Aku menyukainya semenjak dibangku kelas 9. Kurang lebih hampir 7 tahun aku menyimpan rasa padanya. Dia sebenarnya sudah tahu aku menyimpan rasa padanya. Hanya saja dia bingung cara mengungkapkannya padaku.
Kami menjalani HTS (Hubungan Tanpa Status) selama 8 bulan. Komunikasi lancar, dan selalu aku yang memulai percakapan. Iya, kami LDR karena berbeda kota.
Namun suatu saat, ntah kenapa aku punya firasat untuk melihat media sosial chat bewarna hijau.
Deg, foto profilnya tidak ada.
"HA?! Dia kenapa?", ucapku sedikit terkejut.
Aku langsung mengirimkan chat padanya,
"Kamu kenapa? Ada masalah?"
Dia membalas,
"Nothing, aman".
"Syukurlah, kamu masih balas pesanku. Aku kira ada sesuatu sama kamu".
Dia hanya mengirim stiker like.
"Mau telpon?".
Itulah kalimat terakhir yang ku kirim padanya. Setelah itu, chat berakhir dengan menampilkan ceklis dua.
Aku bertanya-tanya pada diriku, "Salahku apa? Kenapa tiba-tiba begini?".
Aku sama sekali tidak bisa menangis. Sudah beberapa kali aku tidak dihargai bahkan bisa dibilang hanya cinta dan berjuang sendirian.
Aku tidak pernah melarang atau pun posessif soal pergaulan atau pun kesibukannya.
Aku tahu, dia tidak menginginkanku.
Cukup menyakitkan...
Namun sepertinya, aku sudah mati rasa.
Setelah 2 hari kemudian...
Aku baru tahu dari fitur info dari media sosial itu. Dia mematikan tanda biru,
Chatku hanya dibaca.
Sudah saatnya aku mundur...