tingkat didengar oleh Ryan, banyak orang akan merasa tidak nyaman seperti dirinya, mungkin karena perasaan ini beberapa orang kesurupan.
Walaupun begitu dia hanya mengitung di dalam pikirannya.
Dua puluh menit berlalu, ini perasaan dia saja atau ruangan ini suhunya menurun dia seperti di dalam kulkas. Dia tidak bisa menahan tubuhnya bergidik.
"Tenang!, semuanya akan baik baik saja. Jangan menakuti dirimu sendiri, beberapa menit game ini akan selsai." ada aliran udara berhembus meniup daun telingan Ryan, lengan kepalan tangannya menjadi sangat kaku dan kakinya berakar sangat kuat di lantai.
"Ryan. Ryan. Ryan. Ryan. Ryan."
Berbisik selama beberapa menit lagi, dan sepertinya lilin yang di hadapannya sudah padam.
"Yaaan."
"Yan."
Apa keluarganya di luar sedang memanggilnya? Itu seperti terburh buru apa orang tuanya ingin ke kamar mandi tapi suaranya bukan seperti orang tuaku.
"Apa aku menyelesaikan game ini saja?." Ryan langsung menghilangkan gagasan tersebut, aturan gamenya sangat jelas dan sebentar lagu dia sudah selsai memainkan game ini.
Dia menghitung waktu di hatinya, dan suara di telinganya berangsur-angsur hilang. Dia bisa yakin bahwa orang lain memanggil namanya, dan orang itu tampaknya berdiri di luar pintu.
"Orang itu tampaknya gelisah, tetapi aku yang memainkan permainan, dia gelisah?."
Dalam tiga menit terakhir, pintu kamar mandi terdengar keras, seperti seseorang menggaruk dengan kuku, menggigit dengan gigi, dan pintu itu akan segera runtuh, seolah-olah itu akan dibuka kapan saja.
"58 detik, 59 detik, 60 detik!" Setengah jam telah berlalu, suara di luar pintu menghilang, dan semuanya kembali tenang.
Lilin yang di hadapannya sudah lama padam, dan ruangannga menjadi gelap gulita, dia mengambil ponselnya dan menyalakan senter.
Daan saat cahaya menyinari ruang tersebut, kaca didepannya penuh retakan besar yang sebentar lagi akan pecah kemana mana tapi anehnya itu seperti di tahan disana.
"Siapa yang memecahkan kaca ini?, aku pikir aku mengunci kamar mandi dan jendela kamar mandi. Aku bodoh mana mungkin ada jendela di kamar mandi."
Ryan buru buru keluar dari kamar mandi dan menyalakan saklar lampu. Dia langsung pergi ke kamar orang tuanya dan tidak memikirkam apapun tentang kejadian ini.
***
Siang harinya...
Di perpustakaan.
Kedua orang siswa sedang menonton sesuatu dan sepertinya sangat serius tapi penuh ketakutan di wajah siswa lainnya.
Video yang direkam oleh Ryan sangat bikin Cantika merinding.
Video itu tidak terekam jelas karena sesuatu tapi itu di ketahui. Video itu bergoyang menampilan Ryan dan bayangan di cermin saling berhadapan. Ryan yang berhadapan dengan cermin seperti telihat kaku tapi bayangannya terlihat melakukan sedikit gerakan.
Menit ketiga belas itu awal, lilin di hadapan ryan seperti tertiup angin tapi kamad mandi Ryan tidak ada jendela apa lagi pintunya terkunci.
Menit kedua puluh tiga itu menjadi mengerikan walaupun videonya terlihat biasa saja tapi ada rasa ngeri di dalamnya.Ini mungkin ketakutan akan kegelapan dan ketidaktahuan dalam sifat manusia.
Melihat video itu, wajah Ryan tidak terlalu bagus. Dalam kesan, dia menjaga matanya dan menjaga jarak dari cermin, tetapi gambar yang sebenarnya menunjukkan bahwa tubuhnya perlahan-lahan condong ke depan, seperti menempel pada cermin.
Pada menit ke dua puluhlima, bagian atas tubuhnya telah ditekuk hingga tujuh puluh derajat, dan ujung hidungnya hampir menyentuh cermin.
Kemudian hal mengerikan terjadi, Ryan di cermin mengubah ekpresinya dan menjilat kaca itu dan membenturkan kepalanya.
Pada saat yang sama, lilin padam dan video berakhir.
"Apa kamu menjadi gila karena kejadian bulan lalu, yan?."
"Hah tidak, akupun terkejut saat melihat videonya hari ini."
"Terus kenapa kamu melakukan ini, itu membuatku takut sungguh."
"Bukankah kamu yang menyuruhku untuk melakukan Challange ini?."
"Kapan aku mengatakan itu."
"Itu sore kemarin, saat aku bertemu denganmu di lorong sekolah." Ryan terlihat bingung dengan kata kata cantika.
"Aku kemarin sudah pulang duluan dengan ayahku, kelasku pulang di siang hari."
Ryan menatap Cantika dengan wajah serius...
(A/N : Sekarang Jam : 03 : 11 pagi, mww bobo dulu.)