"Mimpi. Kita menyebutnya sebagai bunga tidur. Tapi bagaimana jika mimpi itu malah terasa begitu nyata ? Membuat jantungmu bahkan sampai berdetak kencang karena merasa itu benar-benar sangat nyata."
***
Jam weker yang sebelumnya sudah aku setel untuk berbunyi tepat pada pukul enam pagi terdengar berdering nyaring. Membangunkanku dari tidur lelapku. Rasanya aku baru saja tertidur beberapa menit yang lalu, tapi ternyata sudah pagi saja.
Hah !
Aku masih mengantuk. Aku masih ingin bermesraan dengan kasur dan selimut lembutku. Tapi tidak bisa. Aku harus segera bangun dan bersiap-siap ke sekolah. Aku tidak ingin terlambat di hari pertamaku. Hari ini adalah hari pertamaku di sekolah baruku. Karena masalah ekonomi, kami terpaksa pindah ke sebuah desa terpencil dan jauh dari perkotaan. Semua demi bisa menghemat pengeluaran.
Aku bangun dengan perasaan malas yang luar biasa. Tapi aku harus melawannya. Aku merapikan tempat tidurku sebelum beranjak mandi. Seperti gadis pada umumnya, aku mandi seperti seseorang yang sedang bersemedi. Aku bahkan baru selesai mandi setelah hampir 30 menit kemudian.
Memakai seragam sekolah dan sunscreen untuk sekedar melindungi kulit dari sinar matahari. Tak lupa rambut yang dicepol asal. Hanya sebatas itu. Aku bukanlah seorang gadis yang membutuhkan waktu lama untuk berdandan.
Ahh, sungguh beruntungnya pria yang kelak akan menjadi suamiku.
Aku turun setelah siap dengan segala perlengkapan sekolahku. Di bawah, terlihat ibu sedang sibuk menyiapkan sarapan. Ayah sedang duduk di ruang tamu yang merangkap sebagai ruang keluarga. Dia terlihat sedang menonton berita di TV sambil menikmati kopinya.
Aku berjalan ke arah dapur menghampiri ibu. Berniat membantu namun ibu langsung melarang dan menyuruhku untuk duduk saja. Tak ingin seragamku sampai kotor. Aku menurut karena sarapan memang sudah hampir siap semuanya.
Kami sarapan bertiga seperti biasa. Hanya ada aku, ibu dan ayah. Tidak ada orang lain lagi. Karena aku adalah satu-satunya anak yang mereka miliki. Aku tidak mempunyai saudara dan kerabat kami berada di tempat yang jauh.
Jam tujuh tepat aku berangkat. Jarak sekolah dari rumah bisa dibilang cukup dekat. Hanya 200 m. Hanya butuh beberapa menit saja untuk sampai ke sekolah dengan sepeda. Aku mengayuh sepeda dengan hati-hati. Sejak kemarin hujan turun dengan derasnya. Jalanan tampak licin karena ada banyak genangan dimana-mana. Bahkan sampai sekarang masih turun hujan rintik-rintik.
Jalanan tampak lengah saat aku berangkat. Suasananya sangat sepi. Aku bahkan tidak melihat seorang pun di sepanjang perjalanan. Mungkin mereka masih ingin berlama-lama di dalam rumah karena di luar sangat dingin. Karena itu adalah sebuah desa terpencil yang jauh dari perkotaan, keadaan tampak gelap karena langit sedang mendung. Ditambah lagi dengan bentangan pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi mengelilingi desa.
Masih sangat asri dan menyatu dengan alam.
Aku berhasil sampai di sekolah beberapa detik sebelum langit kembali menumpahkan air matanya. Untunglah, karena aku tidak membawa payung. Aku bisa basah kuyup jika aku terlambat beberapa detik saja.
Aku berjalan di koridor sekolah menuju kelas yang sebelumnya sudah ditunjukkan padaku. Rasanya sangat aneh, kelas masih kosong saat aku tiba. Sekolah pun tampak tenang, tidak ada tanda-tanda ada siswa atau siswi lain di sana selain aku. Di sepanjang koridor tadi pun aku sama sekali tidak melihat siapa pun. Guru, siswa-siswi, atau mungkin satpam dan cleaning service. Sama sekali tidak terlihat seorang pun di sana.
Hujan turun semakin deras. Suasana terasa semakin mencekam karena sekeliling terlihat semakin gelap. Ditambah gemuruh petir yang saling bersahut-sahutan mengagetkaku. Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sudah pukul tujuh lewat dua puluh menit. Itu artinya, sepuluh menit lagi jam pelajaran pertama dimulai. Tapi sampai detik ini belum ada juga yang datang selain diriku.
Bukankah itu terlampau aneh ?
Apakah hari ini semua orang kompak untuk bolos sekolah karena sedang hujan deras ?
Ahh, itu tidak mungkin !
Karena suasana tampak semakin gelap, aku memutuskan untuk menyalahkan lampu di kelas. Rasanya, bulu kudukku mulai meremang. Suasana di kelas itu pun tiba-tiba terasa semakin dingin padahal aku sudah memakai jaket tebal.
Duuuaaarrrr....
Cahaya kilat disusul suara petir yang memekakkan telinga membuatku terlonjak saking kagetnya. Untuk beberapa saat telingaku sampai berdengung karena besarnya gemuruh petir itu. Lampu yang baru beberapa saat yang lalu aku nyalakan kembali padam secara tiba-tiba.
Sial !
Mati lampu.
Semua menjadi benar-benar sangat gelap sekarang. Jarak pandangku hanya mencapai beberapa meter saja. Cepat-cepat aku mengambil tas yang sebelumnya kuletakkan di atas salah satu meja. Berlari meninggalkan kelas, berniat untuk pulang saja.
Tapi, tepat setelah aku berada di depan kelas, dari kejauhan aku melihat beberapa orang yang sedang berjalan ke arahku. Tiga, empat, atau lebih. Ahh, sepertinya ada sepuluh orang yang sedang berjalan mendekatiku. Semakin lama semakin dekat dan dekat. Aku pun perlahan bisa melihat mereka dengan jelas saat jarak antara aku dan mereka hanya beberapa meter saja.
Deg!
Jika ini adalah sebuah animasi movie, maka jantungku pasti sudah meloncot keluar dari sarangnya. Mataku membulat sempurna, tempurung lututku seperti melunak, jantungku berdetak berkali-kali lebih cepat dari biasanya. Bodohnya, aku seperti lupa bagaimana caranya bergerak. Otakku mendadak blank, seperti orang yang tersihir dan linglung.
Mereka...
Mereka jelas bukanlah seorang siswa di sekolah itu. Baju yang mereka pakai bukanlah seragam sekolah seperti yang sedang aku kenakan. Mereka semua memakai pakaian serba hitam dengan hoodie yang menutupi kepala mereka.
Tapi, itu bukanlah poin utamanya. Melainkan mata merah menyala serta seringaian mengerikan dari kesepuluh orang itu. Jantungku benar-benar hampir berhenti menjalankan tugasnya. Aku semakin blank karena ketakutan.
Seakan belum puas membuatku ketakutan, orang-orang itu kembali memberiku sebuah kejutan yang tak kalah mengejutkan. Semua mengeluarkan pedang yang bahkan bisa terlihat mengkilap di tengah kegelapan. Tubuhku mendadak ngilu. Cukup melihatnya saja sudah bisa membuatku mengetahui bahwa pedang-pedang itu bukanlah pedang biasa. Itu jelas pedang yang sangat tajam dan mungkin saja bisa membuat tubuh kecilku terpotong-potong dengan mudah.
Satu perintah yang berhasil diberikan otakku. Lari !
Aku berlari setelah sekian lama hanya membeku di tempatku. Aku berupaya berlari sekencang mungkin yang aku bisa meski dengan kedua kaki yang gontai. Lemas saking takutnya. Aku terus berlari dan berlari. Mencoba menjauh dari orang-orang itu yang kini ikut mengejarku. Aku ketakutan. Aku belum ingin mati.
Karena mereka mengejarku dari arah depan sekolah, secara otomatis aku berlari ke arah belakang sekolah. Ahh, aku bahkan belum mengetahui denah sekolah itu karena ini adalah hari pertamaku resmi menjadi murid pindahan di sekolah ini. Aku hanya terus berlari tak tentu arah. Sekarang, yang aku pikirkan hanyalah mencoba menjauh dari orang-orang mengerikan itu. Mencari orang lain untuk menyelamatkaku dari mereka.
Iya, aku hanya perlu menemukan satu orang saja yang mungkin bisa menolongku. Siapa pun itu !
Aku tiba di taman belakang sekolah. Dengan napas yang tersegal-segal aku mencoba mencari jalan karena aku sampai di jalan buntu. Tembok setinggi dua meter menjulang dan membentang mengelilingi bangunan sekolah tanpa cela. Aku tidak mungkin bisa memanjat tembok itu dengan tubuh kecilku.
Di sisi kanan terdapat gudang yang selalu dalam keadaan terkunci rapat. Dan di sisi kiri terdapat sebuah lorong kecil yang terlihat sangat gelap tanpa secercah cahaya yang masuk. Membuatku tidak bisa melihat kemana dan apa yang ada di dalam lorong itu.
Suara derap langkah kaki yang berlari ke arahku terdengar semakin jelas. Berarti mereka sudah hampir sampai di tempatku sekarang. Aku gelagapan. Bimbang bercampur takut. Antara masuk ke lorong kecil itu atau tidak.
Bagaimana jika aku masuk dan malah menemukan makhluk yang jauh lebih mengerikan lagi ?
Tapi jika aku tetap di sini, mereka pasti akan menemukanku dan langsung membunuhku. Langkah kaki itu semakin jelas terdengar oleh telingaku.
Sial !
Aku tidak mempunyai pilihan lain. Setidaknya aku harus mencoba segala kemungkinan daripada langsung mati konyol tanpa mencoba berjuang sampai akhir. Aku memutuskan masuk ke lorong itu. Menahan segala rasa takut yang sudah mendekapku erat. Detak jantungku semakin menggila saat melihat sepuluh orang tadi telah tiba di taman belakang sekolah. Dari lorong itu aku bisa melihat mereka dengan jelas.
Aku duduk meringkuk mencoba menenangkan diriku sendiri. Pada akhirnya aku tidak bisa terus berjalan karena lagi-lagi aku menemukan jalan buntu. Aku tidak bisa melihat apakah itu adalah ujung dari lorong kecil itu ataukah hanyalah sebuah benda yang menyumbatnya.
Aku tidak tahu karena aku tidak bisa melihatnya. Yang aku tahu, tanganku seperti menyentuh sesuatu yang mirip seperti bulu angsa namun dalam ukuran yang jauh lebih besar. Lembut dan hangat. Karena itu, aku mencoba bersandar pada benda itu. Mencoba menghangatkan tubuhku yang sudah menggigil kedinginan. Aku sudah sangat kedinginan karena sekujur tubuhku basah kuyup karena kehujanan.
Satu detik...dua detik...sepuluh detik....
Untuk beberapa detik aku seperti sudah kembali hidup. Orang-orang itu benar-benar tidak melihatku di lorong itu. Sayangnya, itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja. Karena detik berikutnya kejutan lain kembali mengejutkanku. Sesuatu yang kusebut benda berbulu itu tiba-tiba saja bergerak. Membuat jantungku yang baru beristirahat sebentar saja kembali terpacu seperti pelari maraton.
Aku lelah !
Rasanya aku ingin menangis saja. Perasaan aku tidak sedang berulang tahun, tapi kenapa aku mendapatkan begitu banyak kejutan hari ini. Jika ini memang adalah hari kematianku, tolong ambil aku dengan cepat. Jangan membuatku mati secara perlahan-lahan. Itu benar-benar sangat menyiksaku.
Aku merasa seperti ada dua sayap berukuran cukup besar mendekapku. Tidak ! Maksudku, dia mungkin saja berniat membunuhku. Mungkin. Karena dia memelukku, aku jadi bisa merasakan detak jantungnya. Berarti dia adalah makhluk hidup. Ahh, tentu saja dia hidup. Bagaimana mungkin dia bisa bergerak kalau dia adalah benda mati.
Bodoh!
Aku menghardik diriku sendiri.
Dia berdiri, membuatku otomatis ikut berdiri. Tubuhnya seperti seorang manusia, tapi memiliki sayang.
Sisa kewarasanku mencoba mencerna bentuk makhluk itu. Karena sama sekali tidak bisa melihatnya, aku hanya bisa menduga-duga bagaimana bentuk makhluk itu. Dan aku menduga, makhluk itu memang memiliki tubuh seperti manusia biasa tapi mempunyai dua sayap besar.
Semacam, manusia burung ?
Entahlah !
Memangnya apa pentingnya mencoba menggambarkan bagaimana bentuk makhluk itu ?
Sekarang, keselamatan hidupkulah yang jauh lebih penting untuk aku pikirkan dari apa pun.
"Beraninya kau mengusik tidurku !" katanya membuat bulu kudukku seketika meremang.
Untuk beberapa saat jantungku seperti berhenti berdetak, nyawaku seakan pergi meninggalkan ragaku. Aku benar-benar seperti mati untuk beberapa saat.
"Siapa kau sampai berani mengganggu tidur nyenyakku !" katanya lagi, jauh lebih dingin dari sebelumnya.
"Ma-maafkan aku ! A-aku hanya ingin bersembunyi dari orang-orang itu. Aku tidak bermaksud mengusik tidurmu. Maafkan aku !" suaraku bergetar, sama seperti sekujur tubuhku yang bergetar hebat.
"Cih !"
"Kyaaaaa!"
Aku berteriak tanpa sadar saat tiba-tiba tubuhku terasa melayang di udara. Aku memeluk makhluk itu erat dengan kedua mata yang terpejam. Takut jika aku sampai jatuh. Aku baru membuka mata saat merasa tubuhku sudah kembali berpijak di atas tanah. Dan benar saja. Sekarang aku sudah berada di taman belakang sekolah. Sepuluh orang ber-hoodie tadi tentu saja seketika mengelilingi kami.
Tunggu ! Kami ?
Aku yang sedang terduduk di atas rumput taman mendongak perlahan. Mencoba mencari tahu wujud asli dari makhluk itu.
Dan....
SURPRISE!!!
Sepertinya itu adalah kejutan utamanya. Aku refleks beringsut mundur. Aku ketakutan dan wajahku sepenuhnya berubah pucat pasih. Aku seperti raga tanpa jiwa. Aku benar-benar ketakutan.
Seorang pria bertubuh tinggi tegap, wajah putih pucat seperti mayat dengan tatapan mata tajam nan dingin. Berjubah hoodie panjang yang terbuat dari bulu-bulu lembut. Sampai di situ biasa saja. Itu masih normal. Bahkan dia masih pantas disebut sebagai pria normal jika hanya sebatas itu. Dia memiliki tubuh layaknya manusia pada umumnya. Sayangnya, aku masih belum selesai mendeskripsikan seluruh bentuk dari wujud makhluk itu.
Bulu lembut dan hangat yang kusebut mirip bulu angsa namun dalam ukuran yang jauh lebih besar itu benar-benar ada. Dia benar-benar mempunyai sayap besar seperti yang sudah aku duga sebelumnya. Hanya saja, rasanya benar-benar jauh lebih menakutkan setelah aku melihatnya langsung dengan kedua mataku. Dia benar-benar adalah Manusia Burung. Tak sampai di situ saja. Di pundak kirinya terdapat elang yang bertengger manis. Dan jika diperhatikan sekali lagi, sayap pria itu mirip dengan sayap burung elang.
Jadi, pria itu mungkin saja Manusia Elang ?
Ahh, entahlah !
Persetan dengan Manusia Elang, Manusia Baja atau Manusia Harimau sekali pun. Bodoh amat ! Aku hanya ingin cepat-cepat menghilang dari sana. Menghilang dari makhluk-makhluk aneh itu.
Aku semakin beringsut mundur hingga punggungku menubruk dinding tembok yang mengelilingi bangunan sekolah saat sepuluh orang berpedang itu mulai menyerang Si Manusia Elang. Tapi tentu saja Si Manusia Elang tidak diam saja. Ia terlihat mengepakkan kedua sayapnya dan membuat sepuluh orang itu langsung terpental jauh.
Sepertinya mereka masih belum puas memberiku kejutan, kini aku kembali melihat hal yang jauh lebih mustahil lagi. Terlihat seperti ada cahaya yang keluar dari telapak tangan orang-orang itu. Seperti sihir.
Sihir ?
Ahh, sepertinya aku hanya sedang bermimpi. Atau kalau tidak, mungkin aku yang sudah mulai gila. Ini jelas sudah tahun 2020, bahkan tak lama lagi akan memasuki tahun 2021. Tapi, bagaiaman mungkin aku bisa melihat hal-hal seperti itu.
"Ti-tidak ! Jangan sentuh aku ! Jangan bunuh aku !" teriakku saat Manusia Elang itu kembali mengangkat tubuhku dan membawaku terbang entah kemana. Ia sudah mengalahlan sepuluh orang tadi dengan sangat mudah.
Mataku terasa sangat berat. Bahkan untuk membuatnya tetap terbuka rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Kesadaranku ditarik paksa keluar dari ragaku. Perlahan, kegelapan mulai menguasaiku. Merenggut habis sisa kesadaranku.
"JANGAN BUNUH AKU! JANGAN..."
"Aurora, bangun! Kau sedang mimpi apa sih sampai teriak-teriak begitu ?"
"KYAAA! TIDAK..." aku langsung bangun terduduk di atas kasurku. Napasku tersengal-sengal, sama persis seperti tadi saat sedang dikejar sepuluh orang itu.
Tunggu !
Kamar ?
Kenapa aku bisa ada di kamar sekarang ?
Dimana Manusia Elang itu ?
Bukankah tadi aku sedang berada di sekolah ?
Bukankah tadi sedang turun hujan deras dan di luar sangat gelap ?
Tapi sekarang...Kenapa di luar terlihat begitu terang, bahkan sama sekali tidak ada tanda-tanda seperti habis turun hujan ?
Apa ? Apa yang sebenarnya terjadi ?
Aku tidak mengerti !
"Aurora !" pekikan ibu menyadarkanku dari kelinglunganku.
"Ibu, bukannya tadi aku ke sekolah. Kenapa sekarang aku ada si sini ?" tanyaku tidak mengerti.
Ibu menatapku dengan wajah kesal.
Pletaak!
Ibu menjitak kepalaku cukup kuat, membuatku otomatis mengadu kesakitan. Puncak kepalaku benar-benar berdenyut karena jitakan maut Ibu. Rasanya sakit, berarti aku tidak sedang bermimpi sekarang.
"Apa kau sudah bangun sekarang ? Jangan banyak bicara dan cepat mandi sana ! Kau bahkan belum mengganti seragam sekolahmu. Sudah Ibu bilang jangan tidur malam-malam. Lihat, kau baru bangun setelah siang begini. Dasar, anak gadis ini !" dumel Ibu membuatku semakin tidak mengerti.
Aku melirik jam weker di atas nakas yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku benar-benar tidak mengerti.
"Ibu! Aku tidak mengerti. Rasanya, pagi-pagi tadi aku ke sekolah karena hari ini adalah hari pertamaku pindah sekolah. Dan di sekolah sama sekali tidak ada orang selain aku. Terus...Terus aku tiba-tiba bertemu sepuluh orang aneh yang ingin membunuhku. Terus ada satu makhluk yang lebih aneh lagi. Dia, dia seperti Manusia Elang yang mempunyai sayap besar. Dia..."
"Aurora! Apa kau sudah selesai dengan cerita dongengmu itu ? Kalau kau sudah selesai, cepat sana mandi sebelum Ibu yang menyeretmu ke kamar mandi ! Ayah dan Ibu bahkan sudah menahan lapar sejak tadi karena harus menunggumu bangun. Dasar, anak ini benar-benar, yaa!"
"Tapi, Bu..."
"Aurora! Kau baru akan resmi pindah ke sekolah itu minggu depan. Kemarin kita baru saja dari sana untuk mendaftarkanmu dan mengecek kelas. Jadi, jangan banyak bicara dan mandi sana !" kata Ibu. Bukannya mengerti, aku malah semakin tidak paham.
Jadi, maksudnya itu hanyalah sebuah mimpi ?
Tapi, kenapa rasanya seperti benar-benar nyata. Itu sama sekali tidak seperti sebuah mimpi.
Mimpi. Kita menyebutnya sebagai bunga tidur. Tapi bagaimana jika mimpi itu malah terasa begitu nyata ? Membuat jantungmu bahkan sampai berdetak kencang karena merasa itu benar-benar sangat nyata.
Dengan kebingungan aku bangkit dari kasurku. Meraih handuk dan berjalan ke kamar mandi tanpa semangat. Tubuhku terasa sangat lelah. Seperti benar-benar telah berlari kencang seperti di mimpi tadi. Kakiku pun terasa sangat lemas.
Dan saat menatap pantulan diriku di balik cermin, aku melihat wajahku yang pucat pasih. Lebih mengejutkannya lagi, seragamku benar-benar dalam keadaan basah. Memang tidak sampai basah kuyup, tapi itu jelas-jelas basah.
Aku tidak mungkin kehujanan di dalam kamarku, kan ?
Jadi, sebenarnya apa yang telah terjadi ?
Aku semakin tidak mengerti.
"Aurora, jangan lama-lama mandinya ! Kita harus ke super market untuk belanja. Kau tahu kan, hari ini adalah Black Friday. Pasti akan ada banyak diskon. Kita harus belanja disaat lagi diskon besar-besaran seperti ini untuk meminimalisir pengeluaran."
Ibu berceloteh panjang lebar di luar sana. Aku diam tak menyahut. Aku masih terlalu bingung dengan semuanya. Aku mencoba untuk mencerna kejadian-kejadian itu perlahan. Namun tetap saja, akal sehatku tidak bisa menemukan kesimpulan yang logis.
🍁🍁🍁
Di luar kamar...
Anggi, Ibu Aurora yang sedang merapikan kamar anak gadisnya dibuat terkejut saat mendapati banyak bulu berserakan di salah satu sisi kasur Aurora. Anehnya, bulu itu jelas jauh lebih besar dari bulu unggas normal pada umumnya. Ia mengambil salah satu bulu itu dan mengamatinya.
"Keluarlah! Kau pikir aku tidak tahu kau sedang bersembunyi ? Cih!" gumam Anggi.
Detik berikutnya, makhluk itu benar-benar muncul dan masuk melalui jendela kamar Aurora yang memang lebar. Sayap besarnya dikatubkan agar bisa muat di kamar yang sempit itu. Sebuah seringaian tercetak dari bibirnya. Menghiasi wajah putih pucatnya yang malah terlihat sangat menawan itu.
"Dia milikku!" ucapnya telak tanpa ada penolakan.
~
~
~
~
♥SELESAI♥🤗😊😙