Angin malam yang dingin berhembus menerbangkan rambut hitam ku yang lurus. Aku terdiam di pinggir jembatan sembari mengingat ucapan bunda satu jam yang lalu.
"Kita akan pindah ke Singapura."
Ucapan itu masih membekas dalam ingatan ku. Membuat ku tenggelam dalam lamunan.
"Kiano. Kiano ih melamun saja sih kamu. Kiano!" Bentakan itu menyadarkan ku.
Aku tersentak. "Eh, kau sudah datang?"
"Tentu saja! Kau fikir siapa yang ada di depan mu? Setan?" Sungut perempuan berambut cokelat itu.
Aku tertawa. Perempuan di depannya ini adalah cinta pertamanya. Satu tahun yang lalu, Kiano sempat tersesat saat pertama kali menginjakkan kaki di Bandung. Dan perempuan bernama Ica itu lah yang menyelamatkannya dan membawa ia kembali pulang kerumah.
Ku acak rambut indah yang sudah rapi itu, kegiatan ini adalah kesukaan ku setiap melihat raut wajahnya yang begitu imut.
Ica kemudian melihat kearah pemandangan jembatan itu yang begitu indah.
"Kau mempunyai masalah?" Tanya Ica.
"Hm." Aku bergumam membenarkan.
"Seberat apa itu? Kenapa hal itu membuat mu yang sabar menjadi begitu murung?"
"Aku akan pindah."
"Pindah ya tinggal pindah saja. Lagian zaman sekarang sudah maju, gampang pulang pergi. Kenapa kau terlalu memikirkan hal yang tidak penting!" Cerocos Ica.
Tidak penting?
Aku menghela nafas. Bagiku, kau begitu penting Ca. Kamu adalah pusat hidup ku. Bagaimana bisa aku bertahan hidup di sana tanpa mu?
"Oh iya." Katanya lagi. "Sebelum pindah. Beri aku uang dulu!" Pinta Ica.
Aku tidak keberatan. Uang ku banyak. Ica adalah tipe perempuan matre. Namun kejujuran dan kebaikan hatinya membuat ku jatuh cinta. Ica bukan orang yang licik. Hanya saja, dia gila uang. Tapi hal itu yang buat aku terpesona.
"Ini." Aku memberikan uang itu tanpa berfikir. Seperti biasanya, aku adalah mesin atm untuknya.
"Makasih."
🌼🌼🌼🌼
Bandara Soekarno Hatta
Kali ini aku tengah menunggu bersama adik perempuan ku.
"Kak lihat kesana." Seru Kiara.
Aku pun menoleh kearah yang di tunjuk Kiara. Tertegun. Itu adalah Ica bersama dengan seorang pria.
Pria itu terlihat gagah dengan seragam dinasnya. Mereke berciuman di tempat umum.
Tabrakan bibir seperti itu. Tidak mungkin dilakukan oleh adik dan kakak. Mereka pasti, sepasang kekasih.
Kiara menepuk pundak ku.
"Kak. Aku tau kakak patah hati. Tapi aku harap kakak tidak membuat masalah baru." Kiara menasehati.
"Kau fikir aku pria yang suka membuat masalah?" Aku mendelik kesal. Aku bukan pria bodoh.
Jika Ica tidak mencintai ku, aku tidak bisa memaksanya kan? Itu hanya akan membuat nya terluka. Dan aku tidak ingin hal itu terjadi.
"Bagus. Kakak memang yang terbaik! Lalu, kenapa kau sering membiarkan Ica menghamburkan uang mu?" Tanya Kiara penasaran.
"Uang itu hanya lah selembar kertas. Bisa di cari. Anggap saja itu sebagai balas budi kakak pada penolong kakak. Lagian, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi di masa depan."
Karena kita tidak akan bertemu lagi. Selamat tinggal, Ica. Terima kasih Jakarta. Sudah memberi kan aku pelajaran hidup, jika cinta tak harus memiliki.
_kopi susu27