Aku mencintaimu tanpa batas, tapi kau membatasi cintaku. Sehingga dirimu tak pernah berhasil ku sentuh
_______________________________________________
Aku memperhatikan gadis semampai dengan tubuh ramping ideal yang sedang fitting dress pengantin berwarna keabuan samar. Gaun pengantin modern tersebut dihiasi payet, tile dan beberapa kristal Swarovski.
Dia calon pengantin yang begitu rupawan dalam gaun cantik tersebut. kali ini dia menggelung rambut panjangnya yang indah dengan kedua tangannya. Menampilkan pemandangan menawan, sehingga membuat Ku tak bisa menahan diri untuk tidak mengambil fotonya.
"Cantik ya, Sayang? "
"Iya cantik sekali, Yang". Aku menjawab sambil mengecup lembut keningnya. Dia seperti bidadari yang berhasil Ku miliki, gadis impian sedari sekolah akhirnya bisa menjadi pengantin Ku berapa minggu lagi.
*******
"Aku akan menikah dengan gaun sederhana saja?" Saat itu di suatu senja gadis dengan rambut sebahu itu menatap Ku.
"Mengapa harus sederhana jika suatu saat, Aku berhasil kita akan merayakan dalam pernikahan megah".
"Iya tapi Aku suka yang sederhana"
" Kenapa?" aku menatap kedua netra bening di hadapan ku.
"Ahhh sayang, sederhana bukan bearti tidak menarik bisa tetap cantik atau menawan, tergantung yang memakainya. Aku pasti akan tetap manis dimata mu bukan dengan gaun pengantin pilihan Ku? ".
Aku tersenyum sambil mencubit hidungnya gemas.
"Ya terserah mu saja. Oh ya sekali lagi terimakasih atas dukungan mu sama usaha, Mas tapi benar tidak masalah jika semua bonus tahunanmu, Aku gunakan untuk usaha ini?".
"Tidak apa-apa Mas. Lebih bermanfaat jika itu bisa menambah modal mu"
Aku tersenyum dan menggamit tangannya.
______________________________________________
"Sayang Aku sudah memilih beberapa desain sepatu yang sesuai dengan gaunnya nanti bisa bantu Aku pilih ya".
"Aku percaya sama pilihanmu".
"Terimakasih sayang".
Sekarang bukan masalah lagi untuk membelanjakan barang yang Aku atau pasangan Ku saat ini inginkan. Usaha Ku sudah membuahkan hasil sehingga kami bisa memiliki apa yang di inginkan.
Mengingat berapa tahun lalu Aku mulai merintis usaha dari perumahan, travel sampai peternakan yang Ku rintis dengan jatuh bangun. Sekarang Aku sudah menikmati hasilnya.
Wanitaku sangat cantik, tubuhnya tinggi ramping, kulitnya putih mulus dengan rambut tebal kecoklatan melampaui bahu. Cara berpakaiannya selalu modis karena Aku tak segan membelanjakan pakaian high end buat wanitaku. Dia telah merubah dunia Ku.
___________________________________________________
Hujan rintik-rintik saat itu ketika kami berteduh di sebuah warung pinggir jalan yang sedang tutup bersama gadis Ku, Dia duduk sambil memeluk helm. Rambut sebahunya tampak lepek dan beberapa anak rambut basah menempel di keningnya.
"Suatu hari nanti akan Ku belikan mobil sehingga kita tak kehujanan".
"Baiknya beli jas hujan dulu ya, Sayang agar Aku tidak basah". Dia tertawa renyah.
"Tapi tetap tidak enak".
"Setidaknya bisa menembus rinai hujan".
"Kalau terlalu lebat gak enak juga". Dia menatap Ku lalu tersenyum memamerkan gigi gingsul. Aku tahu berapa waktu lalu dia pernah cerita akan merapikan giginya jika bonus tahunannya cair, tapi keinginan itu ditunda karena Aku meminjamnya untuk memulai usaha yang baru Ku rintis.
"Aku masih mempertimbangkan menggunakan kawat gigi, sepertinya senyum khas Ku akan hilang jika tidak ada gingsul. Begitu lah alasannya.
________________________________________________
Matahari terik menyambut Ku, ketika keluar dari mobil sport terbaru yang sukses membuat semua orang menoleh atau sekedar melirik. Aku tergesa-gesa menuju kantor. Ruangan Ku yang dingin bisa menenangkan rasa panas di kulit.
Gawai keluaran terbaru milik Ku berbunyi si pesan hijau menampilkan pesan dari wanita Ku. Berapa nomor rekening yang dicantumkan di pesan tersebut bearti Aku harus membayar keperluan dia.
Tidak masalah semua yang dia belanjakan adalah untuk kepentingan kami juga. Berapa minggu lagi dia akan menjadi tanggung jawab Ku. Setidaknya untuk saat ini Aku mulai membiasakan diri memenuhi kebutuhan wanita Ku.
Parasnya tidak berubah sedari dulu bahkan semakin cantik. Dia adalah pujaan hati Ku sedari sekolah tapi kehidupan yang berasal dari keluarga sederhana menyurutkan langkah untuk bersaing dengan pria teman sekolah yang berasal dari keluarga mapan. Dia hanya impian yang selalu ku harapkan hadir dalam setiap malam.
Aku bertemu kembali ketika dia membeli satu unit rumah di perumahan yang Ku miliki. Dia tidak menampakkan wajah kaget ketika Aku keluar menemuinya sekadar menunjukkan bahwa Aku pemilik perumahan mewah ini ternyata wanita Ku di saat pertemuan kami kembali setelah bertahun-tahun lulus dari Sekolah Menengah Atas tidak mengenal teman satu sekolahnya dulu padahal kami satu kelas.
Tidak mengapa setidaknya dia tidak mengingat sosok ceking hitam yang selalu menatapnya tanpa berani menyapa. Dia bagai sosok tak tersentuh, di depan mata tapi terasa jauh.
Dari pertemuan tersebut kami lalu sering berkomunikasi dan akhirnya Aku memberanikan diri menyatakan perasaan. Suatu hal yang Ku pastikan bisa Ku raih dengan segala kesuksesan saat ini. Dia menjadi kekasih Ku, impian masa remaja Ku terwujud saat ini walau ada yang harus Ku korbankan tapi cinta dan cita terkadang membutuhkan itu bukan?. Aku tidak perduli pada apa yang telah Ku korbankan berapa minggu lalu dia akan Ku miliki.
________________________________________________
"Kamu tega, Pras". Bastian menatap Ku tajam.
"Cinta bukan suatu hal yang bisa Ku lawan".
"Itu bukan cinta tapi obsesi. Kau terobsesi meraih apa yang tidak bisa kau miliki dulu".
"Mira pasti bisa mengerti".
"Tentu saja dia pasti bisa mengerti dan memahami mu. Dia gadis berjiwa murni".
"Kau menyukainya? Ambil saja". Bastian menggeretak giginya dia tampak emosi. Bastian memang berteman baik dengan Mira gadis berambut sebahu kekasih Ku sebelum menjalin hubungan dengan Meisya.
Eh saat menjalin kasih dengan Meisya, Aku pun belum memutuskan jalinan kasih dengan Mira saat ini. Ya saat pernikahan Ku dengan Meisya akan dilangsungkan beberapa minggu lagi walau akhirnya kabar itu tersiar dan pesan dari Mira pun masuk menanyakan kebenaran berita itu.
Aku tentu saja menolak bertemu dengan Mira atau menjawab panggilan telponnya dan sepertinya dia mengutus Bastian untuk memastikan kebenaran berita ini.
"Selama ini dia membantu mu. Ingat dulu kau hanya pengangguran saat lulus kuliah. Mira selalu membantu memberi modal usaha padahal dia berkerja sambil kuliah. Dia mendukung setiap usaha, membantu mu membayar biaya rumah sakit saat kau sakit. Dia selalu ada saat kau senang atau sakit.
"Bantuannya hanya sedikit Bastian bahkan Aku bisa membayar berkali lipat".
" Hutang budi tak semudah itu dibalas bukan nominal yang harus kau bayar,Pras" Bastian meninggalkan Ku dengan emosi sepertinya dia sakit hati atas perlakuan Ku pada Mira.
Aku menerima pesan dari Mira setelah Bastian pulang berapa jam lalu. Dia telah menerima undangan yang Ku titip pada Bastian. Mira adalah orang pertama yang menerima undangan pernikahan Ku dan Meisya.
'Cintaku tanpa batas pada dirimu Mas Pras tapi kau telah membatasinya. Aku akan pergi karena cinta ini tak bisa menembus batas yang telah kau pasang. Bahagia selalu Mas Pras.
Ada rasa sakit ketika membaca kalimat sederhana dari gadis berambut sebahu dengan netra bening. Mira Nindia Dewi gadis manis yang selalu menemani Ku dari dulu tapi ego dan bayangan Meisya menepis rasa itu.
__________________________________________________
Aku berada di kursi pelaminan saat ini memandang interior mewah ruangan megah yang kami sewa. Aku bisa melihat tatapan terpesona tamu pada sosok cantik disebelah Ku. Dia memang rupawan berkulit putih mulus seperti mannequin, bermata coklat, memiliki hidung mungil hasil perawatan dari klinik ternama dengan bibir merah yang menarik.
Dia cantik bagai bidadari tapi hati Ku terasa kosong masih tergiang di telinga ketika dokter itu berbicara satu minggu lalu, ketika Aku membawa Meisya dengan hati kalut karena Meisya terjatuh dengan posisi terduduk saat akan naik mobil, pants Meisya memerah dan dia merintih kesakitan.
Aku tahu saat itu dunia terasa berputar. Aku tidak tahu kata-kata pasti yang diucapkan dokter, yang bisa Ku tangkap calon bayi itu tidak bisa diselamatkan.
Entah siapa bapak sang jabang bayi Meisya karena jelas bukan Aku, karena kami belum pernah berhubungan suami istri. Pantang bagi Ku melakukan sebelum pernikahan dilaksanakan.
Meisya menantang Ku untuk membatalkan pernikahan kami, karena dia tahu Aku tidak akan melakukan hal tersebut. Ada sosok tua Ayah dan Ibu yang akan menanggung malu karena undangan telah kami bagikan, dan berita Pras akan menikahi Meisya sang gadis cantik berwajah menawan sudah tersebar.
Ibu juga masih merasa sedih karena Aku memilih Meisya bukan Mira. Aku hanya Pras bodoh yang tergoda dengan fisik bukan jiwa murni dari seorang gadis manis.
Dari kejauhan Aku bisa melihat dua tamu yang begitu mencolok mata Ku. Bastian dan Mira dengan pakaian seragam yang tampak asyik berpose dengan kameranya.
Begitu bodohnya Aku, Bastian lah yang menaruh hati pertama kali pada Mira tapi dia harus merelakan Mira ketika gadis bermata bening itu lebih memilih Ku.
Bastian seorang pengusaha muda sama seperti Ku, dia putra tunggal dari dokter ternama di kota kami. Bastian yang tampan dan memiliki perilaku baik akhirnya bisa memikat hati seorang gadis manis dokter muda yang berhati murni.
Di sini, dipelaminan ini Aku terbakar dalam hati cemburu melihat dua insan yang terpaut dalam cinta. Aku memang bodoh, sangat bodoh.