Pagi-pagi seperti ini, aku sudah berdebat dengan Ibu hanya karena aku telat bangun. Ibu mulai membicarakan topik itu lagi, membuatku bosan setiap mendengarnya.
"Sudahlah, Bu. Zara tidak ingin membicarakannya lagi." Tanganku tetap sibuk memasukkan barang-barang ke tas.
"Lalu, sampai kapan lagi, Nak? Kamu tidak bisa seperti ini terus. Kamu harus memiliki kehidupan baru juga."
Aku menghentikan aktivitasku, lalu duduk di samping ranjang bersama Ibu. Ku genggam erat tangan lemahnya, yang tak sehalus dan sekuat dulu.
"Bu ... Zara hanya ingin hidup berdua dengan Ibu saja, untuk selamanya. Zara tidak butuh pendamping hidup, cukup Ibu saja."
Mata Ibu mulai berkaca-kaca, genggaman tangannya merenggang. " Tidak, Nak. Menikah juga bagian dari sunnah Rasul, mana mungkin kamu tidak akan menikah?"
Mataku rasanya mulai memanas. Kucoba menatap langit-langit kamar, agar buliran yang siap meluncur ini tidak menerobos pertahananku.
"Ibu, kalau Zara menikah, siapa yang akan merawat Ibu? Bukankah kakak-kakak sudah tidak peduli pada kita? Biarkan Zara di sini menjaga Ibu, hingga kita pergi bersama."
Sebelum Ibu menjawab lagi, kusambar tasku, lalu mencium tangannya dan segera pergi. Sekuat apapun aku menahannya, tetap saja diri ini lemah. Akhirnya buliran-buliran bening ini jatuh bebas.
Aku bekerja pada salah satu kafe yang cukup dekat dengan rumahku. Ya, hanya dari pekerjaan ini saja, aku dan Ibu bisa hidup. Ibu sudah tidak ku perbolehkan lagi bekerja, karena aku takut terjadi sesuatu pada Ibu.
Seperti biasanya, saat jam istirahat aku lebih memilih pulang ke rumah untuk memberikan makanan untuk Ibu.
"Zara, ini saya titip untuk Ibu kamu ya," ucap Mas Haris, pemilik kafe tempatku bekerja.
"Terima kasih banyak, Mas. Maaf sering merepotkan." Kuterima dua kotak nasi di dalam paper bag yang ia berikan. Sebenarnya usianya lebih muda dariku, karena itu ia meminta dipanggil dengan panggilan 'Mas' saja.
Seperti malam-malam biasanya, aku menghabiskan waktu berbincang bersama Ibu. Memijat tangannya, kakinya atau punggungnya yang dulu selalu digunakannya mengangkat barang berat, hanya demi sesuap nasi untuk anak-anaknya.
Namun, malam itu Ibu membuatku tidak akan ikhlas menerima kenyataan itu.
"Nak, jika kau pergi nanti apa kau akan rindu pada Ibu?" ucap Ibu sambil menatap langit-langit kamar.
"Ibu, aku tidak akan pergi. Aku akan di sini untuk Ibu. Jadi, aku tak perlu rindu pada Ibu."
"Lalu, bagaimana jika Ibu yang pergi. Kau akan merindukan Ibu?"
Deg.
Mengapa Ibu seperti ini, membuat mulutku bungkam, diam membisu. Sedangkan mataku basah, terus bicara jika aku tidak bisa menerima itu. Namun, tidak pula bisa kusangkal.
Sore ini, bagaikan suatu mimpi bagiku. Badanku terasa kaku, lidahku kelu, saat ia mengucapkan untaian kalimat itu. Yang tak pernah kudengar lagi sejak lama.
"Bagaimana, Zara?"
"Emm ... M-mas bercanda kan?"
Dia tersenyum, hingga lesung pipitnya terlihat begitu jelas. " Tidak, saya bahkan sangat serius."
"Tapi saya lebih tua dari, Mas. Saya hanya perawan tua. Apa kata orang nantinya."
"Saya hanya ingin menikahimu, bukan mendengar perkataan orang lain."
Seketika rasa bahagia bersorak gembira di dalam hati. Aku memang menyukai pria di hadapanku ini. Namun, tak pernah bermimpi bisa hidup bersamanya. Akhirnya, aku mengangguk mantap. Kini kupenuhi kemauanmu, Ibu.
Tapi, surgaku masih ada pada Ibu.
Setelah berbulan- bulan menunggu, hari ini tiba. Pernikahan di usiaku yang menginjak 33 tahun dan pria di sampingku 30 tahun.
Suasana begitu haru. Kulihat Ibu meneteskan air mata berulang kali. Aku berlari, lalu memeluknya erat. Sambil berbisik di telinganya. "Aku menikah, Bu. Apa Ibu bahagia?"
Ibu hanya menggangguk dan menciumi pipiku berulang-ulang.
"Ibu, sudah puas, Nak."
Hingga tibalah waktu yang tak pernah kuinginkan ini.
"Pergilah, Nak. Jadilah istri yang sholehah dan berbakti kepada suamimu." Kucium tangan Ibu dengan gemetar. Aku akan meninggalkan Ibu cukup jauh. Siapa yang akan merawat Ibu? Ibu bilang ia akan baik-baik saja.
Setelah berpamitan dengan berat hati kulangkahkan kaki mengikuti sang suami dan pergi meninggalkan malaikatku.
Walaupun sudah tidak satu atap lagi dengan Ibu, aku sering menghubungi dan mengunjungi Ibu sesering mungkin. Karena aku rindu, walaupun Ibu tak pernah mengatakan bahwa ia merindukanku. Aku tahu, itu cara Ibu agar aku tetap tenang tinggal bersama suami.
Hingga, beberapa lama kemudian, aku dan suamiku dikaruniai putri kecil nan lucu. Seluruh keluarga tentu bahagia, terutama Ibu.
Kini Ibu yang sering menginap di rumah, karena kedatangan putri kecil kami. Aku pun lebih merasa tenang juga senang. Karena Ibu ada di sini bersamaku.
Beberapa tahun kemudian putri kecilku-- Shira mulai duduk di taman kanak-kanak. Aku sebagai ibu rumah tangga pun mulai sangat sibuk. Harus mengantar dan menjemputnya setiap hari.
Kabar Ibu pun mulai jarang terdengar telingaku. Bahkan kini aku tak sempat menelepon atau menjawab telpon dari Ibu. Bahkan aku lupa tentang rindu itu.
Malam itu, Shira baru saja tidur. Karena sudah merasa sangat lelah aku memutuskan untuk beristirahat. Namun, tiba-tiba ponselku berdering.
"Assalamu'alaikum, Bu."
"...."
"Alhamdulillah, kami baik-baik saja, Bu. Shira baru saja tidur."
"...."
"Ya sudah, Bu. Zara tidur dulu ya. Assalamu'alaikum."
"...."
Ibu mengatakan pertama kalinya. Kini Ibu rindu padaku. Tapi, aku mengabaikan rindu itu.
Hingga berbulan-berbulan kemudian aku tak pernah lagi mengunjungi Ibu. Namun, masih tetap berkomunikasi walau jarang sekali.
Ibu mulai mengeluh, karena aku tak pernah berkunjung lagi. Disetiap perbincangan Ibu selalu mengatakan jika ia rindu berulang kali. Tapi, aku masih belum bisa menemuinya, karena kesibukanku sebagai ibu rumah tangga dan juga pekerjaan baruku menjalankan toko kue.
Seperti saat ini, aku sedang mengurus toko kue yang kini ramai pengunjung. Ponselku berdering, ini pasti dari Ibu. Panggilan pertama tak terjawab, hingga tujuh kali panggilan, aku baru menjawabnya.
"Iya, ada apa Ibu?"
"Nak, kapan kau datang? Ibu rindu."
"Zara juga, Bu. Hanya saja Zara masih sibuk. Nanti Zara hubungi lagi ya, Bu," ucapku mengakhiri percakapan.
Dua minggu kemudian, kegiatanku mulai berkurang. Namun, aku jatuh sakit akibat aktivitas yang padat. Dan telepon dari Ibu pun tak pernah ada lagi. Panggilan dariku pun tak pernah dijawab. Apa keadaan Ibu juga sedang tidak baik? Kekhawatiran mulai menguasai hatiku, takut terjadi sesuatu padanya.
"Mas, kita pergi ke rumah Ibu ya. Sudah lama sekali kita tidak mengunjungi Ibu."
"Tapi, kamu masih sakit. Kalau sudah sehat kita pergi. Atau biar aku yang pergi mengunjungi Ibu."
"Tolong izinkan aku, Mas. Aku hanya ingin bertemu dengan Ibu," ucapku memohon, hingga air mata membanjiri pipiku. Aku hanya ingin sekali bertemu untuk saat ini.
Akhirnya Mas Haris mengizinkanku. Namun, terlebih dahulu aku dibawa ke rumah sakit, agar aku lebih cepat sembuh. Walaupun ini hanya sekedar demam.
Sesampainya, ditemani suami dan putriku, kami menuju ruang dokter setelah pemeriksaan. Namun, ada yang aneh. Perasaanku tidak tenang, mulai gelisah dan tidak pernah merasa secemas ini.
Sampai kulihat wajah yang kurindukan, wajah yang datang di mimpi-mimpi indahku, lewat di depan mataku. Tanpa aba-aba aku berlari mengejar suster yang membawa wanita yang ingin kutemui.
"Ibuu ...!" suaraku menggema ketika aku memasuki ruangan itu. Para suster mulai menenangkanku yang sudah histeris.
Aku memohon pada kedua suster tersebut untuk bicara dengan Ibuku.
Perlahan-lahan aku mendekat. Melihat wajahnya bersimbah darah pekat. Ibuku tersenyum, matanya memancarkan cahaya, walau tubuhnya kesakitan.
"I-ibu ...," ucapku lemas.
"Akhirnya kau datang, Nak. Rindu Ibu terpenuhi," suaranya pelan sekali, namun masih dapat kudengar.
"Ibu, Zara rindu." Tangisku pecah, kugenggam erat tangannya, sambil mengelus kepalanya yang penuh dengan darah.
"I-ibu mau kemana?" Saat kulihat tas besar milik Ibu ada di atas meja.
"Ibu sudah sangat rindu. Jadi, Ibu memutuskan untuk mengunjungimu. Dan, kita bertemu di sini."
"Ibu ... Maafkan Zara. Maaf, Bu," ucapku, memeluk tubuh yang telah tak berdaya itu.
"Kini, Ibu harus pergi. Me-menghadap Ilahi."
Deg.
"Tidak, Bu. Zara tidak ikhlas, percayalah Ibu akan baik-baik saja."
"Ja-jangan rindu pada Ibu, jika itu membuatmu menangis."
Belum sempat menjawab, kulihat bibir Ibu bergetar mengucapkan kalimat syhadat. Dan, akhirnya cahaya di mata itu redup. Duniaku hancur, karena rindu Ibuku yang tak dapat kupenuhi.
Aku terdiam. Tangisku berhenti, waktu dan duniaku seketika hancur.
"I-ibu, bangunlah. Akan kupijati kaki dan tangan Ibu," bisikku di telinga Ibu. "Bangunlah, Bu ... akan kubuatkan teh jahe kesukaan Ibu. Akan kusisir rambut indah Ibu. Akan ku senandungkan shalawat temani tidur Ibu. Akan kubuatkan sayur kesukaan Ibu. Akan kupenuhi semua, asalkan Ibu bangun."
Namun, kutahu. Ibuku takkan pernah bangun lagi, walau hanya untuk segenggam rindu.
Ibu, akan kuberikan rindu seperti ikan di lautan. Tak akan pernah habis, sebanyak apapun diambil.
SELESAI ....