"Pyarrr ...."
Sebuah bingkai foto lama dengan potret sepasang kekasih tanpa wajah jatuh, pecah dan hancur dalam kegelapan ruangan kamar yang sepi, dingin dan berdebu itu, sendirian tanpa pernah ada yang mengetahuinya, datang dan membersihkannya. Segala hal yang ada di sekelilingnya hanya diam mematung, tak bergerak dan peduli sedikitpun seakan waktu sendiri telah berhenti berdetak dan bernafas dalam ruangan itu. Sunyi, hening dan senyap, segalanya sudah terjebak dalam kamar yang terkunci itu.
***
Seorang pemuda tampan, berambut hitam, gondrong dan acak-acakan, bertubuh kurus kering yang memanjang dari ujung kasur ke ujung lainnya diam termenung dan melamun menatap langit-langit kamarnya yang biru dan berdebu serta dipenuhi oleh sarang-sarang laba-laba di setiap sudutnya dengan sepasang matanya yang hitam dan kosong tanpa cahaya serta harapan sedikitpun di dalamnya.
Malam hari itu begitu sepi dan sunyi, hening tanpa ada sedikitpun suara yang berbunyi kecuali kekacauan-kekacauan serta kebisingan-kebisingan yang terus terjadi dan bergejolak dalam otak dan pikirannya yang kosong dan berantakan. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda kehidupan yang berhasil ditemukannya dalam reruntuhan-reruntuhan itu, hanya berbagai kenangan dan cerita lama yang berserakan dimana-mana bagaikan robekan-robekan kertas yang berisi catatan-catatan akan dosa-dosa lama seorang kriminal. Pemuda itu berusaha mengambil kembali serpihan-serpihan itu lalu mencocokan dan merangkainya kembali berharap dosa-dosa itu dapat berubah menjadi sebuah cerita, kenangan, kehidupan dan kisah cinta yang baru yang sayangnya tidak akan pernah bisa lagi untuk terjadi.
Masa lalu sudah terjadi dan menjadi history, kesempatan yang dulu pernah datang tidak bisa diulangi lagi, tidak ada remidi dalam ujian ini, waktu telah habis dan hari telah berakhir sementara sang pemuda hanya bisa diam dan menyesali keputusannya yang lebih memilih untuk tidak menjawab satu pertanyaan pun dalam ujian hari itu hari dimana seharusnya dia bisa mendapatkan nilai sempurna dan memperoleh hadiahnya, seorang gadis cantik dan ceria yang sayangnya terlalu cantik untuk dimiliki dan dihancurkan oleh dirinya sendiri. Oleh karena itu sang pemuda akhirnya lebih memilih untuk tidak memilih dalam pemilihan ini dan memutuskan untuk meninggalkan sang kekasih yang tidak pernah menjadi kekasih yang hanya akan berakhir menjadi sebuah fantasi atau bahkan delusi bagi seorang pemuda tanpa jati diri pada malam hari yang sepi.