Gue masih duduk di bangku SMA dan baru sebulan ini udah nikah. Many people asked, "Lo ngapain nikah muda-muda?" or "Masih sekolah, kelewat cepat kan?"
Sekarang gue merasa sering banget ditatap heran sama temen-temen gue tiap kali masuk kelas dengan pakaian rapi. Dan gue harus jawab pertanyaan mereka yang selalu sama tiap kali gue datang ke kelas. Ya, kami, suami istri, memang tidak seperti orang biasanya yang pergi ke sekolah sendirian.
Gue dan istri gue, Alma, kenal pas SMK. Gue udah kelas 3, sementara dia masih kelas 1. Kita sering bertemu di kantin, dan akhirnya kita jadian.
Gue asli dari daerah, dan ngga ada keluarga di Jakarta. Gue ditawari kerjaan yang cukup lumayan di Jakarta, dan akhirnya gue minta izin ke orang tua dari Alma buat nikah. Alhamdulillah, mereka maklum dan nyetujui.
Tapi, alasan nikah mungkin tidak cukup. Kita belum kenal diri sendiri sepenuhnya, dan terkadang masih ada masalah seperti argumentasi antara gue dan Alma yang bikin gue mikir, man, ini gimana duluan? Gimana kita bisa mengatur perjalanan hidup kita ke depannya?
Mariya, kakak kelas di sekolah, adalah satu-satunya temen yang tahu kalau kita udah nikah. Dia sering banget jadi tempat curhat gue. Mariya bilang, "Marriage is not a bed of roses, tapi kalian harus jaga komunikasi dan empati terus-menerus."
Terus, gue mulai inget tujuan kita menikah dan bagaimana kita sama-sama berusaha untuk menuju tujuan itu. Di waktu kantuk, kita menertawakan diri sendiri, di waktu riuh, kita saling mendengarkan, di waktu kita dalam situasi sulit, kita saling menjadi satu. Alhamdulillah, kini gue ngga lagi merasa kesepian karena sudah nikah di usia muda.
So, pernikahan di usia muda memang butuh banyak kerja keras untuk membuatnya berhasil. Tapi dengan didukung keluarga, teman-teman, dan tentunya sang istri yang menyempurnakan cinta, keinginan untuk tetap bersekolah dan berjuang bersama untuk masa depan akan lebih besar dan terasa lebih nyata.