Waktu berlalu dengan cepat yang tersisa hanya serpihan-serpihan kenangan. Seperti biasa, aku mengawali pagi dengan selalu meyakinkan bahwa manusia hanya berjalan di takdirnya masing-masing. Cuaca di hari libur terasa begitu hangat, langit terlihat begitu indah dengan warnanya yang biru. Cinta itu juga indah bagi mereka yang mencintai dan dicintai oleh orang yang tepat.
Namaku Aqila, aku adalah orang yang mencintai Raka dengan tulus tanpa pernah melihat siapa dirinya dan siapa saja yang pernah dicintainya sebelum bersamaku.
(Rabu, 28 Desember)
Malam ini, aku membuat persiapan kejutan ulang tahun, jantungku masih sering berdegup padahal sudah kedua kalinya aku melakukannya. Aku senang melakukan hal yang dapat membuatnya bahagia hingga matanya yang kecil tertutup karena senyum indah terukir di wajahnya.
Untuk mengalihkan perhatian raka, aku sering membuatnya merasa kesal dengan sikapku.
“Sayang, kalau aku ada salah tolong beritahu aku. Aku disini jangan dipendam sendiri yaa” ucap raka dengan memegang tanganku
“Ngga ada, kamu ngga salah. Aku cuman pengen diam aja” jawabku sambil memalingkan wajah darinya
“hmmmm, iya sayang. malam ini kamu mau makan apa?”
“Ngga ada, aku mau balik aja. Udah malam juga”
“sayang beneran ngga apa-apa?” memegang wajahku untuk memastikan bahwa aku memang baik-baik saja.
“Aku baik-baik saja”
Di bawah langit hitam yang bertebaran bintang diatasnya aku terpukau melihat sosok bayangan di sampingku, hingga cahaya bulan dimalam ini tidak membuatku berpaling mengagumi sosoknya. Akan ttapi, wajah raka masih terlihat begitu sedih karena ulahku rasanya ingin memberitahunya dan mengakhiri sandiwara ini. Namun, Kejutan ulang tahun ini tidak boleh gagal aku sudah menunggu hari ini. Sudah kusiapkan semuanya dengan matang, dan hanya menunggu beberapa jam lagi.
“ Sampai sini saja, kamu balik yaa” kataku dengan menghentikan langkah
*mendengar itu raka terdiam sesaat dan kemudian menghela nafas*
“Sayang ini masih jauh dari tempatmu, aku khawatir sama kamu”
“aku mau ke warung dulu mau beli sesuatu. Kamu balik aja”
“Kayaknya kamu masih marah sama aku? Yaudah, baliknya hati-hati jangan lupa kabarin aku yaaa” mm
*Kami pun berjalan ke arah yang berlawanan*
Beberapa saat kemudian, aku menoleh ke belakang terlihat bahu yang sering kugunakan untuk bersandar semakin jauh. Aku pun mulai mengikutinya dari belakang dengan berjalan perlahan, sesekali dia melihat ke arah warung yang ku singgahi. Di persembunyian aku menemui teman-teman yang membantuku menyiapkan kejutan ulang tahunnya, Kami bersiap menunggu jam 12 malam. Aku dan teman-teman sudah menyiapkan rencana untuk mengerjainya terlebih dahulu. Ketika teman-teman yang lain melaksanakan aksinya, aku masih bersembunyi di tempat salah satu temanku. Mereka mengerjainya dengan berpura-pura marah, aku kurang mendengar apa yang mereka bicarakan karena aku terlalu sibuk menyiapkan kue dan kado ulang tahunnya.
Tiba waktunya aku keluar dari tempat persembunyian sambil memegang kue yang bertuliskan HAPPY BIRTDHDAY SAYANG di iringi nyanyian lagu selamat ulang tahun dari teman-teman. Nampak senyuman yang indah itu mulai muncul dari wajahnya yang tampan.
“Selamat ulang tahun sayang, semoga hal baik selalu membersamaimu”
“Terimakasih, aku sangat-sangat bahagia” ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
*Sebelum meniup lilin dia berdoa dan kemudian memelukku. Namun aku masih malu-malu untuk membalas pelukannya*
“cieeeeeee” sahut teman-teman dengan kompak
Kami menutup perayaan ulang tahun sederhana ini dengan memakan kue bersama teman-teman. Banyak doa dan ucapan yang dia dapatkan dari orang-orang sekelilingnya. Aku sangat bahagia, karena di usianya sekarang aku masih menemaninya. Begitu bahagianya saat itu sehingga tidak terbayangkan olehku bahwa ulang tahunnya kali ini menjadi perayaan terakhir aku bersamanya. Seandainya, aku bisa kembali saat itu aku akan menangis sambil memelukmu dan mengatakan banyak kalimat romantis.