Ini adalah kisah nyata yang benar kualami saat aku kelas sepuluh SMA. Terserah kalian mau percaya atau tidak. Yang pasti, aku tidak pernah meminta kepada Tuhan, diberikan kekurangan ini. Aku menyebutnya sebuah kekurangan karena ini sangat menggangguku saat itu. Melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh kebanyakan orang, adalah sebuah kekurangan.
Pagi itu aku berangkat ke sekolah seperti biasanya, seperti anak anak SMA pada umumnya. Seragam putih abu-abu, topi dan dan tas sekolah berisi buku pelajaran untuk hari ini.
Aku duduk di meja paling depan di kelas sepuluh saat itu. Semester awal, dan baru beberapa bulan mengenal teman-teman sekelas ku. Barangkali hanya beberapa orang saja yang aku anggap sebagai sahabat atau teman dekat.
Singkatnya, aku duduk satu meja dengan teman dekatku yang bernama Fandi.
Pagi itu, beberapa teman sekelas ku tengah berkumpul membicarakan sesuatu di meja tempatku duduk saat aku datang.
"Ada gosip apa nih?" Tanyaku santai.
Fandi yang duduk satu meja denganku, memasang wajah yang muram saat itu.
"Berita duka ini bukan gosip." Jawabnya pelan.
Ivana dan arindi yang juga adalah teman dekatku, mengangguk meng-iyakan ucapan Fandi.
Sebelum aku bertanya lebih lanjut, dari sudut mataku, aku melihat salah satu teman sekelasku yang duduk di meja paling belakang, duduk dengan kepala tertunduk. Anehnya murid yang bernama Dani, ini tidak memakai seragam sekolah, aku ingat betul, ia hanya menggunakan kaos berwarna orange dengan motif seperti jaring laba-laba, dan celana pendek 3/4 berwarna coklat.
Aku mengabaikan apa yang kulihat, karena berita duka yang diceritakan teman-temanku lebih menarik perhatianku.
"Siapa yang meninggal?" Tanyaku sembari duduk.
"Bapaknya Dani katanya." Jawab Arindi.
Pantas saja, benakku dalam hati.
Aku melirik lagi ke meja tempat Dani duduk. Dani masih disana dengan wajah murung, pucat dan terus menundukkan wajahnya. Tapi, karena aku tidak begitu dekat dengan Dani, maka aku memutuskan untuk tidak menghampiri ke meja Dani untuk sekedar berbela sungkawa atau basa basi.
Sampai bel sekolah berbunyi, seluruh teman sekalasku masuk dan duduk di kursinya masing-masing.
Tidak lama, Bu Nurlaela, guru matematika yang sekaligus adalah wali kelasku. Masuk dengan wajah yang sama muram nya dengan beberapa teman-temanku.
"Loh? Emang pelajaran pertama matematika ya?" Kataku berbisik pada Fandi.
"Bukan, kayaknya mau mengumumkan berita duka itu deh." Jawab Fandi pelan.
Aku mengangguk sembari memperhatikan langkah Bu Nurlaela.
Bu Nurlaela berhenti tepat di depan mejaku. Ia berdiri sembari menarik nafasnya pelan.
"Hari ini, ibu dapat kabar kurang menyenangkan." Ucapnya, suara Bu Nurlaela bergetar. "Ada kabar duka, dari salah satu teman kita."
Seluruh teman sekelasku menundukan wajahnya.
Aku melirik ke wajah bu Nurlaela.
Ia menyeka air mata yang sudah menggenang di balik kaca matanya.
"Teman kita, sahabat kita telah meninggal dunia." Tangis Bu Nurlaela pecah.
Tiba tiba jantungku seperti berhenti berdetak. Apa aku tidak salah dengar?
"Sahabat kita, Dani, telah meninggal dunia pagi tadi, dirumahnya, ditemukan oleh orang tua nya dalam keadaan gantung diri."
Badan ku lemas, demi tuhan seluruh tubuhku seperti merinding dan panas.
Aku bahkan tidak mampu mengangkat kepalaku. Sampai Bu Nurlaela menyelesaikan pengumumannya dan meminta kita semua untuk mengirimkan doa, Al-fatihah untuk almarhum Dani, aku belum berani melirik ke belakang. Ke tempat Dani duduk.
"Hari ini, kita semua diperbolehkan untuk ikut mengantarkan Dani ke peristirahatan terakhirnya, semuanya boleh siap-siap, kita akan naik bus sekolah yang sudah disiapkan di depan sekolah." Ucap Bu Nurlaela lagi lalu pergi meninggalkan kelas.
Seluruh teman-teman bersiap membawa tas untuk pergi ke tempat Dani. Sementara aku, masih mematung, dadaku tidak berhentinya bergetar. Pelan-pelan aku memberanikan diri untuk kembali melihat ke meja Dani duduk.
Jantungku seperti lepas, Demi apapun، aku masih melihat Dani dengan baju dan celana yang sama, dengan posisi yang sama, wajahnya tertunduk dengan muka murungnya, duduk di tempat biasanya dia duduk selama dia bersekolah di kelasku.
Sejak saat itu sampai dengan saat ini, sudah banyak makhluk yang aku lihat, makhluk yang tidak bisa dilihat oleh kebanyakan orang. Dan aku menyebutnya sebagai Kutukan.