Arca ini sering di anggap sebagai Ken Dedes, Jayendradewi, dan Gayatri. Sebagai Ken Dedes karena berada di suatu Cungkup Ken Dedes dekat petirtaan di Singasari. Cungkup biasanya di artikan sebagai sebuah rumah yang fungsinya melindungi suatu makam, atau rumah untuk pekuburan. Namun, pada daerah tertentu bisa berarti lain. Di sini nyatanya mengarah pada suatu petirtaan dengan dinding yang menyerupai candi, dari jaman purba. Juga sebutan candi ada yang menyebut bong, makam. Memang lumayan jarang, jika arca berada di suatu petirtaan. Mengingat arca tersebut sebuah arca sesembahan. Mungkin memang tempat arca itu dulu di buat semacam rumah atau cungkup, untuk melindunginya dari panas dan hujan. Beda kalau arca yang seperti arca tetek, karena memang hubungannya dengan air yang mengucur, pertanda air kehidupan seperti layaknya suatu susu bagi sang bayi. Maka bakalan di buat seperti itu sebagai sebuah aliran air yang terus mengucur dari suatu sumber atau tuk. Mengingat sosok lain berada di kota Majapahit, sementara ini di Singhasari, dan yang berkuasa adalah raja-raja Singhasari, maka namanya banyak di hubungkan dengan patung yang masih sempurna dan paling bagus yang pernah di temukan dari masa itu. Dengan kecantikan dan kesempurnaan ciptaan itulah makanya di hubungkan dengan sosok yang juga sempurna dalam kisah dan catatan para pujangga. Sehingga nama Ken Dedes lebih tepat sebagai pembanding yang sama-sama indah itu. Hanya yang satu karya seni, sementara yang lain adalah tokoh nyata. Gayatri, karena dia sebagai ibu penerus para generasi. Sebab dia adalah raja putri, sebagai pengganti suaminya. Setelah kematian Jayanegara yang menjadi raja tak berputra. Maka sebagai keturunan Kertanegara yang masih hidup, dia yang dianggap paling tepat. Namun, karena dia telah menjadi biksuni, makanya pemerintahan di berikan kepada putrinya, Tunggadewi. Walau demikian, juga sedikit aneh, karena patungnya justru buat dirinya, sementara saudaranya sendiri, Jayendradewi, sama-sama istri Raden Wijaya, yang bergelar Prajna Paramita (menurut Kitab Pararatwan). Walau beberapa patung lagi yang sejenis, di temukan juga, dan memungkinkan kalau ke semua istri Raden Wijaya di gambarkan sama. Juga sebagai perbandingan akan keindahan ciptaan itu, yang menggambarkan bahwa apa yang di lukiskan itu tentu mempunyai keistimewaan yang sama. Dengan sempurnanya patung tadi, maka semua juga menginginkan apa yang di wujudkan juga sama. Itulah makanya di hubungkan dengan sosok yang baik juga. Mengingat Gayatri lah yang menurunkan banyak raja. Dia juga raja putri yang sejati. Dan candi yang di buat pada masa Gajah Mada, terjadi pada masa dia masih hidup. Demi ayahnya yang terbunuh di situ sebagai penanda lokasi. Berdasar kisah Nagara Krtagama, di situ Gayatri di buatkan candi oleh Hayam Wuruk. Bahkan dua buah. Satu di Kamal Pandak, dan yang lain di Wisesapura. Keduanya di gambarkan sebagai Pradnya Paramitha. sebagai awal dan akhir. Mengingat di Kamal Pandak, Boyolangu, Tulung Agung dalam candi Gayatri masih ada patungnya, walau dengan kepala yang hilang. Mungkin yang lain di Wisesapura, atau candi Gunung Gangsir di Bangil. Yang arcanya sudah lenyap. Untuk itu, bisa saja arca yang indah tadi sebenarnya yang ada di Wisesapura, hanya sudah berpindah-pindah tempat. Sebab pada lokasi penemuan terakhir, di cungkup Ken Dedes, sama sekali tak ada keterangan tertulis. Beda seperti di Boyolangu maupun Boyolango. Jayendradewi bergelar Prajna Paramita, menurut Pararaton. Juga di gambarkan sebagai istri yang paling setia. Walau tak punya anak. Dengan tulisan ini rasanya penulis kitab itu sangat mengagumi beliau sebagai sosok yang sangat sesuai dengan penggambaran dewi pujaan itu. Juga pada awal-awal pembuatan buku , banyak sarjana yang menuliskan kalau dialah yang menjadi patung itu. Namun karena keturunan dinasti yang tidak merujuk padanya, dan hanya sebagai istri penguasa saja, membuat dirinya kurang populer. Juga mengingat itu hanya ada dalam catatan Pararaton, yang lebih dahulu di tulis kitab Negara Kertagama, sebagai tulisan yang lebih awal serta mendekati terjadinya sejarah, sehingga bisa di anggap gugur. Karena catatan sejarahnya lebih dahulu pada era Hayam Wuruk. Di bandingkan dengan masa akhir Majapahit. Walau dengan banyak faktor, masih bisa di hubungkan dengannya. Baik masanya, serta nama yang sangat tepat sama. Dengan perbandingan kalau candi di dekatnya itu di buat pada masa setelahnya. Dan tentunya selisih jauh andai di bandingkan dengan Ken Dedes yang beberapa abad sebelumnya. Inilah yang banyak mengira kalau dirinya yang di wujudkan. Walau lokasinya berada di Singasari, tempat yang lebih identik dengan Ken Dedes. Mereka ini pada jaman Majapahit yang kotanya di sekitar hutan Trik atau Trowulan. Apalagi sudah sangat populer karena wanita ini yang berikutnya menurunkan generasi berikutnya. Sehingga dia yang dianggap sebagai figur dari patung yang sangat indah ini, seindah namanya yang terus di agungkan oleh dua generasi, Singasari, Majapahit, walau dinastinya masih menganggap satu, Rajasa. Dekat penemuan patung itu, ada banyak penemuan lain, yang juga bentuknya sejenis. Namun sudah rusak, dan bahan pembuatnya dari batu yang kualitasnya rendah. Sehingga ketika bencana langsung hancur. Dan bentuknya jadi tak karuan. Yang berhasil di dapatkan di tengah lapangan Singasari. Ada juga Dwarapala yang sangat besar. Dan menjadi patung terbesar dari era itu yang masih utuh. Walau mungkin kalau sejaman, maka arca Manjusri, Candi Sewu, yang paling besar dan terbuat dari perunggu. Berdasarkan ikal rambut yang tersisa, serta ruangan dalam candi yang sangat besar. Sehingga, tingginya kemungkinan lebih dari empat meter, dari bahan perunggu yang berkualitas sehingga akan memancarkan mudra, cahaya kalau terkena sinar bulan maupun matahari. Arca raksasa ini, baik ukuran maupun bentuk yang mengerikan, di buat sepasang, dengan posisi yang terpisah oleh jalan besar. Lokasinya berada tepat di depan candi Singasari. Sehingga banyak yang menduga kalau itu merupakan arca penjaga gapura depan yang menuju ke arah candi Singasari. Hanya saja sekarang sudah terhalang oleh pemukiman penduduk. Bahkan ada yang menduga kalau itu merupakan arca yang di buat lebih dulu dari candi Singasari. Mengingat bentuk yang sangat besar menjadikan kurang sesuai dengan ukuran candi yang seakan timpang. Sementara candi Singasari di buat semasa Gajah Mada menjadi mahamantri. Dan candi itu di buat tepat di mana Sang Kertanegara terbunuh. Yang berarti bahwa lokasi ini adalah istana Singasari. Jadi, arca dwarapala itu dahulu merupakan penjaga pintu gerbang menuju ke istana raja. Arca-arca itu banyak di temukan menyebar di banyak lokasi, namun akhirnya di kumpulkan di sekitar candi. Supaya tidak berserakan serta masih bisa di lihat oleh para generasi penerus sehingga bakalan mampu menambah ilmu pengetahuan terhadap orang-orang kemudian yang tidak sejaman dengan pembuatannya. Terlebih lagi sebagai pembanding buat yang lagi mempelajarinya. Sehingga dengan membaca catatan para ahli sembari melihat benda peninggalan di jamannya, niscaya bakalan mampu lebih paham serta sangat teliti untuk membandingkannya dan menganggap sebagai suatu budaya peninggalan leluhur yang adiluhung itu. Mungkin juga arca itu beberapa diantaranya mengisi relung yang kali ini kosong. Sebab ada yang tidak terisi juga. Hanya mesti di perhatikan arah mata angin tersebut berada sehingga letaknya tepat di situ, bukan asal menempatkan. Karena ada aturan tertentu untuk keletakan arca pantheon para dewa tadi. Misalkan arca Agastya, mestinya ada di relung selatan. Dan dewa lainnya di masing-masing tempat. Bahkan di bagian atasnya juga masih tampak kosong. Sehingga banyak yang mengira kalau candi tadi di peruntukkan untuk Budha. Karena sang raja penganut Siwa Budha. Sebab memang terasa unik untuk candi tadi yang membiarkan kosong juga. Walau hampir tak ada yang satu candi untuk dua agama. Termasuk di Jawa Tengah, dimana candi terbesar yang mungkin Candi Sewu ternyata hanya untuk budha. Demikian juga Candi Prambanan yang banyak mengacu pada Dewa Siwa. Dan ada kemungkinan kalau Candi Prambanan itu di buat untuk menyaingi Candi Borobudur nampaknya juga sedikit kejauhan. Selain letaknya jauh, borobudur mesti dianggap satu, nyatanya banyak stupa. Yang lebh dekat adalah dengan xcabndi sewu, dimana arcanya juga sangat besar dan dari perunggu, itu suatu harta yang mahal di jamannya. Kalau untuk menyaingi Borobudur bukankah lebih tepat kalau di buat di dekatnya. Sebab letak Pikatan juga lebih dekat ke Borobudur daripada ke Prambanan. Makanya mungkin untuk menyaingi Candi Sewu. Karena candi tersebut tergabung dengan empat pengiringnya yang juga sama-sama besar, yakni Candi Bubrah, Candi Gana, candi lor dan kulon, yang sungguh sangat luas areanya. Belum lagi Candi Lumbung yang merupakan awal dari pembuatan Candi Sewu, serta sama-sama menghormati Manjusri. Tapi itulah yang akhirnya berbarengan. Dimana Candi Singasari yang di buat oleh Tunggadewi demi kakeknya, yang dilaksanakan Gajahmada, untuk menghargai Kertanegara sebagai Siwa-Budha sehingga candinya merupakan perpaduan untuk keduanya. Dan relung yang ksong tadi mungkin banyak yang berisi patrung dewa dewi, serta budha dengan bodisatwa-nya. Kalaupun tidak, maka di dekat situ, dahulu juga banyak cungkup untuk melindungi arca yang sangat banyak tersebut. Seperti arca indah Prajnaparamita yang ditemukan di tempat sederhana Cungkup Ken Dedes. Namun, berada di lokasi sederhana begitu, malahan lebih terpelihara.
Sumber:
1. Yang dapat di percaya dan bukan abal-abal;
2. Bukan dari jaman Nebukondosoro;
3. Intuisi;
4. Indra ke enam;
5. Demit;
6. YT;IG;FB.
7. https://id.wikipedia.org/wiki/Pradnyaparamita.