kicauan burung pagi begitu merdu terdengar, matahari mulai memancarkan sinarnya melalui sela sela jendela rumahku.
" Dimas bangun nak sudah siang " seruku membangunkan putraku dimas
" masih ngantuk bu... " sambil menutupi cahaya yang memasuki jendela kamarnya
" sayang ga boleh males malesan gitu donk walau hari libur, " sahutku pelan sambil membuka selimut yang menutupi mukanya.
" iya bu dimas bangun" sambil mengucek ngucek matanya
" mandi dulu sanah terus sarapan nanti anterin ibu ke pasar yah"
" iya bu. "
dimas pun bergegas mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. 30 menit kemudian sudah di meja makan.
" bu ayah kapan pulang dimas rindu "
aku yang mendengar pertanyaan dari putraku selalu sedih yang menanyakan ayah kapan pulang, sejak seminggu yang lalu ayah dimas belum ada kabar , dia seorang petugas pemadam kebakaran. seminggu yang lalu dia di tugaskan di luar kota, tetapi sejak kepergiannya belum ada kabar sama sekali. seketika aku terdiam dan mengalihkan pembicaraan dimas
" kita sarapan dulu ya nak, nanti temenin ibu ke pasar beli sayur. "
" bu dimas tanya ayah kapan pulang kenapa ibu selalu mengalihkan.? "
" nanti coba ibu telfon ayah ya semoga secepatnya pulang, kamu jangan cemas ya nak ayo makan"
dimas pun mulai menyantap sarapan yang sudah ku ambilkan ke dalam piringnya. setelah selesai makan kita pun pergi ke pasar untuk membeli sayur dan kebutuhan sehari hari kita
" bu kita mau beli apa dulu bu.? "
" kita ke sebelah sana dulu yuk nak ibu mau beli ikan sama cumi"
" baik bu dimas temenin. "
saat sedang menunggu ikan yang sedang di bersihkan, ada tetangga yang sedang d pasar juga menyapa dimas dan ibu Ratna
" eh dimas, bu Ratna lagi belanja juga"
" eh bu sumi iya bu lagi beli ikan, ibu sendirian belanjanya ?"
" nggak bu saya sama anak saya sama suami saya tuh di sana ,anak saya td lagi mau beli kaos bola yaudh deh saya nunggu d sini sambil beli ikan, biasa ayah sama anak se hobi jadinya gitu deh" sambil menunjukan keberadaan anak dan suaminya
" oh iya ya bu, saya udh, duluan ya bu " pamit bu saya pada bu sumi
" eh iya bu Ratna silahkan "
sepulang dari pasar mengingat kejadian tadi dimas mengeluh "kapan ya bu dimas bisa seperti anto anak bu sumi yang bisa kepasar bareng beli baju bola bareng bisa main bareng, dimas juga mau bu. ayah kenapa ga pulang pulang " keluh dimas sambil masuk ke kamar
aku hanya terdiam dan sedih mendengar keinginan putraku " kamu kemana mas, kenapa masih belum ada kabar sampai sekarang? kamu tidak apa apakan? aku khawatir, " isakku dalam hati
Senin pagi dimas pamit untuk pergi kesekolah.
" Bu dimas berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum " pamit dimas sambil mencium tangan ku
" Iya nak kamu hati" ya ,belajar yang pinter Walaikumsalam " Jawabku
Aku pun kembali dengan rutinitas ku membereskan rumah, mencuci dan memasak untuk makan siang nanti. saat aku sedang menjemur pakaian tiba-tiba ada 2 orang yng bertamu
" Selamat siang bu apa benar ini rumah pa gunawan.? "
" Iya betul saya Ratna istrinya pa gunawan, maaf kalian siapa ya.? " Tanyaku kepada dua orang yang datang
" Oh iya ibu maaf kami rekan kerja pak gunawan yang di utus dari kantor, sebelumnya kami minta maaf Bu"
" Ada apa dengan suami saya. ? Satu minggu lebih suami saya nggak ada kabar, bagaimana keadaan dia.? " tutur saya panik
" Tunggu ibu, ibu yang tenang ya, begini bu, satu minggu yang lalu suami ibu di tugaskan di luar kota untuk bertugas disana, tapi saat bertugas memadamkan api di hutan ada kecelakaan sehingga suami ibu harus di larikan ke rumah sakit dan sekarang ada di UGD, "
aku yang mendengarnya langsung syok.
" lalu bagaimana keadan suami saya kenapa tidak ada yang menghubungi saya kenapa baru sekarang.?!"
" maaf Bu kita baru sempet mengabari ibu karena suami ibu baru di pindahkan kemarin ke sini bu"
" antarkan saya ke rumah sakit "
aku pun di antarkan kedua rekan kerja suamiku ke rumah sakit dimana suamiku di rawat. sesampai di rumah sakit aku hanya bisa menatap suamiku yang terbaring lemah, dengan selang infus di tangannya, dan alat bantu pernafasan di hidungnya,raut wajah yang lelah, tubuh yang biasa selalu bekerja keras demi menghidupi keluarga kecil kami, tangan yang sllu bekerja demi sesuap nasi, mata yang selalu memancarkan keindahan, bibir yang selalu memberikan senyuman indah sekarang kau nampak tak berdaya suamiku, aku yakin kamu akan kembali menjadi tulang punggung keluarga seperti dulu yang tegar ,yang kuat dan selalu ada buat aku juga dimas putra kita. "
Waktu menunjukan pukul 14.00 dimas sudah pulang.
Aku pun kembali ke rumah untuk menjemput dimas
" Assalamu'alaikum bu... "
" waalaikumsalam " jawabku sambil tersenyum manis
" ibu kenapa koq mukanya pucet, sedih kaya yang abis nangis.? ibu sakit.? "
" nggak sayang, kamu ganti baju dulu ya trus makan nanti kita pergi"
" kita mau kemana bu.? "
" kamu ganti baju aja dulu nak, nanti ibu jelaskan "
" baik bu. "
setelah dimas mengganti pakaian nya dimas pun menuju meja makan menyantap makan siang yang sudah aku siapkan.
" kita mau kemana bu" tanya dimas sambil membereskan piring bekas makannya
" kita mau ke rumah sakit sayang " jawabku smbil senyum menahan kesedihan
" emang siapa yang sakit bu.? "
aku hanya menghembuskan nafas, sambil tersenyum
" ayahmu nak, dia sedang d rawat di sana " aku tak bisa menahan tangisku hingga satu tetes air mataku terjatuh. dimas masih tertegun seolah tidak percaya.
" bu.?! " dimas menatapku lekat lekat.
" iya nak, ayah sedang di rawat di rumah sakit " tegas ku sambil memeluk dimas
"ayah kenapa bu, ayah kenapa.? " triak dimas sambil menangis dalam pelukanku.
" ayahmu kuat nak, kita doakaan yang terbaik ya nak kamu yang sabar, " aku menenangkan putraku.
akupun bergegas pergi ke rumah sakit bersama putraku. sesampai di rumah sakit kita tidak di izinkan masuk karna kondisi suamiku makin melemah.
" maaf ibu tunggu di sini dulu ya biar dokter yang menangani " ujar suster
" bu bagaimana keadaan ayah bu dimas mau bertemu, hiks "isak dimas di pelukanku
" kita doakan yang terbaik ya sayang " aku berusaha menengkan putraku
tidak lama kemudian rekan suamiku datang bersama kepala pemadam kebaran di kantornya
" selamat siang bu Ratna " sapa pimpinan kerja suami saya
" siang komandan "
" saya benar-benar minta maaf atas semua musibah ini, semua di luar kendali kami bu"
" iya pa saya mengerti "
tidak lama kemudian dokter keluar dari ruangan,
" dok gimana keadaan suamii saya.? "
" suami ibu tadi sempat ngedrop denyut nadinya melemah, tatapi Alhamdulillah sekarang sudah setabil, "
" dok apa saya boleh melihat ayah saya"
" iya boleh silahkan"
dimas langsung memasuki ruangan ICU aku bisa melihat bagaimana kerinduannya pada ayahnya, dari cara dia menatap wajah ayahnya, mencium tangan dan jidat ayahnya yang penuh dengan kasih sayang dan kerinduan.
satu minggu berlalu akhirnya suamiku bisa d bawa pulang dan melakukan rawat jalan.
" Terima kasih ya dok, kami pamit dulu "
" iya bu, jangan lupa setiap bulan check up ya, cepet sembuh ya pak gunawan " ujar dokter yang merawat suamiku
" akhirnya kita bisa bersama sama kembali ya bu "
" iya mas, "
" dimas seneng akhirnya bisa ketemu ayah, bisa bersama ayah lagi"
" iya nak ayah juga seneng banget, "
sesampai di rumah dimas membantu ibunya untuk menemani ayahnya
" dimas, kamu temani ayah dulu ya, bantuin ayah ibu mau ke warung dulu sebentar "
" iya bu. "
dimas pun menemani ayahnya yang masih belum benar-benar pulih,
" ayah mau makan sekarang.? "
" tidak nak ayah belum lapar, gimana sekolah kamu nak, maaf ya ayah lama ga kasih kamu kabar bikin kamu khawatir sama ibu, "
" iya yah dimas kangen sama ayah, dimas khawatir sama ayah, ayah cepat sembuh ya. " ujar dimas sambil memeluk ayahnya
" Iyah ayah janji, kamu cowo kamu itu calon pemimpin ngga boleh nangis, ngga boleh cengeng harus kuat yah, " pa gunawan menyemangati putranya
Hari hari dimas kini di lalui bersama ayahnya wajah ceria seperti dulu kini kembali, aku ikut bahagia melihat kebahagiaan putraku bersama suamiku, mereka selalu kompak, dimas selalu membantu ayahnya dari menyuapi makan, membantu mengganti baju untuk ayahnya.
" bu... ibu ngelamun ya"
" ehh... enggak koq nak, kamu udah selesai ngerjain tugasnya" tanyaku pada putraku
" udah bu, "
" makasih ya sayang kamu selalu bantu ibu ngerawat ayah kamu, ibu jadi merepotkan kamu"
" kan kewajiban dimas bu, dimas harus berbakti sama ayah dan ibu, ayah dan ibu yang sudah membesarkan dimas yang merawat dimas dari kecil"
" lagi pada ngobrolin apa si" tanya suamiku keluar dari kamar langsung ikut duduk di ruang televisi
" enggak mas "
" Ratna, dimas makasih yah selama ayah sakit kalian merawat ayah makasih sudah di repotkan sama ayah "
" nggak mas, itukan kewajiban aku mas sebagai istri"
" dimas nggak ngerasa di repotkan yah, udah kewajiban dimas juga buat ngerawat ayah, ayah kan sudah susah payah cari uang buat biayain dimas"
" Terima kasih ya sayangku kalian harta paling berharga yang ayah punya ayah sangat sayang sama kalian " ucap suamiku sambil memelukku dan dimas
" iya mas makasih juga mas "
Pagi saat dimas akan berangkat sekolah, dimas sudah siap dengan seragamnya
" wah anak ayah udah ganteng nih udah siap pergi ke sekolah"
" siap dong yah "
" kita sarapan dulu yu, udah siap nih makanannya "
" siap bu, "
setelah sarapan dimas pun pergi kesekolah di antar oleh suamiku selama masa pemulihan dimas menikmati kesehariannya bersama ayahnya. hingga waktunya suamiku bertugas kembali, ada sedikit kegelisahan, kekhawatiran dengan pekerjaan suamiku tapi itu lah resiko kerjaan suamiku mau gimanapun itu tetap tanggung jawab nya. aku hanya bisa mendoakan bersama dimas.
satu bulan telah berlalu dimas menikmati kebersamaan bersama ayahnya dan kini ayahnya harus bertugas kembali
" dimas kamu baik baik yah jangan nakal jagain ibu yah, yang pinter sekolahnya " pesan suamiku pada putra Kami
" iya yah, selesai tugas ayah cepat pulang yah"
" Iyah sayang pasti ayah langsung pulang do'ain yah"
" istriku aku pamit yah baik baik di rumah setelah selesai secepatnya aku pulang untuk kalian"
" iya mas hati hati yah doa kita selalu menyertaimu "
kami pun melepas kepergian suamiku, dimas masih menatap dengan penuh kerinduan rasa berat untuk melepasnya
" sudah ayo masuk nak, ayah pasti akan cepat pulang "
dimas pun masuk kerumah dia langsung menuju kamar "kata ayah aku ngga boleh cengeng, harus kuat " tutur dimas dalam hati.
dimas menjalani hari harinya seperti biasa tanpa mengeluh dan menanyakan ayahnya kapan pulang,
" pagi bu... "
" pagi nak, tumben udah rapih "
" eh iya bu ini ada surat dari sekolah "
" surat apa nak.? " aku mengambil surat yang dimas sodorkan sambil mengernyutkan dahiku
" surat undangan bu kan ujiannya udah selesai tinggal pengumuman kelulusan, itu surat undangan orang tua bu, ibu bisa hadirkan " tanya dimas sambil menyunggingkan bibirnya
" pasti sayang " sambil membelai rambut putraku
setelah dimas berangkat ke sekolah aku sedang menyapu halaman rumah, aku terkejut dengan kehadiran seseorang
" assalamu'alaikum "
" Walaikumsalam " aku pun menengok sosok yang memberi salam. Mas gunawan aku terkejut melihatnya
" Mas kenapa kamu nggak kasih kabar kalo pulang.? "
" Kan surprise, bagaimana kabar kalian.? "
" Baik mas, mas gimana kerjaannya "
" Syukurlah, baik mulai sekarang aku d tugaskan d dalam kota jadi bisa berkumpul bersama kalian lagi " Jelas suamiku sambil memeluku,
" Alhamdulillah mas. Aku seneng mendengar kabarnya "
Sepulang sekolah dimas langsung masuk ke rumah tanpa mengucap salam karena sudah tidak tahan ingin segera melegakan tenggorokannya. Saat dimas di dapur menengguk segelas air putih, dimas terkejut melihat kehadiran ayahnya yang sedang mengambil makanan di dalam kulkas.
" Ayah " Panggil dimas
" Dimas kamu sudah pulang "
" Ayah kapan pulang "
" Tadi pagi hehehe ganti baju dulu sanah keingetan gitu "
" Eh iya ayah hehe dimas bersih bersih dulu ya "
Setelah dimas mengganti pakaiannya dimas pun keluar dari kamarnya dan duduk di meja makan bersamaku dan ayahnya
" Dimas besok kamu pengumuman kelulusan yah, besok ayah dateng sama ibu ke sekolah kamu "
" Serius yah asik akhirnya " Sorak dimas dengan riang
" Kamu mau melanjutkan sekolah dimana nak.? "
" Hmmm di mana ya yah SMA Bina bakti baguss katanya yah tapi dimas belum punya pilihan"
" Ayah gimana kamu aja maunya di mana nanti ayah daftarin yang rajin belajarnya yah "
" Siap komandan " Tangan dimas sambil hormat
" Nak ayah kamu sekarang d tugaskan di dalam kota jadi kita akan berkumpul bersama " Jelas ku pada dimas
" Serius yah .?akhirnya dimas bisa ketemu ayah bisa sama sama dengan ayah. "
Hari ini hari kelulusan putraku aku dan suamiku hadir untuk melihat pelepasan putraku, dimas sudah berangkat terlebih dahulu saat aku dan suamiku sampai di sekolah dimas sudah banyak wali murid yang hadir, aku dan suamiku pun duduk di barisan para wali murid lain. Acara pun sudah di mulai aku mengikuti acara demi acara sampai akhir acara pengumuman lulusan terbaik angkatan tahun ini.
" Lulusan terbaik angkatan tahun ini adalah... " Mendengar pak kepala sekolah mengumumkan terasa deg degan
" Dimas setya gunawan... Silahkan naik ke atas podium saudara dimas "
Aku yang mendengar terkejut antara bahagia, sedih tapi bangga, melihat dimas naik ke atas podium dan teman serta gurunya memberikan ucapan selamat terharu itu putraku. Aku melihat ekpresi suamiku yang bangga atas pencapaian putranya dan menyoraki nama putra nya sambil mengacungkan kedua jempol
" Terima kasih buat semua guru yang mengajar teman teman dan untuk ayah dan ibu yang selalu mendoakan tanpa kalian saya tidak akan bisa mencapai semua ini " Ucap putraku di atas podium dan kembali turun memeluk aku dan suamiku
Saat pulang teman, guru dan orang tua teman dimas menghampiri kami memeberikan ucapan selamat kepada dimas. Ibu bangga sama kamu nak, kamu putra ibu yang tangguh dan kebanggaan ayah dan ibu. Tanpa sadar aku meneteskan air mata sambil menyunggingkan bibirku air mata bahagia.
Yuni Widiastuti lahir pada tanggal 20 Mei 1998 di Cilacap, Jawa Tengah, Jejak bisa di temukan di akun instagram @yunny_widdy0201. Dalam hidup kau boleh menyerah, jatuh dan menangis, karna kau tahu kelak ada saatnya kau akan bangkit kembali. Bercita-cita lah setinggi-tingginya jika kau jatuh kau akan jatuh di antara bintang bintang jangan menyerah untuk menggapai semua impianmu. Semangat untuk terus berkarya