di suatu pagi yang cerah, dan dengan sifatku yang polos. Bisa bisanya aku digunakan untuk berberes rumah seperti pembantu, padahal akulah yang mempunyai rumah itu. Namaku Nazwa, aku baru berumur 21 tahun masih kuliah.
Saat yang bersamaan dengan hari kelulusan ayahku mengalami penyakit dan penyakit itu tidak bisa diprediksi, karena racun itu tidak bisa diprediksi dengan mata biasa dan mikroskopik biasa, ibu tiri dan adik tiriku selalu memanfaatkanku sebagai pelayan setelah ayahku meninggal karena mereka berdua. Dan setelah aku berumur 22 tahun aku dibius dan dibawa ke rumah kosong yang terpencil, aku hanya tidur dan tak tahu apa apa. Dan setelah aku bangun rumah itu telah di bakar dengan kejamnya mereka berdua membunuhku.
“Ibu....” kataku yang terbangun, dan aku masih bingung bukannya aku telah mati terbakar. Tetapi tuhan memberiku satu kesempatan untuk hidup kembali, aku kembali kedua tahun yang lalu. Saat aku demam dan di bawa kerumah sakit oleh ayah.
“bu..bukannya ini hari saat aku demam dan dibawa kerumah sakit oleh ayah?” ujarku kebingungan. “apakah tuhan memberiku hidup kembali” kataku dalam hati. “aku akan menyelamatkan ayah dari ibu tiriku dan adik tiriku, aku tidak mau ayah mati karena diracun oleh mereka” kataku yang sangat serius, karena sudah diberi kehidupan kembali oleh tuhan.
Aku mengingat tentang kejadian masa depan, kalo hari setelah demamku sembuh ayah akan menikahi Ibu tiri. Dan saat ulang tahunku yang berdekatan dengan pernikahan ayah, ibu tiri mulai memberi racun di minuman ayah. Ayah tidak tahu kalo di minumannya telah di beri racun.
Beberapa hari setelah demamku sembuh, pernikahan ayah akan dimulai beberapa jam lagi. Aku akan mencegahnya saat akan dimulai, tetapi aku dikurung oleh ayah karena tidak nurut akan hal itu.
Saat pernikahan berlangsung.....
“AYAH, HENTIKAN INI” kataku yang teriak untuk pernikahan ini dihentikan.
“Nazwa, ini pernikahan ayah. Tolong kamu jangan ganggu dulu, nanti ayah akan jelaakan” kata ayahku yang sangat ingin menikahi yang akan menjadi ibu tiriku.
“Ayah apa kau tahu dia adalah wanita jahat, apakah ayah tidak mau mempercayaiku. Aku anak kandungmu ayah” ujarku yang menangis karena tidak dipercayai oleh ayah kandungku sendiri.
“Nazwa, ini bukan sifatmu. Sifat mu sangatlah polos dan akan menurut kepana ayah, dan kenapa sekarang menjadi tidak penurut gini??” ujar ayahku kelihatan sedih melihatku menjadi berbeda dari sebelumnya
“karena...karena” kataku yang tidak bisa menjawab, karena aku telah lahir kembali ke masa lalu
Orang orang disekitar pun pada bertanya, dan mereka berbisik bisik tentangku dan ayahku.
“katanya sih benar kalo, anak Tuan Wanhi sangat polos. Dan kenapa kita lihat jadi pembangkang gini” kata orang di sekitar
“ya, itukan hanya rumor. Tapi tahu tahunya kayak gini” kata orang di sekitar
“ayah, kau sangat jahat. Kau tidak percaya kepada anakmu dan malah percaya dengannya, kau anggap aku sebagai apa Ayah. Apakah kau anggap aku sebagai budakmu selama ini ya” kataku yang sedih dan sangat sakit hati terhadap ayahku sendiri
“aku hanya...” kata Ayahku yang juga tidak bisa menjawab karena aku anaknya
“selama ini benar ternyata, haha. Aku hanya budak ayah selama ini, ayah saja tidak bisa menjawab. Aku sudah salah tentang ayah” kataku yang sangat sakit hati tentang ini
“tidak Nazwa, ayah hanya saja...”ujar ayahku yang mau menjelaskan tapi tidak bisa
“hahaha, Hanya saja apa ayah. AYAH SANGAT JAHAT, AYAH TIDAK MAU PERCAYA DENGANKU DAN AYAH MALAH PERCAYA DENGANNYA. AKU SANGAT KECEWA DENGAN AYAH” kataku dan langsung lari dari tempat, dengan perasaan sakit hati aku pun tidak sengaja menabrak seseorang. Dan langsung memukul mukulnya dan aku pun langsung pingsan karena depresi.
Bruk...
“pergi kau, ayah kau sangat jahat denganku. Kau bahkan tidak percaya denganku, tolong lepaskan aku” kataku yang sangat depresi karena ayahku.
“hey, tenanglah” kata seseorang yang aku tabrak dan aku tetap tidak percaya.
“kau jahat ayah, hiks...”kataku dan langsung pingsan di pelukan seseorang.
“hey, Nona. Bangun dia adalah...” ujar seseorang yang berada di belakang orang yang memelukku.
“tenanglah Jans, kelihatannya dia sangatlah depresi. Jans tolong siapkan mobil kembali, aku bakalan bawa dia pulang dulu” kata seseorang yang memelukku dan aku di gendong ke mobil yang telah disiapkan olehnya.
“tapi Sam, ada acara yang kita belum sempat ke sana??. Atau aku saja yang bawa dia pulang” ujar orang di belakang orang yang memelukku..
“tidak usah, aku saja yang bawa dia. Kau masuk dan sampaikan salamku kepada tuan Wanhi” ujar seseorang yang memelukku, dan langsung kemobil sambil menggendongku.
“oh ok, hati hati Sam” kata Seseorang yang berada di belakang.
Akupun di bawa ke rumah orang itu, dengan keadaanku yang menangis. Karena ayahku, saat di rumah orang itu. Aku langsung dibawanya di sebuah kamar dan dia langsung menyuruh pelayannya menelpon dokter pribadinya kerumahnya.
“ibu, ayah sudah tidak lagi percaya kepadaku. Ibu aku mau ikut denganmu saja, Ibu bawa aku ke sana” kataku yang bergumam, dan masih sakit hati karena ayahku.
“hey, apa kau baik baik saja. Ada masalah apa?? Kenapa kau sampai depresi gini hah?" kata orang tadi, yang bertanya kepadaku.
“pergi kau Ayah, aku tidak mau melihat kau lagi. Aku sudah bukan anakmu, kau telah memilihnya dan bukan memilihku. Aku benci kau ayah!!” kataku yang bergumam dan menangis soal masalah tadi.
“kau kenapa, kayaknya sangat sulit bagi kau. Apakah karena keluarga ya” kata orang tadi di dalam hati
“hello Sam, ada apa. Apa kau sakit lagi hah, apa yang sakit??” kata Dokter pribadi orang tadi, dengan paniknya.
“bukan aku yang sakit, tapi aku mau kau periksa dia. Dia pingsan tadi dan baru saja bergumam dan menangis, menyebut nyebut ayahnya jahat” kata orang tadi menjelaskan kepada dokter pribadinya.
“oh ok, dia hanya depresi dengan apa yang terjadi. Eh tunggu dulu bukannya ini anak dari Tuan Wanhi ya, kenapa dia bisa dengan kau Sam??” kata Dokter itu, dan dokter itu adalah dokter Hansi yang telah merawatku saat demam di rumah sakit.
“tadi saat aku mau ke pernikahan Tuan Wanhi, dia tidak sengaja menabrakku. Dan menangis di depanku abis itu dia pingsan, ya aku bawa pulang” kata orang tadi dan orang itu bernama Samudra dia adalah orang terkaya di kota tersebut, ayahku juga rekan dia. Jadi Dia mau datang ke pernikahan Ayahku.
“oh, ok sudah. Tolong beri obat ini saat dia bangun, dia sangat depresi karena tentang keluarganya. Dan bisa bisa dia menangis saat mimpi keluarganya, dan nanti tolong di tenangkan kalo bisa” Kata Dokter Hansi yang menyuruh Samudra menenangkanku kalo aku sedang menangis.
“ok, makasih Han. Maaf aku kaga bisa menghantar kau sampai pintu depan, nanti aku suruh pelayanku untuk menghantar kau. Dan uangnya nanti ku transfer yak” kata Samudra kepada Hansi
”ok bye Sam, jangan gegabah yak” kata Dokter Hansi memperingatkan Samudra
“kau...” ujar Samudra kesal kepada Hansi, karena bicaranya
Hansi pun langsung pergi, dan beberapa jam akupun mulai menangis lagi karena terbawa mimpi. “Ayah kau jahat kali kepadaku,hiks. Ibu meninggal karena kau ayah, hiks. Ayah KEMBALIKAN IBU KEPADA NAZWA, Hiks” kataku yang menangis kebawa mimpi tentang ayah tadi.
“kau memangnya memikul beban apa, sampai kebawa mimpi gini” kata Samudra yang berusaha menenangkanku.
Beberapa jam berlalu, pagi telah datang. Aku kebangun dari pingsan dan kaget “a..aku dimana??” kataku yang terbangun dari pingsan semalam.
“sudah bangun kau, minum obat dulu gih. Abis ini sarapan pagi, nanti kau minta saja pada Danji ” kata Samudra kepadaku, aku pun masih bingung dimana ini
“ tunggu dulu ini dimana, kenapa aku bisa di sini?” kata ku yang masih bingung dimana ini.
“kau di rumahku, oh ya namaku Samudra. Jadi kau jangan sungkan disini, dan istirahat dulu” kata Samudra yang menyuruhku istirahat dirumahnya sementara waktu.
“tapi aku ada kelas sekarang” kataku yang mengingat kalo saat aku di masa lalu aku masih kuliah.
“aku sudah memberi izin, jadi kau istirahatlah dulu disini” kata Samudra dan langsung pergi dari tempat.
“oh ok, makasih untuk semua” ujarku yang berterima kasih kepada Samudra tentang semua ini.
Setelah sarapan pagi, aku pun berada dalam taman milik Samudra. Dan aku mengingat masalah kemarin, rasanya sakit sekali karena tidak dipercayai dan malah tetap dilaksanakan.
Apakah ayah masih sayang kepadaku atau dia telah lupa, kenapa dulunya aku selamat dan tidak ikut ibu kesana. Dari pada aku terluka disini, dulu aku sangatlah bodoh kenapa aku mau menuruti semua kemauan ibu tiri dan akhirnya aku mati di tangannya.
“Ibu, aku mau ikut kau” kataku yang masih sakit hati karena kemarin. Saat itu pun ayahku menelponku, dan berharap aku pulang. Tetapi aku masih bertanya kepada ayahku, kenapa ia masih mau menikahinya dan tidak memperdulikanku. Kring...Kring...Kring... hp ku bunyi.
“Nazwa, pulang Nak. Ayah sangat kawatir kau kenapa kenapa” kata ayahku yang sangat kawatir terhadapku tapi aku tetap mengelak.
“ haha, emang ayah siapa. Bukankah ayah memilihnya dan tidak percaya terhadapku??” kataku yang menjawab ayah dengan dingin tapi aku tetap sakit hati dalam hatiku.
“Nazwa, kau anakku. Aku tetap percaya dengan kamu dan aku juga harus percaya kepada ibu tirimu juga” kata Ayahku dengan lembut, tapi aku masih mau tahu kenapa Ayah mau menikahinya.
“Heh, emang Nazwa bodoh ayah. Ayah tetap saja percaya kepadanya dan masih tetap menikahinya, berarti ayah tetap saja tidak percaya kepada Nazwa kan!!” kataku sambil menangis, karena ayah tetap saja percaya kepadanya.
“bukan seperti itu Nazwa, Ayah...” kata ayahku yang aku potong.
“Cukup, ayah. Aku hanya ingin ayah percaya kepadaku, tapi ayah tetap saja tidak percaya. Aku sudah kecewa kepada ayah, jadi jangan telpon aku lagi. Bye ayah” kataku yang semakin kecewa kepada ayah, dan sakit hati.
“ayah aku juga rindu ayah, tapi ayah saja yang tidak percaya kepada Nazwa. Apa lagi Ibu meninggal karena Ayah juga, apakah ayah tidak tahu. Aku sangat benci kau ayah” kataku yang menggertak bibirku dan bergetar semua badanku.
“tenanglah, nanti aku bakalan bantu kau menyelesaikan semua. Jadi jangan menangis lagi” kata Samudra yang tiba tiba datang (sebenarnya ia sudah dari tadi di situ dan mendengarkan semuanya).
“makasih, kau udah mau membantuku Samudra” kataku sambil tersenyum karena ada yang mau membantuku.
“ok, sana ganti baju dan kau ikut aku nanti” ujar Samudra sambil tertegun melihatku.
“emang mau kemana, aku lagi males jalan jalan. Kalo ada makanan mah aku mau, hehe” kataku karena aku sangat suka sekali makan, apa lagi pedas.
“hadeh, kau ini seekor kucing gendut yak. Kayaknya suka sekali makan, haha” kata Samudra yang mengejek aku kucing gendut.
“aku bukan kucing gendut, huh” kataku kesal kepada Samudra karena dia mengejek aku kucing gendut.
“haha, dah lah. Pelayan bantu Nona Nazwa, dandani dia sebaik baiknya. Kalo tidak aku potong gaji kalian” kata Samudra yang memaksa pelayannya untuk mendandani aku secantik mungkin.
“baik Tuan Sam” kata pelayan bersamaan dan langsung menyeret aku.
“hey, santai aja. Hey” kataku kesakitan karena diseret seret.
“haha, menarik sekali kau Nazwa” kata Samudra yang mulai tertarik kepada Nazwa.
Setelah beberapa jam berdandan, aku pun dibawa menemui Samudra. Dan saat aku mau menemui Samudra jantungku menjadi tidak karuan.
“Tuan, Nona Nazwa sudah selesai. Kami permisi dulu” kata para pelayan dan langsung pergi.
“hey hey, aku ikut” kataku karena takut dengan Samudra.
Brak....
“kau kenapa, aku gak bakal makan kau. Kenapa kau sangat takut sama aku hah??” kata Samudra yang langsung menyampingkan aku di pintu.
“gak gak apa, aku gak biasa jalan jalan sama laki laki. Jadi aku takut, emang kita mau kemana ya” kataku heran mau kemana.
“ayo berangkat, nanti kalo terlambat loh. Dan lagi kau cantik hari ini” kata Samudra yang ingin menggodaku.
“ok ok, jangan dekat dekat. Aku tidak terbiasa begini” ujarku karena aku malu.
Saat beberapa menit, sampailah kami ke tempat tujuan. Ternyata Samudra mengajakku ke pesta kelas tinggi, semua orang melihatku dan Samudra dan semua berbisik tentang kami. “siapa yang menjadi pasangan Tuan Samudra cantik juga orangnya?” kata Seseorang yang melihat kami berbisik.
“bukannya itu Nona dari perusahaan Wanhi yak, uh cantik kali dia” kata orang yang berada di samping orang tadi.
“aku juga mau jadi pasangan Tuan Samudra, astaga” kata seorang wanita di sebelah meja samping.
“aku juga mau lah” ujar teman wanita tadi.
Semua melihat kami dan berbincang, aku melihat sekitar dan ternyata benar. Ayah juga ada disini dan ibu tiriku, aku sangat kecewa melihat ayahku bergandengan tangan dengan wanita licik itu. Saat aku melihat ayah, ternyata ayah juga melihatku, dan aku pun memalingkan wajahku.
Ayah dan ibu tiriku menghampiri aku di luar dan bertanya “Nazwa, kenapa kau bisa kesini. Apakah kau datang dengan temanmu?” ujar ayahku yang kelihatan sedih.
“aku kesini dengan seseorang dan ayah tidak perlu tahu” kataku yang dingin karena melihat ayah dan ibu tiriku.
“Nazwa, bisakah kamu pulang nanti. Ibu bakalan masakin yang enak nanti, jadi pulang ya Nak” kata Ibu tiriku yang licik ingin menyuruhku pulang.
“aku bukan anakmu Tante, aku anak Dari ibu Wanda dan Tante jangan berani beraninya kau panggil namaku” kataku dengan dingin kepada Ibu tiriku.
“Nazwa, dia adalah pengganti ibumu jadi tolong hormati dia ya. Ayah juga minta maaf saat itu” kata Ayahku dengan lembut meminta maaf kepadaku.
“heh, emang ayah bisa hanya minta maaf saja ya. Ayah hanya bisa percaya padanya, dan ayah tidak tahu perasaan Nazwa kayak gimana. Perasaan Nazwa sangat sakit ayah” kataku yang membentak ayahku sendiri.
“Nazwa, ayah hanya bisa minta maaf. Dan ibumu ayah juga minta maaf soal itu” kata Ayahku yang merasa salah kepadaku.
“haha, ayah kau memang habet ya. Aku hanya ingin ayah percaya kepadaku, kenapa harus minta maaf. Ayah aku hanya minta, tolong cerailah dengan Dia” kataku yang membentak ayahku dan menunjuk ibu tiriku.
“Nazwa, apa yang kau katakan jangan pernah mimpi. Ayah tidak bakalan bercerai dengannya, dan ayah minta kau minta maaf kepada ibu mu” kata ayahku yang membentakku karena perkataanku.
“oh ok, ibu tiriku yang licik aku minta maaf ya. Jangan pedulikan perkataanku” kataku sambil menundukkan sedikit kepalaku.
“Nazwa....” ujar ayahku yang membentakku keras.
“sudah sudah, lagi pula dia sudah minta maaf. Suamiku ayo masuk, nanti kita ketinggalan loh. Dan juga Nazwa ayo masuk” kata Ibu tiriku dengan senyum palsu.
“hahaha, kau anggap aku sedang minta maaf ya. Jangan harap aku minta maaf pada kau Tante, aku sudah tahu ini akal akal an kau kan. Emang aku bodoh kah!” kataku yang memberitahu ibu tiriku kalo aku tidak sedang minta maaf.
“Nazwa, kenapa kau jadi berbeda begini hah” kata ayahku yang semakin ingin membentakku karena perilaku aku.
“Karena dia ayah, aku jadi begini. Sudah puas dengan jawabannya ayah” kataku yang memberitahu ayahku kenapa aku berubah.
“kenapa ribut ribut begini, ayo masuk. Nanti ketinggalan loh, eh ini kan Tuan Wanhi. Apa kabarnya Tuan?” kata Samudra yang tiba tiba datang.
“baik Tuan Samudra, anda sebaiknya tidak disini Tuan. Nanti kami masuk, silakan Tuan Samudra masuk duluan” kata ayahku yang tiba tiba kembali baik.
“ya Tuan muda Samudra, silakan anda masuk dulu” ujar ibu tiriku dengan sopan.
“oh ok, aku masuk duluan” ujar Samudra dan langsung masuk.
“jangan pura pura baik deh, kau adalah wanita licik yang pernah aku kenal” ujarku yang dingin kepada ibu tiriku.
“Nazwa, berhenti mengejek ibumu. Dia sekarang menjadi ibumu” ujar ayahku yang membentakku.
“oh gitu ya, jadi sekarang dia menjadi nyonya di rumah kita kah Ayah” kataku yang dingin kepada ayahku.
“ya, jadi kau hormatilah dia. Dan kembalilah di rumah” ujar ayahku memberi tahu aku.
“haha, ayah kau memang sudah lupa yang Nazwa katakan ya. Ayah benar benar lupa tentang ini” kataku yang sangat sakit hati karena ayah sudah lupa tentang ibu tiriku.
“tentang apa Nazwa, apa yang kamu katakan dengan ayah hah??” ujar ayahku yang benar benar lupa.
“ayah ayah, kau memang sudah lupa. Sekarang aku sangat benci banget dengan ayah, dan wanita kejam ini. Kau telah berhasil ternyata, kau berhasil menggoda ayahku ya. Kau sangat pintar ternyata” kataku yang ingin menangis adalam hati.
“Nazwa apa yang kau katakan? Ibu tidak mengerti ” ujar ibuku yang pura pura tidak tahu.
“aku peringatkan kembali, jangan sebut namaku wanita ja**ng” kataku yang membentak keras ibu tiriku.
“Nazwa, aku sudah jadi ibumu dan sekarang tolong hormati aku kalo tidak” kata Ibu tiriku yang mulai membentakku.
“mau apa hah, mau apa coba. Kau memang wanita ja**ng, yang telah berhasil menggoda ayahku” ujarku dengan tersenyum kecil dan air mataku mulai jatuh.
“aku akan membunuh ayahmu, karena kau adalah anak sombong. Dan tidak pernah menghormatiku” kata ibu tiriku yang berada di belakan ayahku dan menjadikan ayahku sebagai perisainya.
“Ayah...” kataku yang panik karena ayah akan di bunuh.
“hey Yuxi kenapa kau?” kata ayahku yang ketakutan dengan pisau yang dibawa ibu tiriku.
“memang benar kata anakmu Wanhi, kau orang yang pilih kasih ya. Aku hanya ingin harta kau saja dan aku tidak mencintaimu” kata ibu tiriku yang mengakui semuanya.
“Tante, taruh pisaunya atau aku panggil polisi” kataku yang panik karena ayah. Walaupun hatiku masih sakit ayah telah membelanya.
“ayo, telpon saja” ujar ibu tiriku dengan tersenyum sombong.
“aku kaga suka buang buang waktu, ayah kau akan mati sekarang” kata Ibu tiriku bersiap siap untuk menusuk ayahku.
“hiaaaa....” Ibu Tiriku yang ingin menusuk ayahku.
“ayah.....” kataku yang langsung lari dan menghadang pisau ibu tiriku menusuk ayahku.
“AHHHHHHH.....” kataku yang kesakitan karena terkena pisau Ibu tiriku.
Semua orang langsung keluar setelah mendengar suara aku, dan langsung bergegas menangkap Ibu tiriku yang menggila.
“ada apa ini” kata seseorang.
“ada yang tertusuk” kata seseorang.
“bukannya itu Anak Tuan Wanhi ya” kata seseorang.
“ya, dan ada Tuan Wanhi disana. Ibu tirinyalah yang menusuknya menggunakan pisau kecil kayaknya” kata seseorang.
“Nazwa, Nazwa bangun Nak. Jangan tingalin ayah sendiri, nak bangun” kata ayahku yang menyesal atas semua yang terjadi.
“ayah, su..sudah aku bilang jangan percaya ke..kepadanya ka..karena dia adalah wanita ya..yang sangat licik” kataku dengan lemas karena banyak kehabisan darah..
“Nazwa, apa kau tidak apa apa?” kata Samudra yang panik karena aku.
“Sam...Samudra, a..aki baik ba..baik saja uhuk” kataku yang sudah tidak tahan.
“Nazwa jangan tinggalin aku, aku sudah tertarik dengan kau saat di rumah. Nazwa kau harus selamat, JANS SIAPKAN MOBIL SEKARANG ” kata Samudra yang tidak ingin aku pergi, karena ia telah menyukaiku.
“ya Nazwa jangan tinggalin ayah disini. Ayah sudah tidak punya siapa siapa lagi selain kamu” ujar ayahku yang menangis karena aku.
“ayah, bukannya kau percaya pada wanita itu yak. Kenapa ka..kau pa..panik begi..ni hah??” kataku yang sangat tidak kuat dan tersenyum kecil.
“Nazwa, kau harus selamat sekarang. Dan jangan bergurau” kata Samudra semakin panik terhadapku.
“kau adalah anak satu satunya keluarga Wanhi Nazwa, jadi kau harus kuat sebentar lagi” ujar ayahku yang menangis dan merasa bersalah atas kelakuannya.
“ayah, kau bisa menikah la..lagi. Dan mem..mempunyai anak lagi, a..aku akan kembali dengan i..ibu disana. A..yah jangan lupakan Nazwa, da..dan Sam...Samudra a..aku ju..juga menyayangimu, se..semua a..aku pa..pamit dulu uhuk...uhuk” kataku yang sangat tidak kuat lagi.
“apa yang kau bicarakan Nazwa” kata Ayahku menangis dan panik.
“ya, apa yang kau katakan. Jangan tinggalkan kami” kata Samudra ikut menangis.
“a..aku hanya ingin ketemu i..ibu kembali, Samudra to..tolong ba..bantu a..aku ja..jaga ayah ya” kataku sudah sangat sakit dan tidak kuat menahan.
“Nazwa, jangan....” kata Samudra dan langsung terdiam setelah aku sudah tidak bernyawa.
“a..apa putri Tuan Wanhi sudah tiada??” kata seseorang.
“ya ini tidak mungkin kan” kata seseorang.
“Nazwa, kau jangan tinggalkan aku. NAZWAAAAAAA...”kata Samudra menangis setalah kehilangan aku.
Semua telah kembali, aku telah kembali ke dunia yang seharusnya. Karena aku telah di lahirkan kembali dan aku juga harus pulang kembali.
Setelah beberapa hari kematianku, Samudra telah benar benar menepati janjinya yaitu bantu aku menjaga ayah. Ayah telah depresi saat kehilanganku tapi ia telah sembuh dan kembali beraktivitas, Samudra dan Ayah sering sekali ke makamku dan memberi bunga. Aku telah berterima kasih kepada Samudra, dan aku tenang di sana dengan ibu kandungku.
...Tamat...