Ini bukan kisah pada zaman dahulu ..... Kisah ini berawal dari saat gua bertemu dengan seorang wanita yang begitu jahat menurut pemikiran gua.
Kala itu, gua berteman dengan seorang gadis yang memiliki senyum yang bisa mengalihkan dunia seseorang, yaitu gua. Awalnya tak ada yang salah dalam pertemanan kita. Sampai gua ... memasukan rasa sayang dan ingin memiliki dalam pertemanan itu.
Tak ada yang salah menurut gua dari rasa yang timbul begitu saja di hati gua ini, ya 'kan?
Lama gua melakukan pedekate ke dia. Dia orangnya asik diajak ngobrol. Bukan hanya itu, dia juga bisa banget buat gua nyaman, banyak bicara dengannya.
Namun, lama-kelamaan, gua merasa ada kejenuhan dalam hubungan ini. Dia yang tak pernah mau kalau gua ajak keluar untuk sekedar jalan-jalan, membuat gua seperti dia bukanlah orang yang gua mau lagi.
Belum lagi, dia yang tidak pernah mau mempersilahkan gua masuk ke dalam rumahnya saat gua main. Dia selalu menyambut gua hanya sampai teras rumahnya doang. Ya ... walaupun, dia selalu menyediakan minum serta camilan sih.
Menurut gua, dia terlalu membentengi dirinya. Seharusnya gua senang dong ya? Ini memang dasar otak guanya aja yang tidak beres.
Sampai suatu ketika, gua tidak lagi menghubungi dia. Tidak bertukar pesan ataupun menghubungi apalagi video call dengannya.
Sebisa mungkin gua tahan tangan gua biar tak lancang, berbuat sesuka hati. Tuh cewek idaman gua emang pernah kirim pesan ke gua. Nanyain kabar gua. Gua seneng. Tapi, berhubung gua lagi mikir mau lanjut apa tidak untuk mengejar dia, gua cuekin deh pesan itu.
Gua pikir, akan ada pesan-pesan yang lain untuk mengetahui setidaknya kabar atau ingin tahu alasan apa yang buat gua menghilang bak ditelan dinosaurus.
Tapi, harapan memang selalu tak seindah kenyataan. Semakin gua menghilang kek hantu, dia balas menghilang juga. Emang tuh cewek berhasil banget bikin gua frustrasi sampai ingin gila.
Di suatu weekend, gua yang lagi nongki bareng temen-temen gua, nggak sengaja bertemu tatap dengan cewek cantik yang sebenarnya selalu gua puja-puja itu.
Hati gua yang selalu berdebar kek genderang mau perang ketika melihat dia yang selalu cantik ingin sekali menghampiri dan bilang,"Hai! Long time no see."
Meski gua nggak terlalu bisa ngucapin tuh bahasa Inggris, gua mau mengucapkannya pokoknya, biar keren di denger. Tapi, keknya gengsi gua ngalahin keinginan hati gua.
Gua pura-pura aja nggak lihat dia. Parahnya, saat dia yang kayaknya ingin pergi, melewati meja tempat gua dan temen-temen gua asik ngobrolin jahatnya dunia, dia cuma lewat doang kek nggak kenal sama gua. Jahat banget kan dia?
Ingin nangis Bombay aja deh keknya gua. Tapi, malu. Sudah sebesar Godzilla masih mewek dicuekin cewek. Dah lah ....
Gua kejar aja dong dianya. Sampai di parkiran, dia yang sudah menghampiri tukang ojek, gua panggil.
"Ri ...."
Cewek cantik itu menoleh. Tak lupa senyuman yang selalu membuat gua lupa dunia itu ia tampilkan. Sebel bet gua. Pengen jual mahal, jadi balas senyum juga. Murahan bet emang hati Abang."Ya, kenapa?"
Dia malah balas dengan bertanya. Kenapa? Kenapa apanya coba? Gua yang ingin sok cool ini melipat tangan gua ke dada."Sorry nggak kasih kabar ke kamu. Aku pikir hubungan kita nggak bisa dilanjutin lagi."
Walau hati ini menangis, entah kenapa gua bilang begitu. Ini gua nggak sedang kesurupan kan ya?
Tak ada satu katapun terucap sampai beberapa detik kemudian, dia kembali mengulas senyum. Nih cewek hobi banget senyum, pikir gua. Sampai timbul rasa tak suka kalau dia sampai senyum ke orang lain, terlebih ke cowok lain.
Emang seaneh itu hidup gua ternyata.
Tapi, kalau dipikir-pikir, gua dan dia emang nggak ada hubungan apa-apa selain pertemanan. Jadi, hubungan apa yang nggak bisa gua lanjutin? Kok gua jadi kek orang beg* ya.
"Oke."
Dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkannya ke gua. Dia buka kontak nomor gua dan langsung memblokirnya.
Wah! Gua sampai melongo karena terlalu kagum dengan sikapnya yang terlalu sat set. Semudah itu dia memblokir nomor gua. Apalagi memblokir gua dari hidupnya dia. Ya Allah ... Ini gua harus ketawa atau menangis ya???
Seminggu sudah berlalu sejak pertemuan gua dengan wanita jahat itu. Tiap malam, gua selalu memikirkan dia sebelum tidur dan selalu ingin menghubungi tuh cewek.
"Dasar jahat! Dasar jahat!"
Selalu itu yang gua gumamkan. Padahal, kayaknya gua yang jahat. Ya udah, sih!!! Gua harus move on.
Naas, yang terjadi, justru gua semakin kepikiran dan menyesal setiap ingat dia."Apa gua kena peletnya dia yah?"
Omong kosong macam apa ini? Sempat-sempatnya pikiran jahat itu mampir ke otak gua disaat gua tahu sendiri bagaimana taatnya dia.
Merasa sangat terluka ketika tanpa sengaja gua melihat dia tertawa lepas bersama seorang pria di teras rumahnya, gua merasa patah hati. Gua sengaja jalan lewat depan rumahnya cuma untuk melihat keadaannya. Sudah kek stalker aja gua saat ini.
Gua rasanya ingin sekali menculik dia lalu menikahinya saat itu juga. Terserah dia mau atau tidak. Gua akan buat dia merasa sangat terikat dengan gua dengan melahirkan anak-anak gua.
Tapi, lagi-lagi gua ternyata masih punya hati nurani. Aduh! Sebenarnya gua tuh baik banget aslinya, ganteng pula tuh. Malah muji diri sendiri kan gua.
Akhirnya, gua pulang dengan hati yang patah."Bisa-bisanya dia bahagia diatas sengsaranya gua merindukan dia,"lirih gua meremas dada. Sakit kali hati ini ...
Meski gua sakit hati, gua nggak seperti orang lain yang berlari ke hal yang negatif. Seperti minum atau ngobat. No, tentu saja tidak. Gua bertekad dalam hati, gua akan balas dendam pada tuh cewek.
"Ha ... Ha ...,"gua tersenyum miring mengingat tawanya tadi."Cih, tunggu pembalasanku!"kataku berdecih kek penjahat dalam sinetron.
Jam dua pagi alarm yang sudah gua stel, berdering membangunkan gua. Seperti hamba yang Soleh, gua langsung terbangun dan menyiapkan diri. Sholat tahajud sudah gua lakukan. Diakhir doa, gua mulai melancarkan balas dendam gua. Gua minta ke yang maha kuasa agar cewek cantik dengan senyuman indah itu jadi jodoh gua.
Hem ... Rasain Lo, girang gua dalam hati.
Tiap malam gua selalu balas dendam ke dia. Namun, sepertinya Tuhan belum merestui. Hampir delapan bulan gua balas dendam, tapi kayaknya Tuhan masih menguji kesabaran gua.
Akhirnya, gua mengalah dan memilih pindah. Kebetulan gua juga dipindah tugaskan ke pusat, di luar kota.
Dua tahun sudah gua pindah. Tak ada banyak perubahan. Hidup gua masih gitu-gitu aja. Kek nggak ada warna gitu. Gua memang sedikit melupakan, sedikit ... banget.
Lebih sering ingetnya sih dari pada lupanya.
Di saat gua pikir gua sudah move on, mata gua yang sangat tajam ini tanpa sengaja melihat sosok wajah yang selalu ada dalam hati serta pikiran gua selama ini.
Kek bayang-bayang, dia selalu mengikuti gua ke manapun gua pergi. Kesel bet gua rasanya. Kenapa dia lagi, dia lagi sih? Mana makin cantik lagi tuh orang. Sekarang dia sudah berhijab pula. Tambah ingin gua culik aja deh dia ini.
Tak ingin kek dulu lagi, gua akhirnya membututi dia dan mencari tahu bagaimana keadaannya, masih sendiri kah dia?
Pokoknya, semua tentang dia gua harus tahu. Gua ngeri sendiri sebenarnya dengan diri gua sendiri yang seperti ini. Tapi, gua harus melakukan ini agar tidak ada penyesalan lagi.
Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, gua mulai kembali membalas dendam. Gua berdoa lebih keras untuk namanya. Tanpa pedekate kek remaja ababil, gua langsung minta dia ke orang tuanya. Gua merasa jadi pria sejati sekarang.
Bahagianya, dia pun menyetujui lamaran gua.
Alhamdulillah ya Allah ....
Langsung saja gua bersujud, bersyukur untuk setiap doa yang Allah kabulkan.
Lima tahun kemudian, anak kedua kami lahir dan, seperti balas dendam yang telah gua rencanakan, gua akan mengikat tuh cewek pujaan hati gua dengan banyak anak. Ya ... Setidaknya tiga cukuplah ya ... untuk mengikat dia untuk tidak akan pernah meninggalkan gua.
Sambil menggendong anak gua yang baru lahir, gua tatap istri cantik nan Sholehah itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Inilah balas dendam gua ke elu. Hiduplah bahagia dengan gua sampai menua,"lirih gua menahan haru.
Inilah Kisahku ....
Ku menangis ....
(Jangan nyanyi, please!)