Aku mempunyai seorang ibu, dia adalah seorang pejuang yang berusaha keras untuk membahagiakan anak anaknya. Dia begitu berhati lembut, tak peduli seberapa durhakanya anak anaknya dia tetap menyayanginya.
Aku begitu bangga kepadanya
Ibu ayah dan kakakku sering bertengkar, mereka tak pernah memihak pendapat ibuku.
Bagi mereka ibuku selalu berkata salah.
Ibuku adalah tulang punggung keluarga, dua Kaka perempuanku membantunya bekerja, sedangkan ayahku tak punya penghasilan dan tidak bekerja. Begitu pula dengan kakak laki lakiku.
Bukannya suamiya yang pergi kerja untuk menafkahi istri dan anaknya?
Tapi mengapa seorang wanita yang harus bekerja.
Dunia ini memang sudah terbalik.
Kakak pertamaku adalah orang yang berhati keras, salah caranya untuk mendidik orang. Nasihatnya selalu nada tinggi.
Ada suatu hari yang dimana ibuku sudah tak sanggup untuk menahan air matanya.
Kakaku selalu saja memarahi ibuku, aku juga tidak tau, dia itu marah atau menasihati. Tapi bukannya jika nada suaramu sudah tinggi dibanding nada suara orang tuamu, bukannya itu sudah termasuk durhaka?
Ibuku selalu dianggap remeh, seakan dia tidak tau seberapa besarnya perjuangan seorang ibu membesarkan anak anaknya.
Dimalam itu pula, ibuku menangis tersedu sedu, mengungkapkan semua isi hatinya, yang seharusnya mereka sudah tau.
Kakakku masih melawan, dia terus saja seakan mmbentak ibuku.
Saat melihat ibuku menangis, aku tak punya pilihan lain selain terdiam. Aku yang saat itu sedang belajar, tak bisa menahan air mataku dan ikut menangis, ku tutup wajahku dengan bukuku. Meneteskan air mataku, rasanya sangat sakit melihat mereka bertengkar.
Aku menangis karena aku memihak ibuku.
Ibuku pernah cerita, bahwa dia sangat begitu menahan air matanya menetes akibat perlakuan putrinya. Dia berkata, bahwa dia tidak ingin membuat anaknya berdosa dan masuk keneraka. Tapi tetap saja, putrinya sudah termasuk anak durhaka.
Ibu, aku begitu menyayangimu, kuatlah Bu, ibu pasti bisa menghadapi cobaan dari Allah. Ibu semangatlah