Aroma obat-obatan memenuhi indra penciuman. Langkah kaki masih terdengar tampak ke sana kemari. Arloji yang setia pada dinding menunjukkan pukul 08.00. Seorang gadis terbaring di atas hospital bed sambil menatap langit-langit. Sesekali tangannya bergerak mengusap air mata yang jatuh tanpa sadar. Bayangan itu terus melintas di pikirannya.
Nasya, seorang gadis yang lahir di tengah keluarga pebisnis. Kedua orang tuanya selalu disibukkan dengan pekerjaan setiap harinya. Namun di tengah sibuknya bekerja,kedua orang tuanya selalu meluangkan waktu untuk sekadar menemaninya di rumah. Nasya jarang sekali keluar rumah siang hari. Iya lebih suka keluar malam hari.
Ia selalu merasa kesepian. Walaupun keinginannya selalu dituruti,tapi tetap saja yang diinginkan gadis tujuh belas tahun itu kasih sayang orang tua, bukan harta orang tua. Semenjak ia memasuki masa SMA, dirinya semakin bertambah liar tanpa arah. Ia memang sudah seperti itu sejak SMP,namun semasa itu masih bisa di tangani dengan ucapan. Kini setelah mengenal banyak lelaki dan pergaulan di luar sana, dirinya semakin hilang kendali. Sering pulang malam,pulang dalam keadaan mabuk,keluar masuk kantor polisi karena balap liar,dan sebagainya.
Nasya masih mematung dengan posisi duduk di atas hospital bed. Masa lalunya terus berputar dalam otak,bak film dalam bioskop. Sampai akhirnya,sebuah tangan mendarat di pundak kanannya. Ia menoleh.
"Kak Ilyas,"ucapnya.Laki-laki itu tersenyum teduh.
"Sudah makan?" tanya Ilyas tanpa melunturkan senyumannya. Gadis itu menggeleng.
"Makan dulu, yuk! Kakak bawa makanan kesukaan kamu." Ilyas memperlihatkan paper bag yang cukup besar dengan aroma makanan yang menguat, memenuhi indra penciuman. Namun gadis di depannya menggelengkan kepalanya lagi.
Nasya menatap kursi roda di samping tempat tidurnya. Ia menarik pegangannya, lalu perlahan mendudukkan dirinya pada kursi roda tersebut. Ilyas membantu menaikkan kedua kaki Nasya. Gadis itu mengambil notebook dan pulpen yang sejak dua minggu lalu menemaninya. Ada banyak rangkaian kata tertulis indah di sana.
"Kak,antarkan aku ke taman,"pinta Nasya.
"Mau ngapain? Di luar dingin. Cuacanya mendung, gak ada bintang," ucap Ilyas sambil berjongkok di depan Nasya mengingat gadis di depannya sangat menyukai bintang.
"Sebentar aja," ucap Nasya sambil memperlihatkan muka memohon. Ilyas menghembuskan napas pasrah,lalu berdiri dan mengambil jaket untuk adiknya.
Suasana masih sedikit ramai. Beberapa orang masih terlihat duduk di depan ruang pasien,di ruang tunggu,dan di sepanjang koridor juga masih ada orang yang berlalu lalang. Sampai di taman, suasananya memang sedikit dingin karena mendung. Embusan angin malam menerpa wajah Nasya. Ia menatap ke depan. Kepalanya sedikit nyeri. Mungkin karena luka di kepalanya belum sembuh total.
Tak berselang lama, bayangan itu muncul kembali. Bayangan yang selalu menghantui pikiran Nasya sejak dirinya terjaga oleh koma. Kecelakaan satu bulan yang lalu membuat Nasya sedikit kehilangan ingatannya. Namun ingatan saat di mana mobil ayahnya menabrak pohon,lalu terjun ke jurang dan meledak, masih tersimpan dan terus berputar setiap saat.
Apakah ini sebuah karma?
Kejadian itu terjadi tepat di depan matanya. Ia menjadi satu-satunya orang yang selamat dalam kecelakaan. Ya, kabarnya kedua orang tuanya ditemukan tiga hari setelah kejadian dan tentunya dalam keadaan tak bernyawa. Ia selamat, karena sempat keluar dari mobil dan tangannya meraih akar pohon yang cukup kuat.
Ia terus bergelantungan pada akar pohon. Tangan satunya mencoba meraih ponsel di saku celananya. Ia menekan beberapa nomor lalu memanggil. Terdengar jawaban dari seberang sana yang artinya orang itu sudah mengangkatnya. Nasya segera berteriak dan meminta tolong lalu menyebutkan lokasinya sekarang. Tangannya sudah basah karena keringat dan memutih, ia kehabisan tenaganya. Teriakkannya menggema saat pegangannya terlepas begitu saja. Tubuhnya jatuh di atas batu sepuluh meter dari posisi tadi. Darah segar mengalir di sana-sini.
Air matanya menetes tanpa henti. Kepalanya bertambah nyeri. Terbesit bayangan lain saat di mana Nasya membentak ayah dan ibunya karena tidak mau dimasukkan ke asrama. Adu mulut berselang cukup lama. Beberapa kata kasar melontar dari mulut Nasya. Ya,itu adalah bawaan pergaulannya selama ini. Ia bahkan berani membalas tamparan ibunya saat amarah ibunya memuncak. Ibunya menangis tersedu-sedu melihat kebrutalan anak gadisnya. Ia tak menyangka akan seburuk ini.
Sedangkan Nasya,dengan santai mengelap bercak darah di bibirnya akibat tamparan tadi. Tak setetes pun air mata keluar membasahi pipinya. Tak ada rasa bersalah sedikit pun pada diri Nasya. Ia sudah berubah. Nasya yang dulu penurut, sekarang sudah tidak bisa dikendalikan.
"Dik!"panggil Ilyas lembut, membuyarkan lamunan Nasya. Ia menoleh ke arah sang kakak dengan mata sembab.
"Kamu kenapa nangis? Bayangan itu lagi?"ucap Ilyas yang berlutut di depan Nasya, sambil mengusap air matanya. Nasya mengangguk.
Ilyas tersenyum teduh lalu memegang kedua pundak sang adik. "Sudah, tidak apa-apa. Semuanya sudah berlalu. Jangan terlalu dipikirkan. Huhh!! itu terlihat sangat melelahkan." Ilyas masih tersenyum.
"Ayah sama bunda sudah bahagia di sana. Mereka pasti bangga banget melihat kamu mau berubah jadi lebih baik,"ucap Ilyas menenangkan. Nasya mengangguk.
Di lubuk hati terdalamnya,ia masih sangat merasa bersalah. Ia yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Kalau saja dirinya tidak memberontak minta diturunkan dan tidak menggangu fokus ayahnya, pasti mereka masih bisa bersama. Tapi kembali lagi, apakah sifat Nasya juga akan lebih baik? Jika tidak, maka sama saja. Kematian orang tuanya ada hikmahnya. Ia berubah menjadi lebih baik, walaupun dengan alasan karena menyesal. Tapi jika itu terjadi, entah sampai kapan Nasya mau menyadari kalau perbuatannya selama ini salah. Semua kejadian pasti memiliki hikmah yang baik.
"Gerimis,Dik, masuk yuk!"ajak Ilyas.
Nasya menggeleng lemah. "Nanti, tolong antarkan ke sana,"pinta Nasya sambil menunjuk meja bundar tanpa kursi. Ilyas mengangguk mengiyakan.
Nasya membuka notebook-nya, lalu mulai menulis. Ilyas duduk di kursi kayu panjang tak jauh dari meja Nasya. Ia mencoba menikmati hawa dingin angin dan gemercik air gerimis. Sesekali ia tersenyum ke arah sang adik. Sedangkan Nasya masih berkutat dengan pikirannya. Belum ada kata-kata yang melintas.
Sampai akhirnya hujan turun lumayan deras dan tangannya mulai bergerak.
Hujan jatuh mengawetkan luka, semakin menambah suasana duka. Semburat pilu tak kunjung sirna.
Kini, aku menatap dunia menjadi hitam. Bening air netra membuatku tenggelam. Apa ini yang disebut luka paling dalam?
Kini, aku menatap dunia menjadi hitam. Bening air netra membuatku tenggelam. Apa ini yang disebut luka paling dalam?
Tak sanggup lagi merasakan sakit yang menghujam.
Tulisannya, ia tersenyum paksa dengan air mata yang terus membasahi pipinya. Perlahan matanya terasa sedikit berat.
Pandangannya mulai rabun. Perlahan juga kepalanya mendarat di atas telapak tangannya. Ilyas yang melihat itu segera beranjak mendekati sang adik. Terlihat garis kelelahan di wajahnya. Ia tersenyum lembut, lalu tangannya menepuk pelan bahu sang adik.
"Dik, bangun! Tidurnya di kamar. Di sini dingin, nanti kamu tambah sakit,"ucap Ilyas sambil terus menepuk pelan pundak Nasya.
"Dik!"panggil Ilyas dengan menaikkan nadanya, namun yang dipanggil masih tidak bergerak atau merespon sedikit pun.
"Dik, jangan bercanda! Gak lucu,ish!" ucap Ilyas masih berusaha membangunkan Nasya dan berusaha untuk positif thinking. Namun nihil, tak ada sedikit pun tanda-tanda Nasya meresponnya.
Ilyas mengambil tangan adiknya yang masih memegang pulpen, lalu meraba denyut nadinya. Ilyas mematung di tempat sambil melihat wajah sang adik. Ia tidak merasakan ada denyutan di pergelangan tangan Nasya. Ia masih tetap berusaha positif thinking, lalu memeriksa denyut di leher sang adik. Suhu tubuh Nasya semakin menurun, dan tidak ada satu pun denyut nadi yang terasa di jari Ilyas.
Tak terasa netranya mengeluarkan cairan bening,lalu perlahan membasahi pipinya. Ia memegang erat tangan sang adik sambil terus menciumnya. Tangan mungil itu semakin dingin dan bibir yang tadinya berwarna merah muda Kini perlahan memucat dan membiru. Adiknya benar-benar pergi meninggalkannya. Adik kecilnya sudah beristirahat dari lelahnya penyesalan.
Sekarang,ia seorang diri. Adiknya sudah menyusul orang tuanya dan beristirahat dengan tenang tanpa dihantui rasa bersalah dan bayangan masa lalu lagi. Nasya kecilnya sudah beristirahat untuk selamanya.
"Selamat tidur,Adik kecil," bisik Ilyas di telinga Nasya sambil memeluk erat tubuh sang adik.
Tamat.