Pernakah kalian menyukai seseorang dan menjadi cewek gila yang terus mengejar seorang pria hanya untuk mendapatkan cintanya? Jika kalian pernah melakukannya,maka kita sama.
Namaku Mita(nama samaran), aku seorang mahasiswi semester empat di salah satu kampus di kota tempat aku tinggal.
Sebelumnya aku dikenalkan oleh seseorang panggil saja dia Wandi(nama samaran) untuk masuk ke sebuah organisasi di kampus, dimana hal itu menjadi awal aku kembali menyukai seseorang setelah hampir lima tahun aku sendiri.
Lima Tahun? Ya, Lima Tahun. Karena cinta terakhirku mengkhianatiku dan menghancurkanku, akhirnya aku trauma dan tidak tertarik untuk jatuh cinta lagi ataupun menjalin sebuah hubungan dengan seorang pria.
Namun semuanya berbeda saat aku bertemu dengan dia, panggil saja dia Abdul(nama samaran). Dia seorang pria berkulit putih dengan postur tubuh yang kecil, kemampuam dia yang aktif di dalam organisasi membuat aku kagum kepadanya sejak saat pertama kali aku bertemu dengannya.
Aku adalah cewek gila!!.. yang diam-diam menyukainya dan selalu mencuri pandang terhadapnya, senyumnya manis bahkan ketawanya begitu candu.
Menanyakan seputar organisasi, akhirnya aku bisa chattingan dengan dia. It's oke, dia mungkin sedikit cuek tapi responnya tidak begitu buruk.
Semuanya berjalan lancar, sampai akhirnya aku tahu jika teman dekat ku pun ternyata diam-diam menyukainya. Panggil saja dia Meli (nama samaran), Meli becerita kepadaku jika dia diam-diam mengagumi Abdul. Namun bedanya kerap dia lebih terbuka saat menatap Abdul dan tersenyum saat melihatnya, berbeda dengan aku yang cuek dan pura-pura dingin kepadanya.
Meli tidak mengetahui jika aku juga menyuukai Abdul, aku hanya berusaha tetap tersenyum di saat dia bercerita tentang kekagumannya kepada Abdul. Padahal aku tahu, jika dia sebenarnya sudah punya pacar. Namun karena hubungannya dengan pacarnya sedang renggang jadi dia diam-diam tertarik kepada Abdul.
Namun siapa yang menyangka, aku justru semakin dekat dan kerap chattingan drnga Abdul. Dimana hal itu justru menumbuhkan rasa cinta di dalam hatiku dan rasa ingin mendapatkannya.
Namun semua keinginan itu hancur, di saat Abdul tiba-tiba bercerita tentang masalahnya dengan pacarnya.
Laah pacar??... Ternyata dia sudah punya pacar toh?? Seharusnya sejak awal aku sudah tahu, cowok keren seperti dia mana mungkin gak punya pacar sih. Tapi selama aku itu juga bodohnya aku menjadi tempat curhat dirinya.
Sakit gak sii?? Saat kita menyukai seorang pria, tapi dia justru sering bercerita tentang wanita yang dicintainya? Pasti sakit bukan :(
Tapi, tak lama dari itu dia putus dengan pacarnya. Aku pikir, itu menjadi kesempatan aku untuk bisa mendapatkannya. Tapi ternyata tidak semudah itu kawan, benteng dia kuat banget!! Bahkan di saat aku memberanikan diri untuk mengutarakan perasaanku, aku justru mendapat penolakan dari dirinya hahaha....
Pasang surut, mungkin itu perasaan aku terhadap dirinya. Pernah sekali aku ingin berhenti mengejarnya, namun sikap dia care kepadaku hingga akhirnya aku kembali luluh. Sedangkan di saat aku sudah mulai luluh lagi kepadanya, sikap dia justru kembali cuek seakan-akan gak menginginkan aku. Capek bukan??
Aku sudah sering menangis sakit hati karena harapan aku sendiri terhadapnya. Berkali-kali aku berusaha terbiasa tanpa dirinya dan menjauh dari dirinya, tak kala aku sering merasa rindu hari-hari dimana aku bisa akrab dengannya seperti dulu. Namun aku merasa jika itu tidaklah mungkin terjadi.
Menahan diri untuk tidak menghubunginya adalah titik terakhir perjuanganku untuk mengikhlaskan dirinya. Karena aku merasa sangat bodoh terus mengejarnya, sedangkan aku sudah tahu jika dirinya tidak mencintaiku sama sekali.
Aku bertekad untuk berhenti mengejarnya dan siap jika harus membuka hati untuk orang lain. Aku bahkan sempat mencoba untuk menghilang dari sosial media, hanya untuk menghindari hal-hal yang mungkin bisa menyakiti aku.
Namun aku kembali bodoh, aku tidak bisa menahan diri saat dirinya menghubungiku. Hatiku selalu merasa senang saat dirinya menghubungi diriku lagi, walau pada akhirnya aku akan menangis lagi karena harapanku yang pupus.
Di saat aku mencoba menjauhinya, dia seakan-akan mendekatiku. Tapi di saat aku mencoba untuk mendekatinya, dia sekaan-akan semakin jauh.
Namun komunikasi kami membaik bahkan dirinya berinisiatif untuk mengajak aku pergi dan ingin deeptalk denganku, senang tak terkira sampai aku merasa percaya diri kalau dia sudah mulai menyukaiku hahha lucu sii.
Setelah sekian lama aku mengejarnya dia berinisiatif mengatakan apakah aku bisa bertahan sampai ke hari 214??
Tanpa berpikir panjang, aku menyutujuinya karena aku pikir hari ke 214 ituu hanya tersisa tinggal 40 hari lagi. Aku begitu percaya diri jika dirinya akan menjadi milikku di hari ke 214, namun bahkan sebelum hari ke 214 pum banyak sekali masalah di antara kami yang membuat aku ingin kembali menyetah tehadap dirinya.
Dia hari ke 214 dia ingin mengajakku untuk pergi ke pantai bersama, namun bagkan sebelum hari ke 214 banyak sekali masalah yang membuat kami sering bertengkar.
Hari ke 212, akhirnya aku pergi ke pantai bersamanya, karena hari 214 itu hari Selasa dan dia harus kuliah. Jadi kami mengambil hari libur.
Setelah menghabiskan waktu bersama, dan menghadapi hari ke 214 tentu saja aku meminta kepastian dari dirinya. Berhubung dia mengatakan akan menjawab perasaaan aku di hari ke 214. Namun kami justru bertengkar karena dia tidak memberikan kejelasan dalam kedekatan kami, dan aku merasa dibohongi dan dikhianati olehnya.
Lalu mengapa aku bisa pacaran dengannya di hari ke 220??
Setelah banyak permasalahan, akhirnya di hari ke 220 kami bertemu kembali karena memang ada perkumpulan di organisasi. Sebelumnya dia memang mengatakan ingin berbicara kepadaku, tapi nanti saat kita bertemu secara langsung. Dan hari itu pun tiba.
Dia jatuh cinta kepadaku, dia cemburu di saat aku akrab dengan salah satu teman cowoknya, dia tidak suka di saat aku memperrlakukan cowok lain dengan baik karena dia merasa aku baik kepada siapapun sampai merasa jika kepada dirinya pun sama, baik bukan karena cinta. Padahal walaupun aku friendly, tapi hatiku tidak friendly.
Sampai akhirnya dia mengungkapkan perasaannya dan membuat tanggal bersamaku, yaitu tepat di hari ke 220.
Namun semuanya tidak berakhir di situ, karena kembali muncul masalah yang membuat aku dan dirinya sering bertengkar. Bahkan kerap merasa jika berpisah jauh lebih baik.
*****