Beberapa hari yang lalu pemuda yang punya nama Masaji itu seperti wanita yang hamil muda punya keinginan melihat hewan melata. Aji merindukan bagaimana hewan panjang itu berjalan meliuk-liuk badannya seperti menari. Sewaktu kecil sering dia melihat binatang itu berkeliaran di sekitar rumahnya yang ada di perdesaan. Dan sekarang dia tinggal di kota di perumahan semua lahan padat dengan bangunan di mana dia akan bertemu ular dan melihatnya.
Sebagai pelampiasan keinginannya dia melihat-lihat di sosmed. Merambah dunia maya yang mengekspor hewan melata tersebut.
Hingga pada suatu sore ketika dia tengah melepas lelah sepulang dari kantor, terdengar bunyi bel berkali-kali. Masih dengan pakaian kerjanya dia keluar melihat tamunya.
Seorang gadis dengan kebingunan berdiri di luar pagar.
"Siapa ya ?"kata Aji bertanya pada gadis itu.
"Saya tersesat mas !"jawabnya singkat.
"Tersesat !"batin Aji. Masa gadis secantik dia tersesat. Jangan-jangan cuma modus. Banyak kejadian pura-pura ini juga punya maksud jahat pula.
Masaji hanya berdiri mematung di hadapan gadis cantik itu.
"Saya tersesat mas, saya mau pulang !"katanya kembali.
"Memang rumahnya mbak di mana ?"
Gadis itu mengatakan sesuatu yang tidak di pahaminya. Bagaimana mungkin dia bisa menunjukkan jalan pulang kepada gadis itu.
"Kalau mbak tidak tahu alamatnya, saya bisa kok mengantarkan mbaknya pulang !"
"Terima kasih mas, tapi boleh saya istirahat dulu di rumah mas !"
"Apa.....!"
Masaji terkejut mendengar permintaan gadis itu, tidak mengerti maksud dari gadis itu.
"Maksud saya cuma duduk sebentar, saya benar-benar capek telah berjalan jauh"
"Oh.......boleh-boleh, silahkan masuk !"
Masaji segera membuka pintu pagar dan mempersilahkan gadis itu masuk ke dalam rumahnya.
"Silahkan duduk !"katanya.
Gadis itu duduk di sebelah kursi yang ada si teras rumahnya. Gadis itu mengatur nafasnya yang masih terengah-engah karena perjalanan jauh.
"Tunggu sebentar aku ambilkan minum !"katanya. Dia tidak tega juga melihat kondisi gadis itu.
"Ayo di minum, cuma air putih !" katanya.
Dan gadis itu menerima segelas air putih yang di bawakan Aji, dan meminumnya sampai habis tak tersisa.
"Terima kasih atas airnya mas !"
Kini nafas gadis itu pelan-pelan kembali normal. Aji merasa heran gadis sebening dan secantik dia masa memakai pakaian jadul bermotif aneh pula. Bukan kembang-kembang berwarna cerah melainkan warna coklat kehitaman bulat pergaris kotak-kotak. Biar pakaian jadul tapi kecantikan gadis itu bersinar Aji mengakui itu.
"Aji bangun !"
Masaji tergeragap membuka kelopak matanya. Suasana di sekitarnya sudah mulai gelap.
"Kamu itu ya sembrono banget, baru di tinggal ibu keluar sebentar aja, pagar di biarin terbuka, ketiduran di teras pula !"
"Rumah juga masih keadaan gelap. Kalau capek tidur di dalam !"
Ibu Aji mengomeli tindakan Aji yang sembrono. Aji hanya tolah-toleh seperti orang linglung mendengar omelan ibunya.
"Apalagi Ji ?"tanya ibunya ikutan bingung.
"Gadis itu sudah pulang buk?"
"Gadis yang mana lagi ?"balik ibunya bertanya.
"Makanya magrib-magrib tidur, begini jadinya bangun-bangun linglung. Sana pergi mandi, tidak ada gadis yang bersama mu !"nasehat ibunya.
Aji masih kepikiran dengan gadis itu, kasihan juga kalau tadi di usir sama ibunya. Tetapi apa yang terjadi selanjutnya sampai dia ketiduran di teras. Pusing dia memikirkan itu semua, dan sebelum ibu mengomel kedua kalinya dia melangkah masuk rumah.
"Aji......sekalian gelasnya di bawa, ini belanjaan ibu banyak !"
Aji meraih gelas kosong bekas minum gadis itu dan membawanya. Masuk di nyalakan penerangan dalam rumah, juga teras yang masih gelap. Keadaan rumah menjadi terang, baru dia kekamar berganti pakaian dan mandi.
****
Dalam tidurnya Aji masih ada sesuatu yang melintas pahanya. Sesuatu yang di rasakannya panjang melintas dengan tenangnya sampai dia terbangun dari tidurnya. Dia buka selimutnya mencari-cari sesuatu tidak ada apa-apa. Yang dia rasakan tadi sepertinya ular, iya ular. Mana mungkin di lingkungannya ada ular berkeliaran. Aji melihat pintunya terbuka sedikit apa dia lupa semalam belum menutup pintunya dengan benar.
"Ji....bangun Ji ada ular !"teriak ibunya mengangetkannya.
Masih dengan kebingunan mendengar teriakan ibunya dengan apa yang dirasakan barusan.
"Ji.....ada ular di depan pintu kamar mu !"
"Iya buk, ibu ambil sapu atau apa tongkat !"kata Aji dalam kekagetannya.
Pelan-pelan Aji membuka pintu kamarnya, terlihat anak ular sudah lumayan besar berwarna hitam mengkilat meliuk-liuk dengan indahnya menuju kamarnya. Masaji menikmati keindahan dengan terpesona.
"Aji melongo aja, bunuh ular itu nanti masuk kolong tempat tidur mu !"teriak ibunya.
"Kasihan buk, dia juga ingin hidup seperti kita !"kata Aji.
"Gimana sih kamu ini, dia bisa bunuh kamu dengan gigitan berbisanya !"kata ibunya.
"Dia akan masuk ke kamarmu !"teriak ibunya.
"Tutup pintumu !" ibu masih terdengar dengan teriakannya.
Aji bergegas menutup pintunya, terlambat belum sepenuhnya pintu tertutup rapat ular itu telah masuk dengan menjulurkan badannya di sela-sela pintu yang akan tertutup, dengan eksotik.
"Awas lho Ji, masuk kolong tempat tidur susah carinya !"kata ibu.
"Pintunya tak buka buk, biar keluar !"kata Aji meraih penebali yang ada di kamarnya.
"Keluar ya cantik !"katanya dengan membuka daun pintu lebar-lebar.
Dengan penebah di tangannya dia mendorong ular itu keluar dari kamarnya.
"Bunuh Ji !" kata ibunya.
"Enggak mau kasihan buk !"balas Aji.
"Anak mental tahu, lembek !"kata ibunya jengkel.
Dengan ganas ibu Aji memukul kepala ular itu, membuat ular itu berhenti bergerak. Ibunya kembali mengangkat tongkat senjata andalan untuk memukul ular itu kembali. Secepatnya Aji menutupi ular itu dengan penebahnya.
"Sudah buk, sudah mati, kasihan !"
"Biar Aji buang di luar !"kata Aji membuka pintu depan. Saat membuka pintu.
"Ha....sudah pagi ! Jam berapa sekarang ?"katanya kaget melihat keluar sudah benderang.
"Kasihan juga nasibmu ular, kamu tersesat ini bukan habitatmu !"
Tersadar dengan kata-katanya dia mengamati ular yang sudah terdiam dengan kepala gepeng itu kembali. Kembali dia di kejutkan dengan pandangan matanya. Motif kulit ular itu sama persis dengan motif gaun yang di pakai gadis kemarin sore yang tersesat dan mampir ke rumahnya. "Jangan.... Jangan ?"
"Maaf aku tidak membunuhmu tapi ibu ! Kita bangsa manusia memang takut akan gigitanmu yang mematikan. Maafkan ibu kalau tak sengaja membunuhmu cantik !"
"Aji kamu bicara sama siapa ?"teriak ibunya dari dapur.
"Sama tetangga sebelah buk !"jawab Aji berbohong.
Sebelum ketahuan berbohong dan mendapat masalah lagi dari ibunya Masaji bergegas membawa ular itu keluar dan membuang di saluran got agak jauh dari rumahnya.
****
Tek....tek..tek....tek !
Terdengar suara memukul pagar membuat berisik.
"Siapa sih, membuat berisik saja, apa tidak tahu kalau ada bel !"kata Masaji keluar dengan mengomel sendiri.
Seorang ibu-ibu berdiri di depan pagar rumahnya. Dia surut, mundur beberapa langkah, takut untuk mendekati ibu itu.
Wajah ibu itu cantik, bersinar dan sorot matanya tajam menatapnya. Yang membuat langkahnya terhenti, adalah gaun yang di pakai wanita itu sama persis seperti milik gadis yang tersesat kemarin. Tiba-tiba dada Masaji berdesir aneh.
"Mas....saya bukan orang jahat !"kata ibu itu yang melihat Aji hanya berdiri diam menatapnya.
"Saya mau bicara sebentar mas. Boleh saya masuk ?"
"Tidak....!"cepat Aji menjawab permintaan ibu itu. Mendengar jawaban Aji wanita itu menatapnya tajam.
Masaji akhirnya melangkah juga mendekati wanita itu, tak baik menyambut seorang tamu seperti apa yang barusan dia lakukan.
"Sebelumnya saya minta maaf buk, tapi sepertinya saya tidak bisa mempersilahkan ibu masuk !"katanya baik-baik.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih pada mas Aji !"kata wanita itu tegas. Masaji memandang wanita itu penuh rasa heran.
"Terima kasih untuk apa ya buk ?"
"Mas ini telah menolong anak saya yang tersesat kemarin !"
"Anak ibu bukannya ?"
"Iya, mas Aji juga yang telah menyelamatkan anak saya dari pembunuhan"
Kata-kata wanita itu barusan Aji bernafas lega.
"Berarti anak ibu tidak mati ?"
"Iya, beruntung ibu bisa secepatnya menemukan dia ! Sekali lagi terima kasih ya mas !"
"Iya buk, siapa nama anak ibu ?"
"Intan, intan nama yang indah. Intan !"
"Hai bangun Aji....!"
Masaji menoleh kedalam rumah tidak terlihat ibunya, tapi benar-benar dia mendengar suara ibunya. Dia kembali menoleh pagar wanita itu sudah tidak ada di sana.
"Intan...intan !"Masaji menyebut nama itu.
"Bangun...bangun Aji !"
Masaji menutup mukanya yang kena cipratan air. Pelan-pelan dia membuka mata dan mengelap wajahnya. Dia melihat ibunya masih membawa gayung berisi air tentunya.
"Kamu itu kebiasaan magrib-magrib tidur, tidak kemarin, hari ini diulangi lagi !"
Dalam kesadarannya Aji duduk di sisi tempat tidur.
"Siapa Intan, tadi kamu ngelindur nyebut nama-nama Intan ?"tanya ibunya.
"Ular....!"jawab Aji singkat.
"Aji kamu waras tidak ?"
"Maksud Aji itu, teman sekantor Aji memelihara ular !"kata Aji berbohong.
"Aji...Aji makanya cepat cari pacar, kamu itu sudah waktunya nikah ! Biar pikiranmu tidak setres !"kata ibunya berlalu meninggalkan Aji yang masih kebingungan.
****
Beberapa hari kemudian di suatu pagi yang cerah Masaji tengah bermain futsal di tanah lapang bersama teman-temannya. Seperti cerahnya pagi seorang gadis cantik dengan gaun cerahnya berwarna kuning kontras dengan kulit kuning langsatnya menghampirinya yang tengah istirahat di pinggir lapangan.
"Hai...!"sapa gadis cantik itu.
"Hai juga !"balas Aji.
"Nama kamu Masaji kan. Lupa ya sama saya !"
"Iya !"balas Aji singkat.
"Bukan salah kamu sih, aku pengagum rahasia mu. Namaku Ino !"kata gadis cantik itu memperkenalkan diri.
Masaji terhipnotis memandang kecantikan gadis yang ada di hadapannya. Masaji benar-benar tidak bisa membedakan apa yang tengah terjadi padanya. Dibawah kesadarannya dia berharap ini adalah nyata bukan ilusi atau sekedar mimpi ?