Tak banyak yang terjadi dalam hidupku, semua datang dan pergi bak sang angin yang selalu berlalu. Satu hal yang ku ingat, dia dengan senyumannya yang indah.
Aku tak begitu mengingat diriku sendiri, namun orang lain sering memanggilky Iyan. Entah mengapa, namun aku tak bisa mengingat segala hal yang pernah terjadi dalam hidupku, mungkin aku mengalami sebuah amnesia. Aku tak menghiraukannya. Namun, satu hal yang selalu mengusikku dan pikiranku, gadis yang selalu datang menemuiku yang selalu memanggil dirinya Ara entah mengapa tampak tak asing bagiku.
Dia gadis berparas cantik berusia 20 tahunan, mata lentik, tangan kecil, tubuh ramping, tampak dapat meluluhkan hati semua pria yang ditemuinya, termasuk diriku. Namun, aku tak paham mengapa dia selalu menemuiku seperti orang yang sangat akrab denganku.
Dia selalu perhatian padaku, seperti berusaha menarik sesuatu yang hilang pada diriku, entah apa itu. Dia selalu mengusikku dan menjahiliku, namun aku merasa nyaman dengan perlakuannya itu walau aku tak bisa membalasnya karena aku merasa bingung mengingat ingatanku yang hilang entah bagaimana caranya.
Di sore itu, entah untuk alasan apa dia mengajakku ke sebuah tempat untuk pertama kalinya, mengingat biasanya ia hanya bermain bersamaku di depan rumahku yang aku pun tak tahu kenapa aku mengikuti permainannya.
Dia mengajakku ke sebuah danau yang berada di belakang sebuah rumah. Dia menunjuk kearah danau itu yg terdapat pantulan matahari yg bisa dibilang indah karena warna jingga yang memenuhi langit itu begitu memukau memanjakkan mata. Namun, saat aku melihat kembali ke tengah danau, aku merasakan sakit luar biasa di kepalaku dan perlahan muncul bayang-bayang pada pikiranku. Terdapat gadis kecil yang seperti mengajaknya bermain di area danau tersebut dan terdengar suara-suara di dalam pikiranku.
Tak lama selang beberapa saat, semua hal tersebut menghilang dan membuatku tersadar kembali di pinggir danau bersama seorang gadis cantik yang mengajakku ke sini.
Entah mengapa air mataku mengalir begitu deras membuat mataku perih namun aku tak merasakan sesuatu yang menyedihkan, melainkan perasaan hangat di hatiku melihat gadis tersebut. Bibirku terangkat dengan sendirinya dan mengucapkan
"Terima kasih"
Aku tak mengerti mengapa aku mengucapkan hal itu, tapi sepertinya itu karena dia mengajakku ke danau tersebut yang indah. Meski aku tak merasa hal itu benar.
Aku melihatnya tersenyum dan akhirnya menoleh kembali untuk melihat danau tersebut, aku pun mengikuti apa yang dia lakukan. Namun, beberapa saat kemudia aku mendengar isak tangis dari gadis yang berada di sisinya itu. Aku menoleh kearahnya untuk mendapati gadis tersebut sedang menangis dalam keadaan tersenyum kecut.
Aku menanyakannya kenapa dia menangis seperti itu, namun dia hanya menjawab dengan senyuman kearahku dan menyeka air matanya.
Aku pun bingung namun tak ambil pusing dan kembali menatap danau itu kembali. Tapi kemudian aku mendengar gumanan dari arah sisiku
"Begitu ya... kau tetap tak bisa kembali..."
-END-
(gaje ya? sorry, ini cerita gabutku tengah malem yang cuma pengutaraan khayalanku yang emang gak mateng. maaf ya kalau nggk menarik. Ini bener bener cuma karya gabut pertamaku karena gabut gak ada tugas...)