07 Agustus
Hari-hariku masih sama, kosong. Dan aku masih benci mama.
"Tasaq!Dengar apa kata mama tidak?!"
Kutatap mama,sayu."maaf,ma.Tasaq nggak dengar..."
Bola mata mama membesar, merah."Ya ampun TASAQ! Kamu itu anak siapa sebenarnya? Dikasih tau nggak dengerin! Nggak ngehormati mama! Kamu kira mama dulu hamil kamu cuma 9 hari apa?! Sana, masak mie atau goreng telur sendiri! Mama buru-buru, nasinya makan aja sisa semalam!" tanpa menunggu jawabanku, mama tergesa-gesa munuruni tangga dengan tas memenuhi lengan dan bahunya.
Aku menunduk, merasakan kedua manikku telah memanas. Seperti yang sudah sudah, sampai aku bosan mendengarnya. "mie lagi, mie lagi... telur juga sudah habis dari beberapa bulan lalu..." gumamku. Tanpa sadar, pipiku telah basah. Kuusap cepat cepat dengan punggung telapak tangan.vApanya yang nasi sisa semalam? Itu seharusnya kalimat mama dua bulan lalu. Karena memang waktu itu kali terakhir ada nasi di rumah ini. Mama kan tidak bisa memasak. Selama ini yang memasak adalah papa, dan papa telah minggat dari rumah. Eh? Aku tidak sopan, ya? Ehem, maksudku papa pergi jauh, bersama wanita lain. Sejak saat itu mama sering pergi dan membiarkanku sendirian di rumah. Mungkin agar tak terus teringat dengan papa?Entahlah...Yang pasti sudah lama sekali aku tidak merasakan hangatnya keluarga utuh yang harmonis.
Aku mengerang, mencengkeram perutku yang merengek minta diisi. Ah! Mungkin dengan melakukan kegiatan yang aku sukai bisa menghilangkan rasa laparku. Jadi aku memutuskan untuk jalan-jalan, hobiku dari dulu. Baiklah...kukenakan jaket, sepatu, dan topi. Semua warna merah, warna favoritku. Tak lupa kukenakan liontin kesayanganku, ku sembunyikan dibalik kaus.
"Jalan-jalan mulai!"
🇸🇩🇸🇩🇸🇩
"Tasaq!"
Aku menoleh, menatap seorang wanita yang memanggilku. Ah,tante Thia!
Kuhampiri tante Thia dengam senyum manisku. Aku paling suka tante Thia. Entah kenapa aku ingin tante Thia betulan tanteku.
"Sudah makan belum?"sapa tante Thia sembari menggaruk hidung. Aku selalu gemas melihatnya, kebiasaan lucu yang sesekali kutiru diam-diam.
"Umm...nanti dulu, deh.vTasaq juga belum lapar kok, tante," namun tampaknya lambungku tak mau berkompromi. Karena ia memberontak, aku jadi malu ketahuan berbohong.
"Sekarang udah lapar, kan? Hari ini tante masak kebanyakan. Bantu habisin, ya?"
Aku reflek mengangguk kuat-kuat.
🇸🇩🇸🇩🇸🇩
Ah, andai tante Thia ibuku... Kutatap masakan di meja makan. Ada sayur sop, telur asin, tempe goreng, sambal terasi, oseng jamur, eh ...ada sekeranjang buah seperti yang selalu papa sediakan dulu? Papa suka buah apel, mama suka buah mangga, dan aku suka buah pisang. Tanpa sadar mataku telah berair.
"Tasaq? Ada apa?"
Aku tersentak. "Eh tante, nggak kok. Tasaq cuma merasa senang, karena tante baik sekali sama Tasaq."
Tante Thia menatap padaku dengan tatapan yang sulit kuartikan dan aku pun segera memasang wajah tegar. Aku tidak mau dianggap tukang mengeluh sehingga tidak disukai tante.
"Terimakasih, tante",ucapku sambil tersenyum.
"Sama-sama,Tasaq...makan yang banyak ya..."
🇸🇩🇮🇩🇸🇩🇲🇨
22 November
Aku tidak bermaksud menguping. Sungguh. Tak ku sangka akan seperti ini jadinya.
Ku tatap manik mata tante, berdegup kencang jantungku, gemetar seluruh badanku, berharap tante mengatakan padaku bahwa apa yang baru saja kudengar hanyalah sebuah candaan.
"Maaf, tan...bisa tolong jelasin maksud kata kata om Rio barusan?"meleleh airmataku, mencengkeram lengan tante Thia. Bahkan tak ku pedulikan pipiku yang berdenyut sakit akibat ditampar om Arka pacar mama, karena terganggu suaraku menghafal perkalian.
Tante Thia menggeleng, tatapannya dingin. "Pulanglah!"didorongnya bahuku agar melepaskan cengkeraman pada lengannya. "Pulang, Tasaq!
Airmata mengalir membasahi pipiku. "Pulang kemana, tan? Tasaq diusir mama karena om Arka nggak suka sama Tasaq..." aku betul-betul merasa tak diinginkan. Mama lebih memilih pacarnya,bahkan kini kutau dari om Rio bahwa tante Thia adalah ibuku?? Itu maksudnya apa??
"Tasaq, kamu dengar kata tante, kan? Pulanglah!" Ini membingungkanku. Aku hanya anak laki-laki usia 9 tahun, apa yang bisa kulakukan dalam situasi seperti ini? Mungkin sebaiknya aku coba ke rumah Zagha sahabatku.
🇸🇩🇸🇩🇸🇩
"Heh!!"
Zagha mendongak, menatap polos kak Lis.
"Anak bodoh, kenapa belum mencuci piring?! Jemuran juga belum diangkat, jangan keasyikan main sampai lupa tugas!! Dasar benalu, bisanya cuma abisin biaya,huhhh!"
Aku mengerutkan keningku, menatap kesal kak Lis. Lagi? Sejak kemarin banyak sekali tugas Zagha. Apa setiap hari memang seperti ini?
Kak Lis mencibir saat menatapku. "Oh iya, kamu. Kalo mau makan, siram bunga-bunga ku dulu. Sana!"
Mau tak mau aku menurutinya.
Setelah pekerjaan kami beres, Zagha berterimakasih karena aku membantunya . "Maaf, Tasaq. Di sini kamu jadi disuruh-suruh. "
"Nggak papa, Zagha. Di sini kan aku cuma numpang,"ucapku getir.
Saat makan, kak Re menjatuhkan sendok. Ia membiarkannya dan mengambil yang baru. Samar-samar kudengar gumamannya, "lama amat di sini, sebaiknya cepat menyingkir."
DEG!
🇸🇩🇲🇨🇸🇩🇲🇨