Happy reading!!
"Ail !!! Rara terima kamu jadiin Rara bahan taruhan. Rara terima kamu putusin dengan cara yang memalukan. Tapi jangan mengikutsertakan keluarga Rara jadi bahan lelucon kamu. Ratu ngga terima!!"
Koridor sekolah yang semula bising menjadi senyap karena teriakan maut dari gadis yang mengenakan bando warna pink. Penampilannnya bisa dibilang rapi namun berantakan. Ya untuk seukuran anak SMA dia memang terlihat rapi, namun poninya yang biasa tertata rapi ke depan kini terlihat berterbangan.
Ail. Yang merasa namanya disebut hanya memandangi gadis itu malas. Namun kakinya tetap berjalan menghampiri sang gadis.
"Apa sih? Masih ngga terima gua putusin? Mau ngajak balikan? Sorry gak level balikan sama badut ancol."
Ledekan ail disambut tawa oleh anak-anak yang lain yang kebetulan sedang memperhatikan drama mereka.
Wajah gadis itu nampak memerah menahan amarah dan juga malu. Namun ia tidak akan mundur begitu saja.
"Rara ngga suka ya cara kamu. Kalau benci sama Rara jangan jadiin keluarga Rara sasaran."
"Apa sih maksud lo? Gua ngga ngerti. Lagian urusan gua sama lo udah kelar. Ngga usah nyari sensasi biar gua mau balikan sama elo."
"Kemarin malam. Kamu balapan kan sama Marvin? Kamu udah sabotase motor dia biar kecelakaan kan? Biar kamu bisa menang?"
Ail tersenyum miring, "Kalau iya kenapa? Bilang sama adek atau kakak lo ngga usah sok sokan nantangin gua. Dapetkan sekarang dia?"
"Kenapa kamu jahat sih Had? Apa salah Kevan ke kamu? Kalau kamu
engga sukanya ke Rara balas ke Rara, jangan ke dia. Sekarang dia
harus dirawat di rumah sakit."
"Rara... lo ngapain nangis? Ada yang nyakitin hati lo lagi? Bilang sama gue siapa? Biar gue hajar."
Rara tersadar dari lamunannya. Di sebelahnya sudah ada Karina, sahabatnya sejak SD menatapnya dengan bingung.
Menarik bibirnya untuk berusaha tersenyum, "Engga kok. Rara cuma keingat Marvin yang lagi dirawat. Hari ini mommy lagi ke Bandung buat jengukin Dady, jadi kemungkinan dia sendiri."
Karina mengangguk paham, "Lo yang sabar ya. Pasti semua bakal indah pada waktunya. Gue juga ga bisa bantu banyak. Apa yang gue omongin pasti udah basi, but kalau lo butuh teman curhat gue selalu ada buat lo."
"Makasi Kar.. Kamu selalu ada buat Rara. Btw pulang sekolah kamu mau ikut jenguk Marvin ngga?"
"Kenapa harus nanti? Sekarang kita udah bisa balik tau." Ujar Karina
Wajah Rara mengkerut karena bingung, "Kan belum bel pulang Karina."
"Lo sih kalau ada pengumuman didengerin. Tadi kan ada pengumuman kalau abis istirahat kita pulang karena mau ada rapat."
"Jadi?" Tanya Rara bingung.
Karina menggandeng lengan Rara, "Kita lets go jengukin si Marvin yang ca to the kep."
"Hahahaha.. cawlah."
Setelah mengambil tas, mereka segera pergi ke rumah sakit. Namun sebelumnya mereka mampir dulu ke toko buah.
Setibanya di rumah sakit Rara dan Karina masuk ke ruangan tempat Marvin dirawat
.
"Selamat pagi menjelang siang Aa.." Sapa Rara sambil meletakkan buah-buahan yang mereka bawa.
Ketika Rara hendak mencium pipi Mervin, laki-laki itu menghindar.
"Lo kenapa sih tiap waktu jengukin gua? Mending lo belajar sana. Udah tau bego, malah kerjaan keluyuran." Sembur Mervin pedas.
"Ihh Aa kok gitu sih? Kan Rara mau nemenin Aa. Ibu lagi ngga bisa."
"Lo pikir gua bocah gitu harus ditemenin? Lagian lebay banget sih?! Gua udah bilang kalau gua mau pulang aja. Sekarang apa buat bayar biaya perawatan gua? Ckk gak kasihan apa lo sama mommy? Bego boleh tapi jangan bego banget napa."
Mata Rara mulai berkaca-kaca, sedangkan Karina hanya memilih diam.
"Aa kunaon atuh mulutnya teh pedas pisan sih ngatain Rara? Salah kalau Rara khawatir sama Aa? Lagian kenapa lagi sih Aa balapan sama Ail? Kan Rara bilang engga usah khawatir sama Rara. Biar aja dia bikin malu Rara,"
Marvin berdecih, "Gua tanding sama Ail engga ada hubungannya sama putusnya lo dan dia. Bodo amat lo mau sakit hati, mau mewek mau bunuh diri kek gua kagak perduli."
Karina berdiri di samping Rara dan mengusap lengan sahabatnya itu.
"Terus kunaon? Alasan apa yang buat Aa balapan sama Ail?"
"Yakin lo nanya apa alasan gua?" Marvin justru tanya balik.
"Iya. Rara mau tahu."
Marvin menatap tajam Rara, "Taruhannya kemarin lumayan. Gua
ikut karena gua pikir hadiah itu bisa gua pakai buat nebus kalung
yang lo pakai buat bayar study tour gua. Lo gila apa hah? Lo pikir
kemarin gua bisa nikmatin perjalanan selama di Lombok? Engga,
bego."
"Tapi..."
"Apa? Lo mau bilang kalau itu duit hasil lo kerja paruh waktu. Ngotak lo. Lo pikir gua percaya? Gua engga sebodoh elo." Sahut Marvin pedas.
Air mata yang ditahan Rara turun juga. Dikatai oleh adiknya sendiri rasanya begitu menyesakkan dada. "A.. Rara cuma engga mau kalau Aa diejek gara-gara ngga ikut study tour. Karena..."
"Lo pikir gua semenyedihkan itu cuma gara-gara engga ikut acara begituan? Dan lo bayarinnya suruh rahasiain, juga gua taunya pas mau berangkat. Makanya kalau punya otak buat mikir engga usah pakai buat pacar-pacaran mulu."
Rara mengusap air matanya, "Rara engga pernah mikir kayak gitu. Rara cuma merasa bertanggung jawab ketika Daddy lagi ditahan."
Marvin tertawa sinis, "Lo ngga usah sok-sokan tanggung jawab. Tugas lo tuh belajar biar otak lo pintaran dikit."
"Kenapa sih dari tadi Aa ngatain Rara bego?"
"Terus kenapa? Lo ngerasa pintar? Kalau lo pintar engga mungkin lo mau pacaran sama cowok brengsek itu." Tanya Marvin sinis.
"Rara engga tahu kalau Ail kayak gitu. Karena selama pacaran 2 minggu, dia lumayan melindungi Rara dari bullyan."
Prag.. Marvin melempar buku yang ia pegang mengenai paha Rara.
"Makanya kalau belum apa-apa mikir dulu. Coba lo pikir dia yang kaya, mapan, banyak disukai cewek juga karena berandal tiba-tiba nembak lo yang bapaknya dipenjara gara-gara korupsi. Apa yang mau dia banggain dari lo?"
"Hiks.. Aa tega banget ya ngatain Rara? Iya Rara jelek, bodoh,
engga bisa mikir, manja dan semua hal jelek ada di diri Rara. Tapi
Rara juga pengin nyoba buat senang. Rara juga perempuan biasa A.
Marvin mengusap wajahnya kasar, "Ck. Sini lo."
"Hiks. Ngapain?"
"Buruan."
Saat Rara sudah berdiri di dekat Marvin laki-laki itu segera membawa kakaknya ke pelukan.
"Cengeng banget sih lo. Udah gak usah nangis. Makin jelek."
Sambil mengusap air matanya Rara masih terisak, "Ya Aa ngomongnya pedas banget ke Rara. Kan Aa tahu kalau Rara dari dulu engga suka dikatain."
Marvin membersihkan sisa air mata yang ada di pipi Rara, "Lo tuh udah gede Rara. Masa masih cengeng aja? Harusnya lo tuh kakak gua, kenapa malah lo yang manja coba?"
"Kan Rara juga baru tahu pas Rara kelas 3 SMP kalau Aa itu adiknya Rara. Habisnya Aa kan masuk sekolahnya lebih dulu daripada Rara."
"Janji sama gua, kalau lo engga manja lagi. Lo harus belajar mandiri Rara. gampang dibegoin cowok lagi."
"Ihh Aa ngomongnya kayak mau mati aja sih? Kan Rara jadi takut." Ujar Rara menjauhkan badannya.
"Dasar bego. Gua malaslah ngomong sama lo." Decih Marvin kembali membaca.
Rara mengusap lehernya yang tidak gatal, "Aa mau makan engga? Rara beliin makanan di kantin. Rara tahu kok pasti Aa engga doyan makanan dari rumah sakit kan? Karena Aa engga ada masalah lambung jadi makanan apa aja bisa kan A?"
"Ck. Kayak lo udah makan aja. Gua kagak butuh makanan dari lo. Udah sana. Kedatangan lo cuma gangguin gua." Usir Marvin tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku yang ia baca.
Ratu memproutkan bibirnya,
"Ih Aa gitu banget sih? Ya udah Rara sama Karina makan ke kantin ya. Nanti Rara beliin ayam ungkep goreng kesukaan Aa."
"Hm." Balas Marvin sambil melempar dompetnya pada Ratu.
Rara menangkap dengan wajah bingung, "Buat apa A?"
"Buat makan lo sama Kak Karina"
"Eng engga usah A. Rara masih ada duit kok buat makan sama Karina." Tolak Rara halus.
"Udah pakai aja. Paling duit lo cuma bisa beli roti sama air mineral. Makan biar engga cacingan."
"Tap..."
"Gua mau fokus belajar. Pergi sana. Ganggu."
Rara hanya tersenyum sambil mengajak Karina untuk pergi ke kantin. Di sana mereka memesan nasi goreng dan es lemontea.
"Hari Minggu lo ada acara apa Rar?" Tanya Karina melahap makanannya.
Rara tampak berpikir, "Eng.. Kayaknya engga ada deh. Kenapa?"
"Temenin gue beli buku ke Gramedia ya? Plis gue pingin banget beli novel itu."
"Bukannya kamu harus ke gereja?"
"Ya ke gerejalah. Walau gue suka liat film 21+tapi yang namanya ibadah harus tetap jalan. Makanya kita pergi agak sorean sehabis gue dari gereja ya ya ya." Bujuk Karina mengedipkan matanya. Wink wink eyes.
Rara tergelak sebentar, "Iya Rara antar kok."
Di saat mereka sedang menyantap makanan sambil bercanda, tanpa mereka sadari ada 2 orang yang datang menghampiri mereka dengan tatapan sinis.
"Wahh wahh lihat deh sayang, dia mantan kamu kan? Eh tapi cuma bahan taruhan termasuk mantan bukan sih?" Tanya si cewek dengan nada merendahkan.
Rara dan Karina serentak. Mereka mendapati Haidar dan seorang cewek, sandra tengah menatap mereka.
"Mau ngapain kalian?" Tanya Sandra judes.
"Ya yang pasti bukan buat nemuin badut ancol." Jawab Ail dengan senyum miring.
Ck. Kenapa si Ail harus terlihat makin tampan dengan senyum menyebalkan itu sih?
"Hm Karina mending kita ke ruangan Aa lagi yuk. Rara udah kenyang." Ajak Rara membereskan bawaannya.
"Hai mantan... Jengukin siapa? Udah mati belum? Eh."
Rara menghentikan langkahnya dan menatap tajam Ail Dia tidak membalas dan hanya menarik tangan karina untuk segera men jauh.
"Heh belagu banget lo mentang mentang udah pernah pacaran sama gua." Ujar Ail tidak terima.
Zea cemberut kesal, "Ih sayang kok dia engga nyesal sih udah kamu putusin?"
"Ck." Ail berdecak kemudian pergi ke arah yang sama dengan Rara
"Ih sayang kok aku ditinggalin sih?" Ujar zae menahan lengan Ail
"Emang gua tadi ngajak lo ke sini? Jadi pulang sendirilah." Jawab Ail dingin melanjutkan langkahnya.Namun Zea menahan lagi, "Tapi aku kan pacar kamu."
Ail membalikkan badannya, "Pacar? Kapan gua nembak lo?"
kamu engga marah pas aku panggil sayang."
"Apaan sih lo? Gua juga liat kondisi kapan lo boleh manggil gua. Kalau menguntungkan gua its okey. Tapi bukan berarti gua mau lo jadi pacar gua."
Setelah itu Ail benar-benar pergi.
Say Hall for Ail & Rara
Gimana part satunya?
See you in Next Chapter!!!
salam cinta Ail & Rara
jangan lupa follow me
jangan lupa like share komentar favoritku
Bye semua