Rambutku yang terurai rapi menjadi berantakan terkena tiupan angin sore. Aku berdiri di tepi pelabuhan sambil memeluk dari belakang Kartasura yang merupakan tunanganku. Kemeja yang ia gunakan menjadi basah terkena air mataku.
"Tidak bisakah kamu tidak pergi kali ini? Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku," ucapku dengan tangis yang tersendu sendu.
Ia yang awalnya membelakangiku kini menghadap padaku. Ia memeluk ku dan merapikan rambutku yang berantakan.
"Sayang, tenanglah. Aku hanya pergi 2 minggu saja. Aku berjanji akan pulang dengan selamat," ucapnya menenangkanku.
"Heii Karta, jangan lama-lama kau berpelukan dengan wanitamu. Kita akan berangkat," panggil Keidan, teman tunanganku.
"Sayang, aku harus pergi," ucapnya sambil membalikan badannya membelakangiku dan beranjak pergi meninggalkanku.
Aku hanya bisa berdiam diri sambil memandangi punggungya yang berjalan menuju kapal. Setelah beberapa saat ia memasuki kapal, kapal itu mulai menjauhi pelabuhan dan menuju ke tengah laut. Aku melihat dari jauh, ia melambaikan tangannya padaku kemudian aku membalas lambaian tangannya.
Aku menunggu hingga kapal yang ia tumpangi menjauh hingga tak terlihat. Begitu menyesakkan hatiku saat melihatnya menjauh. Ini bukan kali pertamanya ia meninggalkanku, tapi kali ini aku merasa sangat tidak rela dengan kepergiannya.
Setelah 3 hari kepergiannya, aku sangat merasakan kehilangan. Pada malam hari aku selalu memimpikannya, dalam mimpiku ia memberikanku gaun indah berwarna putih dengan hiasan renda di bagian bawah gaun. Itu sangat romantis bukan? Namun di akhir mimpi itu ia selalu menghilang dengan tiba-tiba.
Setelah beberapa hari berlalu, hari ini adalah hari ia akan pulang. Beberapa gaun aku coba, aku mengkepang rambutku dan memakaikan pita berwarna putih dan dihiasi dengan renda menyesuaikan gaun yang ku kenakan.
Saat kapal tiba aku mataku memandangi sekeliling mencarinya. Saat aku melihatnya aku langsung berlari ke arahnya dan langsung memeluknya. Ia terlihat terkejut saat aku memeluknya tiba-tiba. Kami berpelukan cukup lama untuk melepas kerinduan.
"Karta, apakah kamu capek? Aku ingin mengajakmu ke teman sebentar, namun jika kamu capek kamu bisa menolaknya," ajakku pada Kartasura
"Baiklah, mari kita pergi sebentar," balasnya.
Taman yang akan kami kunjungi sangat dekat dengan pelabuhan, tak butuh waktu lama untuk kesana. Kami berjalan dengan berpegangan tangan. Setelah sampai di taman aku mengajaknya untuk duduk di bangku.
"Cuaca di sini panas ya, boleh kah aku membeli ice cream di sebrang jalan sana?" Tanyaku padanya.
"Tentu, ambil uang ini dan beli lah semua yang kamu inginkan. Aku hanya pergi ke toilet sebentar."
Aku berlari menyebrangi jalan raya dan membeli ice cream. Setelah membelinya aku berdiri di samping jalan menunggu kendaraan mulai sepi. Saat menunggu mataku dan mata Kartasura saling memandang, ia melambaikan tangannya dari sebrang jalan. Aku tidak bisa membalasnya karena kini kedua tanganku penuh ice cream.
Kendaraan sudah mulai sepi, aku melangkahkan kaki ku mendekati jalan raya, namun tiba-tiba terdapat bus yang melaju sangat kencang mengarah kepadaku. Tubuhku terpental sangat jauh karena tertabrak oleh bus. Kepalaku mengeluarkan banyak darah karena terbentur oleh batu. Gaun putih dengan renda yang aku kenakan menjadi merah karena berlumuran darah.
Banyak orang yang mengelilingiku memandangku dengan tatapan kasihan. Dan pria yang aku cintai datang ke arahku memeluk tubuhku dengan erat.
"Sayang, tunggu sebentar lagi. Dokter pasti akan menyelamatkanmu, aku sudah memanggil ambulance, aku mohon tetap sadarlah," ucap Kartasura.
"Karta, aku mencintaimu. Tetaplah bahagia walaupun kita tidak bersama lagi," ucapku sebelum aku menghembuskan nafas terakhirku
"Sayang, Lyla. Aku tidak menyangka ini pertemuan terakhir kita," ucap Kartasura dengan air mata yang bergelinang dari matanya.