Malam ini, aku disibukkan oleh skripsiku yang tak kunjung selesai. Alih alih mendapatkan pujian atau teguran lembut, melainkan dosen yang menyebalkan itu yang mencoretnya dengan spidol permanen saat di kampus.
Dengan kacamata tebalnya ia memeriksa tulisanku yang ada di atas meja hingga menundukkan kepalanya, hampir menyentuh lembar kerjaku. Sehingga kudapati pemandangan absurd bagaikan melihat pantat wajah baru yang masih mengkilap. Gemas rasanya, ingin aku melakukan hal itu, namun aku masih membutuhkan nilai darinya.
Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 23.34 namun aku masih saja menatap layar laptop, meskipun mataku sudah mulai terasa perih untuk tetap terjaga. Aku harus memaksakan diri karna aku ingin dapat segera mengakhiri penderitaan dalam pembuatan skripsi ini.
Tidak lama aku mendengar suara ayam jantan berkokok diluar, suaranya terasa jauh, namun aku dapat dengan jelas mendengarnya. Cukup membuat bulu kudukku berdiri, karena aku tau arti dari suara ini bila terdengar sebelum jam 12 malam dari salah satu buku fakta horor. Kupasangi kedua telingaku dengan earphone agar suara ayam itu dapat teralihkan oleh alunan musik dari payung teduh yang cukup menenangkan. Sedikit berbaring mungkin ide yang bagus.
🎶 Parararara... Parararara...
Aku ingin berjalan bersamamu
Di hujan dan malam gelap...
***
"Ah, dimana aku? Apakah ini mimpi?" Pikirku kebingungan. Aku menampar pipiku untuk memastikan, dan benar aku sedang bermimpi, karna tamparanku seakan tak mengenai apapun.
Sejauh yang aku lihat didalam mimpiku adalah pepohonan yang tinggi dan besar. Aku belum pernah tahu akan tempat ini sebelumnya. Sebaiknya aku harus mencari tahu.
Setelah aku berjalan sebentar, aku menemukan petunjuk akan keberadaanku. Kini aku sedang berada di kaki gunung, dan kulihat ada sekelompok pendaki yang hendak memulai perjalanannya. Ada 4 orang, oh bukan ada 5 orang. Kulihat dia baru saja muncul, karna tadi sempat terhalang dinding pos, mungkin dia sedang buang air kecil barusan. Karna aku tertarik, kuputuskan untuk mengikuti mereka mendaki gunung.
Sejauh ini tidak ada gurauan atau tawa diantara mereka, apakah mendaki gunung se-membosankan ini? Karna aku termasuk orang yang sangat suka berbicara, jadi aku membenci suasana ini.
Cukup jauh aku membuntuti mereka berjalan, dan sejauh ini pula aku masih sadar jika aku sedang di dalam mimpiku, jadi aku bisa dengan bebas terbangun apabila mimpi ini sangat membosankan. Tapi, hey tunggu! Kenapa orang itu berpisah dari teman temannya? Kulihat mereka juga tidak menyadari bahwa salah satu temannya mengambil jalur yang lain. Aku berteriak kepada mereka, namun sepertinya mereka tidak mendengarkan aku, dan tetap meneruskan perjalanannya menuju ke puncak gunung, begitu pula dengan orang itu, dia juga tetap mengambil jalur lain yang entah tujuannya kemana. Aku merasa terdorong untuk mengikutinya.
Sudah cukup jauh pula aku mengikutinya berjalan di jalur ini, sesekali aku berada di depannya dan melambaikan tanganku, meneriakinya tepat di telinga kanan dan kirinya. Namun orang itu tetap tidak mendengarkanku dan tetap berjalan dengan tatapan kosong kedepan.
Akhirnya dia berhenti di salah satu tempat yang menurutku tak lazim untuk berhenti. Tidak ada pos atau gubuk, namun ia melepaskan tas carriernya dan mengeluarkan secarik kertas dan bolpoint yang berada di bagian samping tasnya. Entah apa yang akan ia tulis, Aku memperhatikan tulisannya dan sepertinya aku mengenali isi dari tulisannya itu. Setelahnya, ia mengantongi tulisan itu. Lalu ia membuka lagi resleting carriernya yang ada di bagian paling besar, kulihat dia mengeluarkan seutas tali, untuk apa itu? Aku merasa ada yang tidak beres dengan kelakuan orang ini. Pertama ia menulis, kedua ia mengeluarkan tali.
Aku perhatikan, dia sekarang mulai memanjat pohon tempat ia bersandar. Sekarang dia berada di cabang pohon pertama ini, perlahan ia berjalan ke ujung cabang yang cukup tinggi dan segera mengikatkan talinya ke dahan pohon tersebut. Lalu dia membuat simpul, dan disitu aku mulai curiga.
Astaga, ternyata benar dugaanku. Dia hendak memakai simpul tali itu ke lehernya.
"Tidak! Jangan!" Teriakku yang berada tepat dibawanya. Melambai lambaikan tanganku dan melompat lompat meneriakinya agar mengurungkan niatnya itu. Namun apa yang aku lakukan ini tidak berguna. Dia seakan tidak mendengarku sama sekali.
Aku menjauh beberapa langkah darinya. Sehingga dia membelakangiku, aku pun ingat akan satu hal.
"Aku-kan sedang bermimpi? Sebaiknya segera bangun daripada harus melihat ini." Pikirku yang membuat sedikit perasaan lega.
"Ayo bangunlaah! Banguun! Aku tidak ingin menyaksikan ini!"
Sesekali aku melihatnya terdiam di atas pohon dengan tali simpul yang sudah melingkar di lehernya. Aku masih tetap berusaha untuk bangun dari mimpi buruk ini, aku menampari diriku sendiri di dalam mimpi namun tetap saja aku tidak bisa bangun. Ketakutanku semakin menjadi disaat ia mulai berdiri diatas dahan yang ia pijak. Dan semakin kuat aku menampar dan memukul kepalaku dengan apa saja agar aku terbangun. Namun itu tetap saja gagal, hingga aku melihatnya melompat dari pohon itu dan tubuhnya tergantung!
Pemandangan ini membuatku semakin tidak karuan, kulihat kakinya masih menggelinjang kuat seakan menahan kesakitan. Semakin lama gerakannya melemah, pelan, dan akhirnya berhenti.
Apa ini sebenarnya? Kenapa aku harus melihat gambaran ini di mimpiku? Aku masih bertanya tanya dan masih tetap berusaha dengan hal bodoh lainnya agar aku bisa cepat terbangun.
Kurasakan angin mulai berhembus kencang dari arah barat, sehingga kulihat tubuh orang itu terayun ayun oleh hembusan angin. Semakin ke kiri ia berputar, sedikit demi sedikit angin memutar tubuhnya dan dia sekarang menghadap ke arahku.
"AAAAA..." Aku berteriak ketakutan. Karna dia menatapku dengan mata yang seluruhnya hitam, dan mengeluarkan darah.
Dia tersenyum, lalu menyeringai dengan sangat lebar. Mulutnya sedikit demi sedikit terbuka, seperti berusaha ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Dan dengan suara paraunya ia pun berkata "Terimakasih".
🎶Tergoyang angin...
🎶Menantikaan, tubuuuhh ituuu... Akuuu ingin...
Segera aku melepas earphone dari telinga, dan kulihat layar handphone-ku, waktu masih menujukan pukul 2 dini hari. Terlihat juga layar lockscreen menampilkan cover lagu yang aku putar saat ini "Payung teduh- resah". Langsung saja aku menghapusnya dan tidak lagi untuk mendengarkan lagu itu, apalagi secara berulang ulang hingga aku tertidur. Tidak akan pernah!!!
TAMAT.