Hana melihat ke arah tempat sampah. Ada lolongan kecil di balik tong plastik itu. Seoul berada di puncak musim semi. Bumi belum diselimuti salju namun udara dingin sudah tersebar di penjuru kota. Anak anjing mengaduh kesakitan. Kakinya terluka tanpa alasan yang Hana tahu. Hana membawa anak anjing itu ke pangkuan. Badan anak anjing tak berdaya.
"Harus ke dokter," gumamnya.
Hana menelusuri jalan mencari klinik hewan. Ia ingat tak jauh dari rumahnya ada seorang dokter hewan yang membuka praktik. Anjing itu terdiam dalam tangan Hana. Hana terus berjalan di udara malam kota di musim semi. Hana mengucapkan syukur begitu sampai di tempat. Dua orang perempuan menyapanya.
"Annyeonghaseyo. Saya ingin mengobati anak anjing ini. Kakinya terluka," jelas Hana di meja resepsionis.
Anjing itu dibawa oleh seorang perempuan sementara Hana mengisi data registrasi. Perempuan yang menyapa Hana mempersilakan Hana ke ruangan dokter jika ingin melihat anjing itu. Hana lalu masuk ke satu ruangan di sana. Dokter laki-laki tengah membersihkan kaki yang terluka.
"Kenapa anjing ini dibawa sekarang? Kakinya nyaris membusuk," ujar dokter itu dengan tatapan tak suka.
"Anjing ini hidup sendirian. Di musim semi ia tinggal di bawah tempat sampah. Maaf, aku tidak tahu kapan kakinya terluka."
Dokter itu menatap Hana. Ia baru menyadari Hana dalam balutan pakaian muslimah. Kerudung motif bunga sakura membungkus wajahnya yang kemerahan. Udara diluar membekukan wajahnya
"Dokter, anjing itu tidak memiliki kalung," bisik asisten dokter yang berdiri di sampingnya.
"Maafkan aku. Aku membenci orang yang suka menelantarkan hewan. Mereka yang memelihara hewan hanya sebagai pajangan di rumah itu jahat. Mereka datang setelah menyadari hewan peliharaannya sakit. Lalu khawatir. Kenapa mereka tidak menjaga hewan itu saat sehat? Mereka akan mengkhawatirkan anjing mereka, kucing mereka hanya saat tidak berdaya dan nyaris mati."
Hana tersenyum dan kembali melihat tangan dokter muda itu mengobati anjing malang itu. Ia juga bertanya-tanya dari mana asal anjing itu sampai harus tinggal di bawah tempat sampah. Apa itu anjing liar di kota? Atau seseorang sudah membuangnya sampai hidup terlantar di jalan kota Seoul. Malang sekali nasibnya. Tak ada rumah dan makanan dalam hidupnya.
"Dia harus dirawat beberapa hari di sini. Lukanya cukup parah. Seperti yang aku bilang nyaris membusuk," dokter mengajak Hana bicara di meja kerjanya.
"Tolong rawat dia dengan baik. Ia pasti sudah mau berlari lagi," balas Hana.
Dokter itu masih memerhatikan kerudung Hana. Gadis itu unik menurutnya. Di kota Seoul ia tidak pernah menemukan gadis seperti Hana. Adik dan saudara perempuannya selalu mengikuti gaya para artis dan idola KPop. Gadis itu bahkan menutup sekujur badannya. Hana menyadari pandangan dokter muda itu.
"Berapa lama dia harus dirawat di sini?" tanya Hana mengalihkan dokter muda itu.
"Satu Minggu lagi kakinya sudah sehat. Boleh aku tanya satu hal?"
Hana mengangguk.
"Dari cara berpakaianmu aku lihat kamu adalah orang Korea tapi juga seorang muslim."
"Dokter tahu makna dari kata muslim."
"Aku tahu. Orang yang memeluk agama Islam. Dalam Islam anjing itu dilarang, bukan? Ia dianggap kotor sebab aturan dari Tuhan. Kamu sekarang orang tua anjing itu. Apa kamu akan melanggar aturan Tuhanmu?"
"Benar. Anjing itu memiliki najis dalam badannya. Badanku sekarang mungkin sudah terkana najis anjing itu. Namun, itu bukan masalah sebab Islam menjelaskan segalanya dengan terang. Tentu seorang hamba yang beriman pada Tuhan tidak mau mendapat murkaNya. Niatku ingin menolongnya yang sama-sama mahluk ciptaan Tuhan. Jujur, aku masih memikirkan siapa yang akan merawatnya. Aku bisa menawarkan teman-temanku untuk mengadopsinya. Dokter pasti tahu pada siapa anjing itu bisa tumbuh dengan baik."
Dokter muda itu tersenyum dengan jawaban Hana. Di Amerika ia pernah bertetangga dengan keluarga muslim. Keluarga itu harus membersihkan lantai yang dilewati oleh anjing peliharaannya. Mereka bahkan memintanya duduk di rumah dan tidak marah sama sekali lantai yang sering dipakai ibadah itu terkana air liur dan kaki anjingnya. Dokter Muda itu jadi tahu seperti apa ajaran Islam. Agama yang asing di negeri kelahirannya. Ia kenal Islam dari tetangga muslim di daratan Amerika.
"Apa yang harus aku lakukan jika ingin menjadi muslim?" tanya Dokter Muda mengejutkan Hana.
"Maksud, Dokter ingin masuk Islam?" Hana yang bertanya. Seseorang memiliki alasan saat menjadi muslim ataupun menolak Islam sebagai agamanya. Orang yang baru duduk dengannya beberapa menit lalu pasti punya alasan.
"Iya. Apa itu salah?"
"Tidak. Aku sangat senang mendapat saudara baru terlebih itu di kota mewah Seoul. Apa Dokter yakin? Harus ibadah lima kali dalam sehari, berpuasa selama satu bulan di bulan Ramadhan, membayar zakat dan beribadah haji di musim haji." Hana sangat senang sampai berbicara panjang pada orang asing.
"Aku selalu mencari alasan untuk bisa menjadi muslim. Teman-teman muslimku di Amerika sangat baik bahkan temanku yang tinggal di sana tidak memiliki sikap yang sama. Mereka baik namun belum bisa meyakinkanku untuk beriman. Tiba-tiba hatiku sekarang ingin beriman pada Tuhannya Islam. Apa kamu mau membuatku beriman pada Allah?"
Hana menitikkan air mata. Hatinya selalu tersentuh saat ada orang yang tersentuh oleh kasih sayang Allah. Hana menelepon orang tuanya dan memintanya datang. Dokter Muda itu meminta kedua asistennya menutup klinik dan keduanya sudah boleh pulang.
Disaksikan oleh Hana dan ibunya, Dokter muda itu mengucapkan kalimat dua syahadat di saat musim semi. Ayah Hana membimbing Dokter muda bernama Jung Seungjae mengucapkan kalimat syahadat. Kalimat yang mengikrarkan diri beriman pada Allah dan utusannya Muhammad Saw menjadi keyakinan terdalam manusia.
Musim semi kali ini sangat indah baginya. Allah menurunkan cintanya pada seorang Seungjae. Hana merasakan hal sama. Musim semi itu menjadi kisah indah dirinya sebab mendapat saudara muslim. Ia merasakan cinta di musim bunga bermekaran dengan indah. Bunga-bunga itu bertasbih dan bahagia atas kasih sayang Tuhan.