Malam itu, sekitar pukul dua dini hari, Gangika terbangun dengan perasaan mual yang hebat. Dia berusaha menahan perasaan itu, tetapi akhirnya menyerah dan membangunkan Hessa dengan panik.
"Kak, aku mual," bisik Gangika dengan suara gemetar.
Hessa yang masih setengah tertidur segera terbangun sepenuhnya. "Mual?" Dia mengusap matanya. "Ayo, aku anterin ke belakang."
Mereka berdua bergegas keluar kamar, Hessa menuntun Gangika dengan hati-hati agar tidak membuat kebisingan yang bisa membangunkan seluruh rumah. Sesampai di belakang rumah, Gangika akhirnya muntah, air matanya mengalir karena perasaan tidak nyaman dan malu—diperhatikan Hessa.
Hessa mengusap punggung Gangika dengan penuh kasih sayang. "Nggak apa-apa, Gangika. Aku di sini. Muntahin aja."
Setelah beberapa saat, Gangika merasa sedikit lebih baik. Hessa memberikan sebotol air untuk berkumur, lalu membimbingnya kembali ke kamar. Gangika masih terisak, merasa bersalah karena merepotkan kakaknya.
"Maaf, Kak," ucap Gangika dengan suara serak.
Hessa tersenyum dan mengusap rambut Gangika. "Nggak usah minta maaf. Sekarang tidurlah lagi, besok pasti sembuh."
Namun, saat mereka tiba kembali di kamar, Gangika masih merasa tidak nyaman. Hessa kemudian duduk di ujung tempat tidur dan menarik Gangika untuk duduk di pangkuannya.
"Sini bentar, biar kamu nggak terlalu mual," kata Hessa sambil membenarkan posisi duduk adiknya.
Hessa mengusap kening Gangika dengan lembut, gerakan tangannya yang menenangkan membantu Gangika merasa lebih baik. Dia mengeluarkan minyak kayu putih dari tasnya dan mengoleskannya di perut Gangika dengan gerakan memijat yang lembut—dan menggelikan hingga bisa menyentil kupu-kupu liar di dalam sana.
"Ini akan membantu perutmu lebih nyaman," kata Hessa.
Gangika hanya mengangguk lemah, merasakan kehangatan minyak kayu putih meresap ke kulitnya. Hessa kemudian menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut tebal, agar Gangika tidak kedinginan.
Hessa sedikit terharu melihat betapa rapuhnya adiknya saat itu. Ia tahu betapa keras kepala Gangika, tetapi di saat-saat seperti ini, ia merasa tanggung jawabnya sebagai kakak semakin kuat.
"Santai saja, Gangika. Aku di sini. Kamu nggak perlu khawatir," bisik Hessa.
Gangika memejamkan mata, merasa tenang dengan kehadiran kakaknya. Ia merasakan usapan lembut di keningnya, dan perlahan-lahan rasa mual itu mereda. Hessa terus mengusap kening Gangika dengan lembut, memastikan adiknya merasa nyaman dan aman.
"Aku sayang kamu, Gangika," bisik Hessa dengan suara hampir tidak terdengar, tetapi cukup bagi Gangika untuk mendengarnya.
"Aku juga sayang Kak Hessa," jawab Gangika dengan suara lemah, sebelum akhirnya tertidur di pangkuan kakaknya.
Hessa tetap berjaga, memastikan Gangika benar-benar tertidur lelap. Ia merasa lega dan bersyukur bisa ada di sana untuk adiknya. Meskipun lelah, ia tetap terjaga, menjaga adiknya dengan penuh kasih sayang.
Pagi harinya, Gangika terbangun dengan perasaan lebih baik. Ia melihat Hessa yang tertidur di kursi samping tempat tidur, wajahnya terlihat lelah namun tenang. Gangika merasa sangat berterima kasih atas kehadiran dan perhatian kakaknya.
Ketika mereka berkumpul untuk sarapan, Mama dan Papa memuji keberanian Gangika yang akhirnya mau menginap. Gangika hanya tersenyum dan menatap Hessa dengan penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih, Kak, sudah temani aku," kata Gangika pelan.
Hessa mengacak rambut Gangika dengan penuh kasih sayang. "Itu sudah tugas kakak, Gangika."