Malam itu, entah kenapa aku merasa sangat gelisah. Udara di sekitar kamar yang ukurannya cuma 3*3 meter ini pun seperti pengap, panas dan membuat keringatku tidak berhentinya mengucur.
Memang, di kamarku tidak ada pendingin ruangan, cuma kipas kecil yang menempel di dinding, itupun cuma udara panas yang keluar.
Aku terbangun, dan melepas kaos oblongku.
"Ah... Kenapa gerah sekali sih malam ini." Batinku.
Kebiasaanku memang, setiap mau tidur pasti aku matikan lampu kamar. Jadi saat ini pandanganku cukup terbatas.
Tangan ku mencari cari sesuatu di atas meja belajar yang letaknya menempel dengan kasurku. Jadi aku tidak perlu turun dari kasur.
Maksudnya, aku ingin mencari selembar kertas, atau buku yang tipis untuk aku gunakan sebagai kipas.
Tapi setelah tangan kananku meraba raba sekitaran meja belajar, aku tidak menemukan kertas atau buku sama sekali.
"Ah... Menyebalkan." Batinku lagi, sembari turun dari kasur dan pergi ke arah rak lemari buku yang berada di sebelah sisi satunya meja belajarku.
"Kok ada yang aneh?" Aku berbisik saat kakiku berhenti di depan meja belajarku, aku sama sekali tidak melihat barang barang yang biasanya aku simpan di atas meja belajarku. Biasanya aku menaruh beberapa buku, pulpen atau charger handphone dan beberapa hal lain di atas meja belajarku. Tapi kali ini aku tidak melihat apa apa, meja belajarku pun seperti baru.
Di tengah kegelapan ini, akhirnya aku memutuskan untuk menyalakan lampu kamarku. Saklar nya ada di ujung kamar dekat pintu masuk.
Lagi lagi ke anehan yang aku rasakan. Berkali kali aku coba menyalakan, tapi percuma, lampunya tidak menyala sama sekali.
"Kenapa sih? Rusak lampunya." Aku bertanya pada diriku sendiri.
Sampai akhirnya aku kembali memutuskan untuk naik ke atas kasur.
Tapi tiba tiba...
"ANDRA!"
Aku dikagetkan dengan suara keras yang tiba tiba memanggil namaku. Suaranya seperti tepat di telingaku.
Buku kudukku meremang. Cepat cepat aku menutup wajahku di balik selimut.
Jantungku benar benar tidak karuan seperti sedang adu lari.
"ANDRA!"
Lagi lagi suara itu terdengar, kali ini seperti nya semakin dekat. Masalahnya, aku sama sekali tidak mengenal suara ini. Bukan suara ayah atau ibuku. Suaranya seperti seorang kakek kakek sedikit serak dan menggema begitu keras seperti menggunakan microphone. aneh sekali.
Aku masih menyembunyikan kepala ku di balik selimut sampai akhirnya selimut yang ku gunakan sebagai pelindung, seperti di tarik seseorang dan,
Seketika aku terbangun dari tidurku.
Rupanya tadi itu cuma mimpi...
Keringatku bercucuran. Udaranya panas, sama seperti di mimpi ku. Aku mencari-cari kertas atau buku di meja belajarku lagi. Tapi lagi lagi aku tidak menemukannya.
Kali ini, aku meyakinkan diriku kalau ini bukan mimpi. Aku berjalan ke lemari tempat buku ku disimpan.
Lalu....
Kali ini bukan hanya suara, sesosok makhluk berjubah hitam pekat, wajahnya mengerikan, terlihat sekilas dari balik jubahnya, ia membawa tongkat dengan ujung seperti sebuah sabit yang tajam.
Tubuhku gemetar. Demi tuhan aku tidak bisa lari, sampai kemudisan makhluk itu tepat berdiri di sisi ku. Lalu, lampu kamar tiba tiba menyala.
Yang lebih membuat aku tidak bisa berkata kata adalah, saat suasana sekitar menjadi terang, aku melihat ibu dan ayahku menangis di samping kasurku. Dan, aku... Melihat diriku sendiri di atas kasur. Tubuh atau jasadku sendiri.
Makhluk berjubah itu kemudian melirik ke arahku, menyeringai memperlihatkan gigi giginya yang tajam, mulutnya yang seperti berdarah darah dengan wajah yang hancur penuh borok, perlahan semakin. Mendekati wajahku lalu....
Selesai.