Ada seorang gadis bernama Xicca aleshia. Gadis berusia 16 tahun yang beberapa bulan lagi 17 tahun. Lahir di ibukota jakarta pada tanggal 08 februari 2007. Tinggal bersama sang nenek dan seorang ibu. Ayah Xicca pergi tanpa pamit. Kecewa dan kehilangan dirasakan Xicca. Kepergian sang ayah membuat Xicca membenci sosok lelaki dalam hidupnya. Ia mempercayai kalau semua lelaki sama.
Suatu hari Xicca mengikuti kegiatan disekolahnya. Ia adalah ketua divisi di organisasinya, karena itu Xicca harus mengikuti kegiatan latihan kepemimpinan siswa. Kegiatan itu dikhususkan untuk para pengurus inti dalam organisasi. Siang itu ia diantar oleh pamannya. Ia pergi setelah berpamitan dan mencium pucuk tangan pamannya.
Senyumnya terukir indah diujung bibir. Melangkahkan kaki memasuki sekolah. Tanpa sengaja ia bertemunya dengan seorang lelaki yang sedang terburu-buru. Ia hanya menggelengkan kepala saat lelaki itu hampir menabrak gerbang. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya.
Setelah tiba di tempat chek-in xicca menaruh barangnya di dekat pot bunga. Ia tersenyum saat disapa oleh kakak kelasnya.
"Xicca, semangat ya LKS-nya! " Seru kak adila dengan tersenyum.
"Iya kak terimakasih. " Balasnya tersenyum.
"Jangan nyerah ya kamu pasti bisa, jangan pura-pura sakit nanti. "
"Hehe iya kak." Menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Duluan ya kak...bye bye." Melambaikan tangan dan berlalu pergi.
"Iya bye." Balas melambaikan tangan.
Waktu semakin berlalu. Sekarang xicca sedang duduk mendengarkan materi. Ketika sedang fokus, matanya tak sengaja melihat sosok lelaki yang dia lihat tadi digerbang. Tanpa sadar ia tersenyum dan menatap lelaki itu. Temannya yang bernama Gea yang duduk dibelakangnya memegang pundaknya. Ia menoleh dan bertanya pada temannya itu.
"Ada apa? " menoleh ke belakang.
"Ngapain tuh liatin nabil? " menaikkan alisnya bertanya.
"Dih emang ga boleh ya? " menatap malas gea.
"Bukannya ga boleh tapi..." menjeda ucapannya.
"Awas loh kalau suka. " lanjutnya dengan mengedipkan matanya sebelah.
"Ish apasih ga jelas" melipat tangan didada dan berbalik ke semula duduknya.
Pandangan matanya kembali menatap nabil yang berada jauh darinya. Ya, sosok lelaki yang disukai xicca beberapa waktu lalu bernama nabil fazrul azhar. Hatinya yang sempat membenci sosok lelaki, sudah terbuka kembali. Sosok lelaki itu berhasil meluluhkan hati xicca. Ketika itu mata indahnya masih menatap lekat nabil.
Lagi dan lagi gea mengejeknya yang membuat xicca kesal. Ia berbalik dan menatap malas sang teman. Dengan nada sinis xicca menyahut perkataan gea.
"Ekhem suka nih ye." bisik gea mengejek.
"Apasih gea ga usah sok tau deh." melirik sinis.
"Hehe siapa tau gitu." cengengesan.
"Alasan? " menaikan alisnya.
"Dia itu tampan berbakat dan rajin ibadahnya" menatap nabil kagum.
"Seterah lo deh." berbalik dan mendengarkan kembali materi.
Setelah selesai seluruh peserta LKS(latihan kepemimpinan siswa) melakukan kegiatan pribadi. Beberapa siswa membantu temannya memasak dan ada yang melakukan kegiatan pribadi. Waktu yang diberi hanya sampai sebelum sholat maghrib.
Disebuah kursi bambu ia terduduk. Menunggu senja datang berganti. Ketika menatap langit tiba-tiba seseorang terduduk disampingnya. Menyampaikan kalimat yang membuat xicca diam membeku.
"Kalau cinta bilang jangan diem aja nanti diambil orang loh" sahut nabil tersenyum menatap senja.
Mendengar ucapan itu ia termenung memikirkan arti perkataan tersebut. Setelah berpikir ia menjawab perkataan nabil tadi.
"Tapi kalau introvert bagaimana? " menatap lekat mata nabil.
"Kalau begitu biarkan cinta berjalan sendiri mengikut takdirnya." tersenyum.
"Tak pantas seseorang sepertiku mendapatkannya yang sempurna."
"Percaya pada takdir." mengusap pucuk kepala xicca dan berlalu pergi.
"Bagaimana dengan hubunganmu dan natri? " berbicara menatap kepergian nabil.
Ia terdiam menelan fakta yang begitu menyakitkan. Perkataan nabil sempat membuatnya melupakan status lelaki itu. Ya, xicca tau kalau nabil sudah memiliki seorang kekasih, tapi semua itu ia tutupi. Dan rasa sakit itu kembali lagi.
Berbulan-bulan kemudian setelah hari itu. Keinginan xicca untuk memiliki nabil semakin besar. Suatu hari disekolah xicca memberikan sebuah coklat kepada nabil. Tatapan heran dilontarkan oleh nabil. Namun, ia mengatasnamakan pemberian itu dengan nama neysa(sahabat xicca).
"Ini."menyerahkan sebuah coklat kepada nabil.
" untuk? " menatap penuh tanya.
"Kamu dari neysa." berlalu pergi dengan cepat.
"Neysa? Dia bukannya udah punya pacar ya? " mengernyitkan dahi.
"Mungkin xicca hanya mengkambinghitamkan neysa" sahut Reyhan.
"Kalau itu benar maka cintaku tak bertepuk sebelah tangan. " batin tersenyum.
"Ekhem dibalas nih cintanya. " menyenggol lengan nabil.
"Kayak lo nya engga aja. " pergi meninggalkan Reyhan.
"Hadeh nasib punya temen kayak dia" pasrah mengikuti nabil dari belakang.
Malam hari pun tiba. Dikamar yang sedikit redup xicca berbaring memainkan ponsel. Sebuah pesan masuk atas nama nabil terkirim. Hatinya berbunga-bunga saat mendapatkan pesan itu. Untuk pertama kalinya nabil mengirimkan sebuah pesan. Isi pesan tersebut membuat xicca berbunga-bunga.
"Lagi apa? "
"Udah makan belum? "
"Terimakasih untuk coklatnya"
Ia bingung ingin menjawab apa. Sampai pada akhirnya jemarinya mengetik sesuatu.
"Emm cuma tidurnya aja kok :) "
"Udah kok tadi."
"Bukan dariku tapi dari neysa"
"Masih mau bohong soal coklat hm?" tanya nabil.
"Emm bener kok, itu dari neysa."
"Kamu pikir aku ga tau kalau neysa punya pacar?"
"Oh hehe kan cuma kasih coklat bukan kasih sayang"
"Kalau gitu kamu mau ga aku hangatin" ledeknya.
"Ihh apasih?! Udah ah males"
"Ih sayang kok marah sih :( "
Pesan terakhir nabil itu berhasil membuat xicca tersipu malu. Dalam hatinya ia begitu bahagia. Mendapatkan perhatian dari orang tersayang. Rasa malu itu masih ada ia menutup wajahnya dengan bantal. Perlahan dirinya mulai tertidur lelap.
Keesokan paginya ia berangkat menggunakan angkutan umum bersama neysa. Diperjalanan ia menceritakan kejadian semalam yang hanya ditanggapi senyuman. Ia bercerita dengan antusias sampai kendaraan itu berhenti tepat disekolah. Gerbang sekolah sudah ada guru yang menyambut beserta organisasi yang piket berjaga. Kebetulan hari ini giliran organisasi rohis dan ada nabil berdiri disana.
Menyadari keberadaan nabil ia langsung tersipu malu. Wajahnya merah merona seperti tomat rebus. Para guru mengira ia sakit sedangkan nabil tersenyum menatap xicca.
"Kamu sakit, nak? " tanya seorang guru.
"Wajah kamu memerah" memegang dahi xicca.
"Tidak bu hanya tadi kepanasan aja" mencoba mencari alasan.
"Oh kalau begitu silakan masuk" mempercayai ucapan xicca.
"Terimakasih bu" melirik sekilas nabil lalu pergi.
Hari itu seakan nabil mulai memperlihatkan rasa cintanya. Perhatian dan kasih sayang mulai ditunjukkan. Tanpa takut dia melakukan itu. Sedangkan xicca merasa semua ini hanya mimpi. Dalam sehari ia mendapatkan cinta dari seorang nabil. Ketua rohis sekaligus anak keagaaman. Ia merasa tak pantas jika harus mendapatkan cinta.
Akhirnya setelah lama menjadi anak MA. Ia akan lulus dalam waktu 4 minggu lagi. Sebelum hari itu tiba nabil meminta xicca untuk menemuinya digerbang asrama. Ia pun menuruti permintaan nabil. Setelah pulang sekolah ia pergi ke gerbang asrama.
"Nabil!! " seru xicca berjalan mendekati nabil.
"Hey." melambaikan tangan.
"Udah lama ya? " duduk disamping nabil.
"Engga baru aja sampe."
"Oh iya ada apa mau ketemuan? "
"Boleh jujur? " menatap serius.
"Boleh kok" menganggukkan kepala.
"Aku suka sama kamu xicca, sejak pertama kali bertemu denganmu, aku tau kamu tak sempurna dimata oranglain tapi dimataku kamu itu sempurna, xicca." tersenyum dan menggenggam tangan xicca.
"Kamu bohong kan? " menatap terkejut.
"Tidak, aku serius"
"Tapi tunggu aku sampai nanti aku datang kembali." lanjutnya.
"Natri?? " penuh tanya.
"Kita udah putus sejak kelas X dulu. "
Perkataan nabil sedikit membuatnya ragu. Namun, tatapan mata nabil begitu meyakinkan. Tak disangka olehnya sebelumnya kalau perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Di tempat itu nabil berjanji akan kembali. Sampai nanti nabil siap melamarnya menjadi istrinya. Ditempat itu mereka berpisah untuk sementara.
Waktu kelulusan tiba mereka berdua berpisah. Melanjutkan pendidikan masing-masing. Hubungan mereka berdua berlanjut sebagai teman. Ia tak ingin hubungan nya dengan nabil hanya sementara. Ia ingin langsung ke jenjang pernikahan tanpa ada kata pacaran.
Pagi siang dan malam keduanya disibukkan dengan perkuliahan. Skripsi dan tugas kuliah selalu datang setiap hari. Xicca melakukan perkerjaan tambahan. Tiada waktu sedikitpun untuknya beristirahat. Ta terasa waktu telah lama berlalu. Tanpa diduga nabil datang melamar. Menyerahkan seserahan kepada pengantin wanita. Dan detik itu nabil melamar xicca menjadi istrinya.
Kebahagiaan terasa sangat sempurna. Tinggal menunggu hari akad nikah. Awalnya xicca berpikir ucapan nabil hanya angin berlalu tapi ternyata diwujudkan secara langsung. Kini hidupnya lengkap sudah kehadiran nabil membuatnya bahagia. Senyuman menyinari harinya. Dan tibalah saatnya ia mengucapkan janji pernikahan dengan orang yang dicintainya.
Note : mohon maaf jika ada kesalahan atau ada kesamaan dalam cerita