Hidup di dunia ini hanya ada kegelapan yang tersisa, tak ada keindahan dan kedamaian dalam hidup
********
Di sebuah desa yang sunyi, ada seorang gadis bernama Silva. Menurut orang orang di desa, sejak kelahiran Silva desa menjadi suram dan gelap dan gulita. Tak ada sinar matahari yang masuk, setiap hari selalu dikelilingi oleh kabut. Dan juga desa tersebut tidak pernah hujan, sehingga tak ada satupun tumbuhan yang tumbuh. Semuanya layu begitu saja.
Para warga desa pun akhirnya berdiskusi bagaimana caranya agar mereka bisa terbebas dari malapetaka tersebut. Para tetua menyarankan kepala desa untuk pergi menemui dukun di desa seberang. Setelah diadakan diskusi, para warga pun setuju untuk pergi ke dukun dan menanyakan perihal hal tersebut.
Hari berikutnya kepala desa dan juga beberapa perwakilan warga pergi menemui dukun tersebut. Sesampainya di sana, dukun itu menerawang apa yang sedang terjadi di desa tersebut. Menurut hasil penerawangan dukun itu, ada satu penyebab kenapa desa itu begitu susah. Ternyata ada seorang gadis dengan garis hidup yang begitu sial. Gadis itu adalah Silva, menurut dukun tersebut di diri Silva terdapat semacam energi gelap yang menyebabkan malapetaka di desa tersebut. Tapi karena sekarang Silva masih berusia 16 tahun, maka harus menunggu usia 18 tahun untuk melakukan suatu persembahan. Persembahan tersebut yaitu dengan cara meneteskan darah dari tubuh Silva dan kemudian membakar tubuhnya hingga menjadi abu. Setelah menjadi abu, abu tersebut harus dilarung ke laut untuk membuang kesialan.
Sementara itu di desa dan di rumah Silva sudah heboh mengenai penerawangan tersebut. Silva pun merasa ketakutan. Dia merasa selama ini hidupnya biasa biasa saja tidak pernah merugikan orang lain, tapi kenapa dia dicap sebagai pembawa bencana. Kedua orang tua Silva juga merasa takut kalau kalau anaknya dijadikan sebuah persembahan. Kedua orang tua Silva menyarankan anaknya untuk pergi dari desa tersebut.
" Nak, kamu pergilah dari desa ini, jangan hiraukan kami berdua. Lari lah sejauh mungkin nak, agar kamu selamat. Tolong jangan pedulikan kami". Kedua orang tua Silva menangis memohon anaknya untuk pergi.
Dengan berat hati Silva pun pergi dari rumah. Sepanjang perjalanan dia menangis karena harus meninggalkan kedua orang tuanya. " Ayah ibu, kalian berdua harus baik baik saja". Ucapnya dalam hati.
**
Setelah melakukan perjalanan berhari-hari, Silva pun sampai di sebuah lembah sungai. Di sana dia pun beristirahat. Dia merasa lelah dan letih karena sudah berhari-hari melakukan perjalanan.
Malam pun tiba, terdengar oleh Silva samar samar suara langkah kaki seseorang yang sedang menuju ke arahnya. Silva yang ketakutan akhirnya bersembunyi di sebuah batu besar. Dia takut kalau orang itu adalah warga desa yang memburunya.
Langkah kaki tersebut semakin lama semakin jelas. Setelah beberapa saat terdengar suara orang terjatuh. Silva pun penasaran, akhirnya dengan sedikit keberanian dia pun mendekat. Dilihatnya orang tersebut adalah seorang kakek yang sudah tua, dengan kondisi kaki berdarah. Kakek tersebut sudah jatuh pingsan. Karena merasa tak tega, Silva pun menolongnya. Dia mencari apa saja yang sekiranya bisa dia gunakan untuk mengobati luka kakek tersebut. Bahkan dia merelakan selendang yang dia bawa untuk membalut luka kakek tersebut.
**
Pagi hari, sang kakek sudah sadar. Beliau melihat di sebelah nya ada seorang gadis yang sedang tertidur. Kakek itu bisa melihat, kalau ada sebuah aura jahat yang menyelimuti tubuh Silva. Dengan nada rendah kakek tersebut membacakan sebuah mantra untuk menghilangkan aura jahat dari tubuh Silva.
Beberapa saat kemudian Silva pun bangun. Dia merasa seluruh tubuhnya terasa ringan dan segar. Seumur hidupnya dia tidak pernah merasakan hal seperti itu. Dia pun melihat kakek tersebut sudah bangun dan menanyakan kondisinya. Kata sang kakek lukanya sudah membaik berkat pertolongan dari Silva.
Kemudian sang kakek pun bertanya pada Silva.
"Nak, apa kamu merasa selama ini tubuh mu terdapat sesuatu yang menjerat mu?".
" Bagaimana kakek bisa tau? ". Tanya Silva.
" Nak, di tubuhmu terdapat semacam aura jahat yang menyelimuti mu. Berkat aura jahat ini, kau sekarang dalam pelarian kan? warga desa semua pada mencari mu, karena kamu mau dijadikan persembahan dalam waktu dua tahun lagi". Jelas sang kakek menerangkan.
Silva pun hanya bisa menunduk mendengar ucapan kakek tersebut. Karena semua yang diucapkannya adalah hal yang benar.
Beberapa saat kemudian sang kakek memberikan nasihat. Beliau menyuruh Silva untuk pergi ke Sungai tujuh warna yang menurut legenda bisa menghilangkan semua nasib sial. Beliau berkata kalau Silva harus menceburkan diri ke dalam sungai tersebut , dan keluar saat hari telah berganti. Sang kakek menerangkan kalau Silva harus tenang, Beliau berkata bahwa tidak akan terjadi apa apa selama Silva mau menceburkan diri. Setelah selesai, Silva harus segera pulang untuk menyelamatkan desa tersebut. Terutama kedua orang tuanya. Silva pun mengiyakan nasihat tersebut dan berniat untuk berterimakasih pada sang kakek. Saat hendak berterimakasih, kakek tersebut sudah menghilang. Ternyata kakek tersebut bukanlah orang biasa.
**
Hari berikutnya Silva bergegas untuk pergi ke sungai tujuh warna yang diceritakan kakek tersebut. Kalau menurut yang dikatakan orang orang sungai tersebut terletak di bagian paling utara. Silva pun pergi ke sana seorang diri. Jalan dan terus berjalan, akhirnya Silva pun sampai di Sungai tersebut. Hari sudah mulai gelap. Tanpa menunggu lama Silva langsung menceburkan diri ke dalam sungai. Dia berharap agar semua nasib sial dalam dirinya menghilang.
Keesokan harinya Silva pun keluar dari dalam sungai. Tiba tiba di depan matanya muncul kakek tersebut. Beliau mengatakan kalau Silva berhasil menghilangkan nasib sial dalam dirinya. Beliau menyarankan agar Silva segera kembali ke desa. Silva pun senang karena nasib sialnya sudah menghilang. Dia mengucapkan banyak kata terimakasih kepada sang kakek.
Dalam perjalanan pulang Silva selalu dilindungi oleh sang kakek, hanya saja sang kakek tak pernah menampakkan dirinya.
***
Di desa sedang terjadi kerusuhan, para warga desa mendesak orang tua Silva untuk segera memberikan anaknya. Orang tua Silva sudah mengatakan kalau anaknya tidak ada, tapi warga desa tidak ada yang percaya. Karena merasa marah, para warga desa menangkap orang tua Silva dan mengarak nya ke lapangan desa. Di sana orang tua Silva diikat pada sebuah tiang yang di bawahnya terdapat kayu kayu yang siap dibakar.
Sementara itu Silva masih dalam perjalanan, perlu waktu satu jam lagi untuk sampai di desa tersebut.
Sesampainya di desa dia melihat orang ramai ramai di lapangan desa. Karena penasaran dia pun menuju ke sana. Dilihatnya kedua orang tuanya sedang diikat, dia pun langsung berlari ke lapangan tanpa memperdulikan apapun. Para warga desa yang melihat Silva pun terkejut.
"Lihat itu, anak pembawa sial sudah kembali". Teriak salah satu warga.
Melihat hal tersebut para warga berbondong-bondong menuju ke arah Silva. Mereka bermaksud menangkapnya.
Silva pun berteriak dan memohon " Tolong lepaskan kedua orang tuaku, aku bersedia melakukan hal apapun asalkan kalian melepaskan mereka".
"Baik, Kau gantikan mereka. Kau harus jadi persembahan untuk melepaskan malapetaka di desa ini". Kata Kepala Desa.
Mendengar hal tersebut, si dukun tiba tiba datang dan berkata " Lebih baik kita korbankan mereka semua saja agar desa ini kembali hidup".
Para warga desa pun setuju dengan saran tersebut. Silva pun tidak terima, karena mereka bilang akan melepaskan orang tua Silva kalau Silva yang jadi persembahan. Ternyata mereka semua penipu.
Dalam hati Silva memohon kepada Tuhan agar dia bisa mendapatkan kekuatan untuk melawan dukun dan para warga desa.
Tiba tiba terdengar suara kakek kalau beliau bisa membantu Silva memusnahkan orang orang keji tersebut. Silva pun setuju. Kakek kemudian merasuki tubuh Silva. Tiba tiba mata Silva menyala merah dan menakuti semua warga.
"Kalian semua dasar manusia tidak tahu diri, bisa bisanya kalian mengingkari ucapan kalian sendiri. Padahal di dalam tubuhku ini sudah tidak ada nasib sial lagi. Jangan salahkan aku kalau aku mau memusnahkan kalian wahai manusia manusia serakah".
Mendengar ucapan itu, para warga pun ketakutan. Mereka saling menyalahkan. Terutama menyalahkan kepala desa dan dukun tersebut. Tanpa aba aba apapun tiba tiba muncul suatu kekuatan aneh dalam tubuh Silva. Tubuhnya berhasil mengeluarkan kekuatan tak terduga yang menyapu semua warga yang menyerangnya. Semuanya mati tak tersisa. Yang tersisa hanyalah kedua orang tua Silva dan beberapa warga yang tidak pernah ikut campur dalam masalah tersebut.
Setelah semuanya berakhir, sang kakek pun keluar dari tubuh Silva. Sebelum benar benar pergi beliau melepaskan semua ikatan di tubuh orang tua Silva. Silva tergeletak lemas karena tubuhnya habis dirasuki. Kedua orang tua Silva berlari ke arah Silva untuk membawanya pulang.
Hari hari berikutnya dilalui dengan tenang, sekarang desa sudah tumbuh subur. Semua tanaman dapat tumbuh dan berkembang. Juga sudah tidak mengalami kekeringan lagi. Para warga yang tersisa merasa senang dan berterimakasih kepada Silva. Begitulah akhir dari kisah ini, Silva dan keluarganya pun hidup bahagia di desa tersebut.
*****
TAMAT